Chapter Fifteen
Orang Asing yang Terlalu Mengenal
POV: Raka
Pipiku masih sedikit sakit keesokan paginya.
Dion melihatnya saat masuk lift.
“Gue enggak akan nanya.”
“Bagus.”
“Karena gue sudah tahu.”
Aku menoleh.
Dia tertawa.
“Maya.”
“Pengkhianat semua.”
“Worth it?”
Aku tidak menjawab.
Pintu lift terbuka.
Dion menepuk bahuku.
“Berarti iya.”
Workshop dimulai jam sepuluh.
Aurelia datang jam sembilan lima puluh dua.
Dulu dia hampir selalu telat lima menit.
Sekarang dia datang lebih awal.
Aku tidak tahu kenapa detail itu terasa penting.
Dia mengenakan blazer abu-abu, rambut diikat rendah, dan ekspresi profesional yang tidak menyisakan jejak perempuan yang kemarin menangis di depanku.
“Pagi.”
“Pagi.”
Tidak ada Pak Raka.
Tidak ada Bu Aurelia.
Kemajuan.
Aku menawarkan kopi kepada tim.
Aurelia menjawab, “Latte.”
Aku berhenti.
Dulu dia minum terlalu banyak gula.
Sekarang latte tanpa tambahan apa pun.
“Berubah?” tanyaku.
Dia mengerti.
“Umur.”
Aku hampir tersenyum.
Tujuh tahun juga bisa diukur dari hal kecil seperti jumlah gula dalam kopi.
Kemajuan.
Kami duduk di sisi meja yang berbeda.
Dua jam berikutnya dipenuhi diagram arsitektur, data merchant, warehouse, loyalty, dan masalah sistem lama Wijaya yang lebih buruk daripada dugaan awal.
Aku menikmati pekerjaannya.
Saat dia menantang satu asumsi teknis, aku membalas dengan data. Dia tidak tersinggung. Justru tersenyum tipis dan mengubah slide.
Dulu kami pernah berdebat satu malam penuh soal film.
Sekarang kami berdebat soal migration strategy di depan dua belas orang.
Aneh sekali melihat hubungan lama menemukan bentuk baru.
Itu masalah.
Karena setiap kali Aurelia bicara, aku melihat bahwa dia benar-benar menguasai materi.
Bukan pewaris yang ditempatkan di jabatan bagus.
Dia tahu angka.
Tahu operasi.
Tahu kapan timnya mencoba menghindari pertanyaan.
Saat seorang kepala unit berkata data migration “seharusnya mudah”, Aurelia langsung berkata, “Kalau seharusnya mudah, kenapa tiga vendor sebelumnya gagal?”
Aku menunduk agar tidak terlihat tersenyum.
Dia melihat.
Tentu saja.
Alisnya naik.
Aku kembali ke layar.
Makan siang datang terlambat.
Aku masih membaca log ketika kotak makanan diletakkan di depanku.
Aku membuka.
Tidak pedas.
Kotak lain punya sambal.
Aku menoleh.
Aurelia sedang bicara dengan Niken.
Seolah merasakan tatapanku, dia menoleh.
“Apa?”
“Kok ini enggak pedas?”
“Kamu enggak suka makan pedas.”
“Aku suka.”
“Kamu cuma sok kuat.”
Aku hampir membalas, lalu berhenti.
Tujuh tahun.
Dia masih ingat.
Aurelia juga sadar.
Ekspresinya berubah sebentar.
Aku menutup kotak.
“Thanks.”
Salah satu engineer junior di sebelahku berbisik, “Pak, Bu Aurelia hafal makanan Bapak?”
Aku menoleh.
Dia langsung pucat.
“Maaf, Pak.”
Aurelia menahan tawa.
Aku mengusap wajah.
“Raka aja.”
Engineer itu mengangguk cepat.
Begitu dia pergi mengambil air, Aurelia berbisik, “Reputasi CTO galak?”
“Enggak.”
“Dia takut.”
“Karena lo.”
“Kenapa aku?”
“Lo bikin suasana aneh.”
“Aku?”
Aku menatapnya.
Dia tersenyum polos.
Tidak berubah sama sekali.
“Hm.”
Aku membuka botol air.
Aurelia menggeser satu kotak buah ke arahku.
“Apa lagi?”
“Kamu dulu selalu makan buah terakhir.”
“Aku masih.”
“Aku tahu.”
Aku melihatnya.
Dia buru-buru kembali ke laptop.
Aku hampir bertanya bagaimana dia tahu kalau kami tidak pernah bertemu.
Lalu sadar jawabannya mungkin sama dengan jawabanku kalau dia bertanya bagaimana aku tahu jabatannya sebelum proposal datang.
Internet.
Jarak tujuh tahun ternyata tidak selalu berarti tidak melihat.
Kami hanya melihat dari tempat yang aman.
Lima menit kemudian aku melihat dia mengambil sambal terlalu banyak.
Refleksku keluar.
“Jangan.”
Tangannya berhenti.
Seluruh meja sepertinya tidak sadar.
Kami sadar.
Aurelia menatap sendok sambal.
Lalu aku.
“Kamu juga masih ingat.”
Aku tidak punya jawaban.
Dia mengembalikan setengah sambal.
Aku kembali makan.
Aku bertanya-tanya berapa banyak kebiasaan kecil lain yang masih tersimpan tanpa izin.
Cara dia tidur kalau lelah.
Cara dia diam kalau marah.
Cara dia bilang “terserah” padahal punya pilihan jelas.
Informasi yang dulu disebut keintiman sekarang terasa seperti data lama yang belum pernah dihapus.
Orang asing yang terlalu mengenal.
Itulah kami sekarang.
Sore hari kami harus turun ke fulfillment center Wijaya di luar kota.
Kevin ikut.
Di mobil, dia duduk di depan sehingga aku dan Aurelia berada di belakang.
Aku memilih sisi jendela.
Aurelia duduk di sisi lain.
Jarak satu kursi kosong.
Sepuluh menit pertama aman.
Kemudian mobil mengerem mendadak.
Tanganku otomatis terulur ke depan tubuh Aurelia.
Gerakan lama.
Aku bahkan tidak berpikir.
Setelah mobil stabil, telapak tanganku masih beberapa senti dari bahunya.
Aku menariknya.
“Sorry.”
Aurelia melihatku.
“Refleks?”
“Iya.”
“Masih protektif?”
Aku menatapnya.
Kevin pura-pura sibuk dengan ponsel di depan.
“Seat belt juga protektif.”
Aurelia tersenyum tipis.
“Jawaban aman.”
“Memang.”
Dia tidak mengejar.
Aneh, justru itu membuatku semakin sadar jarak di antara kami.
Dia menoleh ke jendela.
Aku melihat sudut bibirnya bergerak.
Kevin menatap kami dari kaca spion.
Aku memberikan tatapan yang membuatnya segera melihat jalan.
Di fulfillment center, Aurelia melepas blazer dan menggulung lengan kemeja.
Kami berjalan hampir dua jam.
Dia menanyai supervisor, memeriksa alur barang, bahkan jongkok untuk melihat label rak yang salah.
Aku teringat perempuan dua puluh satu tahun yang menempel label katering miring.
Aku hampir tertawa.
Di rak sebelah ada label yang ditempel miring.
Bayangan Aurelia dua puluh satu tahun berlari mengitari meja makan Ibu dengan label katering di tangan muncul begitu jelas.
“Apa?”
Dia berdiri.
“Enggak ada.”
“Kamu senyum.”
“Enggak.”
“Bohong.”
Kalimat itu begitu familiar sampai kami sama-sama diam.
Aurelia akhirnya tertawa kecil.
Bukan tawa besar.
Tapi tawa pertama yang kubuat keluar darinya setelah tujuh tahun.
Dadaku terasa aneh.
Aku memalingkan wajah.
Saat kembali ke Jakarta, Kevin turun lebih dulu karena ada urusan.
Sekarang hanya kami di belakang.
Aurelia membuka laptop.
Aku juga.
Dua puluh menit kemudian kepalanya mulai turun.
Sekali.
Dua kali.
Akhirnya dia tertidur.
Mobil melewati jalan berlubang dan kepalanya jatuh ke bahuku.
Tubuhku membeku.
Driver tidak melihat.
Atau pura-pura tidak.
Aku bisa menggeser.
Tidak kulakukan.
Rambutnya menyentuh leherku.
Parfumnya berbeda dari tujuh tahun lalu.
Tetapi rasa sesak di dada sama.
Beberapa menit kemudian Aurelia bergerak.
Matanya terbuka.
Dia sadar posisi kami.
Tidak langsung menjauh.
Aku juga tidak.
Tatapan kami bertemu.
Jarak terlalu dekat.
Kemudian dia duduk tegak.
“Maaf.”
“Enggak apa-apa.”
Dia melihat ke depan.
Aku melihat jendela.
Tidak ada yang bicara sampai mobil tiba.
Ketika dia turun, Aurelia berhenti di pintu.
“Raka.”
“Hm?”
“Besok makan siang kosong?”
Aku langsung waspada.
“Bukannya hari ini kita makan siang?”
“Dengan dua belas orang.”
“Itu tetap makan.”
“Sedih sekali hidup sosial kamu.”
“Gue punya teman.”
“Dion enggak dihitung.”
“Kenapa?”
“Dia kelihatan seperti orang yang akan jual rahasia kamu demi makanan.”
Aku hampir tertawa karena deskripsinya tepat.
Aku langsung waspada.
“Kenapa?”
“Kerja.”
Dia tersenyum tipis.
“Tenang. Aku belum mulai.”
Pintu tertutup.
Aku menatapnya berjalan masuk gedung.
Belum mulai.
Aku tidak suka implikasi kalimat itu.
Malamnya aku membuka chat kerja kami.
Pesan terakhir:
Besok makan siang kosong?
Aku mengetik:
Jam satu.
Menghapus.
Mengetik lagi:
Bisa.
Menghapus.
Akhirnya kukirim:
Jam satu.
Balasannya datang dalam lima detik.
Good boy.
Aku menatap layar.
Tujuh tahun.
Dan dia masih berani.
Lebih buruknya, aku masih tersenyum.
Aku tidak suka implikasi kalimat itu.
Lebih tidak suka karena sebagian diriku ingin tahu apa yang akan dia mulai.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal reading
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk