Chapter Seventeen
Aku Tidak Membencimu
POV: Aurelia
Aku mengirim PS: alis kanan dan menyesal selama sebelas detik.
Lalu Raka membalas.
Noted.
Cuma itu.
Menyebalkan.
Aku meletakkan ponsel.
Tasha yang duduk di depanku langsung bertanya, “Dia bales?”
“Enggak penting.”
“Berarti bales.”
Kami sedang makan malam setelah hampir sebulan gagal menyamakan jadwal.
Tasha tahu Raka kembali sejak hari pertama.
Dia juga tahu aku menamparnya.
Menurutnya itu “sedikit barbar tapi understandable”.
“Jadi?” tanyanya.
“Jadi apa?”
“Mau lo apain?”
Aku menatap makanan.
Pertanyaan bagus.
Selama tiga minggu sebelum reunion, tujuanku hanya bertahan hidup melewati pertemuan.
Setelah melihatnya, aku ingin jawaban.
Sekarang aku sudah mendapat sebagian jawaban.
Masalahnya, rasa marah tidak menghapus hal lain.
Aku masih mengenal cara dia mengetuk telunjuk ketika berpikir.
Masih tahu dia lupa makan.
Masih tahu kapan dia berbohong hanya dari alis.
Dan tubuhku, pengkhianat terbesar, masih terlalu nyaman ketika kepalaku jatuh ke bahunya.
“Aku enggak tahu.”
Tasha mengangguk.
“Fair.”
“Dia beda.”
“Ya tujuh tahun.”
“Bukan cuma itu.”
Raka sekarang punya ketenangan yang dulu belum ada.
Dulu setiap masuk dunia keluargaku, ada bagian kecil dirinya yang selalu mengukur ruangan.
Sekarang ruangan yang mengukur dia.
Dan ironisnya, dia terlihat tidak peduli.
Aku senang.
Aku juga marah karena aku tidak ada saat dia menjadi seperti itu.
Tasha menyentuh gelasku dengan gelasnya.
“Whatever lo pilih, jangan karena rasa bersalah.”
“Aku tahu.”
“Dan jangan karena nostalgia.”
“Aku tahu.”
“Dan jangan—”
“Tasha.”
“Fine.”
Aku tersenyum.
Masalahnya, aku belum tahu cara memisahkan cinta dari nostalgia ketika orangnya masih bisa membuatku tertawa dengan cara yang sama.
Aku juga marah karena aku tidak ada saat dia menjadi seperti itu.
Dua hari kemudian kami bertemu lagi untuk finalisasi pilot.
Meeting selesai cepat.
Tim keluar.
Raka tetap duduk karena menjawab pesan.
Aku menunggu.
Dia mengangkat kepala.
“Ada apa?”
“Kopi.”
“Apa?”
“Minum kopi.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku menahan napas.
“Karena aku mau.”
Dia menatapku cukup lama.
“Lia.”
“Aku enggak ngajak nikah.”
Ekspresinya berubah.
Sial.
Kata yang salah.
Aku melihat rasa sakit lewat di wajahnya.
“Maaf.”
Raka menggeleng.
“Enggak apa-apa.”
Kami sama-sama sadar kalimat itu.
Aku hampir memarahinya.
Dia berdiri.
“Kopi.”
Kami pergi ke kafe kecil di bawah gedung.
Aku memesan latte.
Dia americano tanpa gula.
Tentu.
Kami duduk dekat jendela.
Untuk beberapa menit tidak ada yang bicara.
Akhirnya aku bertanya, “Kamu benci aku?”
Raka langsung melihatku.
“Enggak.”
Terlalu cepat untuk bohong.
“Pernah?”
“Enggak pernah.”
“Bahkan waktu Papa—”
“Lia.”
Nada suaranya lembut.
“Aku enggak pernah pergi karena benci kamu.”
“Terus selama tujuh tahun kamu enggak pernah marah sama aku?”
“Pernah.”
Aku terkejut.
“Karena?”
“Karena tiap kali mau balik, gue ingat lo pasti akan bikin gue mengakui gue idiot.”
Aku menatapnya.
Kemudian tertawa.
Benar-benar tertawa.
Raka ikut tersenyum.
“Valid,” kataku.
“Makanya.”
Dadaku mengencang.
“Kadang aku berharap iya.”
“Kenapa?”
“Lebih gampang.”
Dia melihat kopinya.
“Aku juga sempat berharap kamu benci.”
Aku tertawa kecil tanpa humor.
“Berhasil.”
Raka mengangkat mata.
Aku menghela napas.
“Enggak.”
Kami diam.
Aku memutar cangkir.
“Foto kamu dulu jarang ada di artikel.”
Raka mengangkat alis.
Aku langsung menyesal mengaku.
“Kamu baca?”
“Kerjaanku memang baca berita industri.”
“Semua interview CTO?”
“Diam.”
Dia tertawa.
Aku menunjuknya. “Jangan gede kepala.”
“Enggak.”
“Alis kanan.”
Dia tertawa lagi.
Untuk beberapa detik kami bukan mantan yang punya tujuh tahun luka.
Kami cuma dua orang yang masih tahu cara mengganggu satu sama lain.
Ada begitu banyak hal yang belum selesai.
Tapi untuk pertama kalinya aku tidak merasa harus menyelesaikan semuanya hari itu.
“Setelah putus,” kataku, “aku benci Papa hampir dua tahun.”
Raka menegang.
“Aku pindah rumah.”
“Lia…”
“Bukan buat bikin kamu merasa bersalah.”
“Berhasil.”
“Raka.”
Dia mengusap wajah.
“Aku enggak tahu.”
“Memang. Karena kamu enggak ada.”
Kalimat itu tetap tajam.
Aku membiarkannya.
“Terus aku pulang. Kerja. Hidup.”
Raka mengangguk.
“Aku senang.”
Aku menatapnya.
Tujuh tahun lalu aku pernah berharap dia menderita setidaknya sedikit.
Keinginan buruk dari orang yang patah hati.
Sekarang melihat wajahnya di depanku, aku justru lega dia tidak hancur.
Mungkin cinta memang punya cara memalukan untuk bertahan di bawah kemarahan.
“Apa?”
“Kamu hidup.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Standar kamu rendah sekali.”
Dia tertawa.
Aku ikut tertawa.
Aneh.
Sangat aneh.
Tapi enak.
Ketika kami keluar dari kafe, hujan turun.
Kami berdiri di bawah kanopi.
Mobilku masih lima menit lagi.
Raka membuka payung dari tas.
“Tentu kamu bawa payung.”
“Preparedness.”
“Dulu charger. Sekarang payung.”
“Umur.”
Aku tertawa.
Kami berdiri berdekatan di bawah payung kecil menuju area pickup.
Bahu kami bersentuhan.
Raka otomatis memiringkan payung lebih banyak ke arahku.
Sisi bahunya sendiri terkena hujan.
Aku melihat.
“Kamu masih begitu.”
“Apanya?”
“Bikin diri sendiri basah terus pura-pura enggak.”
Dia memindahkan payung ke tengah.
“Happy?”
“Sedikit.”
Mobilku belum datang.
Kami berhenti.
Aku menatapnya.
“Raka.”
“Hm?”
“Kalau aku enggak benci kamu…”
Dia menunggu.
Aku sendiri tidak tahu kenapa jantungku berdebar.
“…jangan anggap itu berarti semuanya selesai.”
“Aku enggak akan.”
“Bagus.”
Raka memandang hujan.
“Gue juga enggak mau pura-pura.”
Aku menoleh cepat.
Dia masih melihat jalan.
“Cuma gue belum tahu bentuknya apa.”
Itu bukan pengakuan cinta.
Bukan ajakan kembali.
Tetapi setelah tujuh tahun tanpa apa pun, kejujuran kecil itu terasa besar.
“Enggak harus tahu sekarang.”
Raka mengangguk.
Untuk pertama kalinya, kami setuju membiarkan sesuatu belum selesai.
“Bagus.”
“Tapi?”
Aku mengerutkan kening.
“Tapi apa?”
“Kamu punya wajah ‘tapi’.”
Aku hampir tertawa.
Raka tersenyum kecil.
Aku mengenal senyum itu.
Aku merindukannya.
Sial.
“Tapi aku juga enggak mau kita pura-pura jadi orang asing,” kataku.
Aku menunjuk payung.
“Kamu masih bawa barang buat semua kemungkinan.”
“Risk management.”
“Masih lupa makan?”
Raka diam.
“Berarti iya.”
“Lo masih makan pedas padahal enggak kuat?”
Aku diam.
Dia tersenyum.
“Berarti iya.”
Kami saling melihat.
Ternyata ada hal-hal yang tidak perlu dikenalkan ulang.
Senyumnya hilang.
“Lia.”
“Enggak sekarang.”
“Apa?”
“Aku enggak minta jawaban sekarang.”
Mobil berhenti di depan.
Aku membuka pintu.
Sebelum masuk, aku menoleh.
“Besok lunch?”
“Kerja?”
“Belum tahu.”
Aku masuk.
Dari balik kaca, kulihat Raka berdiri dengan payung.
Tidak mengejar.
Tidak pergi.
Cukup tinggal.
Untuk sekarang, itu lebih dari yang kudapat tujuh tahun lalu.
Di mobil, aku mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Tasha.
I have a problem.
Balasannya datang cepat.
Masih cinta?
Aku menatap layar lama.
Kalau ini keputusan buruk, setidaknya kali ini keputusan itu milikku.
Aku tidak akan mengejar Raka seperti umur dua puluh satu.
Aku juga tidak akan menggunakan proyek ini sebagai alasan memaksanya dekat. Kalau dia bilang berhenti, aku berhenti.
Yang kuinginkan bukan kemenangan.
Aku ingin tahu apakah di balik CTO tenang itu masih ada laki-laki yang pernah merencanakan meja empat kursi denganku.
Dan kalau tidak ada, aku harus cukup dewasa menerima itu.—menelpon sampai kehilangan harga diri, meminta jawaban dari pintu yang sudah dia tutup.
Aku akan mengetuk.
Kalau dia membuka, aku masuk.
Kalau tidak, aku pergi.
Tapi aku harus tahu.
Lalu mengetik:
Lebih parah. Kayaknya gue mau ngejar dia.
Tasha langsung menelepon.
Aku menolak.
Pesan masuk:
JANGAN ULANGI UMUR 21. PAKAI OTAK.
Aku tertawa.
Makanya pelan.
Dia masih hot?
Aku menatap keluar jendela, mengingat Raka berdiri di bawah payung.
Sayangnya iya.
Tasha mengirim tujuh emoji.
Aku mematikan layar.
Keputusan itu sudah dibuat.
Kukirim sebelum sempat berubah pikiran.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu reading
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk