← Nomor Tiga

Chapter Thirty Four

Dua Tahun

POV: Ardev

Rasendriya Wibisono menungguku di depan gerbang belakang sekolah hari Kamis jam empat sore.

Aku tahu dia menungguku karena tidak ada alasan lain bagi seseorang untuk berdiri di gerbang belakang — gerbang itu cuma menuju gang kecil ke arah halte, dan cuma dipakai oleh anak-anak yang tidak dijemput.

“Ardev.”

“Kak.”

“Bisa ngobrol sebentar?”

Dan aku sudah tahu apa yang akan terjadi, dan aku tetap bilang bisa.


Kami berjalan ke arah halte karena aku bilang aku harus menjemput adikku dan itu benar.

“Aku langsung aja,” katanya. “Yayasan punya program bantuan pendidikan.”

“Saya tau, Kak.”

“Kamu tau?”

“Ibu saya yang masukin berkas bulan Februari,” kataku. “Saya yang isi formulirnya.”

Rasen berhenti berjalan sepersekian detik, lalu melanjutkan.

“Kamu tau berkasnya ditolak?”

“Tau.”

“Kenapa ditolak?”

“Karena programnya buat biaya pendidikan,” kataku. “Bukan biaya lain.”

Dan kami berjalan beberapa langkah dalam diam.

“Aku bisa ubah itu,” katanya.

Aku tidak menoleh.

“Bukan dengan curang,” lanjutnya cepat. “Ada pos lain. Dana kesejahteraan keluarga siswa. Nilainya lebih kecil tapi ada, dan pos itu dua tahun terakhir nggak pernah kepakai karena nggak ada yang tau.”

“Kenapa nggak ada yang tau?”

“Karena nggak diumumin.”

“Kenapa nggak diumumin?”

Dan Rasendriya Wibisono berkata, dengan jujur:

“Karena kalau diumumin, yang ngajuin bakal banyak, dan yayasan harus nyediain lebih banyak.”


“Kak.”

“Iya?”

“Kenapa Kakak ngasih tau Ayana?”

Dan Rasendriya Wibisono berhenti berjalan.

Aku tidak berhenti. Aku terus berjalan dua langkah, lalu berhenti juga, lalu menoleh.

“Kamu tau?”

“Dia dateng ke tempat kerja saya jam sepuluh malem hari Selasa,” kataku. “Dia tau alamatnya dari orang. Dan cuma ada satu orang yang tau alamatnya dan bukan sahabat saya.”

Rasen tidak membantah.

“Aku minta maaf,” katanya.

“Saya nggak minta maaf, Kak.”

“Aku tau. Aku tetep minta maaf.” Dia memindahkan mapnya. “Aku udah mikirin itu tiga minggu, dan aku udah dua kali mutusin buat diem, dan hari Selasa aku ngomong.”

“Kenapa?”

Dan dia memberikan jawaban yang membuatku tidak bisa membencinya, dan aku sudah berusaha membencinya sepanjang perjalanan ke sekolah pagi itu.

“Karena aku nggak bisa mastiin aku diem karena benar atau karena takut,” katanya. “Jadi aku pilih yang lebih nggak nyaman.”

Dia menatapku.

“Dan aku udah bilang ke dia bahwa aku nggak bisa mastiin aku ngomong karena dia atau karena aku.”

“Kakak bilang gitu ke dia?”

“Iya.”

Dan aku berdiri di gang itu dan harus mengakui, dengan sangat tidak nyaman, bahwa laki-laki ini baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sekali pun dalam enam bulan.

Dia menyerahkan motifnya untuk dinilai.


Aku menghargai kejujuran itu.

Aku ingin mencatat itu, karena apa yang terjadi setelahnya bisa membuat orang mengira aku tidak menghargainya.

Aku menghargainya. Sangat.

“Makasih, Kak,” kataku. “Tapi nggak usah.”

Dia berhenti berjalan.

“Ardev.”

“Iya, Kak.”

“Kamu nggak nanya nominalnya.”

“Nggak perlu.”

“Kamu nggak nanya syaratnya.”

“Nggak perlu juga.”

Dan Rasen berdiri di gang kecil itu dan menatapku dengan ekspresi yang sudah kukenal sepanjang hidupku — ekspresi orang yang baru saja ditolak dan yang belum memutuskan apakah dia tersinggung.

“Boleh aku tanya kenapa?”

“Boleh.”

“Kenapa?”

Dan aku memberikan jawaban yang paling jujur yang bisa kuberikan, yang juga kebetulan jawaban yang paling tidak lengkap.

“Karena saya nggak bisa balikin, Kak.”


Yang terjadi berikutnya berlangsung selama mungkin empat menit dan aku sudah memikirkannya ratusan kali sesudahnya.

Rasen tidak marah.

Dia melakukan sesuatu yang jauh lebih efektif: dia mulai bicara pelan.

“Ardev, aku mau ngomong sesuatu dan aku minta maaf duluan karena ini bukan urusanku.”

“Silakan, Kak.”

“Kamu tau nggak kamu lagi ngapain ke Ayana?”

Aku tidak menjawab.

“Aku nggak akan sok tau soal hubungan kalian,” lanjutnya. “Tapi aku liat dia tiap hari di sekretariat, dan aku liat dia dua bulan terakhir, dan aku mau kamu tau bahwa apa yang kamu anggep sopan itu lagi ngerusak orang.”

“Kak—”

“Nolak bantuan itu bukan kesopanan,” katanya. “Nolak bantuan itu bilang ke orang lain bahwa mereka nggak cukup penting buat kamu repotin.”

Dan aku berdiri di gang itu dan merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan, karena dia benar, dan karena dia mengucapkannya lebih jelas daripada yang pernah kususun sendiri.

“Aku udah denger itu, Kak.”

“Dari siapa?”

“Dari sahabat saya. Sepuluh tahun.” Aku memindahkan tas ke bahu yang lain. “Dia bilangnya lebih kasar.”

“Terus kenapa kamu nggak berubah?”

“Karena dia salah,” kataku.

“Ardev—”

“Kak Rasen.” Aku menoleh. “Boleh saya nanya satu hal?”


Aku ingin menjelaskan kenapa aku melakukan apa yang kulakukan berikutnya, karena penjelasannya penting dan karena tanpa penjelasan ini kelihatan seperti balas dendam.

Bukan balas dendam.

Yang kurasakan di gang itu bukan marah kepada Rasen. Yang kurasakan adalah sesuatu yang jauh lebih kecil dan lebih tua: bahwa aku sedang diceramahi tentang memberi dan menerima oleh seseorang yang tidak pernah sekali pun harus memilih di antara keduanya.

Dan itu bukan salahnya. Itu tidak pernah salah siapa-siapa.

Aku tetap melakukannya.

“Kak inget proposal Festival Literasi dua tahun lalu?”

Rasen mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Yang ditolak dinas terus direvisi dalam dua hari terus lolos.”

“...Iya. Kenapa?”

“Lampirannya ada empat,” kataku. “Yang keempat perbandingan tiga vendor percetakan. Yang paling murah CV Anugrah, tapi yang direkomendasiin yang kedua, karena yang pertama nggak bisa nota resmi.”

Rasen tidak bergerak.

“Bagian analisis dampaknya tiga halaman,” lanjutku. “Halaman kedua ada tabel jumlah pengunjung perpustakaan per bulan selama dua semester. Datanya nggak ada di sekolah. Saya ambil dari buku peminjaman manual Bu Reni dan saya hitung tangan.”

Gang kecil itu sunyi.

“Kak juga inget proposal Bulan Bahasa?”

“Ardev.”

“Sama proposal renovasi ruang OSIS yang diajuin ke yayasan bulan Maret dua tahun lalu.”

“Ardev, tunggu—”

“Yang itu tiga kali revisi,” kataku. “Yang ketiga saya kerjain semalam. Sampai jam dua. Terus paginya saya taruh di meja Bu Wulan sebelum jam enam.”

Dan aku berhenti.

Dan aku menatap Rasendriya Wibisono di gang kecil di belakang sekolah kami, dan aku tidak menaikkan suaraku sedikit pun.

“Tiga proposal, Kak,” kataku. “Dua tahun. Nama Kakak di semuanya.”


Yang paling kuingat dari empat menit itu adalah wajahnya.

Bukan kaget. Kaget cuma dua detik pertama.

Yang datang setelah kaget adalah sesuatu yang jauh lebih pelan, dan aku menyaksikannya bergerak melewati wajahnya seperti orang menyaksikan sesuatu tenggelam.

Karena dia percaya.

Langsung. Tanpa membantah, tanpa menuntut bukti, tanpa satu pun pertanyaan.

Dan itu artinya, di suatu tempat di kepalanya selama dua tahun terakhir, sudah ada sesuatu yang tidak pernah dia periksa.

“Aku—” Dia berhenti. “Aku pikir itu tim.”

“Emang tim, Kak.”

“Aku pikir Bu Wulan yang—”

“Bu Wulan ngajar Bahasa Indonesia.”

Dan dia menutup matanya.

“Berapa lama kamu ngerjain yang renovasi?”

“Sembilan jam.”

“Kamu kelas berapa waktu itu?”

“Sepuluh.”

Dan Rasendriya Wibisono berdiri di gang itu dengan map di tangan dan tidak berkata apa-apa selama mungkin dua puluh detik.


“Kenapa kamu nggak pernah bilang?” katanya akhirnya.

“Buat apa?”

“Ardev, itu—”

“Proposalnya lolos, Kak,” kataku. “Festival Literasinya jadi. Ruang OSIS-nya direnovasi. Anak-anak sekarang pakai ruangan itu.”

“Iya, tapi—”

“Itu tujuannya.”

Dan aku mengatakannya tanpa satu pun nada bangga, karena aku memang tidak sedang bangga, dan karena aku sudah tiga tahun menganggap itu hal yang paling biasa di dunia.

“Kamu bakal sebarin ini?” tanyanya.

Dan aku menoleh dengan cepat.

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Karena nggak ada gunanya.” Aku memindahkan tas lagi. “Kakak udah lulus tahun lalu. Nama Kakak udah di berkas yayasan. Kalau saya sebarin sekarang, yang rusak Kakak, dan yang saya kerjain tetep nggak berubah.”

“Terus kenapa kamu bilang sekarang?”

Dan aku berdiri di gang itu dan memberikan satu-satunya jawaban yang jujur.

“Karena Kakak barusan ceramahin saya soal nerima dan ngasih,” kataku.

Hening.

“Dan saya cuma pengen Kakak tau bahwa Kakak udah dua tahun nerima sesuatu tanpa pernah nanya dari mana datengnya.”


Aku tidak menunggu jawaban.

Aku bilang saya duluan ya, Kak — karena aku memang harus menjemput Rey dan karena jam sudah empat lewat dua puluh — dan aku berjalan ke arah halte.

Dan aku sudah lima belas langkah waktu dia memanggil.

“Ardev.”

Aku berhenti.

Dan Rasendriya Wibisono berdiri di gang kecil itu, dengan map di tangan, dan berkata sesuatu yang tidak kuduga sama sekali.

“Kamu bener.”

Aku menoleh.

“Aku dua tahun nerima sesuatu tanpa nanya,” katanya. “Dan aku baru sadar hari ini.”

Dia memindahkan mapnya.

“Tapi Ardev.”

“Iya, Kak.”

Dan dia berkata:

“Kamu tiga tahun ngasih sesuatu tanpa pernah bilang.”

Dia berjalan mendekat dua langkah.

“Dan menurutku itu bukan hal yang lebih baik. Itu cuma kesalahan yang arahnya kebalikan.”


Aku memikirkan kalimat itu sepanjang jalan ke penitipan.

Aku memikirkannya waktu menggendong Rey pulang, waktu menyuapinya, waktu mencuci piring, waktu berangkat ke pasar induk jam sembilan malam.

Dan aku sampai pada kesimpulan yang membuatku bisa tidur, yang isinya kira-kira: bahwa dia tidak mengerti, bahwa dia tidak pernah harus memilih, bahwa gampang bicara soal menerima kalau kamu punya cukup untuk membalas.

Kesimpulan itu bertahan tiga bulan.

Lalu, di koridor rumah sakit jam tiga pagi, seseorang mengatakan hal yang hampir sama persis dengan kata-kata yang berbeda, dan kali ini aku tidak punya tempat untuk lari.


Ada satu hal terakhir tentang sore itu.

Waktu aku sampai di halte, ponselku bergetar.

DIMAS: lo di mana

Halte. Jemput Rey.

DIMAS: gue ke rumah lo malem

Saya kerja.

Dan tiga titik muncul, dan berhenti, dan muncul lagi.

DIMAS: kerja apa

Aku menatap layar itu.

Angkutan datang. Aku naik. Dan aku tidak membalas pesan itu sampai keesokan harinya, dan waktu aku membalas, aku menulis:

Bantuin orang bongkar muat. Sesekali doang.

DIMAS: ok

Cuma itu.

Dan seharusnya aku sadar waktu itu bahwa Dimas Anggara tidak pernah mengetik “ok” kalau dia percaya.


Malam Jumat, jam sebelas lewat, di sela dua truk, aku duduk di trotoar depan pasar induk.

Dan seseorang duduk di sebelahku.

Aku tidak menoleh selama beberapa detik, karena aku pikir itu salah satu pekerja lain, dan karena aku terlalu lelah untuk menoleh.

Lalu aku mencium bau parfum yang tidak mungkin dipakai kuli angkut.

Evan Radhitya Bramantyo duduk di trotoar itu dengan celana bahan dan sepatu yang harganya lebih dari upah tiga malamku, dan tidak berkata apa-apa.

“Van.”

“Hm.”

“Lo ngapain di sini.”

“Duduk.”

“Van.”

“Gue duduk, Dev.”

Dan dia tidak menoleh, dan aku tidak menoleh, dan kami berdua duduk menghadap jalan yang basah oleh air dari truk sayur.

“Berapa lama lo di sini?” tanyaku.

“Dari jam sepuluh.”

“Satu jam?”

“Iya.”

“Lo ngapain satu jam?”

“Gue liatin lo ngangkat kardus.”

Dan aku menoleh, dan Evan masih menatap lurus ke depan, dan wajahnya sama sekali tidak seperti wajahnya.

“Van—”

“Lo ngangkat kardus, Dev.” Suaranya rata. “Lo ngangkat kardus jam sepuluh malem, hari Jumat, terus besok Sabtu lo ke gudang.”

“Van, gue—”

“Dimas yang tau duluan.” Dia akhirnya menoleh. “Dia ngikutin lo Selasa kemarin. Gue baru dikasih tau kemarin.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Dan lo tau apa yang paling gue nggak bisa terima?”

“Van.”

“Bukan lo kerja.” Dia menggeleng. “Bukan itu.”

“Terus apa?”

Dan Evan Radhitya Bramantyo menatapku di trotoar depan pasar induk jam sebelas lewat malam dan berkata:

“Yang gue nggak bisa terima adalah gue harus tau dari orang yang ngikutin lo.”

Dia berdiri.

“Gue nggak akan nawarin duit,” katanya. “Gue udah belajar. Gue nggak akan nawarin apa-apa.”

“Van—”

“Gue cuma mau lo tau bahwa gue tau.” Dia mengambil kunci mobilnya dari saku. “Dan bahwa gue bakal duduk di sini tiap malem sampai lo ngomong.”

“Lo nggak bakal ngelakuin itu.”

Dan Evan berhenti di pinggir jalan, dan berbalik.

“Gue duduk empat belas hari, Dev,” katanya.

Aku merasakan sesuatu jatuh.

“Empat belas hari gue liat lo berdiri di depan Dimas dan gue diem.” Suaranya pecah di kata terakhir. “Gue umur sepuluh waktu itu dan gue punya alesan.”

Dia membuka pintu mobilnya.

“Sekarang gue nggak punya alesan.”

Dan dia pergi.

Dan aku duduk di trotoar itu sampai mandor memanggil, lalu berdiri, lalu mengangkat kardus sampai jam dua pagi.