← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Twenty Four

Kalau Mau Tinggal

POV: Aurelia

Setelah aku bilang kamu, Raka berubah.

Sedikit.

Cukup untuk membuatku serakah.

Dia mulai mengirim pesan lebih dulu.

Pertama kali pesan Makan masuk, aku menatap layar hampir semenit.

Aku membalas foto salad.

Raka:

Itu daun.

Aku:

Healthy.

Itu garnish.

Aku tertawa di ruang meeting kosong.

Hari berikutnya dia mengirim foto langit gelap.

Hujan. Bawa payung.

Aku membalas:

Ada driver.

Payung tetap berguna setelah turun mobil.

Aku tidak punya argumen.

Dia mulai mengirim pesan lebih dulu.

Bukan romantis.

Makan.

Meeting pindah jam 2.

Hujan. Bawa payung.

Tetap Raka.

Tetapi sekarang aku bangun pagi dan ada namanya di layar tanpa aku mulai.

Aku tidak pernah mengira tiga huruf “Rak” di notifikasi bisa membuat perempuan dua puluh delapan tahun tersenyum seperti anak sekolah.

Memalukan.

Aku menikmatinya.

Tasha tentu saja tahu.

Progress?

Aku membalas:

Dia chat duluan.

ISI?

Hujan. Bawa payung.

Tiga detik kemudian:

HAHAHAHA ROMANTIS SEKALI BMKG.

Aku memblokir Tasha selama lima menit.

Kemudian membuka blokir karena dia mengirim screenshot lewat email kantor.

Aku menikmatinya.


Kami harus menghadiri dinner partner di hotel.

Setelah acara selesai, aku dan Raka masuk lift.

Berdua.

Lagi.

Sepertinya semesta suka drama murah.

Aku melepas heels sebentar dan menghela napas.

“Capek?”

“Sedikit.”

Raka menekan tombol basement.

Aku berdiri dekat dinding.

Dia di samping.

Tidak ada flirting.

Sepanjang dinner, Raka justru terlalu profesional.

Dia duduk dua kursi dariku.

Tidak sekali pun mencari kesempatan menyentuh.

Aneh sekali bagaimana absennya sesuatu bisa terasa lebih jelas setelah berminggu-minggu teasing.

Ketika acara selesai, aku sengaja menunggu lift yang sama.

Aku tidak bangga.

Sedikit.

Tidak ada flirting.

Aneh.

Aku menoleh.

“Kamu kenapa?”

“Apa?”

“Diam.”

“Lift.”

“Itu bukan alasan.”

Raka menatapku.

Ada sesuatu di matanya.

Aku langsung berhenti bercanda.

“Lia.”

“Hm?”

“Waktu lo bilang mau gue…”

Jantungku mulai cepat.

“Ya?”

“Gue pengin percaya.”

Aku menelan ludah.

“Tapi?”

“Takut.”

Raka jarang mengucapkan kata itu.

Aku tidak bergerak.

“Takut apa?”

“Gue.”

Aku mengerutkan kening.

“Gue tahu cara pergi,” katanya. “Gue belum tahu apakah gue sudah belajar cara tinggal.”

Pintu lift terbuka di lantai parkir.

Tidak ada yang masuk.

Pintu menutup lagi karena kami tidak bergerak.

Aku menekan tombol open.

“Raka.”

Dia menatapku.

“Aku enggak butuh jaminan.”

“Lia—”

“Aku butuh kamu ngomong kalau takut. Kayak sekarang.”

Aku mendekat.

Jarak kami tinggal beberapa senti.

Raka tidak mundur.

Tangannya naik ke pinggangku.

Pelan.

Seolah memberi waktu untuk menolak.

Aku tidak.

Tanganku naik ke belakang lehernya.

Raka menarik napas.

Aku merasakan seluruh tubuhnya menegang di bawah sentuhanku.

Tidak ada anak muda gugup di sini lagi.

Ada dua orang dewasa yang sangat tahu apa yang mereka inginkan dan justru karena itu harus lebih hati-hati.

Napas kami bercampur.

Tujuh tahun terasa seperti berdiri di antara bibir kami.

Raka menunduk.

Aku tahu dia akan menciumku.

Seluruh tubuhku menginginkannya.

Aku menaruh tangan di dadanya.

“Jangan.”

Dia langsung berhenti.

Tangannya lepas dari pinggangku.

Wajahnya berubah.

“Sorry.”

Aku menangkap kemejanya sebelum dia mundur.

“Bukan begitu.”

Raka diam.

Aku menarik napas.

“Aku mau.”

Aku tidak akan pura-pura tidak tertarik.

Aku sudah dua puluh delapan tahun. Dia dua puluh sembilan. Kami pernah saling mencintai, pernah saling mencium, dan sekarang berdiri begitu dekat sampai aku bisa mencium aroma kopinya.

Masalahnya bukan keinginan.

Masalahnya apa yang terjadi setelahnya.

Matanya turun ke bibirku.

“Banget.”

Aku hampir tertawa karena betapa jujurnya kalimat itu.

“Tapi aku enggak mau kamu cium aku cuma karena kangen.”

Raka menatapku.

“Aku mau kamu cium aku kalau kamu sudah memutuskan mau tinggal.”

Raka menutup mata sebentar.

Aku bisa merasakan jantungnya di bawah telapak tanganku.

Cepat.

Sama cepat dengan milikku.

“Aku benci lo masuk akal,” katanya.

Aku hampir tertawa.

“Aku juga.”

“Kalau gue cium sekarang?”

Aku menelan ludah.

“Aku mungkin enggak bisa berhentiin kedua kali.”

Tatapannya menjadi lebih gelap.

Kesalahan.

Kalimat itu terlalu jujur.

Raka menarik napas dan mundur setengah langkah sendiri.

Itulah jawaban yang kubutuhkan.

Dia bisa berhenti.

Sunyi.

Pintu lift berbunyi lagi.

Aku melepas kemejanya.

Raka menekan tombol basement.

Kali ini kami keluar.


Di parkiran, dia berjalan di sampingku.

Tidak menyentuh.

Aku takut sudah mendorong terlalu jauh.

Sampai tangannya tiba-tiba menangkap tanganku.

Aku menoleh.

Raka tetap melihat depan.

Jemarinya menyelip di antara jemariku.

“Gue kangen,” katanya.

Aku menatap tangan kami.

“Bilang lagi.”

Raka menoleh.

“Apa?”

“Aku nunggu tujuh tahun. Boleh minta repeat.”

Dia menghela napas, tetapi senyum kecil muncul.

“Gue kangen lo.”

Kali ini lebih jelas.

Aku menahan air mata.

“Bagus.”

“Lo?”

“Aku sudah bilang.”

“Due diligence.”

Aku tertawa.

“Aku kangen kamu, Raka.”

Dadaku sakit.

Aku menggenggam lebih erat.

“Aku juga.”

“Setiap hari?”

Aku menatapnya.

Dia akhirnya menoleh.

Ada senyum tipis.

“Geer.”

“Due diligence.”

Aku tertawa.

Ketegangan pecah.

Kami sampai mobilku.

Raka tidak melepas tangan.

“Lia.”

“Hm?”

“Thanks.”

“Buat?”

“Berhentiin gue.”

Aku mengangguk.

“Dulu aku enggak bisa.”

Wajahnya berubah.

“Tapi sekarang bisa.”

Aku menyentuh pipinya.

“Dan kamu berhenti.”

Itu penting.

Aku pernah takut kalau bertemu lagi, kami akan kembali menjadi dua anak muda yang sama.

Ternyata tidak.

Aku bisa mengatakan tidak.

Raka bisa mendengarnya tanpa menganggap penolakan sebagai akhir.

Mungkin itulah bukti pertama bahwa tujuh tahun tidak sepenuhnya sia-sia.

Kami terluka.

Tapi kami juga tumbuh.

Itu penting.

Dia tahu.

Aku masuk mobil.

Sebelum pintu tertutup, Raka berkata, “Kasih gue sedikit waktu.”

Aku tersenyum.

“Ambil.”

Kemudian menambahkan:

“Tapi jangan tujuh tahun.”

Dia tertawa.

Mobil bergerak.

Aku melihatnya dari kaca belakang.

Aku sudah mengatakan apa yang kuinginkan.

Sudah mengejar.

Sudah membuka pintu.

Sekarang aku berhenti.

Bukan menyerah.

Aku hanya mengembalikan pilihan kepadanya.

Kalau Raka datang, kali ini harus karena dia sendiri memilih tinggal.

Malam itu aku tidak mengirim pesan.

Tidak mengirim meme.

Tidak mencari alasan kerja.

Aku menaruh ponsel jauh dari tempat tidur.

Pukul sebelas layar menyala.

Raka.

Sudah sampai?

Aku tersenyum.

Sudah.

Tiga titik.

Good night, Lia.

Dadaku menghangat.

Good night, Raka.

Aku tidak menambahkan apa pun.

Jari-jariku masih mengingat tekstur kemejanya.

Bibirku masih terlalu sadar bahwa kami hampir berciuman.

Tetapi yang paling tinggal justru satu hal lain:

Raka berhenti ketika aku bilang jangan.

Tanpa protes.

Tanpa membuatku merasa bersalah.

Mungkin kami memang bisa membangun sesuatu yang berbeda kali ini.

Aku tidak menambahkan apa pun.

Aku meletakkan ponsel di dada.

Tasha mengirim pesan satu menit kemudian.

Aku tidak membalas.

Untuk pertama kalinya sejak reunion, aku tidak perlu menganalisis apakah besok harus menghubungi Raka.

Dia tahu aku ada.

Dia tahu aku mau.

Sekarang ruang kosong itu miliknya.

Pengejaranku berhenti malam itu.

Sekarang gilirannya memilih arah.

Aku memejamkan mata.

Tidak ada ciuman malam ini.

Aneh sekali aku justru merasa kami lebih dekat.

Mungkin karena kali ini keinginan tidak menentukan keputusan.

Kami yang menentukan.

Bersama, bahkan ketika jawabannya belum sekarang.

Aku tahu setelah malam ini aku harus berhenti mendorong. Raka sudah mendengar jawabanku. Kalau aku terus mengejar, aku hanya akan mengganti keputusan sepihaknya dulu dengan keputusan sepihakku sekarang. Aku tidak mau itu.

Aku akan menunggu. Bukan pasif, bukan tanpa batas. Hanya cukup lama untuk melihat apakah langkah berikutnya benar-benar datang dari Raka.