← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Six

Harga Sebuah Kursi

POV: Raka

Kemeja hitam baru itu kupakai dua minggu kemudian.

Aurelia benar.

Aku memang membutuhkannya untuk bertemu ayahnya lagi.

Bukan di rumah kali ini, melainkan di sebuah restoran hotel untuk makan malam ulang tahun Helena. Aku datang langsung dari kantor, membawa tas laptop dan satu kotak kecil berisi syal yang kubeli bersama Aurelia setelah dia melarangku memilih hadiah sendiri.

“Kalau kamu pilih sendiri, Mama bisa dapat flashdisk,” katanya waktu itu.

“Itu berguna.”

“Buat Mama?”

“Semua orang butuh flashdisk.”

Sekarang dia berdiri di depan lift hotel sambil menatapku dari atas ke bawah.

“Kemejanya kepakai.”

“Investasi berhasil.”

“Buka satu kancing.”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Aku mau makan sama keluargamu, bukan audisi.”

Tangannya sudah terangkat.

Aku menangkap pergelangannya.

“Lia.”

“Hm?”

“Jangan mulai.”

Senyumnya muncul.

“Aku belum mulai.”

Itulah yang mengkhawatirkan.

Pintu lift terbuka. Kami masuk bersama sepasang tamu lain. Aurelia berdiri di depanku karena ruangnya sempit.

Saat pintu hampir menutup, dia mundur setengah langkah sampai punggungnya menyentuh dadaku.

Aku menunduk.

Dia melihat pantulan kami di dinding lift.

“Kenapa?”

“Kamu sengaja.”

“Lift-nya sempit.”

“Masih ada ruang.”

“Di mana?”

Aku menunjuk kanan.

Dia tidak pindah.

Dua tamu lain turun di lantai berikutnya.

Begitu pintu menutup, Aurelia menoleh.

“Sekarang lega.”

“Pindah.”

“Enggak.”

Aku menghela napas.

Dia tertawa kecil dan akhirnya menggenggam tanganku.


Meja makan malam itu lebih besar daripada yang kuharapkan.

Bukan hanya keluarga inti.

Ada Vincent, istrinya, Kevin, dua sepupu lain, dan beberapa kerabat yang baru pertama kali kutemui.

Helena tersenyum ketika menerima hadiahku.

“Terima kasih, Raka.”

“Semoga suka, Tante.”

“Pasti.”

Vincent melihat kotak hadiah, lalu melihatku.

“Lia yang pilih?”

Aku tertawa kecil.

“Ketahuan, Om.”

“Bagus. Kalau laki-laki disuruh pilih hadiah biasanya bahaya.”

Beberapa orang tertawa.

Makan malam berjalan ringan sampai salah satu paman jauh bertanya tentang pekerjaanku.

“Kamu di perusahaan apa?”

Aku menyebut namanya.

Dia mengangguk seolah mencoba mengingat.

“Startup?”

“Bukan, Om. Software house.”

“Oh.”

Satu suku kata.

Kemudian dia kembali memotong steak.

Aku tidak memikirkan apa-apa sampai Kevin ikut bicara.

“Raka juga freelance, kan?”

“Kadang.”

“Gila, rajin banget. Gue pulang kantor aja udah males.”

Vincent menyesap wine.

“Bagus. Memang harus begitu selagi muda. Kumpulkan sebanyak mungkin pengalaman.”

Aku mengangguk.

“Betul, Om.”

“Apalagi kalau mau serius.”

Suasana di meja tidak berubah.

Hanya aku yang merasa kalimat itu memiliki ujung lain.

Aurelia meletakkan garpu.

“Serius apa?”

Vincent menatapnya.

“Karier.”

“Hmm.”

Dia kembali makan.

Di bawah meja, lututnya menyentuh lututku.

Aku membiarkannya.

Pembicaraan berpindah ke properti. Salah satu sepupu bercerita tentang apartemen baru. Harga satu unit disebut dengan santai.

Aku otomatis menghitung.

Kalau seluruh gajiku sekarang kutabung tanpa makan, tanpa sewa, tanpa biaya apa pun, aku membutuhkan waktu yang sangat lama hanya untuk uang mukanya.

“Raka tinggal di mana?” tanya istri Vincent.

“Kos dekat kantor, Tante.”

“Sendiri?”

“Iya.”

“Enak, ya. Laki-laki simpel.”

Dia tersenyum baik.

“Aurelia dari kecil kamarnya saja lebih besar dari apartemen pertama saya.”

Semua orang tertawa.

Aurelia ikut tersenyum tipis.

Aku juga.

Lalu Vincent berkata, “Makanya nanti yang dapat Lia harus siap.”

Kali ini tawa sedikit lebih keras.

Aku merasakan tangan Aurelia berhenti di bawah meja.

Vincent mungkin sadar.

Ia segera menambahkan, “Bercanda.”

Aku tersenyum.

“Siap, Om.”

Aurelia menoleh tajam kepadaku.

Aku sengaja mengambil air.


Di toilet, aku mencuci tangan lebih lama dari yang diperlukan.

Aku tidak marah.

Aku bahkan masih bisa mengingat Adrian bertanya tentang aplikasi kasirku dengan minat yang tulus. Helena menyukai hadiahku. Kevin, dengan caranya sendiri, mencoba memberi peringatan.

Tidak ada monster di meja itu.

Mungkin justru itu yang membuat semuanya lebih sulit.

Kalau mereka jahat, aku bisa mengabaikan mereka.

Kalau mereka hanya khawatir, aku harus bertanya apakah kekhawatiran itu punya alasan.

Itu yang terus kukatakan kepada diriku sendiri.

Mereka tidak mengusirku.

Tidak ada yang terang-terangan mengatakan aku tidak pantas.

Sebagian besar kalimat bahkan bisa dianggap candaan biasa.

Tetapi ada perbedaan antara mendengar satu candaan dan duduk dua jam di meja tempat hampir setiap topik mengingatkanmu bahwa hidupmu dan hidup pacarmu menggunakan satuan ukur yang berbeda.

Pintu terbuka.

Kevin masuk.

“Rak.”

“Hm?”

Dia berdiri di wastafel sebelah.

“Om Vincent emang mulutnya begitu.”

Aku menatap cermin.

“Gue santai.”

“Lia kayaknya enggak.”

“Itu masalah lain.”

Kevin tertawa kecil.

Kemudian, tanpa nada mengejek, dia berkata, “Tapi lo serius sama Lia?”

Aku menutup keran.

“Iya.”

“Berani juga.”

Aku menoleh.

Kevin langsung mengangkat tangan.

“Bukan jelek. Maksud gue… keluarga ini ribet.”

Aku tertawa kecil.

“Bagian itu mulai kelihatan.”

“Kalau gue jadi lo, mungkin udah kabur.”

“Sayangnya gue suka sepupu lo.”

Kevin tersenyum.

“Ya udah. Good luck.”

Dia menepuk bahuku dan keluar.

Entah kenapa, justru ucapan yang paling tidak jahat malam itu yang paling lama tinggal di kepalaku.

Berani juga.

Seolah mencintai Aurelia adalah sesuatu yang membutuhkan keberanian khusus.


Dalam perjalanan pulang, Aurelia tidak langsung memelukku.

Dia duduk menyamping, satu tangan memegang jaketku.

Aku tahu dia sedang kesal.

Setelah keluar dari area hotel, aku berhenti di minimarket yang pernah kami datangi.

“Kenapa berhenti?”

“Es krim.”

“Aku enggak mau.”

“Aku mau.”

“Kamu enggak suka manis.”

“Aku berkembang.”

Dia akhirnya turun.

Kami duduk di bangku yang sama seperti malam beberapa minggu lalu.

Aku memberikan cookies and cream kepadanya.

Dia menerimanya.

“Papa tadi ngobrol apa?”

“Rahasia laki-laki.”

“Raka.”

“Dia nanya aplikasi kasir.”

Aurelia langsung tersenyum. “Dia ingat.”

“Katanya kamu cerita.”

“Aku cerita banyak.”

“Seberapa banyak?”

“Cukup.”

Aku menatapnya curiga.

“Lia.”

“Aku enggak cerita kamu ngorok.”

“Aku enggak ngorok.”

“Makanya enggak aku cerita.”

Aku tertawa.

Dia akhirnya membuka es krim.

“Lia.”

“Hm?”

“Jangan marah.”

“Aku enggak marah sama kamu.”

“Aku tahu.”

“Aku kesel kamu ketawa.”

“Kalau aku enggak ketawa, terus apa?”

“Bilang mereka keterlaluan.”

“Aku enggak merasa perlu.”

Dia menatapku.

“Beneran?”

Aku mengangguk.

Aurelia mengamati wajahku lama.

Kemudian tangannya menyentuh alis kananku.

“Turun.”

Aku tertawa.

Dia tidak.

Aku mengambil tangannya dan menciumnya pelan.

“Aku tidak apa-apa.”

Kalimat itu membuat matanya berubah.

Bukan lega.

Sedih.

“Jangan bikin aku menyesal ngajak kamu masuk ke dunia aku.”

Aku menatapnya.

“Kamu enggak pernah perlu menyesal.”

“Janji?”

“Janji.”

Dia akhirnya bersandar di bahuku.

Aku memandang jalan.

Di kaca minimarket, pantulan kami terlihat seperti pasangan biasa.

Aku menyukai pantulan itu.

Aurelia menyendok es krim lalu menyodorkannya ke mulutku.

“Aku enggak suka manis.”

“Sekali.”

Aku menurut.

“Gimana?”

“Manis.”

“Itu memang konsep es krim.”

Aku menatapnya. “Kamu sebenarnya kenapa ngajak aku ke sini lagi?”

Dia mengangkat bahu.

“Pertama kali kita di sini kamu bikin aku kesel terus cium aku.”

“Urutannya tidak begitu.”

“Kurang lebih.”

Dia tersenyum.

“Aku cuma pengin malam ini berakhir dengan sesuatu yang punya kita. Bukan mereka.”

Kalimat itu membuatku diam.

Aku mengambil sendok dari tangannya dan makan satu suap lagi.

Aurelia terlihat puas.

“Katanya enggak suka manis.”

“Aku berubah.”

“Cepat.”

“Pacarku pengaruh buruk.”

Dia menyandarkan kepala ke bahuku.

Untuk beberapa menit, kami membiarkan suara kendaraan mengisi percakapan.

Masalahnya, malam itu aku mulai mengerti bahwa dunia di luar kaca tidak selalu melihat kami dengan cara yang sama.

Malam itu aku mengantar Aurelia sampai pagar rumahnya. Sebelum turun, dia mencium pipiku dan berbisik, “Jangan terlalu banyak mikir.” Aku tertawa. Ironisnya, justru setelah dia masuk, aku duduk di motor hampir lima menit dan melakukan persis kebalikannya.