Chapter Sixteen
Dev
POV: Ardev
Hal-hal aneh mulai terjadi di hari kelima.
Bukan aneh dalam arti besar. Aneh dalam arti seperti menemukan barang di rumahmu yang sudah pindah tempat sedikit — cukup untuk membuatmu berhenti, tidak cukup untuk membuatmu curiga.
Hari kelima. Pak Hendra membagikan hasil ulangan fisika, dan waktu sampai ke namaku, dia berhenti.
“Ardev.”
“Iya, Pak.”
“Delapan puluh satu.”
Aku maju mengambil kertas. Dan waktu aku hampir berbalik, dia berkata — tidak keras, tapi cukup untuk terdengar barisan depan:
“Kamu yang benerin proyektor lab dua, ya?”
Seluruh kelas menoleh.
“...Iya, Pak.”
“Bagus.” Dia sudah kembali ke daftar nilainya. “Lain kali bilang. Bapak bisa mintain surat tugas biar kamu dapet poin.”
Aku kembali ke tempat duduk dengan dua puluh tujuh pasang mata mengikutiku, dan aku duduk di sana selama sisa jam pelajaran mencoba mencari tahu dari mana Pak Hendra tahu.
Proyektor lab dua kuperbaiki bulan Februari. Jam setengah lima sore. Tidak ada orang.
Hari ketujuh. Ibu kantin memberiku es teh yang tidak kupesan.
“Bu, saya nggak—”
“Udah, minum aja.”
“Bu.”
“Kamu yang benerin kipas Ibu bulan lalu, kan?”
Aku berdiri di depan meja kasir itu dengan uang di tangan.
“Bu, itu—”
“Ibu udah nanya ke anak-anak. Ibu kira tukang.” Dia mendorong gelas itu ke arahku. “Kipasnya masih jalan sampe sekarang. Minum.”
Hari kedelapan. Bu Reni di perpustakaan berbicara denganku.
Ini perlu dijelaskan betapa besarnya. Bu Reni dan aku sudah dua tahun berada di tahap komunikasi non-verbal yang sempurna: dagu naik satu sentimeter, aku mengangguk, selesai. Itu hubungan terbaik yang kupunya dengan orang dewasa mana pun di gedung ini.
Hari itu dia memanggilku ke meja depan.
“Ardev.”
Aku hampir menjatuhkan buku.
“Iya, Bu.”
“Katalog komputer perpus.”
“Kenapa, Bu?”
“Rusak dari November.” Dia mendorong keyboard ke arahku. “Kalau kamu ada waktu.”
Dan yang membuatku berdiri di sana selama beberapa detik bukan permintaannya.
Tapi kata “kalau kamu ada waktu.”
Karena tidak ada satu pun orang di sekolah ini yang pernah bertanya apakah aku punya waktu. Orang tidak bertanya kepada perabot.
Aku memperbaikinya dalam empat puluh menit. Dan waktu aku selesai, Bu Reni tidak mengucapkan terima kasih — dia cuma mengangkat dagunya satu sentimeter, seperti biasa, dan itu jauh lebih baik daripada terima kasih mana pun.
Hari kesembilan. Anak kelas sepuluh — yang tidak kukenal, yang belum pernah bicara denganku seumur hidup — menahan pintu perpustakaan untukku dan berkata “duluan, Kak.”
Hari kesebelas. Rangga, dari kelas IPS 3, yang enam minggu lalu menyebutku tukang bawa tas di kantin, berpapasan denganku di koridor dan mengangguk.
Bukan menyapa. Cuma mengangguk. Sekali, kaku, seperti orang yang sedang membayar sesuatu dan tidak tahu caranya.
Dan di situ aku berhenti menganggapnya kebetulan.
Aku menyusunnya di kepalaku malam itu, seperti biasa.
Proyektor lab dua: Februari. Kipas kantin: bulan lalu. Keduanya tidak ada saksi. Keduanya tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun.
Kecuali dua orang.
Aku tidak tidur sampai jam satu. Dan besok paginya aku menunggu di tribun sampai Dimas selesai pemanasan, dan waktu Evan datang sambil berteriak dari kejauhan seperti biasa, aku tidak menjawab sapaannya.
“Dev?”
“Duduk.”
Evan duduk. Dimas juga, tanpa disuruh.
“Kalian ngapain.”
“Hah?”
“Kalian ngomong ke orang.”
Hening.
Dan yang paling membuktikan segalanya adalah bahwa Evan Radhitya Bramantyo — yang bisa berbohong tentang harga barang, tentang nilai, tentang apakah dia sudah makan — tidak berbohong sama sekali.
“Iya,” katanya.
“Van.”
“Gue nggak nyesel.”
“Gue nggak nanya lo nyesel apa nggak. Gue nanya kalian ngapain.”
Dimas yang menjawab.
“Gue ke ruang guru,” katanya. “Hari Senin. Gue bilang ke Pak Hendra soal proyektor lab dua.”
“Kenapa?”
“Karena dia nanya siapa yang benerin.”
“Dia nanya karena?”
Dimas diam.
“Dim.”
“Karena gue yang mancing.”
Aku menutup mata sebentar.
“Gue bilang ke Bu Wulan juga,” kata Evan.
“LO APA?”
“Gue nggak bilang macem-macem.” Evan mengangkat tangan. “Gue cuma nanya. Gue tanya, ‘Bu, kalau ada anak yang tiga tahun benerin barang sekolah tanpa dilaporin, itu masuk pelanggaran atau prestasi?’”
Aku menatapnya.
“Terus?”
“Terus dia diem lama banget.” Evan menurunkan tangannya. “Terus dia nanya siapa. Terus gue bilang gue nggak bisa bilang.”
“Van—”
“Gue NGGAK bilang, Dev.”
“Dia bakal nyari sendiri.”
“Iya.”
“Itu lebih parah.”
“Gue TAU.”
Dan Evan berdiri, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, suaranya berubah jadi sesuatu yang bukan berisik.
“Lo tau gue denger apa di kantin hari Jumat?”
“Gue nggak mau tau.”
“‘Proyek sosial.’”
Aku diam.
“Ada yang bilang lo proyek sosial dia.” Evan berdiri di depanku dengan tangan mengepal di sisi badan. “Dan gue nggak bisa mukul orang di kantin, Dev, karena bokap gue bakal beliin sekolah ini dan itu bakal jauh lebih memalukan buat lo. Jadi gue ngelakuin satu-satunya hal yang gue bisa.”
“Yaitu?”
“Gue ngasih tau orang apa yang mereka nggak tau.”
Aku berdiri juga.
“Itu bukan hak lo.”
“Gue tau.”
“Itu punya gue, Van. Tiga tahun. Itu satu-satunya hal yang gue punya dan gue nggak minta siapa-siapa buat—”
“LO NGGAK PUNYA APA-APA, DEV.”
Tribun itu hening.
Evan menurunkan suaranya. Tapi tidak mundur.
“Lo nggak punya apa-apa,” ulangnya, pelan. “Lo punya rahasia. Itu beda.”
Aku tidak menjawab.
“Dan gue diem selama tiga tahun karena itu maunya lo. Gue diem waktu lo dapet catetan pembinaan pertama seumur hidup lo buat kesalahan yang bukan lo. Gue diem tiap kali orang lewat lo kayak lewat tembok.” Evan mengambil tasnya. “Tapi gue nggak bisa diem waktu ada orang bilang lo proyek sosial. Nggak bisa, Dev. Maaf.”
Dia pergi.
Dan aku duduk kembali di tribun dengan Dimas di sebelahku, dan tidak ada yang bicara selama beberapa menit.
“Dim.”
“Hm.”
“Lo setuju sama dia?”
Dimas memantulkan bola sekali.
“Enggak,” katanya.
Aku menoleh.
“Gue nggak setuju sama caranya,” lanjutnya. “Gue setuju sama alasannya.”
“Bedanya?”
“Bedanya gue nggak ngasih tau siapa-siapa apa yang lo lakuin.” Dia memantulkan bola lagi. “Gue cuma bikin orang nanya.”
“Itu sama aja.”
“Enggak.” Dimas menoleh. “Kalau gue yang cerita, itu cerita gue. Kalau mereka yang nanya, itu tetep punya lo. Lo yang mutusin mau jawab apa nggak.”
Dan dia berdiri, dan berjalan ke lapangan, dan meninggalkan aku di tribun dengan sebuah pemikiran yang tidak bisa kubantah dan yang belum siap kuterima.
Aku marah selama dua hari.
Bukan marah yang berteriak. Marah yang efisien: aku tetap membawa tiga kotak bekal, tetap duduk di meja yang sama, tetap menjawab kalau ditanya. Aku cuma berhenti memulai apa pun.
Evan tahan sembilan jam.
Di jam kesepuluh dia duduk di depanku di kantin dan meletakkan sesuatu di meja.
Sebuah ponsel. Layarnya retak dari sudut ke sudut.
“Ini apa?”
“Punya gue.”
“Gue tau ini punya lo. Ini kenapa di meja gue?”
“Gue nggak ganti.” Evan mendorongnya sedikit ke arahku. “Udah tiga bulan. Nyokap gue udah nawarin dua kali. Bokap gue nyuruh gue ganti karena malu-maluin katanya.”
Aku menatap ponsel itu.
“Kenapa lo nggak ganti?”
“Karena Kei bakal inget dia yang jatohin.” Evan mengangkat bahu. “Dan gue nggak mau dia inget itu tiap kali liat hape gue.”
Dia menarik ponselnya kembali.
“Lo yang ngajarin gue itu, Dev. Sepuluh tahun. Dan gue baru ngerti tahun ini.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Jadi kalau lo mau marah, marah aja.” Evan mulai makan. “Tapi gue nggak bisa terus-terusan belajar dari lo terus pura-pura nggak liat kalau lo sendiri nggak pernah dapet apa yang lo kasih ke orang.”
Dan itu, entah bagaimana, mengakhiri kemarahanku dua hari lebih cepat dari jadwal.
Yang tidak berubah sama sekali adalah bisik-bisiknya.
Aku ingin mencatat ini dengan jujur: kampanye Dimas dan Evan tidak berhasil sepenuhnya. Orang masih berbisik. Orang masih menoleh. Beberapa orang justru jadi lebih sinis — karena sekarang mereka punya versi baru, yaitu bahwa aku sengaja membangun reputasi tersembunyi supaya kelihatan misterius.
Manusia akan selalu menemukan cara.
Yang berubah cuma satu, dan itu kecil sekali: jumlahnya berkurang. Dari yang tadinya semua orang, sekarang jadi sebagian orang.
Dan aku sudah lama tahu bahwa itu satu-satunya jenis kemenangan yang tersedia.
Yang tidak kuduga adalah reaksiku sendiri terhadap perubahan kecil itu.
Aku pikir aku akan lega. Aku pikir setelah marah dua hari dan menyerah, aku akan mulai menikmati versi baru ini — versi di mana Pak Hendra menyebut namaku, di mana ibu kantin memberi es teh, di mana orang mengangguk di koridor.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Aku mulai lelah.
Bukan lelah fisik. Lelah dalam arti bahwa setiap sapaan menuntut jawaban, dan setiap jawaban menuntut aku memutuskan seberapa banyak yang boleh kukatakan, dan setiap keputusan memakan sesuatu yang jumlahnya terbatas.
Tiga tahun aku tidak pernah harus memutuskan apa pun di koridor.
Hari Kamis, waktu ada anak kelas sebelas menghampiriku menanyakan apakah aku bisa memperbaiki keyboard-nya, aku berkata bisa. Lalu dia bertanya berapa. Aku bilang tidak usah. Lalu dia terlihat tidak nyaman, lalu memaksa, lalu akhirnya menyelipkan uang lima puluh ribu di antara buku yang kupegang dan pergi sebelum aku sempat mengembalikannya.
Aku berdiri di koridor dengan uang itu di tangan.
Dan aku menyadari bahwa yang kutakutkan selama tiga tahun bukan ketahuan.
Yang kutakutkan adalah ini: begitu orang tahu, mereka akan mulai membayar. Dan begitu mereka membayar, apa yang kulakukan berhenti jadi milikku sendiri.
Aku menyimpan uang itu di kaleng biru malam itu.
Dan aku merasa lebih buruk tentang hal itu daripada tentang apa pun yang terjadi minggu itu.
Hari Jumat sore, dua minggu setelah aula, aku memasang lampu terakhir di panggung Pentas Seni.
Ayana memegangi tangga seperti biasa. Dia sudah berhenti bertanya apakah boleh.
Aku ingin mencatat sesuatu tentang delapan hari pertama itu, karena kalau tidak kucatat sekarang aku akan menyimpulkan yang salah nanti.
Delapan hari pertama itu bukan canggung.
Aku sudah menyiapkan diri untuk canggung. Aku sudah menyusun beberapa strategi untuk itu: bekerja sambil bicara, selalu ada pekerjaan di tangan, jangan pernah dua orang duduk berhadapan tanpa meja.
Yang terjadi justru bahwa strategi itu tidak dibutuhkan, dan itu yang membuatku tidak nyaman.
Karena Ayana tidak menuntut apa pun.
Dia tidak bertanya kenapa aku tidak membalas pesan antara jam empat dan tujuh. Dia tidak bertanya kenapa aku tidak bisa Sabtu. Dia datang ke aula, memegangi tangga, mengerjakan berkasnya sendiri di baris depan, dan pulang.
Dan pada hari keenam aku menyadari bahwa dia melakukan itu dengan sengaja.
Bahwa seseorang telah duduk dan berpikir tentang bagaimana caranya berada di dekatku tanpa membuatku merasa sedang ditagih.
Aku tidak tahu harus berterima kasih untuk itu atau merasa terhina.
Ternyata bisa keduanya sekaligus.
“Ardev.”
“Hm.”
“Turun dulu.”
“Bentar, tinggal satu.”
“Nggak, aku serius, turun.”
Aku turun.
“Kenapa?”
Dan dia berdiri di sana dengan dua tangan masih di tangga, dan berkata:
“Aku mau manggil kamu Dev.”
Aku mengerjap.
“Boleh?”
“Itu—” Aku berhenti. “Itu yang Dimas sama Evan pake.”
“Iya. Aku tau.”
“Mereka pake dari kelas empat SD.”
“Aku tau, Ardev.” Dan dia menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kutebak. “Makanya aku nanya, bukan langsung pake.”
Aku berdiri di aula itu dengan obeng masih di tangan.
Dan aku ingin mencatat, sejujur-jujurnya, bahwa yang terjadi di dalam dadaku pada detik itu bukan hal kecil.
Karena “Dev” bukan nama panggilan. “Dev” adalah pintu.
Ada tepat dua orang di dunia yang punya kuncinya, dan keduanya mendapatkannya di belakang gudang olahraga waktu kami berumur sepuluh tahun, dan tidak ada satu pun manusia lain yang pernah — bahkan sekali — meminta.
“Boleh,” kataku.
Dan suaraku keluar lebih serak dari yang kuinginkan.
Ayana tersenyum, dan tidak berkomentar apa-apa soal suaraku, dan itu adalah kebaikan yang tidak akan pernah dia tahu telah dia berikan.
“Ya udah,” katanya. “Naik lagi. Tinggal satu, kan?”
Aku naik.
Dan waktu aku memasang lampu terakhir itu, dari bawah, dia memanggil.
“Dev.”
“Hm.”
“Nggak apa-apa. Cuma nyoba.”
Dan tanganku berhenti di udara selama mungkin dua detik penuh sebelum melanjutkan.
- 1 Bayangan
- 2 Hantu Sekretariat
- 3 Kantin
- 4 Tiga Ketukan
- 5 Dua Orang Bodoh
- 6 Empat Puluh Menit
- 7 Daftar
- 8 Tiga Kotak
- 9 Bencana Alam
- 10 Jam Enam Empat Belas
- 11 Sedikit Kata
- 12 Udah, Saya Aja
- 13 Nomor Tiga
- 14 Tiga Kali
- 15 Peringatan
- 16 Dev reading
- 17 Dapur
- 18 Dua Jam
- 19 Satu-satunya
- 20 Tiga Kali Empat
- 21 Satu Kali Serius
- 22 Di Depan Semua Orang
- 23 Empat Belas Hari
- 24 Rak Nomor Empat
- 25 Kue yang Gagal
- 26 Atap
- 27 Kembang Api Murah
- 28 Om dan Kakak
- 29 Modal Nol
- 30 Fakta Pertama
- 31 Gerbang
- 32 Kok Aku yang Lebih Tahu?
- 33 Kalau Aku Bilang
- 34 Dua Tahun
- 35 Sembilan Hari
- 36 Dua Ketukan
- 37 Satu Arah
- 38 Dokumen
- 39 Galon
- 40 Tolong
- 41 Arti Nama
- 42 Foto