← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Two

Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu

POV: Raka

Sabtu malam aku tiba delapan menit lebih awal.

Menurutku itu prestasi.

Menurut Aurelia, itu standar minimum manusia beradab.

Dia menungguku di tangga depan rumahnya. Gaun hitam sederhana, rambut dibiarkan jatuh, dan ekspresi yang langsung berubah begitu melihat motorku berhenti.

“Kamu datang.”

“Katanya jam tujuh.”

“Dan pakai kemeja yang bagus.”

Aku melihat kemeja putihku.

“Ini kemeja nomor satu.”

“Nomor satu?”

“Dari tiga.”

Dia tertawa, turun, lalu membenahi kerahku tanpa izin.

“Lumayan.”

“Nilai?”

“Delapan.”

“Kenapa turun?”

“Aku belum dicium.”

Aku melihat pintu besar di belakangnya.

“Di depan rumahmu?”

“Takut?”

“Sangat menghormati sistem keamanan keluarga Wijaya.”

“Pengecut.”

“Realistis.”

Dia menarik tanganku masuk.

Rumah itu terlalu besar untuk disebut rumah tanpa membuat kata tersebut terasa kurang.

Langit-langit tinggi. Lukisan besar. Lantai mengilap. Pintu di mana-mana.

Aku menghitung lima sebelum menyerah.

“Jangan tegang,” bisik Aurelia.

“Aku enggak tegang.”

“Alis kanan.”

Sial.

Helena Wijaya menyambutku hangat.

Adrian datang beberapa menit kemudian dan menjabat tanganku dengan tenang.

“Kamu Raka.”

“Iya, Om.”

“Lia sering cerita.”

Aku menoleh ke Aurelia.

Dia mendadak tertarik pada vas bunga.

Vincent, adik Adrian, hanya mengangguk.

Kevin, sepupu Aurelia, melihat ke luar jendela.

“Tadi motor yang parkir dekat pos punya lo?”

“Iya.”

“Berani juga bawa Lia naik itu.”

“Kevin,” tegur Aurelia.

Aku tersenyum.

“Motornya enggak seburuk kelihatannya.”

Aurelia menoleh kepadaku.

“Itu pembelaan yang enggak meyakinkan.”

Aku menyikut lututnya pelan.

Dia menahan senyum.


Makan malam dimulai cukup normal.

Helena bertanya tentang ibuku.

“Masih katering?”

“Iya, Tante. Sekarang lumayan banyak pesanan kantor.”

“Salam untuk beliau.”

“Nanti saya sampaikan.”

Adrian bertanya tentang kuliah dan pekerjaanku.

“Backend engineer?”

“Junior, Om.”

“Masih kuliah sambil kerja?”

“Iya.”

“Berat?”

“Lumayan. Tapi saya suka.”

Ia mengangguk.

“Bagus. Kalau suka, biasanya capeknya lebih tahan.”

Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa membuatku sedikit lebih rileks.

Lalu Vincent meletakkan sendok.

“Programmer sekarang lumayan, ya?”

“Lumayan, Om.”

“Kerjanya bikin website?”

“Kadang. Saya lebih banyak backend.”

“Bedanya?”

Aku menjelaskan singkat.

Vincent mengangguk meski tampak tidak terlalu tertarik.

“Bagus. Anak muda memang harus punya skill. Dunia sekarang keras.”

Tidak ada yang salah dengan kalimat itu.

Kemudian Kevin bertanya, “Gaji programmer junior berapa, sih?”

Aurelia langsung menatapnya.

“Kev.”

“Apa? Gue penasaran.”

Aku minum air.

“Cukup.”

“Cukup itu relatif.”

“Kevin.”

Kali ini Adrian yang bicara.

Kevin mengangkat kedua tangan.

“Oke.”

Percakapan berganti.

Seorang staf rumah masuk membawa hidangan berikutnya. Aku sempat memperhatikan bagaimana semua orang di meja seperti tahu apa yang harus dilakukan tanpa berpikir. Gelas mana yang dipakai, sendok mana yang diambil, kapan staf datang dan pergi.

Aku tidak.

Untuk pertama kalinya malam itu aku merasa seperti sedang membaca dokumentasi sistem yang belum pernah kulihat.

Aurelia menangkap tatapanku.

Dia tidak berkata apa-apa. Hanya menyenggol kakiku di bawah meja.

Aku mengambil garpu yang salah untuk hidangan berikutnya.

Aurelia menyentuh pergelangan tanganku dari bawah meja dan menggeser garpu yang benar ke arahku tanpa menatap.

Aku menahan senyum.

Beberapa menit kemudian, tangan kami bertemu di bawah meja.

Dia meremas satu kali.

Aku membalas satu kali.

Kode bodoh yang tidak pernah kami sepakati.

Tetapi aku mengerti.

Aku aman.

Setidaknya bersamanya.


Setelah makan, percakapan berpindah ke ruang keluarga.

Vincent dan Adrian membicarakan proyek hotel.

Aku tidak mengerti separuh istilahnya.

Nilai yang mereka sebut begitu besar sampai otakku otomatis mengubahnya menjadi jumlah motor yang bisa dibeli.

Aurelia duduk di sampingku.

“Bosen?”

“Sedikit.”

“Mau kabur?”

“Belum.”

“Belum?”

“Masih ada makanan penutup.”

Dia menahan tawa.

Helena menyajikan cake.

Aku baru mengambil satu potong ketika Kevin duduk di seberang.

“Rak, serius. Lo mau terus di tech?”

“Iya.”

“Prospeknya bagus?”

“Semoga.”

“Kalau enggak, kabarin. Bokap kenal banyak orang.”

Nada suaranya terdengar baik.

Mungkin memang baik.

Tapi ada sesuatu dalam cara dia mengatakannya yang membuat tawaran itu terasa seperti bantuan untuk seseorang yang sudah dipastikan akan gagal.

Aku tersenyum.

“Makasih.”

Kevin bersandar. “Serius. Banyak orang pinter mentok bukan karena skill, tapi enggak punya akses. Sayang aja kalau lo susah sendiri.”

Kalimatnya terdengar masuk akal.

Mungkin karena itu rasanya lebih sulit ditolak tanpa terdengar sombong.

Aku tersenyum tipis. “Kalau suatu hari butuh, gue ingat.”

Aurelia langsung menyela.

“Raka enggak butuh dicarikan kerja.”

Kevin menatapnya.

“Gue cuma nawarin.”

“Aku tahu.”

Nada Aurelia masih tenang.

Aku menyentuh lututnya.

Cukup.

Dia menoleh.

Aku menggeleng kecil.


Di balkon lantai dua, Aurelia akhirnya meledak.

“Maaf.”

“Buat apa?”

“Kevin.”

“Dia cuma nanya.”

“Dia enggak cuma nanya.”

Aku memandang halaman.

Dari atas, motorku terlihat lebih kecil lagi di antara mobil-mobil yang parkir.

“Lia. Enggak apa-apa.”

Dia berdiri di depanku.

“Kamu enggak harus selalu bilang begitu.”

“Aku memang enggak apa-apa.”

Tatapannya lama.

Aku mengubah topik.

“Rumahmu punya terlalu banyak pintu.”

Dia berkedip.

“Aku dari tadi takut salah masuk kamar mandi terus keluar di Singapura.”

Aurelia tertawa sampai harus memegang lenganku.

“Bodoh.”

“Faktual.”

“Rumah ini enggak sebesar itu.”

“Kamu kehilangan hak menentukan ukuran normal sejak lahir.”

Dia mencubit lenganku.

Aku menangkap tangannya.

Jarak kami berubah.

“Kamu tadi bilang nilainya delapan,” kataku.

“Hm.”

“Aku datang tepat waktu.”

“Delapan setengah.”

“Aku bertahan makan malam.”

“Sembilan.”

“Aku enggak kabur waktu ditanya gaji.”

Senyumnya menghilang sedikit.

Dia maju dan melingkarkan kedua tangan di pinggangku.

“Sepuluh.”

“Kasihan amat sistem nilainya.”

“Diam.”

Dia menyandarkan kepala ke dadaku.

“Kamu tahu aku enggak peduli, kan?”

“Tahu.”

“Motor kamu?”

“Jelek.”

Dia tertawa kecil.

“Gaji kamu?”

“Sedih.”

“Raka.”

Aku menunduk.

“Aku tahu.”

Dia mengangkat wajah.

“Bagus.”

Aku mencium keningnya.

Dia tetap menatap.

Aku mencium pipinya.

Masih menatap.

“Serakah.”

“Belum dapat yang aku mau.”

“Di rumah orang tua kamu?”

“Rumah aku juga.”

“Argumentasi yang berbahaya.”

Tangannya naik ke kerahku.

“Takut lagi?”

“Sedikit.”

“Bagus.”

Dia menarikku turun dan menciumku lebih dulu.

Aku sempat kaku karena pintu balkon hanya beberapa meter di belakangnya.

Kemudian tanganku otomatis berada di pinggangnya.

Ciumannya tidak lama.

Ketika dia mundur, senyumnya puas.

“Sekarang sebelas.”

“Curang.”

“Aku yang bikin sistem.”

Pintu balkon terbuka.

Kami langsung menjauh.

Helena berdiri sambil membawa dua cangkir.

Tatapannya pindah dari Aurelia kepadaku, lalu ke jarak dua meter yang mendadak kami ciptakan.

“Teh?”

“Boleh, Ma,” jawab Aurelia terlalu cepat.

Helena menahan senyum.

Aku ingin lompat dari balkon.

Setelah Helena pergi, Aurelia menutup wajah dengan kedua tangan.

“Malunya sekarang?” tanyaku.

“Diam.”

“Tadi siapa yang bilang ini rumahnya juga?”

Dia menendang sepatuku pelan.

Aku tertawa.

Aurelia menurunkan tangannya dan menatapku. “Kamu masih mau datang lagi?”

“Kalau cake-nya sama.”

“Raka.”

Aku membiarkan jeda sebentar.

“Iya.”

Wajahnya langsung melunak.

“Aku mau datang lagi.”

Aku ingin lompat dari balkon tadi karena malu.

Sekarang, anehnya, aku justru tidak ingin cepat-cepat pulang.


Saat aku hendak pulang, Adrian ikut sampai depan.

“Raka.”

“Iya, Om?”

“Lain kali datang lagi.”

Aku sedikit terkejut.

“Terima kasih.”

Ia melihat motorku.

“Hati-hati.”

Aurelia memasang helm cadangan.

Aku menoleh.

“Kamu ikut?”

“Antar aku.”

“Ke mana?”

“Keluar kompleks.”

“Kamu tinggal di sini.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Aku mau naik motor.”

Helena tertawa dari belakang.

Adrian hanya menghela napas.

Aurelia naik dan langsung memeluk pinggangku.

Sebelum bergerak, aku melihat rumah itu sekali lagi.

Malam itu aku menganggap kegugupanku konyol.

Aku sudah bertemu keluarganya.

Tidak terjadi apa-apa.

Tidak ada yang mengusirku.

Tidak ada yang melarang.

Aku pikir mungkin perbedaan dunia kami hanya terlihat besar dari luar.

Aku belum tahu bahwa tembok jarang dibangun dalam satu malam.

Biasanya ia naik sedikit demi sedikit.