Chapter Eighteen
Kali Ini Giliranku
POV: Aurelia
Keputusan mengejar mantan yang meninggalkanmu tujuh tahun lalu terdengar lebih elegan sebelum benar-benar dilakukan.
Hari pertama, aku mengirim pesan:
Lunch?
Raka membalas:
Ada meeting.
Aku:
Dinner?
Deploy.
Aku:
Besok?
Tiga menit.
Lia.
Aku tersenyum.
Ya?
Ini apa?
Aku mengetik beberapa jawaban, menghapus semuanya, lalu memilih yang paling jujur.
Aku belum tahu. Tapi jangan kabur.
Lama.
Kemudian:
Enggak kabur.
Aku membaca dua kata itu beberapa kali.
Cukup.
Kami tetap harus bekerja bersama, jadi aku tidak perlu menciptakan alasan konyol untuk bertemu.
Yang kubutuhkan hanya berhenti pura-pura semua pertemuan murni profesional.
Hari Kamis aku datang ke Nara membawa kopi.
Resepsionis mengenaliku.
“Pak Raka di lantai dua puluh.”
“Aku tahu.”
Aku naik.
Ruang kerja Raka tidak sebesar yang kubayangkan untuk seorang founder.
Meja berantakan.
Dua monitor.
Whiteboard penuh diagram.
Satu tanaman kecil yang terlihat hampir mati.
Aku mengetuk pintu terbuka.
Raka mengangkat kepala.
“Apa?”
Aku mengangkat kopi.
“Suap.”
“Buat?”
“Supaya pilot lancar.”
“Bribery policy Nara ketat.”
“Americano tanpa gula.”
Dia melihat gelas.
Lalu aku.
“Masuk.”
Menang.
Aku menaruh kopi di mejanya.
Raka mengambil satu teguk.
“Benar.”
“Apa?”
“Pesanannya.”
Aku mengangkat alis. “Kamu pikir aku lupa?”
Dia tidak menjawab.
Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya.
“Raka.”
“Hm?”
“Aku lupa banyak hal tujuh tahun ini.”
Dia menatapku.
“Pesanan kopi kamu bukan salah satunya.”
Aku tidak menunggu respons.
Menang.
Aku duduk di sofa.
Di sudut meja ada mug bertuliskan WORLD'S OKAYEST CTO.
Aku menunjuk.
“Siapa yang kasih?”
“Dion.”
“Accurate.”
Raka menatapku datar.
Aku tersenyum.
Ada foto bertiga di rak: Raka, Dion, Maya di depan ruko kecil. Jauh sebelum kantor ini.
Aku ingin bertanya seribu hal.
Bagaimana mereka bertahan?
Kapan pertama kali investor datang?
Apakah Raka pernah hampir menyerah?
Siapa yang ada di sampingnya ketika aku tidak?
Aku menahan semuanya.
Hari ini bukan interogasi.
Aku duduk di sofa.
Raka kembali ke layar.
Aku menunggu lima menit.
Sepuluh.
“Lia.”
“Hm?”
“Kamu enggak ada kerjaan?”
“Ada.”
“Terus?”
“Aku kerja di sini.”
Aku membuka laptop.
Dia menghela napas.
“Kenapa?”
Aku menatapnya polos.
“Wi-Fi Nara cepat.”
Raka menggeleng, tapi aku melihat senyum kecil.
Dion masuk tanpa mengetuk.
Dia berhenti melihatku.
“Oh.”
“Pak Dion.”
“Jangan Pak. Gue merasa tua.”
Raka tidak mengangkat kepala.
“Lo memang tua.”
Dion mengabaikannya.
“Mbak Aurelia, akhirnya.”
“Akhirnya apa?”
“Enggak ada.”
“Dion.”
Nada Raka mengandung ancaman.
Aku langsung tertarik.
“Cerita.”
“Jangan.”
Dion tersenyum.
“Gue cuma mau bilang, tujuh tahun lalu ada orang yang—”
Raka berdiri.
Dion kabur sambil tertawa.
Aku menatap Raka.
“Ada orang yang apa?”
“Enggak ada.”
“Raka.”
“Kerja.”
Aku tersenyum.
Ada banyak hal tentang tujuh tahun Raka yang belum kuketahui.
Aku berniat menemukannya.
Pelan-pelan.
Maya muncul di pintu beberapa menit kemudian.
“Aurelia?”
Kami belum cukup dekat untuk tanpa sapaan formal, tapi nadanya tidak dingin.
“Maya.”
Dia melihat Raka, lalu aku.
“Gue cuma mau ambil dokumen.”
Raka menunjuk rak.
Maya mengambil map, kemudian berhenti di dekatku.
“Good luck.”
Aku berkedip.
“Untuk pilot?”
Maya menatap Raka.
“Sure.”
Dia pergi.
Aku tersenyum lebar.
Raka mengusap wajah.
“Aku suka teman-teman kamu.”
“Gue mulai enggak.”
Pelan-pelan.
Sore menjelang.
Raka lupa makan.
Tentu saja.
Aku melihat kotak makan siang yang masih utuh di mejanya.
“Kamu belum makan.”
“Nanti.”
“Jam empat.”
“Nanti.”
Aku berdiri, mengambil kotaknya, dan meletakkan tepat di depan keyboard.
Dia menatapku.
“Makan.”
“Lia.”
“Makan.”
“Aku lagi—”
Aku menutup laptopnya.
Ruangan sunyi.
Raka menatap tanganku di atas laptop.
Aku menatap balik.
“Berani juga,” katanya.
“Aku dari dulu berani.”
Sudut bibirnya naik.
Aku membuka kotak.
“Sepuluh menit.”
Dia akhirnya mengambil sendok.
Aku duduk di ujung meja.
“Jangan lihat.”
“Kenapa?”
“Ganggu.”
Aku sengaja mencondongkan tubuh.
“Begini?”
Raka berhenti mengunyah.
Aku tersenyum.
“Masih gampang.”
“Apanya?”
“Gugup.”
“Aku enggak gugup.”
Aku menunjuk alis kanan.
Dia menutup mata sebentar.
Aku tertawa.
Ini familiar.
Tetapi berbeda.
Dulu Raka dua puluh dua tahun akan merah sampai telinga.
Sekarang dia meletakkan sendok, berdiri, lalu berjalan mendekat.
Aku tetap duduk di meja.
Senyumku perlahan hilang.
Dia berhenti tepat di depanku.
Dekat.
Sangat dekat.
“Aurelia.”
Nada suaranya rendah.
“Hm?”
“Kalau mau main begini…”
Tangannya mengambil gelas kopi di samping pahaku.
“…jangan kaget kalau suatu hari gue balas.”
Dia mundur dan kembali duduk.
Aku tidak bergerak.
Sial.
Tujuh tahun ternyata mengajarinya sesuatu.
Aku mengambil botol air untuk menyembunyikan wajah.
Raka mengetuk meja dua kali.
“Lia.”
“Apa?”
“Minumnya belum dibuka.”
Aku melihat tutup botol yang masih tersegel.
Sial.
Dia tertawa lagi.
“Senang?”
“Sedikit.”
Aku membuka botol dengan agresif.
“Jangan kebiasaan.”
“Noted.”
Aku benci betapa menariknya laki-laki tenang yang tahu persis kapan harus membalas.
Dulu aku menciptakan permainan ini.
Sekarang aku mungkin akan menyesal.
Tujuh tahun ternyata mengajarinya sesuatu.
Raka melanjutkan makan.
Sekarang dia yang tersenyum.
“Kenapa diam?”
Aku turun dari meja.
“Enggak.”
“Wajahmu merah.”
“AC kamu rusak.”
“Dingin.”
“Diam.”
Dia tertawa.
Aku ingin kesal.
Sebaliknya aku merasa hidup.
Sebelum pulang, aku berdiri di pintu.
“Raka.”
“Hm?”
“Aku serius.”
Dia berhenti mengetik.
“Aku tahu kita belum selesai soal masa lalu.”
Dia menunggu.
“Aku juga tahu kamu mungkin enggak mau apa-apa.”
Wajahnya sulit dibaca.
“Tapi kali ini aku enggak mau duduk diam nunggu kamu memutuskan semuanya.”
“Lia.”
“Aku enggak minta kita balikan besok.”
Aku menarik napas.
“Aku cuma mau kenal kamu lagi.”
Raka menatapku lama.
“Aku berubah.”
“Aku juga.”
Aku menyandarkan pinggul ke meja.
“Dan ada rule.”
“Sudah ada rule?”
“Sekarang ada.”
Raka terlihat pasrah.
“Pertama, enggak boleh hilang.”
Dia mengangguk tanpa bercanda.
“Kedua, kalau salah satu enggak nyaman, bilang.”
“Okay.”
“Ketiga…”
“Apa?”
Aku tersenyum.
“Belum kepikiran.”
Dia tertawa.
“Professional.”
“Very.”
“Kalau ternyata kita enggak cocok?”
“Sampai situ baru kita putuskan.”
Kita.
Aku sengaja menekankan kata itu.
Dia tahu.
Akhirnya Raka mengangguk kecil.
“Okay.”
Aku tidak langsung tersenyum.
“Beneran?”
“Lia.”
“Aku butuh explicit consent.”
Raka menatapku beberapa detik, lalu tertawa.
“Iya. Kenal lagi. Pelan-pelan.”
Ada sesuatu di dadaku yang mengendur.
Bukan kemenangan.
Izin.
Itu jauh lebih penting.
Aku tersenyum.
“Okay?”
“Okay.”
Aku berdiri.
Raka ikut berdiri dan tanpa berpikir mengambil blazerku dari sandaran sofa.
Dia menahannya agar aku bisa memasukkan tangan.
Gerakan kecil.
Terlalu familiar.
Kami sama-sama sadar ketika tangannya menyentuh bahuku.
Raka langsung mundur.
“Sorry.”
Aku merapikan kerah blazer.
“Refleks lagi?”
Dia mengangguk.
Aku tersenyum tipis.
“Banyak juga refleks kamu.”
“Sayangnya.”
“Menurutku enggak.”
Dia menatapku.
Aku membuka pintu.
“Oh, satu lagi.”
“Apa?”
“Besok lunch.”
Dia menghela napas.
“Jam satu.”
“Bagus.”
Aku keluar sebelum dia bisa berubah pikiran.
Di lift, aku melihat pantulan sendiri.
Tersenyum seperti orang bodoh.
Tujuh tahun lalu aku mengejarnya sampai semua pintu tertutup.
Kali ini satu pintu sudah terbuka.
Aku tidak berniat mendobrak sisanya.
Aku akan membuat Raka membukanya sendiri.
Di parkiran, ponselku berbunyi.
Raka.
Besok jangan telat.
Aku tersenyum.
Takut aku enggak datang?
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Takut lunch gue keburu dingin.
Aku tertawa sendiri.
Jam satu, Pak CTO.
Balasannya:
Jangan panggil begitu.
Aku memasukkan ponsel ke tas.
Pintu kedua.
Kecil.
Tapi terbuka.
Aku akan membuat Raka membukanya sendiri.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku reading
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk