Chapter Twenty Nine
Pacar CTO
POV: Aurelia
Aku menemukan fakta penting setelah resmi pacaran lagi.
Raka di kantor dan Raka di luar kantor adalah dua spesies berbeda.
Di luar kantor, dia bisa kuganggu sampai kehilangan kata.
Di kantor, dia berubah menjadi laki-laki yang bisa berkata “tidak” kepada VP tiga kali usianya tanpa menaikkan suara.
Aku menyukai keduanya.
Dan aku mulai memahami kenapa engineer Nara loyal kepadanya.
Raka tidak pernah memakai kesuksesan untuk membuat ruangan tentang dirinya.
Ironis.
Dulu keluargaku takut dia akan mengejar status.
Sekarang dia punya status lebih dari yang pernah mereka bayangkan dan terlihat paling bahagia ketika membahas latency.
Pagi sebelum meeting, aku melihat Raka berdiri di depan tim engineering menjelaskan incident semalam.
Tidak ada yang disalahkan.
Dia mulai dengan, “Keputusan gue yang bikin blast radius terlalu besar.”
Aku berdiri di belakang kaca dan mendengarkan.
Laki-laki yang dulu begitu takut terlihat tidak cukup sekarang bisa mengatakan salah di depan puluhan orang tanpa kehilangan satu gram otoritas.
Aku bangga.
Mungkin terlalu banyak.
Hari itu aku datang untuk steering committee.
Setelah meeting, semua orang keluar kecuali aku.
Raka masih menulis catatan di whiteboard.
Aku berdiri di belakang.
“Pak CTO.”
“Jangan.”
“Pak CTO.”
Dia tetap menulis.
Aku mendekat.
“Pak—”
Raka berbalik.
Aku berhenti.
Dia sangat dekat.
“Lia.”
“Hm?”
“Lo sengaja.”
“Sedikit.”
Tangannya menyentuh pinggangku dan menggeserku ke samping karena aku menghalangi whiteboard.
Gerakan sederhana.
Tubuhku tidak menganggap sederhana.
Dia kembali menulis.
Aku menatap punggungnya.
Monster.
Aku sengaja berdiri di samping whiteboard setelah itu.
“Raka.”
“Hm?”
“Reward.”
Dia berhenti menulis.
“Reward apa?”
“Kemarin kamu pulang.”
“Lo belum kasih.”
Aku mengangkat alis.
Dia benar-benar menagih.
Aku mendekat dan mencium pipinya cepat.
“Done.”
Raka menatapku.
“Itu?”
“Ada CCTV.”
Dia tertawa pelan.
“Pengecut.”
Aku memukul lengannya.
Dia menggunakan senjataku sendiri.
Monster.
Di pantry, dua engineer sedang bicara ketika aku masuk.
Mereka langsung diam.
Aku mengambil air.
“Lanjut aja.”
Salah satu terlihat gugup.
“Bu Aurelia…”
“Aurelia.”
Yang lain tertawa kecil.
Kemudian bertanya, “Beneran pacaran sama Raka?”
Temannya hampir menjatuhkan mug.
Aku tersenyum.
“Kenapa?”
“Enggak. Cuma Slack…”
“Slack apa?”
Keduanya membeku.
Menarik.
Raka masuk tepat waktu.
“Apa yang lo lakukan?”
Aku menunjuk engineer.
“Mereka punya informasi.”
Raka menatap mereka.
Keduanya kabur.
Aku tertawa.
“Slack apa?”
“Enggak penting.”
“Raka.”
Dia mengambil kopi.
“Engineering gossip.”
“Aku mau lihat.”
“Tidak.”
“Aku pacarmu.”
“Bukan access permission.”
Aku mendekat.
“Kalau minta baik-baik?”
“Tidak.”
“Kalau kiss?”
Raka berhenti minum.
Aku tersenyum.
“Bribery.”
“Policy?”
“Ketat.”
“Sayang.”
Aku berbalik.
Tangannya menangkap pergelangan tanganku.
Aku menoleh.
“Jangan tawarkan sesuatu kalau enggak siap ditagih.”
Pipiku panas.
Aku menarik tangan.
“Bukan access permission.”
Kalimat lama.
Aku tersenyum.
“Masih.”
Dia juga sadar.
Raka mendekat, meletakkan satu tangan di meja di belakangku.
“Dan sekarang gue CTO.”
“Abuse of power.”
“Security policy.”
Aku menatap bibirnya.
Dia tahu.
Senyumnya tipis.
“CCTV,” katanya.
Aku memukul dadanya.
Malamnya aku akhirnya mendapat screenshot dari Dion.
Channel tidak resmi bernama #random.
Seseorang menulis:
CTO smiling twice today. Investigating incident.
Orang lain:
Wijaya effect.
Lalu:
Do we need rollback?
Aku tertawa sampai sakit perut.
Raka menelepon.
“Dion kasih?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Investigating incident.”
Dia menghela napas.
“Besok gue pecat semua.”
“Jangan. Aku suka.”
“Of course.”
Aku merebahkan diri di kasur.
“Kamu di rumah?”
“Masih kantor.”
Aku melihat jam.
“Raka.”
“Hm?”
“Jam sepuluh.”
“Sedikit lagi.”
“Video call.”
“Kenapa?”
“Sekarang.”
Dia mengaktifkan video.
Wajahnya muncul.
Kantor kosong di belakang.
Aku menyipitkan mata.
“Pulang.”
“Lia.”
“Relationship rule.”
“Rule mana?”
“Yang baru.”
“Lo enggak bisa bikin rule tiap hari.”
“Bisa.”
Aku tersenyum manis.
Raka menatap layar.
“Kalau gue pulang, reward?”
Aku berhenti.
Ini baru.
“Reward apa?”
Dia bersandar.
“Entahlah. Lo yang kreatif.”
Pipiku mulai panas.
Raka tersenyum.
Aku membenci monster yang kubuat.
“Pulang dulu.”
“Okay.”
“Good boy.”
Dia mendekat ke kamera.
“Careful.”
“Kenapa?”
“Besok gue tagih.”
“Raka.”
“Hm?”
“Apa?”
“Besok.”
Dia tersenyum di layar.
“Tidur.”
Video mati.
Aku memukul bantal.
Tujuh tahun lalu dia bahkan tidak bisa menjawab kalau aku bertanya nilai sepuluh.
Sekarang dia meninggalkan ancaman menggantung lalu tidur.
Tidak adil.
Aku menatap layar hitam.
Tasha benar.
Thank God dia akhirnya bisa flirting.
Masalahnya, sekarang aku yang dalam bahaya.
Sore hari Raka akhirnya menagih.
Aku sedang berdiri sendirian di ruang meeting ketika dia masuk dan menutup pintu—tidak mengunci.
Aku menatapnya.
“Balance.”
“Serius?”
“Sangat.”
Aku menunjuk kaca dinding.
“Transparan.”
“Bagus.”
Dia mendekat, lalu berhenti cukup jauh.
Tidak memaksa.
Selalu pilihan.
Aku yang mengambil langkah terakhir.
Kucium bibirnya cepat.
Raka menahan pinggangku ketika aku hendak mundur.
“Installment,” katanya.
Aku tertawa di dekat bibirnya.
“Serakah.”
“Historical data.”
Aku menciumnya sekali lagi sebelum melepaskan diri.
“Lunas.”
“Dispute.”
Aku membuka pintu.
“Complain ke board.”
Dari luar terdengar suara Dion, “Gue approve Aurelia.”
Aku menutup wajah.
Raka tertawa.
Kantor ini benar-benar tidak aman.
Masalahnya, sekarang aku yang dalam bahaya.
Besok paginya aku datang ke steering committee.
Di kursiku ada kopi.
Latte.
Sticky note kecil:
Reward accepted. Balance outstanding.
Aku langsung melihat ke ujung meja.
Raka sedang bicara dengan engineer, wajah profesional sempurna.
Seolah tidak melakukan apa-apa.
Dia menoleh.
Tatapan kami bertemu.
Alisnya naik sedikit.
Aku menyembunyikan sticky note di bawah tablet.
Kevin yang duduk di sebelahku melihat.
“Apa?”
“Enggak.”
“Lo senyum.”
“Kerja.”
Dia melihat Raka di ujung meja.
Kemudian kembali kepadaku.
“Oh.”
Aku menendang sepatunya di bawah meja.
Kevin menahan tawa.
Keluargaku tidak butuh tahu semua detail.
Belum.
Aku menyembunyikan sticky note di bawah tablet.
Tujuh tahun lalu aku selalu menang permainan ini.
Meeting dimulai.
Raka tidak sekali pun melihat sticky note lagi.
Aku juga mencoba profesional.
Berhasil dua puluh menit.
Kemudian saat orang lain presentasi, pesan masuk.
Balance.
Aku menatap ujung meja.
Raka tetap melihat slide.
Aku mengetik:
Bermimpi.
Balasan:
Noted.
Aku menggigit bibir agar tidak tersenyum.
Sekarang pertandingan baru saja dimulai.
Masalahnya, sekarang aku yang dalam bahaya.
Sore hari Raka akhirnya menagih.
Aku sedang berdiri sendirian di ruang meeting ketika dia masuk dan menutup pintu—tidak mengunci.
Aku menatapnya.
“Balance.”
“Serius?”
“Sangat.”
Aku menunjuk kaca dinding.
“Transparan.”
“Bagus.”
Dia mendekat, lalu berhenti cukup jauh.
Tidak memaksa.
Selalu pilihan.
Aku yang mengambil langkah terakhir.
Kucium bibirnya cepat.
Raka menahan pinggangku ketika aku hendak mundur.
“Installment,” katanya.
Aku tertawa di dekat bibirnya.
“Serakah.”
“Historical data.”
Aku menciumnya sekali lagi sebelum melepaskan diri.
“Lunas.”
“Dispute.”
Aku membuka pintu.
“Complain ke board.”
Dari luar terdengar suara Dion, “Gue approve Aurelia.”
Aku menutup wajah.
Raka tertawa.
Kantor ini benar-benar tidak aman.
Masalahnya, sekarang aku yang dalam bahaya.
Di lift pulang, aku masih tersenyum. Seorang staf melihatku dua kali. Biarkan. Incident hari ini tidak perlu rollback.
Raka mengirim pesan sebelum aku sampai parkiran: Balance still disputed. Aku membalas: Mimpi.
Aku tersenyum. Denied. Balasannya: Appeal tomorrow. Monster.
Besok, katanya. Aku mematikan layar sambil sadar satu hal: aku benar-benar menunggu besok.
Aku tersenyum lagi. Incident berlanjut.
Dan anehnya, aku senang.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO reading
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk