Chapter Eighteen
Dua Jam
POV: Ayana
Studi wisata angkatan dua belas berangkat hari Rabu jam enam pagi, dan aku tahu Ardev tidak akan ikut sejak tiga minggu sebelumnya.
Bukan karena dia bilang. Karena dia tidak bilang.
Formulir dibagikan tanggal dua belas. Batas pengumpulan tanggal dua puluh. Dan waktu Bimo menyerahkan rekap kelas dua belas kepadaku tanggal dua puluh satu untuk dicek ulang, aku membuka halaman IPA 3 dan menyusuri kolom nama sampai bawah.
Dua puluh sembilan dari tiga puluh dua.
Tiga nama tidak ada. Salah satunya Ardev Narasoma.
Aku menutup rekap itu dan tidak melakukan apa-apa selama dua hari, karena aku sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu bahwa hal terburuk yang bisa kulakukan adalah bertanya.
Yang kulakukan di hari ketiga adalah menghitung.
Biaya studi wisata: empat ratus dua puluh lima ribu. Termasuk bus, penginapan satu malam, tiket masuk tiga lokasi, dan konsumsi.
Aku tidak tahu berapa penghasilan seseorang dari mengangkat kardus di gudang hari Sabtu. Jadi aku mencari tahu — bukan dari dia; dari internet, dari forum, dari satu artikel tentang upah harian buruh angkut yang membuatku menutup laptop dan berjalan ke kamar mandi dan mencuci muka.
Empat ratus dua puluh lima ribu.
Aku duduk di kamarku malam itu dengan dompet di tangan dan berpikir selama hampir satu jam, dan aku sampai pada kesimpulan yang membuatku ingin melempar sesuatu.
Bahwa aku bisa menutupinya. Sekarang juga. Tanpa terasa sama sekali.
Dan bahwa kalau aku melakukannya, aku akan kehilangan dia.
Namanya muncul di rekap tanggal dua puluh delapan.
Aku menemukannya waktu mengecek revisi terakhir sebelum pembayaran ditutup, dan aku menatap baris itu cukup lama sampai Bimo bertanya apakah ada yang salah.
“Nggak,” kataku. “Nggak ada.”
Yang kulakukan berikutnya tidak bisa kubenarkan, dan aku tetap melakukannya.
Aku bertanya ke Evan.
“Van.”
“Iya, Kak Ayana?”
“Jangan panggil aku Kak.”
“Iya, Kak.”
“Van.”
“Iya.”
“Ardev ikut studi wisata.”
“Iya, kenapa emang?”
“Dua minggu lalu dia nggak ikut.”
Dan Evan Radhitya Bramantyo — yang bisa bicara selama empat puluh menit tentang nasi sisa — tiba-tiba menjadi orang yang sangat sibuk dengan tali tasnya.
“Van.”
“Aku nggak tau.”
“Kamu tau.”
“Aku beneran nggak tau, Kak—”
“Evan.”
Dia menghela napas panjang, melihat ke kiri dan kanan, lalu bicara dengan suara yang jauh lebih pelan dari standarnya.
“Gue nawarin,” katanya. “Gue nawarin tiga kali. Dia nolak tiga kali.”
“Terus?”
“Terus dia ngambil shift tambahan.” Evan menendang kerikil kecil di lantai koridor. “Dua Sabtu. Sama satu Minggu.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Kak.”
“Hm.”
“Jangan bilang lo tau.”
“Aku juga nggak akan bilang.”
“Bukan itu.” Evan mengangkat kepalanya, dan wajahnya serius dengan cara yang jarang sekali muncul. “Maksud gue, jangan bilang lo tau. Kalau dia sadar kita ngomongin dia kayak gini di belakang, itu lebih parah buat dia daripada nggak ikut studi wisata.”
Pengaturan tempat duduk bus adalah hasil rekayasa yang belum pernah kusaksikan sebelumnya.
Secara resmi, tempat duduk diatur per kelas, diacak, ditentukan panitia — dan panitianya adalah OSIS, dan wakil ketuanya adalah aku, dan aku tidak menyentuh daftar itu sama sekali karena aku tidak ingin menjadi orang yang seperti itu.
Ternyata tidak perlu.
Evan Bramantyo, yang bukan panitia dan tidak punya wewenang apa pun, menghabiskan dua hari melakukan sesuatu yang dia sebut “diplomasi” dan yang menurut Anita lebih tepat disebut “penyuapan berskala kecil”.
Hasilnya: bus tiga, baris kesembilan sampai kesebelas.
Baris kesembilan: Dimas dan Anita. Baris kesebelas: Evan dan Keisha.
Baris kesepuluh: aku dan Ardev.
“Van,” kataku waktu naik, “kamu ngapain aja dua hari kemarin.”
“Aku belajar.”
“Van.”
“Aku belajar tentang kemanusiaan.”
Ardev sudah duduk di dekat jendela — tentu saja dekat jendela, karena kursi dekat jendela adalah versi bus dari kursi dekat pintu — dan sedang menatap keluar dengan tas di pangkuan.
“Kamu nggak taruh tas di atas?”
“Nanti.”
“Berat lho.”
“Nggak apa-apa.”
Aku duduk. Bus berangkat jam enam lewat sepuluh.
Dan dua puluh menit pertama berlangsung dengan sangat canggung, karena ternyata duduk di sebelah seseorang selama tiga jam adalah situasi yang sama sekali berbeda dari berdiri di sebelah seseorang selama tiga jam.
“Dev.”
“Hm.”
“Kamu tidur berapa jam semalem?”
Jeda. “Cukup.”
“Berapa jam.”
“Ayana.”
“Berapa.”
“...Empat.”
“Kenapa?”
Dan dia diam cukup lama sehingga aku tahu jawabannya akan setengah.
“Nyiapin Kayla sama Rey,” katanya. “Ibu kerja, jadi mereka nginep di tempat Bu Sri dua hari. Ada yang harus dibereskan.”
“Dibereskan apa?”
“Baju. Obat Rey. Uang saku Kayla.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Sama nulisin daftar.”
“Daftar apa?”
“Jadwal makan Rey. Sama jam berapa dia harus dibangunin kalau tidur siangnya kelamaan, biar malemnya nggak susah tidur.”
Aku menoleh ke arahnya.
“Kamu nulis itu?”
“Iya.”
“Dua halaman?”
“Satu setengah.”
Dan dia mengatakannya sambil terus menatap keluar jendela, seperti orang yang menyebutkan hal paling biasa di dunia.
Di rest area pertama, aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya kulihat.
Semua orang turun. Toilet, warung, foto-foto. Evan langsung menghilang ke minimarket dan keluar membawa kantong plastik seukuran karung. Keisha menjatuhkan es krimnya sebelum sempat dibuka.
Ardev tidak turun.
Aku kembali ke bus untuk mengambil ponsel yang tertinggal, dan dia masih duduk di tempatnya, dan dia sedang membuka kotak bekal.
Kotak plastik biru pudar. Tutupnya baru.
Isinya nasi dan telur dadar yang dipotong-potong.
Dia melihatku dan langsung menutupnya kembali.
“Dev.”
“Saya nggak laper sebenernya.”
“Kamu lagi makan.”
“Iya, tapi—”
“Kenapa nggak turun?”
Dan dia diam, dan aku sudah tahu jawabannya sebelum dia menjawab, dan aku membenci diriku sendiri karena bertanya.
Karena di warung rest area, satu porsi apa pun harganya dua puluh lima ribu.
“Nanti kalau semua turun, semua beli,” katanya akhirnya, pelan. “Terus ada yang nawarin. Terus saya harus nolak di depan orang banyak. Terus jadi panjang.”
“Jadi kamu di sini aja.”
“Iya.”
Aku berdiri di lorong bus itu dengan ponsel di tangan.
Lalu aku duduk kembali di kursiku.
“Ayana, kamu turun aja—”
“Aku juga bawa bekal.”
“Kamu nggak bawa bekal.”
“Aku bawa.” Aku membuka tasku dan mengeluarkan dua roti yang kubeli di minimarket dekat rumah jam lima pagi tadi, dan yang sejujurnya kubeli untuk sarapan. “Nih. Aku bagi.”
Dia menatap roti itu.
“Ayana.”
“Apa?”
“Kamu nggak usah gitu.”
“Aku laper, Dev.” Aku membuka bungkusnya. “Kamu boleh mikir apa aja, tapi aku laper.”
Dan dia diam beberapa saat.
Lalu dia mendorong kotak bekalnya sepuluh sentimeter ke arahku.
Sepuluh sentimeter.
Aku mengambil satu potong telur dadar dan itu adalah kemenangan terbesar dalam hidupku sampai saat itu.
Aku tertidur tanpa berniat tidur.
Itu yang perlu kujelaskan, karena kalau tidak, seluruh kejadian ini terdengar seperti rencana, dan aku bersumpah bukan.
Yang terjadi adalah: bus melewati jalan tol yang lurus dan membosankan selama empat puluh menit, dan aku sudah tiga malam tidur di bawah lima jam karena Pentas Seni, dan Ardev berhenti bicara karena dia memang selalu berhenti bicara kalau tidak ditanya.
Dan aku memiringkan kepala ke kanan sedikit untuk melihat keluar jendela.
Dan itu bagian terakhir yang kuingat.
Aku bangun karena bus mengerem.
Yang pertama kusadari adalah bahwa pipiku hangat. Yang kedua adalah bahwa aku sedang menghirup bau seragam yang dijemur di bawah sinar matahari langsung, bukan mesin cuci. Yang ketiga — dan ini yang membuatku membeku total — adalah bahwa aku tidak sedang menyandar ke jendela.
Aku tidak bergerak selama beberapa detik.
Lalu aku mengangkat kepala pelan-pelan.
Ardev sedang menatap lurus ke depan, ke sandaran kursi di depannya, dengan posisi tubuh yang sama persis seperti waktu aku tertidur. Tas masih di pangkuan. Tangan kanan di atas tas. Bahu kiri — bahu tempat kepalaku baru saja berada — sama sekali tidak bergeser satu sentimeter pun.
“Dev.”
“Hm.”
“Berapa lama?”
Dia melirik jam di pergelangan tangannya, yang kacanya sudah baret di dua tempat.
“Dua jam lewat sepuluh.”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Ya ampun.”
“Nggak apa-apa.”
“Dev.”
“Nggak apa-apa, beneran.”
“Kamu nggak gerak dua jam?”
Dan dia tidak menjawab, dan itu jawabannya.
Aku menurunkan tanganku dan menatap bahu kirinya. Kemejanya kusut di satu bagian, bentuknya jelas, seperti bantal yang baru ditinggalkan.
“Tangan kamu.”
“Kenapa?”
“Coba angkat.”
“Ayana—”
“Angkat, Dev.”
Dan dia mengangkat tangan kirinya, dan tangan itu naik dengan cara yang salah — lambat, kaku, dengan jeda kecil di tengah — dan aku melihat dia meringis selama sepersekian detik sebelum wajahnya kembali datar.
“Kebas,” katanya. “Bentar juga ilang.”
“Kenapa nggak kamu geser aja?”
“Kamu bakal bangun.”
Tiga kata.
Diucapkan tanpa satu pun penekanan, tanpa mengharapkan apa pun, seperti orang yang menjelaskan alasan paling logis di dunia.
Dan aku duduk di kursi bus itu dengan wajah panas dan tidak bisa berkata apa-apa selama hampir satu menit.
Aku baru tahu bagian keduanya sepuluh hari kemudian, dari ponsel Keisha.
“Ay, aku punya foto lucu.”
“Foto apa?”
“Waktu di bus.”
Dan dia menyodorkan layar.
Fotonya buram dan miring karena jelas diambil dari kursi belakang secara diam-diam. Di baris kesepuluh, ada aku, tidur menyandar ke bahu seseorang.
Tapi bukan itu yang membuatku mengambil ponsel itu dari tangannya.
Di lorong bus, di antara baris kesembilan dan kesebelas, ada dua orang yang berdiri.
Dimas Anggara berdiri memegang sandaran kursi dengan punggung menghadap kamera, di posisi yang menutup seluruh lebar lorong. Dan di seberangnya, di sisi lain, Evan Bramantyo berdiri dengan cara yang sama.
“Kei.”
“Iya?”
“Ini mereka lagi apa?”
Keisha melongok ke layar. “Oh, itu.”
“Itu apa?”
“Mereka berdiri doang.”
“Kei.”
“Beneran, mereka berdiri doang.” Dia mengambil ponselnya kembali dan menggeser ke foto berikutnya, yang diambil sekitar dua puluh menit setelahnya, dan di mana kedua orang itu masih berada di posisi yang sama persis. “Anak-anak yang mau ke belakang jadi lewat bus dua pas rest area. Ada yang protes. Dimas cuma ngeliatin.”
Aku menatap foto itu.
“Berapa lama?”
“Nggak tau. Lama.” Keisha mengangkat bahu. “Aku sempet nanya ke Evan, dia bilang ‘lagi pengen berdiri’.”
Aku menyerahkan ponsel itu kembali.
Dan aku duduk di kantin dengan es teh yang sudah tidak dingin lagi, dan aku memikirkan tiga orang laki-laki — yang satu tidak bergerak selama dua jam sampai tangannya kebas, dan dua lainnya berdiri di lorong bus selama dua jam supaya tidak ada yang lewat.
Tidak ada yang membicarakannya.
Tidak ada yang akan pernah membicarakannya.
Dan kalau Keisha tidak iseng memotret sesuatu yang tidak penting, aku tidak akan pernah tahu.
Yang terjadi di perjalanan pulang lebih singkat dan lebih membuatku tidak bisa tidur malam itu.
Bus berangkat jam empat sore. Semua orang kelelahan. Dan sekitar satu jam setelah berangkat, aku melihat Ardev memiringkan kepala ke jendela.
Dia jatuh tertidur dalam waktu kurang dari empat puluh detik.
Dan aku duduk di sebelahnya dan menyaksikan sesuatu yang belum pernah kulihat: wajah Ardev Narasoma waktu dia tidak sedang menghitung apa pun.
Tidak ada yang berubah drastis. Cuma garis di antara alisnya yang hilang — garis yang selama ini kukira memang bagian dari wajahnya.
Dua puluh menit kemudian, kepalanya mulai turun.
Dan aku melakukan hal yang paling berani yang pernah kulakukan sampai saat itu: aku menggeser sedikit ke kiri, memiringkan bahuku, dan membiarkannya.
Kepalanya menyentuh bahuku dan dia tidak bangun.
Dan aku duduk di sana, di bus yang berguncang di jalan tol, dengan bahu yang mulai kebas dalam empat puluh menit dan benar-benar kebas dalam satu jam, dan aku tidak bergerak sama sekali.
Bukan karena romantis.
Karena aku ingin tahu rasanya.
Dan begitu tanganku mulai kesemutan, aku mengerti sesuatu yang membuat mataku panas di bus yang gelap: bahwa ini tidak berat sama sekali, bahwa ini bahkan tidak terasa seperti pengorbanan, bahwa aku bisa melakukan ini empat jam lagi kalau perlu.
Dan bahwa laki-laki ini melakukan hal-hal seperti ini untuk semua orang, setiap hari, selama bertahun-tahun.
Dan tidak ada satu pun orang yang pernah menghitungnya.
Dia bangun dua puluh menit sebelum bus masuk kota.
Dan yang terjadi berikutnya adalah salah satu hal paling lucu yang pernah kusaksikan, walaupun aku tidak tertawa sampai berhari-hari kemudian.
Dia bangun. Menyadari posisi kepalanya. Dan bereaksi seperti orang yang tersengat listrik.
“Maaf—”
“Dev—”
“Maaf, saya—” Dia sudah tegak sempurna dalam waktu kurang dari satu detik, punggung lurus, tangan di lutut, seperti orang yang sedang wawancara kerja. “Berapa lama?”
“Nggak lama.”
“Ayana.”
“Empat puluh menit.”
“EMPAT—”
“Dev, bus lagi jalan.”
Dan dia menoleh ke arahku dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya — panik total, tanpa sisa perhitungan apa pun — dan berkata:
“Tangan kamu.”
“Kenapa?”
“Kebas?”
Aku menatapnya.
“Iya,” kataku.
Dan Ardev Narasoma menutup wajahnya dengan satu tangan dan tidak berbicara selama tujuh menit penuh, dan telinganya merah sampai ke leher sepanjang tujuh menit itu, dan aku duduk di sebelahnya dengan tangan yang benar-benar kesemutan dan senyum yang tidak bisa kuhilangkan.
Dari baris kesembilan, Dimas menoleh sekali.
Dan aku bersumpah — walaupun tidak ada satu pun saksi yang mau mengonfirmasi — bahwa Dimas Anggara tersenyum.
- 1 Bayangan
- 2 Hantu Sekretariat
- 3 Kantin
- 4 Tiga Ketukan
- 5 Dua Orang Bodoh
- 6 Empat Puluh Menit
- 7 Daftar
- 8 Tiga Kotak
- 9 Bencana Alam
- 10 Jam Enam Empat Belas
- 11 Sedikit Kata
- 12 Udah, Saya Aja
- 13 Nomor Tiga
- 14 Tiga Kali
- 15 Peringatan
- 16 Dev
- 17 Dapur
- 18 Dua Jam reading
- 19 Satu-satunya
- 20 Tiga Kali Empat
- 21 Satu Kali Serius
- 22 Di Depan Semua Orang
- 23 Empat Belas Hari
- 24 Rak Nomor Empat
- 25 Kue yang Gagal
- 26 Atap
- 27 Kembang Api Murah
- 28 Om dan Kakak
- 29 Modal Nol
- 30 Fakta Pertama
- 31 Gerbang
- 32 Kok Aku yang Lebih Tahu?
- 33 Kalau Aku Bilang
- 34 Dua Tahun
- 35 Sembilan Hari
- 36 Dua Ketukan
- 37 Satu Arah
- 38 Dokumen
- 39 Galon
- 40 Tolong
- 41 Arti Nama
- 42 Foto