Chapter Eight
Pulang Yuk
POV: Raka
Undangan itu datang dari Aurelia dalam bentuk pesan pendek.
Jumat kosong. Temenin aku.
Aku membalas:
Ke mana?
Acara keluarga.
Aku menatap layar cukup lama sampai pesan berikutnya muncul.
Jangan pura-pura mati.
Aku tertawa.
Dress code?
Formal.
Aku melihat empat kemeja di lemari.
Masalah.
Jumat malam, Aurelia menatap jas pinjaman Dion selama lima detik.
“Bagus.”
“Pinjaman.”
“Aku enggak nanya.”
“Biar transparan.”
Dia merapikan dasiku.
“Kamu ganteng.”
“Jangan mulai sebelum masuk.”
“Takut?”
“Pengalaman mengajarkan kehati-hatian.”
Aurelia tersenyum, tetapi matanya tidak.
Dia tahu aku masih mengingat beberapa makan malam sebelumnya.
“Kalau enggak nyaman, bilang.”
“Aku tahu.”
“Serius.”
Aku memegang tangannya.
“Lia. Aku datang karena kamu minta.”
“Aku tahu.”
“Berarti jangan habiskan malam mengkhawatirkan aku.”
Dia menghela napas.
“Nyebelin.”
“Terima kasih.”
Acara itu di ballroom hotel.
Ulang tahun nenek Aurelia.
Lebih dari seratus orang datang.
Aku mengenal mungkin delapan.
Aurelia mengenal hampir semuanya.
Dalam setengah jam, aku diperkenalkan kepada seorang pemilik jaringan rumah sakit, mantan pejabat, dua pengusaha properti, dan seorang perempuan yang fotonya pernah kulihat di majalah bisnis.
Tidak ada yang membuat Aurelia berubah.
Dia tetap memanggilku ketika aku tertinggal.
Tetap mengambilkan air.
Tetap berbisik, “Kalau bosan kedip dua kali.”
Aku sempat berkedip dua kali hanya untuk mengganggunya.
Dia mencubit punggung tanganku.
Aku melihat versi dirinya yang berbeda malam itu.
Dia berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain dengan mudah. Menyapa orang tua, mencium pipi tante-tantenya, tertawa dengan sepupu, memperkenalkanku tanpa ragu.
“Ini Raka, pacarku.”
Bukan teman.
Bukan teman kampus.
Pacar.
Setiap kali dia mengatakannya, ada sesuatu dalam dadaku yang menghangat.
Sampai kami bertemu Vincent.
“Raka.”
“Om.”
Ia melihat jas yang kupakai.
“Bagus.”
“Terima kasih.”
“Sudah pindah kerja?”
“Belum.”
“Masih yang kemarin?”
“Iya.”
Vincent mengangguk.
“Saya punya teman di perusahaan IT grup. Lebih established. Kalau mau, kirim CV.”
Aku tersenyum.
“Terima kasih, Om. Tapi saya masih nyaman di tempat sekarang.”
“Nyaman itu bahaya waktu muda.”
Aurelia yang berdiri di sampingku langsung menyela.
“Raka tahu kariernya sendiri.”
Vincent tertawa kecil.
“Saya cuma bantu.”
“Saya tahu, Om,” kataku. “Terima kasih.”
Kami bergerak pergi.
Aurelia mencengkeram tanganku.
“Jangan.”
“Apa?”
“Jangan bilang enggak apa-apa.”
Aku tertawa kecil.
“Aku belum bilang.”
“Tapi mau.”
Aku tidak membantah.
Masalah sebenarnya datang satu jam kemudian.
Aku sedang mengambil minuman ketika mendengar namaku dari meja belakang.
Bukan sengaja menguping.
Aku hanya berdiri cukup dekat.
“Lia serius sama anak itu?”
Suara seorang perempuan.
“Namanya Raka.”
Aku mengenali suara Helena.
“Iya, Raka. Kerja apa?”
“Programmer.”
“Oh.”
Satu suku kata itu lagi.
Lalu suara laki-laki yang tidak kukenal.
“Anak sekarang romantis. Nanti kalau sudah mikir rumah, sekolah anak, baru realistis.”
Ada tawa kecil.
Aku seharusnya pergi.
Kemudian Vincent bicara.
“Masih muda. Lia juga baru dua puluh satu.”
“Adrian santai?”
“Adrian selalu santai di depan anaknya.”
Aku meletakkan gelas.
Tidak ada yang mengatakan sesuatu yang benar-benar kejam.
Tetapi untuk pertama kalinya aku mendengar hubungan kami dibicarakan ketika mereka mengira aku tidak ada.
Bukan sebagai cinta.
Sebagai fase.
Sesuatu yang mungkin akan dikoreksi oleh waktu.
Aku kembali ke ballroom.
Di tengah jalan, seorang perempuan yang tadi ikut dalam percakapan menghentikanku.
“Kamu pacarnya Lia?”
“Iya, Tante.”
“Kalian ketemu di kampus?”
Aku menjawab.
Dia tersenyum. “Lia itu kalau suka sesuatu memang total. Dari kecil begitu.”
Sesuatu.
Aku tahu dia mungkin tidak bermaksud apa-apa.
Tetapi malam itu telingaku sudah terlalu peka.
Aku kembali ke ballroom.
Aurelia sedang bicara dengan Kevin.
Begitu melihatku, dia tersenyum.
Aku membalas.
Mudah.
Aku sudah terlatih.
Kemudian salah satu kerabat yang tadi bicara datang langsung.
Namanya Om Surya.
“Raka, ya?”
“Iya, Om.”
Ia menepuk bahuku.
“Vincent bilang kamu programmer.”
“Iya.”
“Bagus. Kerja keras. Kalau serius sama Lia, kamu harus lari lebih cepat.”
Aku diam sepersekian detik.
Aurelia yang baru mendekat mendengar bagian terakhir.
“Kenapa Raka harus lari lebih cepat?”
Om Surya tertawa.
“Ya ampun. Nasihat laki-laki.”
“Nasihat apa?”
“Lia.”
Aku menyentuh lengannya.
Dia tidak menoleh.
Om Surya masih tersenyum.
“Kamu dari kecil hidup enak. Nanti kalau punya keluarga, masa standar hidup istri turun?”
Wajah Aurelia berubah.
Aku bisa merasakan sesuatu di dalam diriku ikut mengeras.
Bukan karena kalimat itu sepenuhnya salah.
Justru karena bagian dari diriku langsung mencoba menghitung apakah aku mampu menjawabnya.
Aurelia berkata, “Standar hidup aku bukan urusan Om.”
“Lia.”
“Dan Raka enggak perlu membuktikan apa pun ke—”
Aku menggenggam tangannya.
“Cukup.”
Dia menoleh kepadaku.
“Enggak.”
“Lia.”
“Kenapa selalu aku yang harus cukup?”
Beberapa orang mulai melihat.
Itu yang paling tidak kuinginkan.
Aku merendahkan suara.
“Ini ulang tahun nenekmu.”
Matanya memerah karena marah.
Om Surya mulai berkata, “Saya enggak bermaksud—”
Aurelia memotong.
“Aku tahu persis maksud Om.”
Aku melihatnya.
Kemudian untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak mencoba tersenyum.
“Ayo.”
Dia mengira aku sedang mengajaknya menjauh sebentar.
Aku menggeleng.
“Pulang.”
Di luar ballroom, Aurelia masih gemetar.
“Maaf.”
“Kenapa kamu yang minta maaf?”
“Karena mereka.”
“Mereka bukan kamu.”
“Aku benci ini.”
Aku membuka dasi sedikit.
“Lia.”
Dia menatapku.
“Aku enggak malu sama kamu.”
Aku diam.
“Aku enggak peduli kamu datang naik motor. Aku enggak peduli jas kamu pinjaman. Aku enggak peduli gaji kamu.”
“Aku tahu.”
“Jangan bilang seolah kamu cuma menenangkan aku.”
“Aku benar-benar tahu.”
Dia menarik napas.
“Aku cuma…”
Suaranya turun.
“Aku enggak mau setiap kali kamu ketemu keluargaku, kamu pulang merasa lebih kecil.”
Kalimat itu tepat mengenai sesuatu yang selama ini berusaha tidak kuberi nama.
Aku memegang kedua bahunya.
“Aku enggak kecil.”
“Aku tahu.”
“Dulu Ibu pernah harus pinjam uang buat bayar sekolahku tepat waktu. Sekarang usahanya jalan. Aku kuliah. Aku kerja. Hidupku bukan sesuatu yang perlu dikasihani.”
“Aku enggak pernah kasihan.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa kamu ngomong kayak sedang meyakinkan diri sendiri?”
Aku terdiam.
Aurelia langsung menyesal.
Tangannya menyentuh lenganku.
“Maaf.”
Aku menggeleng.
Karena pertanyaannya benar.
“Aku tahu.”
“Dan mereka enggak bisa bikin aku kecil.”
Dia menatapku lama.
Aku berharap aku mempercayai kalimatku sepenuhnya.
Aurelia akhirnya meraih tanganku.
“Pulang yuk.”
Dua kata sederhana.
Aku sempat melihat kembali ke pintu ballroom.
“Nenekmu?”
“Aku sudah bilang selamat. Mama bisa jelasin.”
“Lia, jangan bikin masalah lebih besar.”
Dia menatapku.
“Kali ini aku bukan pergi karena kamu minta.”
Aku diam.
“Aku pergi karena aku enggak mau ada di ruangan itu lagi.”
Ada perbedaan kecil dalam kalimat tersebut, tetapi aku mengerti apa yang dia coba berikan kepadaku.
Dia tidak sedang mengorbankan acara demi aku.
Dia sedang membuat pilihannya sendiri.
Setidaknya malam itu aku bisa menerima perbedaan itu.
Aku mengangguk.
Dua kata sederhana.
Aku mengangguk.
Kami turun ke parkiran.
Dia tidak peduli acara belum selesai.
Tidak peduli orang akan bertanya.
Di motor, gaun formalnya sedikit merepotkan, tetapi dia tetap naik dan memelukku.
Sebelum naik motor, Aurelia melepas heels dan menggantinya dengan sandal tipis yang ternyata dia simpan di tas.
Aku menatap.
“Kamu bawa itu?”
“Belajar dari pengalaman.”
“Wanita dewasa.”
“Diam.”
Aku tertawa untuk pertama kalinya sejak percakapan dengan Om Surya.
Dia naik ke belakangku.
Dalam perjalanan, aku memikirkan sesuatu yang seharusnya membuatku bahagia.
Aurelia memilih pergi bersamaku.
Masalahnya, untuk pertama kalinya aku bertanya:
Berapa kali lagi dia harus memilih seperti itu sebelum suatu hari pilihan tersebut mulai terasa seperti pengorbanan?
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk reading
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk