Chapter Eleven
Yang Melepaskan Tangan
POV: Raka
Aku tidak tidur malam itu.
Aku membuat daftar.
Sebelum itu aku sempat menulis pesan untuk Aurelia.
Maaf soal tadi malam. Kita cari jalan bareng.
Aku menatapnya hampir satu menit.
Lalu menghapus.
Aku menulis lagi.
Jangan berantem sama Papa.
Hapus.
Pada akhirnya tidak ada pesan yang terkirim.
Hal paling bodoh yang bisa dilakukan seseorang ketika hidupnya sedang berantakan adalah membuka spreadsheet.
Aku tetap melakukannya.
Gaji.
Tabungan.
Biaya hidup.
Perkiraan sewa apartemen.
Asuransi.
Kebutuhan Ibu.
Angka-angka yang sebenarnya tidak pernah diminta Aurelia.
Lalu aku menghapus semuanya.
Masalahnya bukan apakah aku bisa membuat angka itu cukup.
Mungkin lima tahun lagi bisa.
Mungkin dua tahun.
Mungkin satu.
Aku percaya pada diriku sendiri.
Yang tidak kupercaya adalah hakku meminta Aurelia menunggu sambil melawan seluruh dunianya.
Pukul empat pagi, aku membuka foto kami.
Aurelia sedang tertawa dengan es krim di tangan.
Aku menyimpannya lagi.
Pukul enam, aku memutuskan sesuatu yang akan kubenci selama bertahun-tahun.
Kami bertemu sore hari di taman tempat pernah membicarakan rumah kecil.
Aurelia datang lebih dulu.
Dia tidak memakai makeup banyak. Rambutnya diikat. Ada lingkaran tipis di bawah mata.
Dia juga tidak tidur.
Aku duduk di sebelahnya.
Tidak terlalu dekat.
Dia langsung melihat jarak itu.
“Aku sudah bicara sama Papa.”
Aku menutup mata sebentar.
“Lia.”
“Aku bilang aku enggak minta izin.”
“Harusnya jangan.”
“Kenapa?”
“Karena ini bikin kamu berantem sama keluarga.”
“Biarin.”
“Enggak.”
Dia menatapku.
“Apa?”
Aku sudah melatih kalimat ini.
Tetap terasa seperti menelan kaca.
“Kita berhenti.”
Tidak ada reaksi beberapa detik.
Suara anak kecil bermain terdengar dari kejauhan.
Aurelia tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
“Apa?”
“Kita berhenti.”
“Berhenti apa?”
Aku menatapnya.
Dia tahu.
Aku tetap harus mengatakannya.
“Pacaran.”
Wajahnya kosong.
Kemudian dia berdiri.
Aku ikut berdiri.
“Enggak.”
“Lia.”
“Enggak.”
“Aku sudah pikir—”
“Sendiri.”
Aku diam.
Dia tertawa lagi. Kali ini matanya mulai basah.
“Kamu pikir sendiri.”
“Aku cuma enggak mau—”
“Aku enggak peduli kamu mau apa. Ini hubungan kita.”
Beberapa orang lewat.
Aku tidak melihat mereka.
“Aku enggak bisa bikin kamu terus berantem sama keluarga.”
“Aku yang berantem. Bukan kamu.”
“Karena aku.”
“Karena mereka salah.”
“Dan kalau lima tahun lagi kamu capek?”
“Biar aku yang capek!”
Suaranya pecah.
Aku menggenggam tangan agar tidak menariknya ke pelukan.
Aurelia mendekat.
“Dengar aku.”
Aku tidak mau.
Aku tetap mendengar.
“Aku bisa keluar dari rumah.”
Dadaku langsung sesak.
“Aku punya tabungan sendiri. Aku bisa kerja. Kita enggak harus nikah besok. Aku enggak minta rumah. Aku enggak minta mobil. Aku enggak minta apa-apa.”
Setiap kalimatnya justru mendorongku lebih jauh.
Karena dia benar-benar siap.
Siap meninggalkan semuanya.
Untukku.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Aku enggak mau.”
“Kamu enggak mau aku?”
Aku tidak menjawab.
Dia menangkap wajahku dengan kedua tangan.
“Lihat aku.”
Aku melihat.
Air matanya jatuh.
“Kalau kamu bilang kamu enggak cinta aku, aku pergi.”
Jantungku berhenti.
“Aku serius.”
“Lia.”
“Bilang.”
Aku tidak bisa.
Dia tahu.
Harapan kecil muncul di matanya.
Itulah saat aku melakukan hal paling pengecut dalam hidupku.
“Mungkin keluargamu benar.”
Harapan itu berhenti.
Aku melanjutkan sebelum kehilangan keberanian.
“Kita terlalu beda.”
Aurelia melepaskan wajahku.
“Apa?”
“Aku capek.”
Bohong.
“Aku capek setiap ketemu keluarga kamu harus mikir aku pakai apa, datang pakai apa, kerja di mana.”
Sebagian benar.
Itu membuat kebohongan lebih mudah.
“Aku capek merasa harus ngejar sesuatu cuma supaya bisa duduk di meja yang sama.”
Dia menggeleng pelan.
“Aku enggak pernah minta.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa kamu hukum aku buat sesuatu yang orang lain lakukan?”
Aku tidak punya jawaban.
Karena memang itulah yang kulakukan.
Aku mengeraskan suara.
“Aku enggak menghukum kamu.”
“Terus ini apa?”
Aku memandang ke tempat lain.
“Realistis.”
Kata yang sering dipakai keluarganya.
Aku melihat kata itu melukai dia.
Tetap kulanjutkan.
“Mungkin kita cuma terlalu muda.”
“Jangan.”
“Kamu akan baik-baik aja.”
“Jangan ngomong kayak kamu tahu hidup aku.”
“Aku cuma—”
“Jangan!”
Orang-orang menoleh.
Aku tidak peduli lagi.
Aurelia menangis tanpa mencoba menyembunyikannya.
“Kamu masih cinta aku?”
Pertanyaan itu datang lagi.
Kali ini tidak ada tempat bersembunyi.
Kalau aku menjawab iya, semuanya selesai.
Dia akan memelukku.
Aku akan menyerah.
Aku ingin menyerah.
Aku membayangkan rumah kecil.
Meja empat kursi.
Kipas dengan colokan yang tidak longgar.
Aurelia mencuri kentangku.
Semua yang kuinginkan ada beberapa langkah di depanku.
Lalu aku membayangkan dia bertahun-tahun kemudian menatap kehidupan yang ditinggalkannya.
Aku takut suatu hari cinta di matanya berubah menjadi penyesalan.
Aku lebih takut menjadi penyebabnya.
“Itu sudah enggak penting,” kataku.
Aurelia menatapku seolah baru saja ditampar.
Aku hampir menarik kembali kalimat itu.
Hampir.
Dia mengangguk pelan.
Sekali.
“Baik.”
Suaranya sangat kecil.
Dia mengambil tasnya.
Aku berdiri diam.
Aurelia berjalan dua langkah, lalu berhenti.
Aku berharap dia menoleh.
Aku berharap dia tidak.
Dia menoleh.
“Kalau suatu hari kamu sadar kamu salah…”
Aku menahan napas.
“…jangan datang cuma karena kesepian.”
Aku tidak bisa menjawab.
Dia pergi.
Aku melihat sampai tubuhnya hilang di antara orang-orang.
Baru setelah itu aku duduk.
Tanganku gemetar.
Aku membuka ponsel.
Ada foto kami di layar.
Aku menutupnya lagi.
Tiga hari berikutnya, Aurelia menelepon dua puluh tujuh kali.
Aku menghitung karena setiap panggilan terasa seperti sesuatu yang harus kutahan.
Aku tidak memblokirnya.
Belum.
Pada panggilan kedua puluh delapan, aku mengangkat.
Tidak ada suara beberapa detik.
Kemudian:
“Raka.”
Aku menutup mata.
“Hm?”
“Aku cuma mau satu jawaban.”
Aku menunggu.
“Kalau aku datang sekarang, kamu bakal ketemu aku?”
Aku menggigit bagian dalam pipi.
“Jangan.”
Dia menarik napas.
“Okay.”
Satu kata.
Telepon terputus.
Malam itu aku mengganti nomor.
Seminggu kemudian aku menerima tawaran kerja dari kota lain yang sebelumnya hampir kutolak.
Aku mengambilnya.
Dion, teman yang kukenal dari komunitas developer, mengirim pesan tentang ide produk kecil yang sedang dia bangun.
Butuh orang backend. Bayaran belum jelas.
Aku membalas:
Gue ikut.
Aku tidak punya rencana besar.
Tidak ada unicorn.
Tidak ada janji akan menjadi siapa.
Aku hanya tahu satu hal.
Aku tidak mau lagi duduk di meja mana pun sambil merasa harga kursiku ditentukan orang lain.
Di kamar kos yang setengah kosong, aku memasukkan pakaian ke kardus.
Empat kemeja.
Kemeja hitam ada di paling atas.
Aku hampir membuangnya.
Tidak jadi.
Dompetku jatuh ketika aku mengangkat tas.
Sebuah foto kecil keluar.
Aku dan Aurelia.
Foto dari booth murah di mal.
Dia mencium pipiku sementara aku melihat kamera dengan ekspresi bodoh.
Aku duduk di lantai.
Untuk pertama kalinya sejak taman, aku membiarkan diriku menangis.
Tidak lama.
Cukup sampai napasku kembali normal.
Aku memasukkan foto itu ke dompet.
Bukan karena berharap kembali.
Justru sebaliknya.
Aku membuat janji kepada diriku sendiri.
Aku tidak akan menemuinya lagi.
Tidak sampai rasa kecil ini hilang.
Tidak sampai aku bisa melihat semua orang yang pernah mengukurku dan tidak merasakan apa-apa.
Suatu hari, pikirku, aku akan membangun sesuatu yang begitu besar sampai mereka mengenal namaku sebelum melihat wajahku.
Suatu hari aku tidak perlu meminta tempat di meja siapa pun.
Mereka yang akan datang ke mejaku.
Saat itu aku dua puluh dua tahun.
Marah.
Patah hati.
Dan cukup bodoh untuk percaya bahwa kalau aku membangun tembok yang lebih tinggi daripada milik mereka, aku akhirnya akan bebas.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan reading
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk