← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Thirty Six

Kamu Belum Belajar

POV: Raka

Aku tahu ada masalah sebelum Aurelia bicara.

Pukul delapan pagi Maya mengirim screenshot.

Board Option — Accelerated Rollout

Di bawahnya:

Nara Technologies: technically feasible with additional safeguards.

Aku membaca tiga kali.

Kemudian menelepon legal.

“Siapa yang approve wording ini?”

“Tidak ada.”

“Good.”

Lalu Aurelia menelepon.

“Raka.”

“Aku sudah lihat.”

Sunyi.

“Aku mau jelasin.”

“Jam sembilan. Kantor gue.”

Nada suaraku lebih dingin daripada yang kuinginkan.


Aurelia datang jam delapan lima puluh.

Aku sendirian di ruang meeting kecil.

Dia menutup pintu.

“Ini draft Om Vincent.”

“Gue tahu.”

“Aku bilang jangan kirim.”

“Kapan lo tahu?”

Dia diam sepersekian detik.

Jawaban.

“Semalam.”

Aku menatapnya.

“Kenapa baru sekarang?”

“Sudah malam.”

“Lo tahu gue masih bangun.”

“Aku enggak tahu.”

“Lo bisa tanya.”

“Aku enggak mau bikin kamu tambah stres.”

Aku tertawa pendek.

Kalimat yang sangat familiar.

“Demi gue?”

Aurelia langsung sadar.

Rule empat.

Jangan pakai demi kamu untuk menutup diskusi.

Dia menutup mata.

“Sial.”

“Iya.”

“Sudah malam.”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

“Serius?”

“Raka.”

“Rule kita apa?”

“Aku tahu.”

“Enggak. Kalau tahu, lo telepon.”

“Aku mau handle dulu.”

Kalimat itu.

Sesuatu di dadaku langsung panas.

“Handle sendiri.”

“Aku cuma mau—”

“Persis.”

Aurelia mulai marah.

“Jangan ngomong seolah aku melakukan hal yang sama kayak kamu tujuh tahun lalu.”

“Gue enggak bilang sama.”

“Tapi kamu pikir.”

Aku berdiri.

“Gue pikir kita berdua masih punya penyakit yang sama.”

“Apa?”

“Merasa kalau kita bisa menanggung sendiri, orang yang kita sayang enggak perlu kena.”

Aurelia diam.

Aku melanjutkan.

“Lo lindungin keluarga. Lindungin gue. Lindungin proyek. Terus kapan lo kasih orang lain kesempatan bantu?”

“Aku kasih!”

“Setelah lo hampir tenggelam.”

Wajahnya berubah.

Aku tahu kalimat itu terlalu keras.

Tetapi kami sudah sampai di sini.

“Dan kamu?” katanya.

“Apa?”

“Kamu paling jago.”

Aku berhenti.

Aurelia maju.

“Kamu bilang aku belum belajar? Kamu masih kerja sampai malam kalau ada masalah. Kamu masih jawab ‘aman’ ke Ibu kalau sakit. Kamu masih pikir tugas kamu berdiri paling depan.”

Aku membuka mulut.

“Aku tidak—”

“Jangan.”

Satu kata.

Lock phrase patah sebelum sempat keluar.

Aurelia menatapku dengan mata basah.

“Jangan bilang kamu tidak apa-apa.”

Aku diam.

Ruangan sunyi.

Dia benar.

Sial.


Aku berjalan ke jendela dulu.

Butuh jarak.

Bukan untuk pergi.

Aku sengaja berkata, “Gue butuh dua menit.”

Aurelia menatapku.

Kemudian mengangguk.

“Okay.”

Dua menit.

Aku bernapas.

Melihat kota.

Tidak keluar ruangan.

Ketika kembali ke meja, Aurelia masih ada.

Hal sederhana.

Tetapi inilah versi baru dari space.

Aku duduk lagi.

Marahku hilang secepat datang.

Aurelia juga duduk.

Kami tidak bicara hampir satu menit.

Akhirnya aku berkata, “Gue takut.”

Dia mengangkat mata.

Kalimat itu masih sulit.

“Takut apa?”

“Kalau proyek ini bikin kita balik jadi versi lama.”

Wajahnya melembut.

“Raka.”

“Gue lihat nama Vincent di proposal, dan bagian kecil gue langsung pengin menang.”

Aku menatap meja.

“Terus gue benci diri gue karena masih ada bagian itu.”

Aurelia meraih tanganku.

“Jangan.”

“Rule tujuh?”

“Iya.”

Aku tertawa pendek.

“Dan gue takut kalau lo pilih keluarga, gue akan merasa umur dua puluh dua lagi.”

Aurelia menggenggam lebih erat.

“Aku enggak pilih mereka lawan kamu.”

“Gue tahu secara logis.”

“Secara enggak logis?”

Aku menatapnya.

“Takut.”

Dia mengangguk.

Tidak memperbaiki.

Tidak bilang aku bodoh.

Hanya mendengar.


“Sekarang giliran aku,” katanya.

Aku menunggu.

“Aku takut kalau aku enggak bisa menyelesaikan ini, Papa lihat aku sebagai anak kecil lagi.”

Aku mengerutkan kening.

“Lia, lo director.”

“Aku tahu secara logis.”

Aku hampir tersenyum.

“Secara enggak logis?”

“Takut.”

Sekarang aku yang menggenggam tangannya.

Kami benar-benar sama-sama menyebalkan.

“Aku salah enggak telepon semalam,” katanya.

“Iya.”

Dia menatap tajam.

“Bisa lebih lembut.”

“Maaf.”

Aku mencium punggung tangannya.

“Gue juga salah langsung marah.”

“Iya.”

“Waktu lihat nama Vincent, gue langsung mikir dia pakai gue lagi.”

Aurelia menatap.

“Padahal?”

“Padahal dia memang pakai wording yang enggak boleh.”

Dia tertawa kecil.

“Berarti marahnya valid.”

“Caranya enggak.”

“Fair.”

Aku mengangguk.

Dulu aku sering menganggap emosi buruk sebagai bukti bahwa keputusan harus dibuat cepat.

Sekarang aku belajar emosi bisa valid tanpa harus memegang kemudi.

“Iya.”

“Lo juga bisa lebih lembut.”

“Enggak.”

Aku tertawa.

Ketegangan pecah.


Masalah bisnis masih ada.

Kami membuka draft bersama.

Aku mencoret wording Nara.

Aurelia menyusun alternatif.

“Regional rollout,” katanya.

“Empat region.”

“Empat setengah bulan?”

Aku menatap.

Dia tersenyum.

“Coba.”

Aku berpikir.

“Empat setengah kalau acceptance criteria ketat dan board setuju stop otomatis kalau error rate lewat threshold.”

Aurelia langsung menulis.

“Deal?”

“Bukan deal pacar. Ini technical recommendation.”

“Pak CTO.”

“Jangan.”

Dia tertawa kecil.


Sebelum keluar, Aurelia berhenti di pintu.

“Raka.”

“Hm?”

“Kita tadi hampir berantem besar.”

“Iya.”

“Kamu enggak pergi.”

Aku menatapnya.

“Lo juga.”

Dia tersenyum.

Aku berdiri dan menariknya ke pelukan.

“Progress.”

“Hm.”

“Masih marah?”

“Sedikit.”

“Manja rule?”

Aku tertawa.

“Lima menit.”

“Timer?”

“Enggak.”

“Progress.”

Aku tertawa.

“Jangan rusak.”

Dia memeluk lebih erat.

Di luar ruangan, proyek masih kacau.

Vincent masih akan push.

Board belum tentu setuju.

Tetapi untuk pertama kalinya, masalah besar tidak otomatis berarti hubungan kami ikut menjadi medan perang.

Itu mungkin kemenangan yang lebih penting daripada rollout mana pun.

Kami belum menyelesaikan semua kebiasaan lama.

Mungkin tidak akan pernah sepenuhnya.

Bedanya, kali ini ketika kebiasaan itu muncul, kami tidak membiarkannya memilih akhir cerita.

Setelah Aurelia pergi, aku membuka note rules kami. Rule delapan belum ada saat itu. Aku menambahkan draft sendiri: Kalau marah, boleh minta space. Harus bilang kapan kembali. Kukirim. Aurelia membalas: Approved.