Chapter Thirty Two
Foto yang Tidak Dibuang
POV: Aurelia
Aku menemukan foto itu karena mencari plester.
Raka sedang mandi.
Aku menggores jari saat membuka kemasan.
“Plester di mana?” teriakku.
“Laci meja kerja!”
Aku membuka laci pertama. Kabel.
Laci kedua. Obat.
Aku melihat dompet lama di sudut.
Pinggirnya mengelupas.
Aku mengambil kotak obat di bawahnya.
Dompet jatuh.
Terbuka.
Foto kecil meluncur ke lantai.
Aku berhenti bernapas.
Photo booth.
Umur dua puluh satu.
Aku mencium pipi Raka sementara dia melihat kamera dengan ekspresi bodoh.
Sudut foto sudah kusut.
Warnanya pudar.
Tetapi disimpan.
Tujuh tahun.
Aku teringat hari-hari pertama setelah putus.
Aku menghapus foto dari ponsel satu per satu sambil menangis, lalu memulihkannya dari folder deleted, lalu menghapus lagi.
Tasha akhirnya mengambil ponselku.
Beberapa foto dicetak dan kumasukkan ke box karena aku tidak sanggup merobeknya.
Aku selalu mengira Raka lebih kuat.
Ternyata mungkin dia hanya lebih sunyi.
Tujuh tahun.
Pintu kamar mandi terbuka.
Raka melihatku, lalu foto di tanganku.
Wajahnya berubah.
“Lia.”
“Kenapa kamu simpan?”
Dia duduk.
“Enggak tahu.”
“Bohong.”
“Iya.”
Aku mendekat.
“Awalnya karena enggak sanggup buang.”
“Terus?”
“Lama-lama… ya ada.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Jawaban kamu jelek.”
“Gue tahu.”
“Kenapa enggak pernah bilang?”
“Buat apa?”
“Entahlah.”
Aku memegang foto lebih hati-hati.
“Pernah ada yang lihat?”
“Dion.”
“Kapan?”
“Beberapa kali.”
“Maya?”
“Mungkin.”
“Clara?”
Aku menyesal begitu nama itu keluar.
Raka menatapku.
“Enggak.”
“Okay.”
“Jealous?”
“Bukan waktunya.”
Dia hampir tersenyum.
Aku menunjuk foto.
“Fokus pada barang bukti.”
“Entahlah.”
“Foto itu bukan alasan gue balik.”
Aku mengangguk.
Aku tahu kenapa dia mengatakan itu.
Dia tidak ingin hubungan kami dibangun hanya dari nostalgia.
“Tapi kamu enggak pernah buang.”
“Enggak.”
Satu kata.
Tujuh tahun.
“Aku buang hampir semua.”
“Foto?”
“Iya. Marah.”
“Fair.”
“Ada satu box yang enggak.”
“Di mana?”
“Storage.”
Dia tersenyum tipis.
“Berarti sama.”
“Enggak. Dompet kamu lebih dramatis.”
Dia tertawa.
Kemudian air mata jatuh dari matanya.
Raka langsung mengusapnya seperti malu.
“Sorry.”
“Jangan.”
Aku bergerak ke belakang sofa dan memeluk bahunya.
Raka diam.
Lalu tangannya memegang lenganku.
Kuat.
Tidak ada “aku tidak apa-apa”.
Tidak ada lelucon.
Dia membiarkan dirinya menangis.
Pelan.
Tidak lama.
Cukup.
“Aku hampir balik banyak kali.”
“Aku tahu sekarang.”
“Gue takut.”
“Aku tahu.”
“Waktu Nara mulai besar, gue pikir kalau balik nanti kelihatan kayak gue cuma datang setelah punya sesuatu.”
Aku memeluk lebih erat.
“Bodoh.”
“Iya.”
“Aku akan tetap nampar.”
Dia tertawa di tengah tangis.
“Fair.”
Aku mengusap rambutnya.
“Waktu nangis dulu, siapa yang peluk?”
Raka diam.
Pertanyaan itu keluar sebelum kupikirkan.
“Enggak ada.”
Dadaku langsung sakit.
“Dion sama Maya ada. Ibu ada. Tapi… bukan begitu.”
Aku memeluk lebih erat.
Aku tidak bisa mengembalikan tujuh tahun itu.
Tidak bisa hadir di malam-malam yang sudah lewat.
Yang bisa kulakukan hanya tidak membuat kesedihan hari ini tentang rasa bersalahku.
Jadi aku tidak minta maaf.
Aku hanya tetap memeluk.
Beberapa menit kemudian napasnya tenang.
“Thanks.”
Aku mencium rambutnya.
“Hm.”
“Fair.”
Kami duduk di lantai.
Foto di antara kami.
“Aneh, ya,” katanya.
“Apa?”
“Dulu gue pikir kalau sukses, semua rasa ini hilang.”
“Makanya kerja gila?”
“Sebagian.”
“Revenge?”
Raka berpikir.
“Awalnya iya.”
Aku menatapnya.
Jujur lagi.
“Pengen bikin mereka notice?”
“Iya.”
“Sekarang?”
Dia melihat foto.
“Sekarang gue lebih pengin tidur cukup.”
Aku tertawa.
“Growth.”
“Dulu gue pikir kalau sukses, semua rasa ini hilang.”
“Enggak?”
“Enggak.”
“Bagus.”
“Kenapa bagus?”
“Kalau hilang semua, berarti aku enggak penting.”
“Logika jelek.”
“Aku director. Jangan debat.”
Raka tertawa.
Aku menyandarkan kepala ke bahunya.
“Jangan buang fotonya.”
“Enggak.”
“Tapi tambah baru.”
“Foto?”
“Iya.”
Aku mengambil ponsel.
“Sekarang.”
“Lia, gue habis nangis.”
“Authentic.”
Kami mengambil foto.
Matanya sedikit merah.
Aku tersenyum lebar.
Tidak sempurna.
Aku menyukainya.
“Print.”
“Serius?”
“Buat dompet. Di samping yang lama.”
Raka melihat dua foto di layar.
Lama.
Kemudian mencium keningku.
“Okay.”
Aku membuka galeri.
“Aku punya satu lagi.”
Foto Raka tidur di pahaku hari Minggu.
Dia langsung mencoba mengambil ponsel.
“Delete.”
Aku menjauh.
“Tidak.”
“Lia.”
“Ini buat koleksi pribadi.”
“Blackmail.”
“Affection.”
Dia mengejarku mengitari sofa.
Aku tertawa sampai hampir jatuh.
Akhirnya Raka menangkap pinggangku.
“Delete.”
“Cium dulu.”
Dia menatap.
“Bribery.”
“Policy?”
“Longgar di rumah.”
Dia menciumku.
Aku tetap tidak menghapus foto.
“Okay.”
Plester yang kucari ternyata ada di laci ketiga.
Raka memasangnya di jariku.
“Cuma segini?”
“Darah tetap darah.”
“Drama.”
“Kata orang yang simpan foto tujuh tahun.”
Dia diam.
Aku tertawa.
Raka selesai memasang plester, lalu mencium ujung jariku.
Aku langsung diam.
“Medical procedure,” katanya.
Aku memukul bahunya.
Kemudian mataku jatuh ke jam tangannya.
“Jam lama?”
“Masih ada.”
“Di mana?”
“Box.”
Aku menatap.
“Kenapa simpan semua?”
“Enggak semua.”
“Yang dari aku?”
Raka diam.
Jawaban.
“Raka.”
“Jamnya rusak. Kemeja hitam sudah enggak ada. Ada beberapa tiket.”
“Tiket?”
“Film.”
Aku menutup wajah.
“Dompet dramatis ternyata punya teman.”
“Jangan mulai.”
Aku tertawa.
Ternyata kami berdua punya box masing-masing.
Bedanya, box Raka tersebar di laci hidupnya.
Aku memukul bahunya.
Aku melihat dompet tua itu lagi.
“Kenapa enggak ganti?”
“Masih berfungsi.”
“Tentu.”
“Kenapa?”
“Enggak ada.”
Aku sudah tahu suatu hari dompet itu harus diganti.
Bukan sekarang.
Dan ketika hari itu datang, foto lama tidak perlu dibuang bersamanya.
Aku suka versi Raka ini.
Bukan karena lebih berani menggoda.
Karena dia tidak lagi buru-buru menyembunyikan kelembutan setelah ketahuan.
Aku menyandarkan kepala di bahunya lagi.
“Kita enggak harus bikin semua kenangan lama jadi indah.”
“Gue tahu.”
“Yang jelek tetap jelek.”
“Iya.”
“Tapi enggak perlu pura-pura enggak pernah ada.”
Raka menggenggam tanganku.
“Setuju.”
Itu mungkin alasan foto baru terasa penting.
Bukan mengganti yang lama.
Menambah bukti bahwa cerita kami tidak berhenti di sana.
Masa lalu tidak perlu dibuang.
Tapi mulai hari itu, ia tidak lagi sendirian di dalam dompet Raka.
Malamnya Raka mengirim foto dompet terbuka. Foto lama masih di sana. Di sebelahnya ada ruang kosong. Pesannya: Besok print. Aku membalas satu hati. Tidak perlu kata lain.
Aku membuka storage di condo malam itu.
Box milikku masih ada.
Aku tidak membukanya.
Belum perlu.
Mengetahui aku bisa membukanya kapan saja tanpa tenggelam sudah cukup.
Mungkin healing bukan saat benda lama berhenti membuat sakit.
Mungkin saat kita tidak lagi takut pada apa yang akan kita rasakan kalau melihatnya.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang reading
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk