← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Twenty

Jarak Aman

POV: Raka

Aku seharusnya membatalkan kopi jam empat.

Tidak kulakukan.

Aurelia datang jam empat lewat dua.

Aku melihat jam ketika dia duduk.

“Dua menit.”

“Masih dalam SLA.”

“Enggak.”

“Komplain ke vendor.”

Aku mendorong latte ke arahnya.

Dia berhenti.

“Kamu sudah pesan?”

“Efisiensi.”

Senyumnya terlalu puas.

Aku langsung menyesal.

Kami duduk di kafe gedung Nara.

Secara teori tempat umum.

Secara praktik, terlalu banyak orang kantor yang mengenalku.

Dua engineer lewat dan menyapa.

Tatapan mereka pindah ke Aurelia.

Besok Slack pasti punya teori.

“Kenapa lihat sekitar?” tanya Aurelia.

“Enggak.”

“Kamu dari dulu selalu lihat orang lain kalau aku dekat.”

Aku menatapnya.

Dia sengaja menggeser kursi beberapa senti.

“Lia.”

“Apa?”

“Jarak aman.”

“Definisikan.”

“Lebih jauh dari itu.”

Dia menggeser lagi.

Mendekat.

Aku menahan senyum.

“Lo sengaja.”

“Baru sadar?”

Aku menyesap kopi.

“Dulu kamu lebih gampang merah.”

“Dulu gue dua puluh dua.”

“Sekarang?”

“Lebih berbahaya.”

Aurelia tertawa.

“Confidence.”

“Experience.”

Dia berhenti.

Aku sadar kalimat itu bisa berarti banyak hal.

“Experience apa?”

“Kerja.”

“Pengecut.”

Aku tersenyum.

Setidaknya kali ini aku sengaja.


Kopi berubah menjadi jalan kaki karena Aurelia bilang terlalu lama duduk membuat punggungnya sakit.

Kami naik ke rooftop garden Nara.

Angin cukup kencang.

Dia berdiri di pagar kaca melihat kota.

“Dulu gedung ini belum ada.”

“Dulu Nara juga belum ada.”

“Aku tahu.”

Aku berdiri di sampingnya.

“Pernah nyesel?”

“Soal Nara?”

“Soal pergi.”

Pertanyaan itu datang tanpa flirting.

Aku menjawab jujur.

“Setiap kali mikir terlalu lama.”

Aurelia menatapku.

“Terus kenapa tetap enggak balik?”

“Kita sudah bahas.”

“Sedikit.”

Aku menghela napas.

“Karena setelah beberapa tahun, hidup gue keburu jadi… ini.”

Aku menunjuk gedung.

“Kerja?”

“Kerja. Nara. Tim. Semua.”

“Dan aku enggak punya tempat.”

Bukan tuduhan.

Itu lebih buruk.

“Gue sengaja bikin enggak ada.”

Aurelia diam.

Aku melanjutkan sebelum keberanian hilang.

“Kalau ada ruang kosong, gue takut isi lagi sama lo.”

Matanya melembut.

“Raka.”

“Jangan.”

“Apa?”

“Jangan lihat gue begitu.”

“Begitu gimana?”

“Kayak mau maafin.”

Aurelia menggeleng.

“Aku belum maafin.”

Aneh, aku lega.

“Tapi aku ngerti sedikit.”

“Itu juga bahaya.”

“Kenapa?”

“Karena bikin gue pengin cerita lebih banyak.”

Dia tersenyum kecil.

“Bagus.”

Kami berdiri dalam diam.

Aku menunjuk salah satu gedung jauh di seberang.

“Dulu gue sering lihat gedung Wijaya dari halte.”

Aurelia mengikuti arah jariku.

“Kenapa?”

“Kelihatan tinggi.”

“Sekarang?”

Aku melihatnya.

“Masih gedung.”

Dia tertawa kecil.

Aku tidak mengatakan bahwa dulu gedung itu pernah menjadi simbol semua hal yang tidak kupunya.

Sekarang kantor kami berdiri sama tinggi.

Anehnya, itu tidak terasa seperti kemenangan.

“Bagus.”

Aku tertawa pendek.

Pengejarannya tidak selalu berupa godaan.

Kadang dia hanya berdiri di sana dan membuatku ingin membuka pintu yang sudah lama kukunci.

Itu jauh lebih berbahaya.


Kami turun dengan lift.

Kosong.

Kesalahan.

Aurelia berdiri di sampingku.

Aku melihat angka lantai.

Dua puluh.

Sembilan belas.

Delapan belas.

Tangannya menyentuh lengan kemejaku.

Aku menoleh.

“Apa?”

“Benang.”

Dia menarik seutas benang kecil di dekat siku.

Jemarinya tetap di sana sepersekian detik lebih lama.

Aku melihat tangannya.

Kemudian wajahnya.

Aurelia tersenyum.

“Jarak aman?”

Aku menatap angka lift.

Tiga belas.

Masih lama.

Kesempatan buruk.

Aku bergerak satu langkah.

Bukan menjauh.

Mendekat.

Punggungnya hampir menyentuh dinding lift.

Senyumnya hilang.

Aku menaruh satu tangan di dinding di samping kepalanya, tanpa menyentuh tubuhnya.

“Ini aman?”

Dia menelan ludah.

Akhirnya.

“Raka.”

“Hm?”

“CCTV.”

Aku tertawa pelan.

“Sekarang lo yang lihat orang lain.”

Aurelia mengangkat dagu.

“Kalau enggak ada CCTV?”

Aku terdiam.

Dia juga sepertinya baru sadar kalimatnya.

Aku menurunkan suara.

“Jangan tanya kalau belum siap dengar jawaban.”

Pipinya semakin merah.

Pintu lift terbuka.

Aku mundur sebelum orang di luar masuk.

Aurelia keluar lebih dulu.

Pipinya sedikit merah.

Kemenangan kecil.

Aku menikmatinya terlalu banyak.


Sore itu Maya masuk ruanganku.

“HR dapat pertanyaan.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Bercanda.”

Aku melempar pulpen.

Dia tertawa.

“Dion bilang lo akhirnya belajar flirting.”

“Keluar.”

“Progress.”

“Maya.”

Dia mengambil pulpen dari lantai dan meletakkannya kembali.

Kemudian ekspresinya serius.

“Careful.”

Aku tahu maksudnya.

Maya menyandarkan bahu ke pintu.

“Gue suka dia, by the way.”

“Baru ketemu beberapa kali.”

“Cukup.”

“Terus kenapa careful?”

“Karena gue juga suka lo, idiot.”

Aku menatapnya.

“Jangan bikin gue harus milih sisi kalau kalian hancur lagi.”

“Enggak akan.”

“Jangan janji kalau belum tahu.”

Aku diam.

Maya benar lagi.

Aku benci itu.

Aku tahu maksudnya.

“Gue tahu.”

“Bukan cuma buat lo.”

Aku melihat layar.

“Aurelia tahu gue belum siap.”

“Dan lo?”

“Apa?”

“Lo menikmati ini.”

Aku tidak menjawab.

Maya mendengus.

“Exactly.”

“Gue boleh menikmati kopi.”

“Lift juga?”

Aku menatapnya.

“Dion.”

“Bukan. CCTV.”

Aku mengumpat pelan.

Berita bergerak terlalu cepat di perusahaan ini.

“Dan lo?”

“Apa?”

“Lo tahu dia juga bisa sakit lagi?”

Pertanyaan itu menahan semua rasa puas dari lift.

Aku mengangguk.

“Iya.”

Maya pergi.

Aku duduk beberapa menit tanpa bekerja.

Aku tahu Maya benar.

Flirting mudah.

Membiarkan Aurelia kembali punya sesuatu yang bisa kuhancurkan jauh lebih sulit.

Tujuh tahun lalu aku meyakinkan diri pergi adalah bentuk perlindungan.

Sekarang aku tahu orang bisa terluka justru karena tidak diberi pilihan.

Kalau kali ini aku masuk lagi, aku tidak boleh setengah.

Masalahnya aku belum tahu apakah aku sanggup penuh.

Aku membuka chat Aurelia.

Pesan terakhir darinya:

Besok aku ke warehouse. Kamu ikut?

Aku mengetik:

Ada team gue.

Hapus.

Enggak perlu CTO.

Hapus.

Akhirnya:

Jam berapa?

Balasan datang.

Jam 9.

Lalu:

PS: CCTV.

Aku menutup wajah.

Perempuan itu tidak akan membiarkanku menang lama.

Aku membalas:

Jam 9. Professional.

Dia:

Of course.

Lalu satu foto masuk.

Sepasang heels.

Bawa sandal. Learned.

Aku tertawa.

Memori ulang tahun neneknya muncul.

Malam ketika dia memilih pulang bersamaku.

Senyumku hilang perlahan.

Pursuit ini menyenangkan karena kami masih punya chemistry.

Tetapi di bawahnya ada sejarah yang tidak boleh kami lupakan hanya karena sekarang mudah tertawa.

Aku menyimpan ponsel.

Aku berjalan ke jendela.

Di bawah, orang-orang terlihat kecil.

Tujuh tahun lalu aku berpikir kesuksesan akan membuat semua keputusan mudah.

Ternyata uang menyelesaikan banyak masalah praktis.

Tidak satu pun masalah ini.

Aku masih harus memilih apakah berani mempercayai seseorang lagi setelah akulah yang dulu menghancurkan kepercayaannya.

Aku membuka kalender.

Sebenarnya jam sembilan aku punya architecture review yang bisa dipindah.

Dulu aku akan memakai meeting itu sebagai alasan.

Aku memindahkannya ke sore.

Satu klik.

Pilihan kecil.

Tidak dramatis.

Tetapi mungkin cara tinggal memang dibangun dari keputusan kecil seperti ini, bukan janji besar.

Besok aku akan datang.

Bukan karena proyek membutuhkan CTO.

Karena dia bertanya apakah aku mau ikut.

Itu perbedaan yang mulai terlalu sering kubiarkan.

Perempuan itu tidak akan membiarkanku menang lama.

Sebelum tidur, aku memasang alarm lebih pagi.

Jam sembilan bukan waktu yang sulit.

Tetapi entah kenapa aku tidak ingin terlambat.

Historical data, katanya.

Aku tersenyum.

Beberapa kebiasaan memang layak diperbaiki.

Besok bukan date. Setidaknya itu yang kukatakan pada diri sendiri sambil memindahkan meeting lain agar tidak bentrok.

Aku bahkan memilih kemeja sebelum tidur. Lalu merasa bodoh karena sadar aku memang memperlakukan besok sedikit seperti date.

Menyedihkan. Tapi aku tidak membatalkannya.