← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Five

Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan

POV: Raka

Hari Minggu seharusnya kugunakan untuk tidur.

Aurelia punya pendapat lain.

Pukul sembilan pagi dia sudah berdiri di depan kosku membawa dua gelas kopi dan satu kantong roti.

“Kamu ngapain?”

“Date.”

“Aku belum mandi.”

“Aku tahu.”

“Gimana kamu tahu?”

“Rambutmu.”

Aku menyentuh rambut.

Dia tersenyum.

“Dan kausmu kebalik.”

Aku melihat ke bawah.

Sial.

Aurelia masuk sambil tertawa.

“Aku kasih sepuluh menit.”

“Buat?”

“Mandi.”

“Terus?”

“Keluar.”

“Ke mana?”

“Rahasia.”

Aku menatapnya.

Dia menyeruput kopi.

“Sembilan menit lima puluh detik.”

Aku masuk kamar mandi.


Rahasianya ternyata toko pakaian.

Aku berhenti di depan pintu.

“Enggak.”

“Masuk.”

“Lia.”

“Kamu sendiri bilang punya tiga kemeja.”

“Aku bercanda.”

“Kemarin aku lihat lemari kamu.”

Aku menoleh.

“Kapan?”

“Waktu cari charger.”

“Kamu buka lemari?”

“Aku pacarmu.”

“Itu bukan surat izin penggeledahan.”

Dia menarik tanganku masuk.

Aku tahu harga toko itu bahkan sebelum melihat label.

Pencahayaannya terlalu bagus dan pegawainya terlalu sopan.

Aurelia mengambil satu kemeja.

“Coba.”

Aku melihat label.

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Harganya.”

“Aku yang bayar.”

“Justru.”

Ekspresinya berubah.

Aku menghela napas.

“Bukan karena aku enggak suka kamu beliin sesuatu.”

“Terus?”

“Aku bakal takut pakainya.”

Dia hampir tertawa.

“Serius. Kena saus sedikit aku bisa depresi.”

Aurelia menatap kemeja, lalu aku.

“Jadi?”

“Kita cari yang kalau kena kecap aku masih bisa tidur.”

Dia mengembalikan kemeja.

Tidak ngambek.

Tidak memaksa.

“Fine.”

Kami keluar dari toko itu.

Aku sempat mengira dia akan diam lama, tetapi dua langkah kemudian dia berkata, “Aku masih belajar.”

“Belajar apa?”

“Cara beliin sesuatu buat kamu tanpa bikin kamu merasa kayak proyek amal.”

Aku berhenti.

“Lia.”

“Apa?”

“Aku enggak pernah mikir kamu begitu.”

“Tapi kamu enggak nyaman.”

“Iya.”

“Berarti aku perlu belajar.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian aku menarik tangannya.

“Dan aku juga perlu belajar nerima kadang-kadang.”

“Jadi balik?”

“Enggak.”

Dia memukul lenganku.

Aku tertawa.

“Fine.”

Kami akhirnya masuk toko lain yang jauh lebih murah.

Aurelia tetap memperlakukan prosesnya seperti memilih pakaian untuk kepala negara.

“Putih.”

“Aku sudah punya putih.”

“Yang kamu punya sudah menyerah pada kehidupan.”

“Biru?”

“Kamu kelihatan kayak sales.”

“Hitam?”

Dia menatapku dari atas ke bawah.

Terlalu lama.

“Kenapa?”

“Coba.”

Aku masuk ruang ganti.

Ketika keluar dengan kemeja hitam, Aurelia yang tadinya bermain ponsel berhenti.

Aku menunggu.

Dia masih melihat.

“Lia.”

“Hm?”

“Bagus?”

Dia berdiri.

“Putar.”

“Aku bukan manekin.”

“Putar.”

Aku menurut.

Aurelia mendekat dan membuka satu kancing paling atas.

Aku menangkap pergelangan tangannya.

“Ngapain?”

“Lebih bagus.”

“Ini toko.”

“Terus?”

Tangannya merapikan kerah.

Tatapannya turun sebentar.

Aku mulai mengenal tatapan itu.

“Jangan.”

“Aku belum ngapa-ngapain.”

“Justru.”

Senyumnya muncul.

“Kamu ganteng kalau pakai hitam.”

Aku diam.

Dia juga.

Kemudian aku berkata, “Gawat.”

“Kenapa?”

“Kamu mulai jujur.”

Dia memukul dadaku pelan.

“Ambil ini.”

Aku melihat harga.

Masih lebih mahal dari yang biasa kubeli, tapi tidak membuat jantung berhenti.

“Oke.”

“Aku bayar setengah.”

“Enggak.”

“Seperempat.”

“Enggak.”

“Traktir makan?”

“Itu boleh.”

“Kenapa makan boleh?”

“Karena nanti aku gantian.”

Dia menatapku beberapa detik, lalu mengangguk.

“Deal.”


Kami makan siang di kedai kecil dekat taman.

Aurelia mengambil kentang gorengku tanpa izin.

“Kamu punya.”

“Punyamu lebih enak.”

“Sama.”

“Beda.”

“Beda di mana?”

“Punyamu gratis.”

Aku tertawa.

Setelah makan kami duduk di bawah pohon.

Aurelia melepas sepatu dan menyelipkan kaki ke bawah pahaku.

“Dingin.”

“Kenapa aku jadi pemanas?”

“Pacar multifungsi.”

Aku membuka laptop untuk mengecek pekerjaan.

Dia langsung merebahkan kepala di pahaku.

“Lia.”

“Hm?”

“Aku mau kerja.”

“Kerja.”

“Kepalamu di sini.”

“Enggak menghalangi tangan.”

Aku melihat wajahnya.

Matanya sudah tertutup.

“Kalau tidur aku tinggal.”

Tangannya langsung menangkap ujung kausku.

“Coba.”

Aku tertawa.

Beberapa menit aku benar-benar bekerja sambil sesekali melihatnya.

Ada ketenangan aneh dalam situasi itu.

Seolah masa depan bisa sesederhana ini.

Laptop.

Taman.

Perempuan yang tidur di pahaku dan mencengkeram kaus supaya aku tidak pergi.

Aurelia membuka mata.

“Kamu lihat aku lagi.”

“Enggak.”

“Bohong.”

“Aku memastikan kamu masih hidup.”

“Kalau aku mati?”

“Aku ambil kentangmu.”

Dia memukul perutku.

Aku tertawa dan menangkap tangannya.

Dia tidak menariknya.

“Raka.”

“Hm?”

“Kamu pernah mikir nanti?”

“Nanti jam berapa?”

“Bukan.”

Aku tahu maksudnya.

“Pernah.”

“Terus?”

Aku menutup laptop.

Aurelia duduk.

“Setelah lulus,” kataku, “aku kerja. Mungkin pindah perusahaan. Nabung.”

“Terus?”

“Entahlah.”

“Rumah?”

“Suatu hari.”

“Mobil?”

“Kalau perlu.”

“Menikah?”

Aku menatapnya.

Di jalur jogging depan kami, sepasang suami istri muda lewat sambil mendorong stroller. Aurelia ikut melihat sebentar lalu buru-buru kembali menatapku.

Aku menahan senyum.

“Kenapa langsung lompat?”

Dia mencoba terlihat santai.

Gagal.

“Survei.”

“Survei siapa?”

“Responden satu orang.”

Aku tersenyum.

“Pernah.”

“Pernah apa?”

“Mikir.”

Dia menunggu.

Aku sengaja diam.

Aurelia mencubit lenganku.

“Aduh.”

“Jawab.”

“Aku belum punya apa-apa, Lia.”

Dia mengerutkan kening.

“Bukan itu yang aku tanya.”

“Aku tahu.”

“Aku enggak nanya kamu punya rumah atau mobil.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Aku memandang tangannya yang masih kugenggam.

“Aku pengin suatu hari punya tempat yang kalau kamu datang, kamu enggak perlu pulang lagi.”

Kalimat itu baru terasa besar setelah keluar.

Aku membayangkan apartemen kecil. Meja kerja dekat jendela. Dua mug yang tidak cocok. Aurelia meninggalkan barang di mana-mana lalu bersumpah dia tahu persis letaknya.

Bukan rumah besar.

Bukan sesuatu yang bahkan bisa kubeli sekarang.

Cuma tempat yang milik kami.

Aurelia diam.

Sangat diam.

Aku mengangkat mata.

Pipinya merah.

Akhirnya.

Aku tersenyum.

“Ternyata bisa juga.”

“Apaan?”

“Bikin kamu diam.”

Dia langsung mendorong bahuku sambil tertawa malu.

“Nyebelin!”

Aku menangkap kedua tangannya.

Sekarang wajahnya dekat.

Tawanya perlahan hilang.

“Lia.”

“Hm?”

“Aku serius.”

Tatapannya berubah lembut.

“Aku juga.”

Angin menggerakkan rambutnya ke wajah. Aku menyelipkannya ke belakang telinga.

“Kalau nanti aku masih lama?”

“Lama apa?”

“Punya semuanya.”

Aurelia mengerutkan kening.

“Raka, aku enggak nunggu kamu punya semuanya.”

“Aku tahu.”

“Beneran?”

Aku diam sepersekian detik terlalu lama.

Dia mengetuk dahiku.

“Dengar. Aku suka kamu waktu kamu cuma punya tiga kemeja.”

“Sekarang empat.”

“Belum dibayar.”

“Oke. Tiga setengah.”

Dia tertawa.

Lalu ekspresinya kembali serius.

“Aku enggak pacaran sama rencana masa depanmu. Aku pacaran sama kamu sekarang.”

Kalimat itu terasa sederhana.

Aku menyimpannya.

Mungkin terlalu dalam.

“Aku juga.”

Dia menciumku.

Kali ini tidak singkat.

Aku melepas satu tangannya dan menyentuh sisi wajahnya.

Dia bergerak lebih dekat sampai lutut kami bersentuhan.

Ketika kami berpisah, napasnya sedikit berubah.

Aku pasti sama.

Dia masih dekat ketika berbisik, “Kalau tempatnya kecil?”

“Ya kecil.”

“Enggak ada AC?”

“Kita beli kipas yang colokannya enggak longgar.”

Dia tertawa pelan.

“Kalau cuma punya tiga kemeja?”

“Aku punya empat mulai hari ini.”

“Progress.”

Aku menyentuhkan keningku ke keningnya.

Untuk beberapa saat tidak ada yang perlu dibuktikan.

Tidak ada rumah besar.

Tidak ada gaji.

Tidak ada komentar siapa pun.

Hanya rencana kecil yang bahkan belum layak disebut rencana.

Dan Aurelia tersenyum seolah itu sudah cukup.

Aku percaya padanya.

Saat itu, aku juga masih percaya bahwa cukup mencintai seseorang berarti dunia pada akhirnya akan memberi jalan.

Malamnya aku menggantung kemeja hitam baru di samping tiga kemeja lamaku.

Empat.

Aku memotretnya dan mengirim ke Aurelia.

*Upgrade.*

Balasannya datang kurang dari semenit.

*Masih kurang satu.*

*Kenapa?*

*Buat ketemu Papa lagi.*

Aku tersenyum.

Saat itu, kemungkinan bertemu keluarganya lagi masih terdengar seperti gangguan kecil dalam hidup yang menurutku sudah berjalan ke arah yang benar.