← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Seven

Angka-Angka Kecil

POV: Raka

Motorku mogok hari Selasa.

Tentu saja bukan saat aku sendirian.

Aurelia duduk di belakangku ketika mesin batuk dua kali lalu mati tepat di pinggir jalan.

Aku menepi.

Dia membuka visor.

“Kenapa?”

“Motornya ingin istirahat.”

“Di sini?”

“Dia spontan.”

Aku mencoba menyalakan lagi.

Tidak ada respons.

Aurelia turun.

“Kita dorong?”

Aku menatap gaun kerjanya.

“Kamu?”

“Kenapa?”

“Kamu pakai heels.”

Dia melepas sepatu.

Aku langsung menatap.

“Apa?”

“Kamu enggak serius.”

Aurelia sudah membawa kedua sepatunya dengan satu tangan.

“Ayo.”

“Lia.”

“Raka, panas.”

Aku tertawa tidak percaya.

Kami mendorong motor hampir tiga ratus meter ke bengkel kecil.

Lima belas menit kemudian, Aurelia duduk di kursi plastik sambil minum teh botol, sepatunya diletakkan di bawah kursi.

Montir menyebut biaya perbaikan.

Aku mengangguk.

Aurelia tidak mengatakan apa-apa.

Aku menghargainya.

Sampai montir pergi.

“Tabungan aman?”

Aku menoleh.

“Aman.”

“Beneran?”

“Beneran.”

“Kalau enggak?”

“Masih ada freelance.”

Dia menghela napas.

“Jangan mulai.”

“Aku belum ngomong.”

“Wajahmu ngomong.”

“Wajahku cantik.”

Aku tertawa.

“Argumen tidak relevan.”

“Berhasil bikin kamu ketawa.”

Dia menggeser kursinya lebih dekat.

“Aku ingat perjanjian kita.”

“Yang mana?”

“Kalau butuh bantuan, bilang.”

“Aku belum butuh.”

“Okay.”

Tidak ada desakan.

Itu membuatku jauh lebih mudah bernapas.


Masalahnya bukan motor.

Minggu itu biaya katering Ibu naik karena satu pelanggan besar terlambat membayar. Aku tahu karena ketika menelepon malam-malam, suara Ibu terdengar terlalu ceria.

“Semua aman.”

Kalimat yang sangat kukenal.

Aku mentransfer sebagian tabunganku tanpa memberitahunya.

Besoknya dia menelepon.

“Raka.”

“Iya?”

“Kamu transfer?”

“Enggak.”

“Nama pengirimnya Raka Adinata.”

“Banyak.”

“Kurang ajar.”

Aku tertawa.

“Pakai dulu.”

“Kamu sendiri gimana?”

“Aman.”

“Jangan bohong.”

Aku melihat saldo.

“Masih bisa makan.”

“Raka.”

“Bu, serius.”

Setelah telepon selesai, aku membuka spreadsheet pengeluaran.

Motor.

Kos.

Kuliah.

Kebutuhan Ibu.

Aku menghitung ulang.

Masih aman.

Hanya lebih sempit.

Ponselku berbunyi.

Aurelia.

Dinner?

Aku mengetik.

Deadline.

Tiga titik muncul.

Aku ke kos.

Jangan.

Kenapa?

Aku melihat meja yang penuh kertas tagihan.

Berantakan.

Balasannya cepat.

Pernah lihat.

Aku tersenyum meski sedang tidak ingin.

Besok aja.

Kali ini dia tidak memaksa.

Oke. Makan.

Aku mengirim foto bungkus nasi di meja.

Good boy.

Aku hampir membalas sesuatu yang tidak sopan, lalu menghapusnya.

Kerja sana, orang kaya.

Dia mengirim emoji marah.

Aku kembali ke laptop.

Sekitar satu jam kemudian Dion mengirim pesan.

Bro, masih mau bantu prototype gue weekend ini?

Aku menatap pekerjaan freelance yang belum selesai.

Bayar?

Doa.

Tidak legal tender.

Equity imajiner?

Aku tertawa kecil.

Dion sudah berbulan-bulan bicara soal sistem untuk membantu toko kecil menyatukan stok dari beberapa kanal penjualan. Menurutku idenya terlalu besar untuk dua orang yang masih bekerja penuh waktu.

Justru itu yang membuatnya menarik.

Sabtu gue lihat.

Balasannya datang.

Gue catat sebagai iya.

Aku tidak tahu bahwa percakapan receh itu kelak menjadi salah satu titik awal Nara.

Saat itu, bagiku itu cuma proyek akhir pekan lain untuk menambah pengalaman dan mungkin sedikit penghasilan kalau kami beruntung.


Dua hari kemudian kami bertemu di kampus.

Aurelia langsung tahu ada yang salah.

“Kamu kurang tidur.”

“Aku selalu kurang tidur.”

“Lebih parah.”

“Deadline.”

Dia menyentuh bawah mataku dengan ujung jari.

Aku menangkap tangannya.

“Jangan inspeksi.”

“Boleh.”

“Tidak.”

“Pacar.”

“Bukan surat izin.”

Dia tersenyum.

Kami berjalan ke kantin.

Saat membayar, kartuku gagal.

Sekali.

Dua kali.

Aku tahu penyebabnya sebelum kasir bicara. Transfer dari rekening utama ke rekening harian belum masuk.

Aku membuka aplikasi.

Aurelia sudah menyerahkan kartunya.

“Pakai ini.”

Seorang mahasiswa di belakang kami mendesah pelan karena antrean berhenti.

Aku menelan rasa tidak nyaman.

Bukan pada Aurelia.

Pada diriku sendiri.

“Pakai ini.”

Aku menoleh.

“Lia.”

“Orang belakang antre.”

Benar.

Aku membiarkannya membayar.

Kami duduk.

Dia tidak membahasnya.

Aku yang akhirnya berkata, “Nanti aku ganti.”

“Dua puluh delapan ribu?”

“Iya.”

“Bunga sepuluh persen.”

Aku menatapnya.

“Lintah darat.”

“Bisnis.”

Aku tertawa.

Dia mengambil satu bakso dari mangkukku.

“Bayar bunga.”

“Katanya sepuluh persen.”

“Ini collateral.”

Aku membiarkannya.

Sederhana.

Tidak ada rasa kasihan.

Tidak ada tatapan aneh.

Dan justru itu yang membuat dadaku terasa sesak sebentar.

Aku membayangkan hidup seperti ini terus.

Bukan miskin.

Aku tidak pernah merasa diriku miskin.

Kami punya rumah. Ibu punya usaha. Aku kuliah dan bekerja.

Hanya saja setiap angka memiliki konsekuensi.

Bagi Aurelia, dua puluh delapan ribu adalah makan siang.

Bagiku juga.

Tetapi angka yang lebih besar bisa berarti menunda sesuatu, mengambil freelance tambahan, atau mengurangi tidur.

Aku bertanya-tanya apakah perbedaan itu akan hilang ketika aku mendapat pekerjaan lebih baik.

Mungkin.

Aku masih dua puluh dua.

Aku punya waktu.

Aku membuka catatan di ponsel dan menulis satu target bodoh:

Dana darurat 12 bulan.

Di bawahnya:

Motor jangan mogok lagi.

Aku tertawa sendiri.

Lalu menambahkan:

Belajar system design lebih serius.

Bukan untuk keluarga Aurelia.

Setidaknya begitu yang kukatakan pada diriku.

Aku memang ingin lebih baik sejak sebelum mengenalnya.

Hanya saja sekarang ada suara baru yang ikut berdiri di belakang setiap target.

Suara yang bertanya apakah “lebih baik” suatu hari akan menjadi “cukup”.


Malamnya, Aurelia datang ke kos membawa makanan.

“Kamu bilang besok.”

“Ini sudah dua hari.”

Dia masuk tanpa menunggu izin.

Aku menutup spreadsheet di laptop.

Terlambat.

“Apa itu?”

“Enggak ada.”

“Budget?”

“Lia.”

Dia duduk di lantai.

“Aku enggak akan nawarin uang.”

Aku menatapnya.

“Duduk.”

Aku duduk.

Dia membuka makanan.

Kami makan dalam diam beberapa menit.

Kemudian dia berkata, “Papa mulai dari perusahaan Kakek.”

Aku mengangguk.

“Om Vincent juga.”

“Kenapa tiba-tiba?”

“Karena aku sadar aku enggak tahu rasanya mulai tanpa sesuatu di belakang.”

Aku meletakkan sendok.

Aurelia menatap makanan.

“Aku bisa bilang uang enggak penting seribu kali. Tapi buat aku gampang ngomong begitu.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Dia akhirnya melihatku.

“Jadi kalau kadang aku bodoh soal beginian, bilang.”

Aku tersenyum kecil.

“Kamu memang kadang bodoh.”

Dia menendang kakiku.

“Aku lagi serius.”

“Aku juga.”

Aku mengambil tangannya.

“Aku enggak butuh kamu ngerti semua yang aku rasain.”

Aurelia menatapku.

Aku melanjutkan, “Kadang aku sendiri juga enggak ngerti. Ada hari ketika angka cuma angka. Ada hari ketika motor rusak rasanya kayak seluruh bulan ikut rusak.”

Dia tidak menyela.

“Dan aku tahu itu bukan salah kamu.”

“Terus?”

“Cukup jangan anggap aku kurang karena hidupku beda.”

Ekspresinya langsung berubah.

“Enggak pernah.”

“Aku tahu.”

“Enggak akan.”

Aku mengangguk.

Dia bergerak mendekat lalu duduk di pangkuanku begitu saja.

Aku menahan pinggangnya refleks.

“Lia.”

“Apa?”

“Barusan kita bicara serius.”

“Sudah selesai.”

“Terus ini?”

“Aku kangen.”

“Kita ketemu siang.”

“Siang beda.”

Aku tertawa pelan.

Tangannya melingkar di leherku.

“Masih mikirin angka?”

“Sedikit.”

Dia mencium ujung hidungku.

“Sekarang?”

“Masih.”

Pipiku.

“Sekarang?”

“Lia.”

Bibirku.

Kali ini aku yang menariknya lebih dekat sebelum dia sempat mundur.

Beberapa detik kemudian dia tertawa kecil di dekat bibirku.

“Nah.”

“Apa?”

“Berhasil.”

Aku menahan pinggangnya ketika dia mencoba mundur.

“Belum.”

Alisnya naik.

“Katanya berhasil.”

“Aku sedang verifikasi.”

Aku menciumnya lagi.

Kali ini Aurelia tertawa pelan ketika kami berpisah.

“Metode ilmiah?”

“Harus reproducible.”

“Programmer mesum.”

Aku tersedak tawa.

“Bahasamu.”

“Kamu yang mulai.”

“Apanya?”

“Bikin kamu berhenti mikir.”

Aku memandangnya.

Mungkin hanya beberapa menit.

Tetapi dia benar.

Dan saat itu aku masih percaya semua perbedaan bisa kami selesaikan seperti itu: bicara, tertawa, lalu kembali saling memilih.