← Nomor Tiga

Chapter Seven

Daftar

POV: Ayana

Buku abu-abu itu sekarang punya dua puluh tiga entri, dan aku sudah berhenti berpura-pura bahwa ini masih wajar.

Aku menyebarkannya di lantai kamar hari Minggu pagi — semua halaman yang sudah kusalin ulang ke kertas terpisah, disusun berdasarkan tanggal, dari yang paling lama sampai yang paling baru. Butuh tiga jam untuk merekonstruksi yang tahun lalu, karena aku belum jadi pengurus waktu itu dan harus mengandalkan grup angkatan, foto kegiatan, dan ingatan orang-orang yang sudah setengah lupa.

Hasilnya terhampar di lantai seperti peta.

Dan begitu aku berdiri dan melihatnya dari atas, aku menemukan hal yang membuat perutku dingin.

Ada pola.

Bukan pola waktu — itu sudah kuduga; hampir semuanya terjadi antara jam tiga dan jam lima sore. Yang baru adalah pola jenis.

Aku memisahkan kertas-kertas itu jadi tiga tumpukan.

Tumpukan pertama: teknis. Sound system, proyektor, jaringan lab, listrik aula, mesin fotokopi sekretariat. Sebelas kejadian.

Tumpukan kedua: administratif. Proposal yang tiba-tiba lolos setelah ditolak. Lampiran anggaran yang tiba-tiba lengkap. Surat izin yang tiba-tiba sudah ditandatangani. Tujuh kejadian.

Tumpukan ketiga — dan ini yang membuatku duduk kembali di lantai.

Kotak P3K yang terisi ulang sebelum anggarannya cair. Air minum panitia yang muncul di hari panas tanpa ada yang membeli. Payung yang tergantung di sekretariat setelah rapat sore yang hujan, tiga buah, tidak ada yang mengaku, tidak ada yang mengambil kembali. Kursi roda pinjaman dari UKS yang sudah ada di lobi lima menit sebelum ada yang sempat menelepon, waktu anak kelas sepuluh pingsan di upacara bulan Agustus.

Lima kejadian.

Yang pertama dan kedua bisa dijelaskan. Orang yang suka mesin akan memperbaiki mesin. Orang yang jago menulis akan menulis.

Tapi tumpukan ketiga tidak butuh keahlian apa pun.

Tumpukan ketiga cuma butuh seseorang yang memperhatikan.

Aku mengambil kertas kosong dan menulis di atasnya:

Siapa yang bisa masuk ke ruang panel listrik aula?

Jawabannya, setelah kupikir: penjaga sekolah, teknisi luar, dan siapa pun yang tahu bahwa kunci cadangannya digantung di balik papan pengumuman gudang. Aku tahu itu karena Bimo pernah memberitahuku setengah tahun lalu, dan Bimo tahu karena diberi tahu pengurus sebelumnya.

Berarti orang ini pernah jadi pengurus, atau kenal pengurus, atau—

Aku mencoret kalimat itu.

Atau dia sekadar orang yang memperhatikan di mana orang lain menggantung kunci.

Aku menulis pertanyaan kedua:

Kenapa dia berhenti di situ?

Karena ini yang paling aneh dari semua. Dua puluh tiga kejadian, tiga tahun, dan tidak satu pun di antaranya besar. Tidak ada yang membobol nilai. Tidak ada yang mengambil apa pun. Tidak ada satu pun tindakan yang menguntungkan dirinya sendiri, bahkan secara tidak langsung.

Orang yang punya akses seperti itu dan tidak pernah memakainya untuk dirinya sendiri bukan orang jahat yang menyamar.

Itu orang yang benar-benar tidak menginginkan apa-apa.

Dan itu, entah kenapa, jauh lebih sulit kupercaya daripada kemungkinan sebaliknya.

Aku duduk di lantai kamarku selama beberapa menit tanpa melakukan apa-apa, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku merasakan sesuatu yang berbeda dari marah.

Aku merasa diawasi.

Bukan dalam arti yang menakutkan. Dalam arti yang jauh lebih aneh: ada orang di sekolah itu yang melihat segalanya, terus-menerus, selama tiga tahun — melihat siapa yang kepanasan, siapa yang belum minum, siapa yang butuh payung — dan tidak ada satu pun orang yang melihat dia.


Mama mengetuk pintu kamarku jam dua belas siang.

“Ay, Mama ke Bandung ya. Sampai Rabu.”

“Iya, Ma.”

“Kamu makan siang di bawah. Mbak Yati udah masak.”

“Iya.”

Dia berdiri di ambang pintu, melihat kertas-kertas yang berserakan di lantai, dan ekspresinya berubah jadi bangga dengan cara yang membuatku ingin membereskannya cepat-cepat.

“Tugas sekolah?”

“...Iya.”

“Anak Mama emang rajin.” Dia tersenyum. “Papa juga bilang gitu kemarin. Katanya, Ayana mah nggak usah dikhawatirin. Semua beres sendiri.”

“Iya, Ma.”

“Ya udah. Mama berangkat.”

Pintu ditutup.

Aku mendengar langkah kakinya menuruni tangga, lalu bunyi mobil di halaman, lalu gerbang, lalu tidak ada apa-apa lagi.

Rumah ini punya empat kamar tidur, dua ruang tamu, satu ruang keluarga yang tidak pernah dipakai untuk berkumpul keluarga, dan satu meja makan panjang untuk delapan orang yang paling banyak diduduki tiga orang secara bersamaan dalam setahun terakhir.

Ayana mah nggak usah dikhawatirin. Semua beres sendiri.

Aku duduk di lantai lagi dan menatap tumpukan ketiga.

Kotak P3K. Air minum. Payung. Kursi roda.

Semua hal yang tidak diminta.

Dan aku sadar, dengan kejelasan yang tidak menyenangkan, bahwa aku bukan sedang mencari orang untuk berterima kasih.

Aku sedang mencari bukti.

Bukti bahwa ada orang yang mengkhawatirkan hal-hal yang tidak diminta untuk dikhawatirkan.


“Kamu bawa ini ke pertandingan basket.”

Anita meletakkan buku abu-abu itu di meja sekretariat hari Senin dengan bunyi yang lebih keras dari yang perlu.

“Aku bawa tas.”

“Kamu bawa BUKU INI ke pertandingan basket.”

“Aku bawa tas dan kebetulan buku itu ada di tas.”

“Ay.”

Keisha mengangkat tangan dari kursi seberang. “Aku jadi saksi.”

“Kei.”

“Dia nulis di kuarter ketiga.”

“KEI.”

“Aku nggak bisa bohong, Ay, aku ini korban.” Keisha menopang dagu. “Korban apa, ya. Pokoknya korban.”

Anita menarik kursi dan duduk di depanku, dan aku tahu dari cara dia duduk bahwa ini bukan ejekan lagi.

“Aku serius nanya sekarang,” katanya. “Kamu mau nemuin dia buat apa?”

“Buat bilang makasih.”

“Bohong.”

“Nit—”

“Kamu udah bisa bilang makasih dari dulu. Tulis di papan sekretariat, ‘terima kasih buat siapa pun yang benerin proyektor.’ Selesai. Dia bakal baca.” Anita menyandarkan punggungnya. “Tapi kamu nggak mau gitu. Kamu mau tau orangnya.”

Aku tidak menjawab.

“Kenapa?”

Dan aku tidak menjawab lagi, karena jawabannya baru muncul di kepalaku pagi ini, di lantai kamar, di antara tiga tumpukan kertas — dan aku belum siap mengucapkannya.

Jawabannya adalah: karena aku ingin tahu apakah orang seperti itu benar-benar ada.

Bukan orang baik. Orang baik banyak. Aku dikelilingi orang baik seumur hidupku — orang yang membukakan pintu, membawakan tas, menawarkan tumpangan, mengirim pesan selamat pagi dengan emoji yang terlalu banyak. Semua orang baik kepadaku, dan aku sudah lama berhenti bisa membedakan mana yang baik dan mana yang sedang berinvestasi.

Yang tidak pernah kutemui adalah orang yang baik ketika tidak ada yang melihat.

Karena kalau orang seperti itu ada, artinya sesuatu. Aku tidak tahu apa. Tapi sesuatu.

“Nit,” kataku akhirnya. “Kamu inget upacara bulan Agustus?” “Yang ada anak pingsan?”

“Kursi rodanya.”

Anita mengerutkan kening. “Kenapa kursi rodanya?”

“UKS ada di gedung utara. Lapangan upacara di selatan. Jaraknya empat menit jalan cepat, aku pernah ngukur.” Aku membuka buku dan mendorongnya ke arahnya. “Anak itu pingsan jam tujuh lewat dua puluh dua. Kursi rodanya sampai di lobi jam tujuh lewat dua puluh empat.”

Anita menatap halaman itu. Lama.

“Dua menit,” katanya.

“Iya.”

“Berarti dia udah jalan sebelum anaknya jatuh.”

“Iya.”

Keisha berhenti mengunyah untuk pertama kalinya dalam sepuluh menit. “Serem.”

“Bukan serem,” kataku. “Dia liat anak itu goyang duluan.”

Dan ruangan itu hening cukup lama sampai kipas anginnya terdengar seperti orang berdehem di sudut.


Rapat koordinasi ekskul sore itu berjalan lancar sampai menit ke empat puluh, ketika Bimo menyadari bahwa berkas rekapitulasi anggota tidak ada di map mana pun.

“Ay, aku sumpah taruh di sini.”

“Cek yang biru.”

“Udah.”

“Yang di laci?”

“Udah, Ay, aku udah cek semua.”

Enam belas ketua ekskul menunggu di depan kami, dan lima belas di antaranya sudah mulai membuka ponsel.

Aku berdiri di depan ruangan dengan spidol di tangan dan melakukan apa yang selalu kulakukan: menutupinya.

“Sambil nunggu, kita mulai dari agenda ketiga dulu ya. Jadwal pemakaian aula.”

“Kak, itu kan butuh data anggota juga—”

“Yang butuh data anggota cuma poin b. Poin a sama c bisa jalan.”

Anak itu mengangguk, dan lima belas ponsel turun kembali, dan aku melanjutkan sambil menulis di papan, dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa tanganku dingin.

Ini bagian yang tidak pernah orang lihat. Bukan bicaranya. Tapi tiga malam sebelumnya, waktu aku membaca ulang seluruh berkas sampai hafal urutan agendanya, justru supaya kalau ada yang hilang aku bisa menyusun ulang di kepala tanpa panik.

Orang bilang aku tenang di depan orang banyak.

Aku tidak tenang. Aku cuma sudah menyiapkan enam kemungkinan sebelumnya.

Sebelas menit kemudian aku kehabisan agenda yang bisa dijalankan.

Aku menarik napas dan sudah bersiap mengumumkan bahwa rapat ditunda, ketika pintu sekretariat diketuk.

Dua kali. Sopan.

“Permisi.”

Aku menoleh, dan yang berdiri di ambang pintu adalah orang yang tidak seharusnya ada di sekolah ini jam segini di hari Senin.

Rasendriya Wibisono.

Ketua OSIS periode sebelumnya. Sekarang kelas dua belas juga, tapi di kelas percepatan, yang artinya jadwalnya berbeda dari semua orang. Rapi seperti biasa. Kemeja dimasukkan. Rambut disisir dengan cara yang jelas disengaja tapi tidak berlebihan.

“Kak Rasen,” kata Bimo, dan aku bisa mendengar kelegaan di suaranya bahkan sebelum ada apa-apa.

“Maaf ganggu.” Rasen mengangkat map cokelat di tangannya. “Aku lagi beresin arsip periode lama di gudang, terus nemu ini. Kayaknya kalian butuh.”

Dia meletakkannya di meja.

Rekapitulasi anggota ekskul. Semester ini. Lengkap.

Bimo mengeluarkan suara seperti orang yang baru diselamatkan dari tenggelam.

“Ini... kok bisa di gudang?”

“Sistem penyimpanan lama masih dipakai buat berkas rangkap.” Rasen tersenyum sedikit. “Salah aku juga. Waktu serah terima aku nggak sempat jelasin bagian itu.”

“Nggak apa-apa, Kak. Makasih banget.”

“Sama-sama.” Dia melihat ke arahku. “Ayana.”

“Kak.”

“Kalau nanti butuh arsip lama, langsung bilang aja. Aku masih hafal letaknya.”

“Iya. Makasih, Kak.”

Dia sudah setengah berbalik waktu dia berhenti.

“Oh iya. Proposal Bakti Sosial kalian yang bulan lalu.”

“Kenapa, Kak?”

“Bagus banget.” Dia mengatakannya biasa saja, tanpa penekanan, seperti sedang menyebut cuaca. “Bagian analisis kebutuhan penerima manfaatnya rapi. Aku dulu nggak pernah kepikiran bikin bagian itu.”

Sesuatu di dadaku bergerak dengan cara yang tidak kusukai.

“Makasih, Kak.”

“Kamu yang nulis?”

Dan aku berdiri di sana selama satu detik penuh dengan mulut setengah terbuka.

Karena aku tidak menulisnya.

Aku menulis versi pertama, yang ditolak Bu Wulan pada tanggal 3 September, dan yang diterima pada hari yang sama juga adalah versi yang bukan versiku. Bagian analisis kebutuhan penerima manfaat itu — bagian yang barusan dipuji — muncul di halaman empat dalam format yang tidak pernah kubuat, dengan tabel perbandingan tiga kelurahan yang datanya tidak pernah kukumpulkan.

Entri nomor dua di buku abu-abu.

“Ayana?”

“Iya, Kak. Maaf.” Aku tersenyum. “Itu kerja tim.”

Rasen mengangguk. “Ya. Tapi tim juga ada yang nulis.”

Dia pamit ke arah ruangan secara umum, dan pergi.

Sesopan itu. Secepat itu. Tanpa berdiri terlalu lama, tanpa menunggu dipuji, tanpa satu pun hal yang bisa kukritik.

Rapat lanjut. Selesai jam setengah enam.

Dan sepanjang sisa rapat itu aku tidak bisa berhenti memikirkan bahwa aku baru saja menerima pujian untuk pekerjaan orang lain, di depan enam belas orang, dan tidak satu pun dari mereka tahu, dan yang mengerjakannya juga tidak akan pernah tahu.

Persis seperti yang selalu terjadi padaku, tapi terbalik.

Dan itu jauh lebih tidak enak.


Waktu semua orang sudah pulang dan tinggal aku dan Anita membereskan kursi, Anita tiba-tiba bilang:

“Kak Rasen dateng ke sekolah hari Senin.”

“Iya.”

“Kelas percepatan libur hari Senin.”

Aku berhenti mengangkat kursi.

“Aku nggak bilang apa-apa,” lanjut Anita, sambil terus bekerja. “Aku cuma nyebut fakta.”

“Nit.”

“Dia bawain berkas yang kita butuhin, di menit yang pas, di hari dia harusnya nggak ada di sini.” Dia menumpuk kursi terakhir. “Itu bagus. Itu beneran bagus. Aku cuma nyatet aja.”

“Kamu nyatet apa?”

“Nggak ada.” Anita menepuk tangannya, membersihkan debu. “Aku cuma lagi belajar dari kamu.”

“Belajar apa?”

“Merhatiin siapa yang muncul pas kita lagi susah.”

Dia mengambil tasnya dan berjalan ke pintu, lalu berhenti.

“Ay.”

“Hm?”

“Orang yang kamu cari itu.”

“Iya?”

“Kalau ketemu,” katanya, tanpa menoleh, “jangan langsung bilang makasih.”

“Kenapa?”

“Karena tiga tahun dia ngindarin itu. Kalau hal pertama yang kamu lakuin adalah maksa dia nerima, kamu bakal kehilangan dia di hari yang sama pas kamu nemu.”

Dan dia keluar, meninggalkan aku sendirian di ruangan yang kipas anginnya masih berdehem.

Aku menatap map cokelat yang masih tergeletak di meja.

Dan aku memikirkan sesuatu yang membuatku tidak nyaman, dan yang langsung kuusir karena rasanya tidak adil.

Bahwa ada dua jenis orang yang menyelamatkan keadaan.

Yang satu datang tepat waktu, sopan, dan tidak melakukan satu pun kesalahan — dan berdiri di sana cukup lama untuk terlihat melakukannya.

Yang satu lagi memperbaiki proyektor jam empat sore, merapikan kursi yang dia geser, dan pergi lewat pintu samping supaya tidak ada yang berpapasan dengannya.

Aku memasukkan buku abu-abu ke tas dan mematikan lampu sekretariat.

Besok Selasa. Jadwal kantin ramai. Dan untuk alasan yang belum bisa kujelaskan bahkan kepada diriku sendiri, aku sudah memutuskan bahwa besok aku akan duduk di meja dekat jendela lagi.