Chapter Forty
Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
POV: Aurelia
Aku melihat Raka menolak revenge dengan cara paling menyebalkan.
Tenang.
Tidak dramatis.
Tidak ada pidato.
Tidak ada “lihat aku sekarang”.
Padahal kalau aku jadi dia, mungkin aku sudah menyewa billboard.
Tasha setuju.
“Minimal satu billboard,” katanya.
Kami sedang makan siang.
“Aku bilang juga.”
“Terus?”
“Katanya dewasa.”
“Boring.”
Aku tertawa.
Tapi diam-diam aku lega.
Raka mendapatkan apa yang dulu dia kejar dan menemukan dia tidak membutuhkannya.
Itu lebih sulit daripada sukses.
Aku pernah takut ketika Raka sukses, dia akan menjadi laki-laki yang datang kembali untuk menunjukkan keluargaku salah.
Sebagian dirinya memang datang membawa luka itu.
Aku melihatnya.
Tetapi bagian yang memilih tinggal tidak dibangun dari revenge.
Itu yang membuatku percaya hubungan kami sekarang bukan hadiah untuk Raka setelah sukses.
Aku bukan trophy.
Dia juga bukan proyek perbaikan.
Kami cuma dua orang yang akhirnya cukup dewasa untuk berhenti menjadikan cinta sebagai ujian kelayakan.
Malamnya kami makan di rumah Bu Ratih.
Papa dan Mama datang.
Ya.
Dua keluarga.
Aku hampir tidak percaya.
Bu Ratih memasak terlalu banyak.
Mama membawa dessert terlalu banyak.
Aku sempat berdiri di pintu dapur dan melihat keduanya berdebat soal wadah makanan.
Dua perempuan dari dunia yang dulu terasa tidak mungkin bertemu sekarang memperdebatkan siapa yang harus membawa pulang cake.
Aku mengambil foto diam-diam.
Raka muncul di belakang.
“Nyolong lagi?”
“Dokumentasi.”
Dia melihat layar.
Senyumnya muncul.
“Kirim ke gue.”
Aku mengirim.
Foto baru lagi.
Bukan cuma kami.
Mama membawa dessert terlalu banyak.
Papa dan Raka bicara tentang bisnis lalu dimarahi dua ibu sekaligus karena makan malam bukan meeting.
Mama duduk di sampingku.
“Kamu bahagia?”
Aku menoleh.
Pertanyaan itu sederhana.
“Iya.”
“Takut?”
Aku tersenyum.
“Sedikit.”
Mama menggenggam tanganku.
“Bagus.”
Aku tertawa.
“Kenapa semua orang sekarang bilang begitu?”
“Karena kalau enggak takut sama sekali, mungkin kamu enggak mengerti nilainya.”
Aku melihat Raka.
Dia sedang membantu Bu Ratih membawa piring, sementara Papa tetap bicara dari belakang.
“Iya.”
Aku mengerti nilainya.
Papa dan Raka bicara tentang bisnis lalu dimarahi dua ibu sekaligus karena makan malam bukan meeting.
Aku duduk di samping Raka dan berbisik, “Ini aneh.”
“Banget.”
“Takut?”
“Sedikit.”
“Bagus.”
Dia menatapku.
Aku tersenyum.
Callback milikku.
Setelah makan, Papa dan Bu Ratih entah bagaimana berakhir bicara di teras.
Aku tidak menguping.
Raka jelas menguping.
Aku menarik lengannya.
“Jangan.”
“Rumah Ibu.”
“Privacy.”
“Kepo.”
“Dewasa.”
“Boring.”
Kami tertawa.
Kevin datang terlambat membawa buah.
Begitu melihat dua keluarga, dia berhenti.
“Wah.”
“Masuk,” kataku.
Dia duduk dekat Raka.
Beberapa menit kemudian Kevin berkata, “Rak, motor lo dulu merek apa?”
Aku menatap tajam.
Raka justru tertawa.
“Kenapa?”
“Gue mau beli motor buat weekend.”
“Jangan yang dulu.”
“Separah itu?”
“Lo pernah hina.”
Kevin menutup wajah.
“Gue sudah minta maaf.”
“Gue tahu.”
Mereka tertawa.
Dulu komentar motor bisa tinggal berminggu-minggu di kepala Raka.
Sekarang benda itu hanya cerita lucu.
Kevin mengambil ponsel.
“Gue masih punya foto motor lo.”
Raka menatap tidak percaya.
“Kenapa?”
“Dulu gue kirim ke group.”
Wajah Kevin berubah malu.
Aku menutup mata.
“Kev.”
“Gue tahu. Brengsek.”
Raka mengambil ponselnya dan melihat foto motor tua itu.
Beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
“Gue kangen motor itu.”
“Apa?”
“Banyak memori.”
Kevin terlihat semakin bersalah.
Raka mengembalikan ponsel.
“Sudah.”
Satu kata.
Bukan berarti lupa.
Bukan berarti komentar itu tidak pernah sakit.
Hanya selesai.
Healing kadang terdengar seperti dua laki-laki tertawa soal sesuatu yang dulu menyakitkan.
Ketika semua pulang, aku membantu Bu Ratih di dapur.
Dia menyentuh tanganku.
“Lia.”
“Hm?”
“Kalian baik?”
Aku tahu maksudnya bukan malam ini.
“Iya.”
“Raka masih suka simpan sendiri?”
“Kadang.”
“Marahin.”
Aku tertawa.
“Sudah.”
“Bagus.”
Dia menatapku lama.
“Kamu juga jangan.”
Aku berhenti.
Ternyata ibu selalu tahu.
“Iya, Bu.”
Di mobil pulang, Raka tidak langsung jalan.
“Apa?” tanyaku.
Dia melihat rumah ibunya.
“Gue dulu pikir kalau suatu hari keluarga lo duduk di rumah Ibu, itu berarti gue berhasil.”
“Terus?”
“Sekarang gue pikir berhasilnya bukan itu.”
“Apa?”
Dia menatapku.
“Kita masih di sini.”
Dadaku hangat.
Aku mengambil tangannya.
“Bukan lagi anak dua puluh dua.”
“Sayangnya.”
“Kenapa sayangnya?”
“Punggung gue.”
Aku tertawa.
“Umur dua puluh sembilan belum tua.”
“Maya bilang beda.”
Aku mencium pipinya.
“Masih hot.”
Raka menutup mata.
Aku menyentuh rambut di dekat pelipisnya.
“Kalau nanti uban?”
“Lo pergi?”
Aku menatap tajam.
“Rule.”
“Bercanda.”
“Rule delapan.”
“Maaf.”
Aku mencium tempat yang kusentuh.
“Kalau uban, tetap hot.”
“Terima kasih atas proyeksi jangka panjang.”
“Strategic planning.”
Raka menutup mata.
“Lia.”
“Apa?”
“Nyetir.”
“Kita belum jalan.”
“Diam.”
Aku tertawa lebih keras.
Sebelum mobil bergerak, Raka mengambil dompet.
“Kenapa?”
Dia membukanya.
Dua foto.
Yang lama.
Yang baru.
Aku langsung tersenyum.
“Sudah print.”
“Iya.”
“Bagus.”
Raka melihat dua versi kami.
“Gue enggak mau buang yang lama.”
“Jangan.”
“Tapi gue juga enggak mau hidup di sana.”
Aku menggenggam tangannya.
“Jangan.”
Dia memasukkan dompet kembali.
Mesin menyala.
Kami meninggalkan rumah Bu Ratih.
Tidak ada orang di bawah.
Tidak ada orang di atas.
Tidak ada tembok.
Aku tahu konflik tidak selesai selamanya hanya karena satu makan malam.
Papa tetap Papa.
Om Vincent tetap bisa menyebalkan.
Raka tetap keras kepala.
Aku jelas tidak berubah menjadi manusia tanpa masalah.
Tetapi tembok yang dulu kami anggap permanen ternyata sebagian besar dibangun dari takut, asumsi, dan orang-orang yang bicara tanpa benar-benar mendengar.
Sekarang setidaknya kami tahu cara membuat pintu.
Hanya dua keluarga yang akhirnya belajar duduk di meja yang sama.
Dan dua orang yang tidak lagi membutuhkan dunia untuk menyetujui pilihan mereka.
Di lampu merah, Raka menggenggam tanganku.
“Lia.”
“Hm?”
“Minggu depan kosongin Sabtu.”
“Kenapa?”
“Rahasia.”
Aku menatapnya.
“Raka.”
“Historical tradition.”
“Date?”
“Maybe.”
“Dress code?”
Dia tersenyum.
“Yang nyaman.”
Aku menyipitkan mata.
Ada sesuatu.
Tetapi untuk sekali ini aku tidak mengejar jawaban.
“Okay.”
Lampu berubah hijau.
Raka jalan.
Aku menyandarkan kepala ke bahunya.
Revenge selesai.
Hidup kami belum.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua reading
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk