Chapter Thirty
Di Sampingku
POV: Raka
Aku sudah menghadiri cukup banyak gala untuk tahu tiga hal.
Makanannya terlalu sedikit. Orang datang bukan untuk makan. Dan Dion selalu menemukan cara menghilang tepat ketika aku butuh seseorang untuk diajak bicara.
Malam itu masalahnya berbeda.
Aku datang bersama Aurelia.
Bukan sebagai partner proyek.
Pacar.
Aurelia turun dari mobil dengan gaun hitam sederhana yang membuat dua fotografer langsung mengangkat kamera.
Aku keluar dari sisi lain. Dia menunggu dan mengulurkan tangan.
“Kenapa?”
“Pegang.”
“Ada kamera.”
“Terus?”
Dulu aku yang selalu melihat orang lain.
Aku menyelipkan jemari ke tangannya.
“Okay.”
Acara itu penghargaan bisnis. Nara menerima satu kategori. Wijaya Group sponsor utama.
Kevin menyapa lebih dulu.
“Rak.”
“Kev.”
Dia melihat tangan kami, lalu Aurelia.
“Oh.”
“Apa?” tanya Aurelia.
“Enggak ada.”
“Bagus.”
Kevin kabur.
Tasha muncul dari belakang dan langsung memeluk Aurelia.
Kemudian dia melihatku.
“Finally.”
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa semua orang bilang finally?”
“Karena kalian bikin orang capek.”
Aurelia tertawa.
“Aku enggak.”
Tasha menatapnya datar.
“Umur dua puluh dua lo hampir bikin group chat jadi crisis center.”
Aku melihat Aurelia.
Dia langsung menarik Tasha menjauh.
“Pergi.”
Tasha tertawa dan menunjukku.
“Jangan hilang lagi.”
Kalimat itu ringan, tetapi aku tetap merasakannya.
Aku mengangguk.
“Enggak.”
Aurelia menatapku.
Tidak berkata apa-apa.
Tangannya hanya menggenggam lebih erat.
Vincent datang beberapa menit kemudian.
“Selamat untuk award-nya.”
“Terima kasih, Om.”
“Pilot sejauh ini bagus.”
“Timnya bagus.”
Ia mengangguk.
Aku menunggu rasa lama datang.
Tidak ada.
Lalu Om Surya datang.
Aku langsung mengenalinya.
Tujuh tahun lalu: Kalau serius sama Lia, kamu harus lari lebih cepat.
Sekarang rambutnya lebih putih.
“Raka? Wah. Saya lihat berita terus. Hebat.”
“Terima kasih.”
“Dulu saya sudah bilang anak ini punya potensi.”
Aku hampir tertawa.
Dulu kalimat seperti itu akan kubawa pulang, kuputar ulang, lalu kugunakan sebagai alasan untuk bekerja lebih keras.
Sekarang aku hanya melihat seorang laki-laki tua yang mungkin benar-benar tidak ingat pernah mengatakan kebalikannya.
Itu membuatku memahami sesuatu.
Sebagian penghinaan yang kujadikan bahan bakar selama tujuh tahun bahkan mungkin hanya percakapan lima menit bagi orang yang mengucapkannya.
Aku yang memberinya rumah permanen di kepala.
Aurelia menjadi sangat diam.
Aku meremas tangannya satu kali.
Kode lama.
Dia menoleh. Aku menggeleng kecil.
Tidak perlu.
“Nara sekarang valuasinya berapa?”
“Tidak terlalu suka bahas valuasi di luar kerja, Om.”
“Benar. Benar.”
Dia pergi setelah beberapa kalimat.
Aurelia langsung menarikku ke sisi ruangan.
“Kamu ingat?”
“Iya.”
“Dia bilang dulu sudah tahu.”
“Iya.”
“Kamu enggak kesel?”
“Sedikit lucu.”
“Raka.”
“Lia, tujuh tahun lalu gue pengin banget hari kayak ini.”
“Terus?”
“Sekarang sudah kejadian.”
Aku melihat ballroom.
Orang-orang yang dulu membuatku menghitung harga kemeja sekarang tahu namaku sebelum diperkenalkan.
“Rasanya?”
“Lebih biasa dari yang gue bayangin.”
“Bagus atau jelek?”
“Bagus.”
Aku mengangkat tangan kami.
“Yang ini lebih penting.”
Wajahnya langsung berubah.
“Raka.”
“Hm?”
“Jangan tiba-tiba romantis.”
“Kenapa?”
“Aku enggak siap.”
Aku tertawa.
Akhirnya.
Ketika Nara dipanggil menerima penghargaan, Dion memaksaku naik panggung.
“Gue CEO.”
“Dan?”
“Lo CTO. Naik.”
Aku berdiri bersama Dion dan Maya.
Dion menerima trophy lalu mendorong mikrofon kepadaku.
Aku menatapnya tajam.
“Speech.”
“Lo CEO.”
“Diversification.”
Beberapa orang tertawa.
Aku akhirnya mengambil mikrofon.
“Ini hasil kerja tim yang lebih besar daripada tiga orang di panggung. Jadi kalau besok sistem tetap jalan, itu karena mereka. Kalau down, baru salah saya.”
Ruangan tertawa.
Aku mengembalikan mikrofon.
Maya berbisik, “Inspirational.”
“Diam.”
Dari atas, aku melihat Aurelia di meja depan.
Dia tersenyum.
Bukan senyum untuk kamera.
Bangga.
Aku pernah membayangkan sukses sebagai sesuatu yang akan membuat orang-orang di ruangan ini menyesal.
Ternyata melihat satu orang yang kucintai bangga jauh lebih memuaskan.
Setelah turun, Aurelia berbisik, “Hot.”
Aku hampir tersedak air.
“Lia.”
“Apa?”
“Tempat umum.”
“Cuma bilang.”
“Papa lo di depan.”
“Lebih seru.”
“Tidak.”
Dia tertawa.
Kemudian ekspresinya melembut.
“Aku bangga sama kamu.”
Aku berhenti.
“Aku tahu tadi sudah kelihatan.”
“Biar aku bilang.”
Aku tidak menemukan lelucon.
“Thanks.”
“Cuma thanks?”
Aku mendekat sedikit.
“Gue sayang lo.”
Sekarang dia yang diam.
Aku tersenyum.
“Katanya enggak siap.”
“Curang.”
“Belajar dari yang terbaik.”
Dia menutupi wajah dengan tangan.
Aku menikmati kemenangan itu mungkin terlalu banyak.
Adrian akhirnya mendekat menjelang akhir acara.
Pertemuan pertama kami setelah tujuh tahun.
Aku berdiri.
“Om.”
“Raka.”
Kami berjabat tangan.
“Selamat.”
“Terima kasih.”
Ada banyak percakapan yang belum terjadi di antara kami.
Malam ini bukan tempatnya.
Adrian melihat Aurelia, lalu tangan kami.
“Antar Lia pulang.”
“Papa,” protes Aurelia.
Aku hampir tersenyum.
Sebelum aku menjawab, Adrian menatapku sedikit lebih lama.
“Kalau ada waktu minggu depan, datang ke rumah.”
Aurelia langsung menoleh.
Aku juga.
“Untuk?”
“Bicara.”
Nada suaranya tidak bermusuhan.
Justru itu membuatku lebih tegang.
Aku mengangguk.
“Baik, Om.”
“Pasti, Om.”
Adrian mengangguk dan pergi.
“Segitu?” tanya Aurelia.
“Lo berharap duel?”
“Sedikit.”
Di mobil, Aurelia melepas heels dan menyandarkan kepala ke bahuku.
“Capek.”
“Tidur.”
“Manja rule.”
“Gue enggak protes.”
Dia melingkarkan tangan ke lenganku.
“Raka.”
“Hm?”
“Bangga?”
“Soal award?”
“Soal diri kamu.”
Aku diam.
Akhirnya aku berkata, “Sekarang iya.”
“Dulu?”
“Dulu gue pikir baru boleh bangga kalau mereka notice.”
Aurelia menyentuh pipiku.
“Sekarang?”
Aku mencium telapak tangannya.
“Sekarang gue cuma pengin pulang.”
Dia tersenyum.
“Ke mana?”
Pertanyaan itu mendadak terlalu besar.
“Antar lo dulu.”
“Pengecut.”
Aku tertawa.
Belum saatnya memakai kata itu dengan makna terakhirnya.
Tetapi aku tahu jawabannya mulai berubah.
Tidak ada revenge yang terasa lebih besar daripada itu.
Bukan membuat mereka berada di bawah.
Hanya menyadari aku tidak lagi hidup dengan kepala mendongak ke arah mereka.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Dion.
Om Surya barusan nanya bisa investasi next round.
Aku menunjukkan ke Aurelia.
Dia membaca lalu menatapku.
“Gimana?”
Aku mengunci layar.
“Besok urusan Dion.”
“Enggak mau menikmati?”
Aku berpikir sebentar.
“Sudah.”
“Cepat.”
“Gue punya hal lain.”
“Apa?”
Aku menariknya sedikit lebih dekat ke bahuku.
“Ini.”
Aurelia tidak menjawab.
Dia hanya tersenyum dan kembali memejamkan mata.
Dan malam itu, ketika Aurelia tertidur di bahuku, aku bahkan tidak melihat gedung siapa yang paling tinggi di luar jendela.
Sebelum tidur, Aurelia mengirim foto kami saat masuk ballroom. Tanganku menggenggam tangannya. Simpan. Aku membalas: Sudah. Foto itu bukan tentang siapa yang melihat. Justru karena sekarang aku tidak peduli.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku reading
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk