← Nomor Tiga

Chapter Twenty

Tiga Kali Empat

POV: Ayana

Pentas Seni selesai hari Sabtu jam sembilan malam, dan tidak ada satu pun hal yang gagal.

Aku menulis kalimat itu dengan hati-hati, karena aku sudah mengecek berkali-kali dan aku masih tidak percaya. Sound system aman. Lampu panggung aman — dua belas titik, semuanya menyala, semuanya di waktu yang benar. Proyektor latar aman. Listrik tidak turun sekali pun, padahal tahun lalu turun tiga kali.

Bu Wulan menangis di sambutan penutup. Ketua yayasan menyalami Anita dua kali.

Dan di belakang panggung, di ruang kontrol yang lebarnya satu setengah meter, ada seseorang yang duduk di kursi lipat selama enam jam dengan headset di leher dan tidak keluar sekali pun.

Namanya tidak ada di susunan panitia.

Aku mengeceknya lagi malam itu, karena aku ingin memastikan bahwa aku memang gagal, dan aku memang gagal: aku sudah tiga kali mengajukan namanya ke Bimo dan tiga kali Ardev menolak, dengan alasan yang berbeda-beda setiap kali dan yang semuanya masuk akal.

“Kalau nama saya ada di panitia, saya harus ikut rapat evaluasi.”

“Kamu bisa ikut.”

“Rapat evaluasinya jam empat.”

Dan aku tidak bisa membantah itu, karena jam empat adalah jam Rey.


Yang mengusulkan makan-makan adalah Keisha, dan yang mengubahnya jadi bencana adalah Evan.

“Kita rayain!”

“Kei, ini jam sembilan malem.”

“MAKANYA.”

“Besok Minggu,” kata Evan, sudah mengeluarkan ponselnya. “Gue booking tempat.”

“Van—”

“Ada tempat baru di—”

“Van.”

Suara itu datang dari arah pintu ruang kontrol, dan semua orang menoleh.

Ardev sedang menggulung kabel, dan dia tidak mengangkat kepalanya.

“Jangan booking apa-apa,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena kalau lo booking, cuma lo yang bisa bayar.”

Hening.

Dan aku melihat Evan Bramantyo — anak konglomerat, yang mentraktir seantero sekolah, yang tidak pernah membiarkan siapa pun membayar apa pun — berdiri di sana dengan ponsel di tangan dan tidak membalas.

“Terus di mana?” tanya Anita.

Ardev menggulung kabel terakhir dan berdiri.

“Rumah gue,” katanya. “Kalau nggak keberatan sempit.”


Kami sampai hari Minggu jam empat sore, dan ada satu detail yang membuatku berhenti di mulut gang.

Dimas dan Evan tidak bertanya arah.

Mereka jalan duluan. Belok di percabangan kedua tanpa ragu. Evan mengangkat tangan ke arah bapak-bapak di kursi plastik dan bapak itu balas mengangkat dagunya seperti pada orang yang sudah lama dikenal.

“Nit,” bisikku.

“Aku liat.”

“Mereka hafal.”

“Iya.”

Keisha, yang berjalan di belakang kami sambil melihat sekeliling dengan mata besar, tiba-tiba berhenti.

“Kalian.”

“Kenapa?”

“Ada kucing.”

“Kei—”

“KUCINGNYA ADA DUA TAPI SAMA PERSIS.”

Dan dari depan, tanpa menoleh, Evan berteriak: “ITU SATU! PAK TARNO BILANG ITU SATU!”

“KOK BISA SATU?!”

“NANTI GUE JELASIN!”


Ruang tamu itu berukuran tiga kali empat meter.

Aku tahu karena aku pernah menghitungnya diam-diam waktu datang pertama kali, dengan cara berjalan dari dinding ke dinding dan menghitung langkah, dan aku merasa buruk tentang itu selama tiga hari.

Enam orang plus dua anak kecil di ruangan itu adalah persoalan geometri.

Yang terjadi adalah ini: Ibu duduk di satu-satunya kursi yang layak, karena semua orang memaksanya dan dia menolak selama enam menit sebelum menyerah. Dimas dan Anita di dua kursi plastik. Aku di lantai bersandar ke dinding. Keisha di lantai di sebelahku. Evan di lantai juga, dengan punggung ke pintu, dengan Rey di pangkuannya sejak menit kelima.

Ardev di dapur.

“Dev, sini.”

“Bentar.”

“Dev.”

“Airnya mendidih.”

Dan Anita berdiri sebelum aku sempat, dan masuk ke dapur, dan dua menit kemudian keluar sambil membawa nampan dengan wajah yang tidak berubah sedikit pun.

“Nit?”

“Dia lagi masak.”

“Aku bantuin—”

“Nggak usah semua ke dapur.” Anita meletakkan nampan. “Dapurnya satu setengah meter.”


Sebelum makan, ada satu hal yang tidak kuduga.

Ibu Ardev — yang sejak tadi berusaha keras untuk tidak terlihat gugup dan gagal total — akhirnya menyerah dan bertanya.

“Nak Anita ini yang ketua OSIS itu, ya?”

“Iya, Tante.”

“Aduh.” Ibu menutup mulutnya. “Ardev nggak pernah cerita apa-apa.”

“Bu.”

“Ibu cuma bilang.”

“Tante,” kata Evan, dari lantai, dengan Rey di pangkuannya, “Ardev nggak cerita ke siapa-siapa. Sepuluh tahun gue kenal dia dan gue tau soal Kayla dari Kayla sendiri.”

“IH BANG EVAN.”

“Kay, itu bener.”

“Bener sih.”

Dan Ibu tertawa — tawa yang pendek dan agak kaget, seperti orang yang lupa bahwa dia bisa — dan aku melihat Ardev di ambang dapur berhenti bergerak selama satu detik penuh sebelum melanjutkan menuang air.

Menunya mi instan.

Delapan bungkus untuk delapan orang, dan aku tahu persis bagaimana Ardev membuatnya cukup, karena aku memperhatikan dari ambang dapur waktu dia menuang air.

Dia menambah setengah gelas lebih banyak dari petunjuk bungkus. Lalu dia memecahkan empat telur — bukan delapan; empat, dikocok, dituang melingkar supaya menyebar. Lalu dia memotong dua sawi dan memasukkannya di detik terakhir supaya tidak layu.

Delapan mangkuk. Semuanya penuh.

“Dev.”

“Hm?”

“Kamu ngitung ini?”

“Ngitung apa?”

“Ini.”

Dia mengangkat panci dan menuang ke mangkuk terakhir.

“Iya,” katanya.

Dan tidak menjelaskan lebih lanjut, dan aku tidak bertanya lebih lanjut, karena aku sudah mulai belajar kapan harus berhenti.


Yang terjadi selama satu setengah jam berikutnya adalah bagian dari hidupku yang akan kuingat waktu aku tua.

Keisha menumpahkan kuah di lantai dalam empat menit pertama, panik, dan langsung diberi lap oleh Kayla yang jelas sudah menyiapkan lap sejak sebelum kami datang.

“Kamu tau aku bakal numpahin?”

“Iya,” kata Kayla.

“KOK TAU?”

“Bang Evan cerita.”

“EVAN.”

“KEI, ITU BUKAN RAHASIA.”

Rey memutuskan bahwa Evan adalah kursi dan menolak pindah selama lima puluh menit, dan Evan makan dengan satu tangan tanpa mengeluh sekali pun, dan waktu Dimas menawarkan bergantian dia menolak dengan kalimat “dia udah milih.”

Dimas makan dua mangkuk dan tidak bicara. Anita makan satu mangkuk, lalu berdiri, lalu masuk ke dapur.

Tidak bilang apa-apa. Tidak minta izin. Dia cuma masuk, dan dua menit kemudian terdengar bunyi air mengalir.

“Nit!”

“Nggak apa-apa.”

“Nit, itu bukan—”

“Ay, aku nyuci piring. Bukan operasi jantung.”

Dan Ibu berdiri untuk menghentikannya dan kalah dalam waktu kurang dari sepuluh detik, dan akhirnya cuma berdiri di ambang dapur mengelap tangan ke lap yang bahkan tidak basah, dengan ekspresi orang yang tidak tahu harus berbuat apa dengan apa yang sedang terjadi di rumahnya.


Evan mengucapkannya jam setengah tujuh.

Dia sudah selesai makan. Rey sudah tertidur di pangkuannya, benar-benar tertidur, dengan mulut terbuka dan satu tangan menggenggam kaus Evan. Dan Evan sedang menatap mangkuk kosongnya dengan tatapan orang yang sedang memikirkan sesuatu.

“Dev.”

“Hm.”

“Ini makanan paling enak yang pernah gue makan.”

Kayla tertawa.

Aku juga hampir tertawa — sampai aku menoleh dan melihat wajahnya.

Dia tidak sedang bercanda.

Ruangan itu berubah bunyinya.

“Van,” kata Ardev pelan. “Itu mi instan.”

“Gue tau.”

“Lima ribuan.”

“Gue tau, Dev.” Evan mengangkat kepalanya. “Rumah gue punya juru masak. Dia sekolah di Prancis. Dia bikin sesuatu tiap malem dan gue makan sendirian di meja buat dua belas orang.”

Tidak ada yang bicara.

“Ini makanan paling enak yang pernah gue makan,” ulangnya.

Dan dia kembali menatap mangkuknya, dan menepuk punggung Rey dua kali, dan tidak berkata apa-apa lagi.

Aku menoleh ke arah Ardev.

Dia sedang menatap lantai. Rahangnya bergerak sekali.

Lalu dia bangkit, mengambil mangkuk kosong Evan, dan berkata:

“Nambah nggak?”

“Nggak usah.”

“Gue rebus lagi.”

“Dev, jangan—”

“Udah, gue aja.”

Dan dia masuk ke dapur.

Dan Evan menoleh ke arahku, dan matanya merah, dan dia tersenyum lebar sekali seperti orang yang baru saja diberi sesuatu yang mahal.


Jam setengah delapan, Ibu berangkat kerja.

Shift malam. Jam delapan.

Dan yang terjadi waktu dia bersiap adalah hal yang paling ingin kutuliskan dari seluruh hari itu.

Dia keluar dari kamar dengan seragam pabrik dan tas kain, dan berhenti di ruang tamu, dan melihat enam anak SMA duduk berdesakan di lantai rumahnya.

Dan dia tidak bergerak selama beberapa detik.

“Bu?”

“Iya. Iya.” Dia mengibaskan tangan. “Ibu berangkat ya.”

“Tante, hati-hati,” kata Anita.

“Iya, Nak.”

“Tante pulang jam berapa?” tanya Keisha.

“Jam dua.”

“JAM DUA?”

“Kei.”

“Tante, jam dua pagi?”

Dan Ibu tersenyum — senyum yang dipasang, yang sudah kukenali karena aku juga punya versinya sendiri — dan berkata, “Udah biasa, Nak.”

Lalu dia berjalan ke pintu.

Dan Dimas berdiri.

Tidak bilang apa-apa. Dia cuma berdiri, mengambil tas kain dari tangan Ibu, dan berjalan ke luar duluan.

“Loh—”

“Sampe depan gang, Tante,” kata Evan, sudah ikut berdiri. “Gelap.”

“Nggak usah, Ibu tiap hari—”

“Tante.” Evan sudah memakai sepatunya. “Kita berdua nggak ngapa-ngapain di sini.”

Mereka mengantar Ibu Ardev sampai mulut gang, dan kembali empat menit kemudian, dan tidak ada satu pun dari mereka yang menyinggungnya lagi.

Aku menoleh ke arah dapur.

Ardev berdiri di sana dengan lap di tangan.

Dan wajahnya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, benar-benar tidak bisa kubaca.


Kami pulang jam delapan malam.

Dan di pintu, sesuatu terjadi yang baru kusadari maknanya berminggu-minggu kemudian.

Dimas memakai sepatunya lebih dulu. Lalu, sebelum keluar, dia berjalan ke sudut ruang tamu, menunduk sedikit, dan mengetuk galon di dispenser dengan buku jari.

Bunyinya berat. Masih penuh.

Dia mengangguk sekali dan keluar.

Evan melakukan hal yang sama tiga puluh detik kemudian — melepas Rey ke kasur lebih dulu, memakai sepatu, lalu mengetuk galon itu, mendengarkan, dan mengangguk.

Tidak ada yang berkomentar.

Tidak ada yang menjelaskan.

Anita, di sebelahku, melihat itu terjadi dua kali dan tidak berkata apa-apa. Tapi waktu kami sampai di mulut gang, dia berbicara tanpa menoleh.

“Ay.”

“Hm.”

“Bulan depan kita ke sini lagi.”

“Iya.”

“Aku bawa lap sendiri.”

“Nit.”

“Aku serius. Lapnya cuma dua.”

Dan aku tertawa di gang yang gelap itu, dan Keisha bertanya apa yang lucu, dan tidak ada satu pun dari kami yang menjelaskan.


Malamnya aku membuka ponsel dan mengirim satu pesan.

Makasih ya buat hari ini.

ARDEV: Nggak usah makasih. Mi instan doang.

Dev.

ARDEV: Iya?

Dan aku mengetik tiga kalimat, menghapusnya, lalu mengirim yang paling pendek.

Aku sayang kamu.

Titik-titik muncul di layar.

Muncul cukup lama sehingga aku sempat memikirkan sembilan hal berbeda.

ARDEV: Udah makan?

Aku menatap layar itu.

Ini yang keempat.

Aku tidak menghitungnya dengan sengaja — atau mungkin iya, mungkin aku sudah menghitung sejak yang kedua dan cuma tidak mau mengakuinya.

Yang pertama di dapur: “Makasih.”

Yang kedua lewat pesan, tiga hari setelahnya: “Hati-hati.”

Yang ketiga di koridor, waktu aku mengucapkannya pelan-pelan sambil lewat, dan dia menjawab “aku juga” — dan aku sempat berpikir itu jawabannya, dan aku memikirkan kalimat itu selama dua hari sebelum menyadari bahwa “aku juga” bisa berarti apa saja.

Dan sekarang yang keempat.

Udah makan?

Dan hal yang paling membingungkan — hal yang membuatku tidak bisa marah sama sekali — adalah bahwa aku tahu persis apa artinya.

Aku tahu itu artinya dia mendengar. Aku tahu itu artinya dia peduli. Aku tahu, dengan kepastian yang tidak butuh pembuktian, bahwa laki-laki ini akan berjalan satu koma delapan kilometer di tengah malam kalau aku bilang belum makan.

Dia cuma tidak akan pernah mengucapkan kalimatnya.

Dan aku memutuskan malam itu — di kamarku, dengan ponsel di dada — bahwa aku tidak akan pernah menagih.

Bukan karena aku besar hati.

Karena aku takut kalau kutagih, dia akan mengucapkannya untuk membuatku senang, dan aku tidak akan pernah tahu apakah itu benar.

Lalu aku menaruh ponsel di dada dan memandangi langit-langit kamar yang terlalu tinggi.

“Udah,” kataku ke ruangan kosong.

Dan aku mengetiknya juga, dan mengirimnya, dan tidur.