← Nomor Tiga

Chapter Nine

Bencana Alam

POV: Ardev

Rencananya sederhana, dan aku menekankan kata sederhana sebanyak sebelas kali dalam empat hari terakhir.

“Sabtu sore. Keisha ada pemotretan katalog di aula, selesai jam empat. Dia bakal bawa dua tas — satu tas baju, satu tas rias. Tas rias yang berat.”

“Gue angkat tasnya.”

“Lo tawarin. Bukan lo ambil.”

“Bedanya apa?”

“Bedanya kalau lo ambil, lo kayak nolongin orang yang lo anggep nggak mampu. Kalau lo tawarin, lo kayak temen.” Aku mengetuk meja. “Terus lo anter dia sampai gerbang. Terus lo bilang satu kalimat. Satu.”

Evan mengangkat kertas kecil yang sudah dia lipat empat kali dan disimpan di dompet seperti jimat.

“‘Gue udah lama pengen ngobrol sama lo tanpa ada yang nyuruh lo senyum.’”

“Iya.”

“Terus?”

“Terus lo diem.”

“Diem berapa lama?”

“Sampai dia jawab.”

“Kalau dia nggak jawab?”

“Dia bakal jawab.”

“Kalau nggak?”

“Van.”

“Kalau NGGAK, Dev.”

Aku menutup mata sebentar. “Kalau nggak, lo bilang ‘oke,’ lo anter dia sampai mobilnya, lo pulang, dan lo nggak bakal mati.”

Evan melipat kertas itu lagi dan memasukkannya kembali ke dompet dengan gerakan pendeta.

“Gue nggak bakal mati,” ulangnya.

“Iya.”

“Gue nggak bakal mati.”

“Van.”

“GUE NGGAK BAKAL MATI.”

Dimas, dari kursi sebelah, berkomentar tanpa mengangkat kepala dari ponselnya: “Dia bakal mati.”


Empat hari berikutnya adalah salah satu periode paling melelahkan dalam hidupku.

Evan berlatih.

Bukan berlatih dalam arti wajar. Berlatih dalam arti dia mengucapkan kalimat itu ke arahku, berulang-ulang, di tempat-tempat yang tidak seharusnya.

Selasa, di kantin: “Gue udah lama pengen ngobrol sama lo tanpa ada yang nyuruh lo senyum.”

“Van, gue lagi makan.”

“Gimana intonasinya?”

“Serem.”

Rabu, di tribun: “Gue udah lama pengen ngobrol sama lo tanpa ada yang nyuruh lo senyum.”

“Kenapa lo bilangnya sambil ngeliatin lapangan?”

“Gue nggak berani ngeliat lo.”

“Lo harus ngeliat DIA, Van.”

“GUE TAU.”

Kamis, jam sembilan malam, lewat telepon, dan aku sedang mencuci piring:

“Gue udah lama pengen ngobrol sama lo tanpa ada yang nyuruh lo senyum.”

“Van.”

“Gimana?”

“Kamu berisik banget,” kata Kayla dari belakangku, cukup keras untuk terdengar sampai seberang.

Hening di telepon.

“...Itu adik lo?”

“Iya.”

“Dia bilang gue berisik?”

“Iya.”

“KAY, KAKAK LATIHAN INI PENTING—”

“Bang Evan,” kata Kayla, mengambil alih posisi di sebelahku dengan wajah orang yang sudah menunggu kesempatan ini seharian, “kalau ngomongnya kayak orang baca pengumuman, nanti kakaknya kabur.”

Hening lebih lama.

“Dev.”

“Hm.”

“Adik lo umur berapa?”

“Sembilan.”

“Kenapa dia lebih ngerti dari gue?”

Jumat malam Evan tidak menelepon sama sekali, dan itu justru yang membuatku khawatir.


Sabtu sore, jam empat kurang sepuluh, aku dan Dimas berdiri di belakang tiang lantai dua yang menghadap ke koridor depan aula.

Aku ingin mencatat, untuk keperluan sejarah, bahwa ini bukan ideku.

“Kita kayak orang jahat,” kataku.

“Iya.”

“Kenapa kita di sini?”

“Karena kalau kita nggak di sini,” kata Dimas, “kita nggak bakal tau.”

“Kita bisa nanya besok.”

“Dia bakal bohong.”

Itu benar. Aku diam.

Jam empat lewat empat, pintu aula terbuka dan rombongan kru pemotretan keluar sambil membawa peralatan. Keisha keluar paling belakang, masih dengan riasan lengkap, menyeret dua tas persis seperti yang kuprediksi — dan seperti yang kuprediksi juga, dia menabrak kusen pintu dengan bahu kanannya dalam tiga detik pertama.

Evan muncul dari arah tangga.

“Dia jalan terlalu cepat,” bisikku.

“Iya.”

“Kenapa dia jalan secepat itu?”

Dimas tidak menjawab, karena jawabannya jelas.

Evan sampai. Berhenti. Dan — sejauh yang bisa kudengar dari jarak dua puluh meter — melakukan bagian pertama dengan sempurna.

Keisha menoleh. Menggeleng. Evan berkata sesuatu lagi. Keisha menyerahkan satu tas.

Aku mengembuskan napas.

“Sampai sini bagus,” kataku.

Dan tepat pada saat itu, Keisha melangkah mundur untuk mengambil tas kedua, dan tumitnya menyentuh ember pel yang ditinggalkan petugas kebersihan di dekat dinding.

Ember itu jatuh.

Air menyebar ke separuh koridor dalam waktu kurang dari dua detik, dan gagang pelnya, yang tadi bersandar di dinding, meluncur turun dan menghantam lantai dengan bunyi yang terdengar sampai lantai dua.

“Satu,” gumam Dimas.

“Dim.”

“Gue ngitung.”


Bagian berikutnya terjadi terlalu cepat untuk kuurai secara langsung, jadi izinkan aku merekonstruksinya berdasarkan pengamatan dan kesaksian pihak terkait.

Keisha, yang panik, membungkuk untuk mengangkat ember.

Evan, yang juga panik, membungkuk pada saat yang sama.

Kepala mereka tidak bertabrakan — ini penting, karena kalau bertabrakan ceritanya akan berbeda — tapi tas rias yang tadi sudah dipegang Evan terlepas dari bahunya, jatuh ke genangan air, dan terbuka.

Isinya menyebar. Semuanya. Kuas, botol, tiga benda yang tidak kukenali, dan satu wadah bedak yang pecah dua di lantai basah.

“Dua,” kata Dimas.

Aku mencengkeram tiang.

Keisha berdiri. Dan dari jarak dua puluh meter, aku bisa melihat wajahnya berubah — bukan marah, bukan panik lagi. Sesuatu yang lebih buruk. Wajah orang yang sudah terlalu sering berada di situasi ini dan sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

Dia mulai minta maaf.

Aku bisa melihatnya dari gerakan tubuhnya. Bahu naik, kepala turun, tangan bergerak cepat mengumpulkan barang sambil mulutnya tidak berhenti.

Dan di situ, Evan Radhitya Bramantyo membuang seluruh rencanaku.

Dia tidak membantu mengumpulkan. Dia tidak bilang tidak apa-apa. Dia tidak mengeluarkan dompetnya dan menawarkan mengganti bedak yang pecah, yang merupakan hal paling naluriah yang bisa dilakukan seseorang seperti dia.

Dia duduk.

Di lantai. Di genangan air. Dengan celana bahan seharga entah berapa.

Dan dia mulai membantu memungut barang dari posisi duduk itu, sambil mengoceh tentang sesuatu — aku tidak bisa mendengar apa, tapi aku bisa melihat Keisha berhenti bergerak, lalu menoleh, lalu berdiri diam menatapnya.

“Dev,” kata Dimas.

“Iya.”

“Itu nggak ada di rencana lo.”

“Gue tau.”

“Lo bilang jangan jatuh lagi.”

“Gue tau, Dim.”

Keisha bertanya sesuatu. Evan menjawab sambil mengangkat kuas dari genangan. Keisha bertanya lagi. Evan mengangkat bahu.

Lalu Keisha duduk juga.

Di lantai. Di genangan yang sama. Dengan riasan lengkap dan pakaian pemotretan yang jelas bukan miliknya.

Dan mereka berdua duduk di situ, di koridor basah, memungut kuas satu per satu, sambil bicara tentang entah apa selama hampir empat menit penuh.

Aku menurunkan tanganku dari tiang.

“Dim.”

“Hm.”

“Gue nggak ngerti apa yang barusan terjadi.”

“Gue ngerti.”

“Jelasin.”

Dimas melirikku. “Lo yang bilang.”

“Gue bilang apa?”

“‘Kalau dia jatuh, jangan lo tolongin. Lo ikut jatuh.’”

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.

“Gue nggak nyangka dia inget,” kataku akhirnya.

“Dia inget semua yang lo bilang,” kata Dimas. “Dia cuma nggak pernah ngelakuin di waktu yang lo mau.”


Yang ketiga rusak dua menit kemudian, dan itu adalah ponsel Evan.

Keisha berdiri lebih dulu, dan waktu Evan mengulurkan ponselnya untuk — kuduga — meminta nomor, kakinya menggeser genangan, dan ponsel itu terlepas, memantul sekali di lantai, dan berhenti dengan layar yang retak dari sudut ke sudut.

Hening tiga detik.

Lalu, dari lantai dua, aku mendengar Keisha berteriak, “AKU GANTI!”

Dan Evan menjawab dengan volume yang sama, “NGGAK USAH!”

“AKU GANTI, YA AMPUN—”

“KEI, INI UDAH RETAK DARI KEMAREN.”

“BOHONG.”

“IYA BOHONG.”

Dan Keisha mulai tertawa. Bukan tawa sopan. Tawa yang membuatnya harus memegang lututnya, di koridor basah, di antara kuas berserakan, dengan riasan yang sudah berantakan di sisi kiri.

“Tiga,” kata Dimas.

“Dim.”

“Hm.”

“Itu hape dia yang baru.”

“Iya.”

“Yang dia beli bulan lalu.”

“Iya.”

“Dan dia barusan bohong bilang udah retak dari kemaren.”

Dimas mengangguk pelan. “Iya.”

Aku bersandar ke tiang.

Ada sesuatu yang terjadi di dadaku dan aku tidak langsung mengerti apa. Bukan haru. Lebih seperti melihat orang yang sudah kaukenal sepuluh tahun tiba-tiba menunjukkan bagian dirinya yang selama ini kaukira tidak ada.

Karena Evan Bramantyo tidak pernah berbohong soal barang.

Evan Bramantyo adalah orang yang menyebut harga secara tidak sengaja, yang mengganti barang orang lain sebelum diminta, yang tidak pernah bisa memahami kenapa itu menyinggung. Sepuluh tahun aku menjelaskan itu kepadanya dan sepuluh tahun dia mengangguk lalu mengulanginya lagi minggu berikutnya.

Dan barusan, tanpa disuruh, di lantai basah, dengan layar retak di tangannya, dia berbohong supaya orang lain tidak merasa berutang.

“Dev,” kata Dimas.

“Hm.”

“Lo nangis?”

“Enggak.”

“Oke.”

“Gue nggak nangis, Dim.”

“Gue bilang oke.”

Aku tidak menjawab, karena aku sedang menonton Evan berdiri dari genangan itu — celana basah, ponsel retak, tas rias orang lain masih di bahunya — dan menatap Keisha dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya selama sepuluh tahun.

Bukan ekspresi orang yang senang.

Ekspresi orang yang lega.

Dia bilang sesuatu. Pendek. Empat atau lima kata.

Bukan kalimat di kertas itu; aku tahu, karena aku hafal kalimat di kertas itu dan panjangnya tidak segitu.

Keisha berhenti tertawa.

Lalu dia mengangguk.


Evan menemukan kami di belakang tiang lima menit kemudian, karena tentu saja dia menemukan kami.

“KALIAN NGINTIP.”

“Dimas yang ngajak.”

“Dev yang ngajak,” kata Dimas.

“Dim.”

“Gue nggak bohong. Gue cuma bilang nama lain.”

Evan berdiri di depan kami dengan celana basah sampai lutut dan ponsel yang layarnya seperti jaring laba-laba, dan dia tersenyum dengan senyum yang benar-benar tidak bisa dia kendalikan.

“Gue nggak pake kalimatnya,” katanya.

“Gue tau.”

“Kertasnya basah.”

“Gue tau.”

“Terus gue lupa.”

“Gue tau, Van.”

“Lo nggak marah?”

Aku menatapnya. Rambutnya basah di ujung. Ada bedak di lengan kemejanya. Dan seumur hidup mengenalnya, aku belum pernah melihat Evan Bramantyo terlihat semurah ini — dalam arti yang paling baik dari kata itu.

“Lo bilang apa tadi?” tanyaku.

Evan menggosok tengkuknya.

“Gue bilang, ‘Gue mau duduk di lantai sama lo lagi kapan-kapan.’”

Hening.

Dimas mengeluarkan bunyi lewat hidung.

“Itu jelek banget,” kata Dimas.

“GUE TAU.”

“Itu kalimat paling jelek yang pernah gue denger.”

“GUE TAU, DIM.”

“Dia bilang apa?” tanyaku.

Dan Evan menoleh ke arahku, dan untuk pertama kalinya sore itu suaranya turun jadi normal.

“Dia bilang ‘boleh.’”


Kami bertiga jalan kaki sampai halte karena mobil Evan disuruh pulang duluan olehnya sendiri, dengan alasan yang tidak masuk akal dan tidak dia jelaskan.

Di halte, Evan duduk di antara kami dengan ponsel retak di tangan, membuka dan menutup layar yang setengah tidak responsif.

“Dev.”

“Hm.”

“Gue harus beliin dia bedak.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Karena dia bakal ngerasa punya utang, dan orang yang ngerasa punya utang nggak bisa ketawa sama lo di lantai.”

Evan menatap ponselnya lama.

“Anjir,” katanya pelan. “Lo ngomong kayak gitu terus tapi lo nggak pernah nerapin ke diri lo sendiri.”

Aku tidak menjawab itu.

Angkutan datang. Dimas naik duluan. Evan naik kedua, dan sebelum naik, dia menoleh.

“Dev.”

“Apa.”

“Makasih ya.”

“Gue nggak ngapa-ngapain. Rencana gue lo buang semua.”

“Iya.” Evan naik ke pijakan. “Tapi gue nggak bakal berani ke sana kalau nggak ada rencananya.”

Pintu ditutup. Angkutan pergi.

Aku tidak ikut naik, karena aku harus jalan ke arah berlawanan, ke gudang di Jalan Melati, karena hari ini Sabtu dan Sabtu adalah hari kerja.

Dan sepanjang jalan itu, aku memikirkan bahwa aku baru saja menonton salah satu dari dua orang terpenting dalam hidupku mendapatkan sesuatu yang dia inginkan, dan bahwa aku senang, benar-benar senang, dengan cara yang membuat dadaku terasa penuh.

Dan aku juga memikirkan, sebentar saja, sebelum kuhentikan, bahwa satu dari tiga kursi di tribun hari Rabu sekarang sudah punya alasan untuk kosong.


Gudang di Jalan Melati membayar per shift, bukan per jam, yang artinya semakin cepat selesai semakin baik, dan yang artinya juga tidak ada yang peduli kalau kamu bekerja lebih lama dari yang tertulis.

Pak Manaf sudah menungguku di pintu belakang.

“Telat lima belas menit.”

“Maaf, Pak.”

“Ada apa?”

“Nemenin temen.”

Dia mengangkat alis. “Temen kamu kenapa?”

“Nembak orang.”

Pak Manaf tertawa — bunyi seperti pintu besi digeser — dan menyerahkan sarung tangan kepadaku.

“Berhasil?”

“Berhasil.”

“Kamu kapan?”

Aku memasang sarung tangan dan mengangkat kardus pertama.

“Saya angkut dulu ya, Pak.”

Empat jam. Delapan puluh tiga kardus. Selesai jam sembilan lewat.

Aku pulang dengan uang di kantong depan dan bahu yang berbunyi setiap kali diangkat, dan mampir di depot untuk galon karena hari ini Sabtu dan Sabtu bukan hari mahal.

Kayla belum tidur waktu aku sampai.

“Kakak bau kardus.”

“Iya.”

“Bang Evan gimana?”

Aku meletakkan galon di dispenser dan menoleh.

“Kamu tau dari mana?”

“Ya kan tadi malem dia latihan.”

Aku lupa bahwa aku punya adik yang mendengar segalanya.

“Berhasil,” kataku.

Kayla mengepalkan tangan kecil-kecil di depan dada, satu gerakan cepat, dengan wajah yang berusaha keras terlihat biasa saja.

“Bagus,” katanya. “Terus kalimatnya dipake?”

“Nggak.”

“Nah kan.” Dia mengangguk-angguk. “Udah aku bilangin.”

“Kay.”

“Iya?”

“Tidur.”

Dan waktu dia masuk ke kamar, aku mendengar dia bergumam sesuatu yang terdengar seperti aku yang bener, dan aku memutuskan untuk membiarkannya.