← Nomor Tiga

Chapter Twenty Three

Empat Belas Hari

POV: Anita

Aku menepati janjiku. Aku membawa lap sendiri.

Dua lembar, masih dalam plastik, kubeli di supermarket dekat rumah hari Sabtu sore. Keisha menertawakanku selama tujuh menit di perjalanan dan berhenti tertawa begitu sampai, karena ternyata lap di rumah itu memang cuma dua dan salah satunya sudah tidak berbentuk lap.

Kunjungan kedua, empat minggu setelah yang pertama.

Yang berubah dari kunjungan pertama ada tiga.

Pertama, tidak ada yang perlu ditunjukkan arahnya. Kami berjalan dari mulut gang tanpa satu pun dari kami bertanya.

Kedua, Keisha membawa dua kantong keripik dan menyerahkannya ke Kayla, bukan ke Ardev, karena kami sudah belajar bahwa apa pun yang diberikan ke Ardev akan ditolak dengan sopan dan apa pun yang diberikan ke Kayla akan diterima dengan kecepatan cahaya.

Ketiga, Rey memanggil namaku.

“KAK ANITA.”

“Rey.”

“Kak Anita bawa apa?”

“Lap.”

Anak itu menatapku dengan wajah yang penuh kekecewaan yang tidak disembunyikan sama sekali.

“Lap?”

“Iya.”

“Kenapa lap?”

“Karena lap di sini cuma dua.”

Dan Rey mempertimbangkan informasi itu dengan sangat serius selama tiga detik, lalu mengangguk, lalu berlari ke arah Evan sambil berteriak bahwa Kak Anita membawa lap.


Ardev pergi jam empat lewat sepuluh.

“Bentar ya. Jemput Rey—”

“Rey di sini,” kata Ayana.

“...Iya. Maaf.”

Dia berdiri di tengah ruang tamu dengan wajah orang yang baru saja kehilangan tugasnya.

“Dev,” kata Evan dari lantai. “Lo mau ke mana?”

“Kayla belum les.”

“Les hari Minggu?”

“Tambahan. Sampe jam lima.”

“Gue anterin—”

“Deket, Van. Sepuluh menit.”

Dan dia pergi, dengan Kayla di belakangnya yang melambai ke arah kami sambil membawa dua kantong keripik yang jelas tidak akan sampai ke tempat les dalam kondisi utuh.

Pintu ditutup.

Dan ruang tamu tiga kali empat itu tiba-tiba jadi lebih besar.


Aku menunggu tiga menit sebelum bertanya.

Bukan karena sopan. Karena aku ingin memastikan dia benar-benar sudah jauh.

“Dimas.”

“Hm.”

“Aku mau nanya sesuatu.”

Dan sesuatu di ruangan itu berubah sebelum aku sempat melanjutkan, karena Dimas Anggara meletakkan gelasnya, dan Evan Bramantyo berhenti bermain dengan tutup botol Rey, dan keduanya menoleh ke arahku secara bersamaan seperti dua orang yang sudah lama menunggu pertanyaan ini.

Aku melanjutkan.

“Aku udah lihat kalian bertiga tiga tahun,” kataku. “Dan aku masih nggak ngerti.”

“Ngerti apa?” tanya Evan.

“Kalian dua orang paling dilihat di sekolah ini.” Aku menatap mereka bergantian. “Kenapa kalian selalu ada di belakang orang yang nggak dilihat siapa-siapa?”

Evan tertawa.

Dimas tidak.

“Salah,” kata Dimas.

“Apanya yang salah?”

“Urutannya.” Dia menatap lantai. “Kami yang di belakang dia.”


LAPIS SATU

Yang bercerita duluan Evan, dan dia mulai dari bagian yang paling tidak kuduga: dirinya sendiri.

“Kelas empat SD,” katanya. “Gue anak baru. Pindahan. Bokap gue baru buka cabang di kota ini.”

“Kamu sekelas sama mereka dari kelas empat?”

“Gue sekelas sama Dimas. Ardev kelas sebelah.” Evan menyandarkan punggungnya ke pintu. “Dan waktu itu gue punya masalah yang lo nggak akan nyangka.”

“Apa?”

“Nggak ada yang mau temenan sama gue.”

Aku mengangkat alis.

“Bukan karena gue dijauhin,” lanjutnya cepat. “Justru kebalikannya. Semua orang mau. Terlalu mau. Gue punya dua puluh temen di minggu pertama dan gue tau persis kenapa.”

Dia mengangkat bahu.

“Gue bawa uang jajan yang jumlahnya salah buat anak SD.”

“Terus?”

“Terus ada tiga anak kelas enam.”

Dan di situ nada suaranya berubah.

“Mereka nongkrong di belakang gudang olahraga. Tempat itu nggak keliatan dari mana-mana. Guru nggak pernah lewat situ.”

Evan berhenti sebentar.

“Gue jadi sasaran minggu kedua. Mereka narik gue ke sana, dan gue nyerahin semuanya, dan mereka bilang seminggu sekali. Dan gue setuju.”

“Kamu nggak lapor?”

“Buat apa?” Dia menatapku. “Gue punya uang, Nit. Buat gue itu bukan masalah. Itu cuma... biaya. Kayak bayar parkir.”

“Terus?”

“Terus gue liat mereka narik Dimas.”

Aku menoleh ke arah Dimas.

Dimas sedang menatap gelasnya dan tidak mengangkat kepala.

“Dimas nggak punya uang,” kata Evan. “Jadi mereka ambil yang lain.”

“Ambil apa?”

“Sepatunya.”

Ruang tamu itu sunyi.

“Tiga kali,” kata Dimas, akhirnya, tanpa mengangkat kepala. “Bulan pertama tiga kali.”

“Kamu nggak bilang ke orang tua kamu?”

“Bokap gue beliin yang baru dua kali.” Suaranya rata. “Yang ketiga gue bilang gue nggak butuh.”

“Kenapa?”

“Karena gue liat mukanya waktu beli yang kedua.”

Aku menutup mataku sebentar.

“Terus lo pake yang jebol,” kata Evan. “Yang lama. Yang udah bolong depannya.”

“Iya.”

“Selama lima bulan.”

“Iya.”

Dan aku memikirkan lemari di kamar Dimas, dan plastik di rak paling bawah, dan sepatu kecil berwarna kuning yang solnya bolong di bagian depan.

Dan aku harus menarik napas sekali sebelum bisa bicara lagi.

“Kalian nggak bisa lapor?”

“Gue bisa,” kata Evan. “Gue nggak.”

“Kenapa?”

“Karena gue nggak kena.” Dia mengatakannya dengan sangat jelas, tanpa membelokkan apa pun. “Gue bayar. Gue lewat. Selesai. Dan gue liat Dimas nggak lewat, dan gue diem.”

“Van—”

“Nit, gue nggak lagi minta lo bilang gue anak kecil dan gue nggak salah.” Dia menggeleng. “Gue tau gue anak kecil. Gue tetep tau gue diem.”

Dimas akhirnya bicara.

“Gue juga nggak bisa lapor,” katanya. “Semester sebelumnya gue berkelahi. Gue udah dapet surat peringatan. Kalau gue lapor, mereka bakal bilang gue duluan, dan itu bakal jadi kata gue lawan kata tiga orang.”

“Terus?”

“Terus gue bertahan.”

“Berapa lama?”

Dan Dimas Anggara mengangkat kepalanya untuk pertama kalinya sejak cerita ini dimulai.

“Sampai Ardev tau,” katanya.


EMPAT BELAS HARI

“Ardev nggak punya uang,” kata Evan. “Dan dia kecil. Kelas empat, badannya paling kecil di angkatan. Bokapnya masih ada waktu itu tapi mereka juga nggak punya apa-apa.”

“Terus dia ngapain?”

Evan menatapku.

“Dia berdiri di depan Dimas.”

Aku tidak mengerti.

“Maksudnya?”

“Harfiah, Nit.” Evan mengangkat tangannya dan menurunkannya lagi. “Dia dateng ke belakang gudang. Dan dia berdiri di depan Dimas. Dan dia diem.”

“Terus mereka ngapain?”

“Ya mereka mukulin dia.”

Aku merasakan sesuatu jatuh di perutku.

“Dan dia nggak ngelawan,” kata Dimas.

“Kenapa nggak ngelawan?”

“Karena kalau dia ngelawan, itu jadi berkelahi.” Dimas menatap dinding. “Dan kalau jadi berkelahi, guru turun tangan. Dan kalau guru turun tangan, mereka bakal nyari siapa yang mulai. Dan gue punya surat peringatan.”

Ruang tamu itu sangat sunyi.

“Dia ngitung,” kataku pelan.

“Iya.”

“Umur sepuluh tahun.”

“Iya.”

Aku menggeser dudukku karena tiba-tiba tidak ada posisi yang benar.

“Berapa lama?”

Dan Evan menjawab, dan angkanya keluar dari mulutnya dengan cara yang jelas menunjukkan bahwa dia sudah mengucapkannya berkali-kali di dalam kepalanya sendiri selama tujuh tahun.

“Empat belas hari.”

Aku mendengar Keisha menarik napas di sebelahku.

“Berturut-turut?”

“Tiap hari sepulang sekolah,” kata Evan. “Empat belas hari.”

“Nggak ada yang tau?”

“Nggak ada yang lewat situ, Nit. Itu inti dari tempat itu.”

“Bapak ibunya—”

“Dia pulang lewat jalan memutar.” Dimas yang menjawab. “Nambah dua belas menit. Biar sampe rumah nggak keliatan abis nangis.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Hari kesembilan,” kata Evan.

Dan dia berhenti cukup lama sehingga aku tahu yang berikutnya adalah bagian terburuk.

“Salah satu dari mereka pake gesper.”

Ayana, yang sejak tadi tidak bersuara sama sekali, akhirnya bergerak.

“Kena mana?” tanyanya.

Suaranya tidak seperti suaranya.

“Pelipis kiri,” kata Evan.

Hening.

“Tujuh jahitan,” lanjutnya. “Di puskesmas. Dia bilang ke bokapnya jatuh dari sepeda.”

Ayana berdiri.

“Ay—”

“Sebentar,” katanya, dan dia keluar lewat pintu depan, dan pintu itu tidak dibanting tapi juga tidak ditutup pelan.

Kami bertiga di dalam tidak ada yang bergerak.

Keisha berbisik, “Aku nyusul—”

“Jangan,” kata Dimas. “Dia balik sendiri.”


HARI KEEMPAT BELAS

Ayana kembali empat menit kemudian dengan mata merah dan wajah yang sudah dicuci, dan duduk kembali di tempatnya tanpa berkata apa-apa.

“Lanjut,” katanya.

“Ay, kalau kamu—”

“Lanjut, Van.”

Evan menatap lantai.

“Hari keempat belas gue di sana,” katanya.

“Di belakang gudang?”

“Di kejauhan. Gue liat dari koridor samping.” Dia menggosok wajahnya. “Gue liat dia jalan ke sana. Lagi. Hari keempat belas. Dengan pelipis yang masih ada jahitannya.”

Dia diam beberapa saat.

“Nit, gue punya hape waktu itu,” katanya. “Kelas empat SD, tahun segitu, gue satu-satunya anak di angkatan yang punya hape.”

“Kamu bisa telepon.”

“Gue bisa telepon dan tiga anak itu bakal ilang dalam dua hari.” Suaranya mulai pecah. “Gue bisa telepon bokap gue dan besoknya sekolah itu bakal punya CCTV di belakang gudang. Gue punya SEMUA yang dia nggak punya.”

Dia mengangkat kepalanya, dan matanya basah.

“Gue punya uang. Gue punya nama. Gue punya orang tua yang bisa gue telfon.” Dia menatapku lurus-lurus. “Dan yang berdiri di depan Dimas tetep dia.”

Aku tidak bisa bicara.

“Empat belas hari, Nit.”

Dan dia mengucapkan yang berikutnya dengan suara yang sangat pelan.

“Gue itung. Gue itung tiap harinya dan gue tetep diem.”


Malam itu Evan pulang dan bicara kepada ayahnya.

Dia tidak menceritakan bagaimana percakapan itu berlangsung, dan tidak ada satu pun dari kami yang bertanya.

Tiga anak itu pindah sekolah minggu berikutnya.

“Ardev nggak pernah tau itu gue,” kata Evan. “Sampe sekarang. Dia pikir mereka pindah karena kebetulan.”

“Kamu nggak bilang?”

“Buat apa?” Evan mengangkat bahu. “Biar gue kelihatan bagus? Gue diem empat belas hari, Nit. Nggak ada versi dari cerita itu yang bikin gue kelihatan bagus.”

Dimas berbicara berikutnya, dan itu bagian yang membuatku harus meletakkan gelasku.

“Gue pernah nanya kenapa,” katanya.

“Nanya ke Ardev?”

“Iya. Waktu itu juga. Sekitar hari kelima.” Dia menatap tangannya. “Gue tanya kenapa lo ngelakuin ini.”

“Terus?”

Dan Dimas Anggara mengutip kalimat seorang anak sepuluh tahun dengan ketepatan orang yang sudah mengulangnya di kepalanya setiap tahun selama tujuh tahun.

“Dia bilang, ‘Aku juga nggak tau. Kaki kamu gemeteran. Terus kakiku jalan sendiri.’”


LAPIS DUA

“Ada lagi,” kata Evan, setelah kami semua diam cukup lama.

“Masih ada?”

“Ini yang paling gue nggak bisa terima.”

Dia menegakkan duduknya.

“Bokap Ardev meninggal waktu kita kelas sembilan,” katanya. “Serangan jantung. Di tempat kerja. Dia teknisi.”

“Aku tau bapaknya udah nggak ada,” kataku. “Aku nggak tau kapan.”

“Yang lo nggak tau adalah setahun sebelum itu.”

“Kenapa setahun sebelumnya?”

Dimas menjawab.

“Ardev peringkat satu paralel,” katanya. “Dua semester berturut-turut.”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Sama juara olimpiade sains tingkat provinsi.” Dimas mengangkat kepalanya. “Namanya dipasang di spanduk depan sekolah selama tiga bulan.”

Aku menatapnya.

“Dimas.”

“Hm.”

“Nilai Ardev sekarang tujuh puluhan.”

“Iya.”

“Dia papan tengah.”

“Iya.”

“Itu—” Aku berhenti. “Itu nggak mungkin turun sejauh itu.”

“Emang nggak,” kata Evan. “Dia yang nurunin.”


NILAI YANG SENGAJA DIJATUHKAN

“Empat bulan setelah bokapnya meninggal, ada tawaran,” kata Evan. “Beasiswa penuh. Sekolah unggulan berasrama di luar kota.”

“Berasrama?”

“Iya.”

Dan aku sudah tahu ke mana ini akan pergi sebelum dia melanjutkan, dan aku berharap aku salah.

“Kepala sekolahnya dateng sendiri ke rumah ini.” Evan menunjuk ke arah ruang tamu tempat kami duduk. “Ke sini. Duduk di kursi itu. Minum teh. Bilang ini kesempatan yang nggak akan dateng dua kali.”

“Ibunya gimana?”

“Nangis. Terus bilang iya.”

Keisha, di sebelahku, menutup mulutnya.

“Yang nggak dibicarain di ruang tamu itu,” lanjut Evan, “adalah kalau Ardev berasrama, nyokapnya harus kerja shift ganda sendirian. Dan Kayla waktu itu enam tahun. Rey dua tahun.”

“Mereka harus dititipin,” kataku.

“Iya.”

“Ke siapa?”

Dan Evan menatapku.

“Ke dua keluarga berbeda,” katanya. “Di dua kota berbeda.”

Ruang tamu itu — ruang tamu yang sama, kursi yang sama — terasa dingin.

“Udah dibicarain diem-diem antara nyokapnya sama om tantenya,” kata Evan. “Dan Ardev denger dari balik pintu dapur.”

Aku menoleh ke arah pintu dapur.

Jaraknya dari kursi ini mungkin dua setengah meter.

“Terus dia ngapain?” tanya Ayana.

Dan suaranya sudah tidak bergetar lagi. Suaranya sudah datar, dan itu jauh lebih menakutkan.

“Dia ikut tes seleksi akhir,” kata Dimas.

“Terus?”

“Dia sengaja gagal.”


Aku bekerja dengan angka setiap hari. Aku menyusun anggaran, rekapitulasi, laporan. Aku tahu bagaimana rasanya melihat deretan angka dan menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

Yang kurasakan waktu Dimas mengucapkan kalimat itu adalah versi yang jauh lebih buruk dari perasaan itu.

“Bukan asal gagal,” lanjut Dimas. “Dihitung.”

“Dihitung gimana?”

“Salah di bagian yang wajar buat disalahin. Bener di bagian yang kalau disalahin malah mencurigakan.” Dia menatap lantai. “Selisihnya tipis dari batas kelulusan. Cukup buat nggak lolos. Nggak cukup buat ada yang curiga.”

“Kenapa harus serumit itu?”

Dan Evan yang menjawab, dan jawabannya membuat sesuatu di dadaku patah.

“Supaya nyokapnya nggak tau.”

Aku menatapnya.

“Kalau nyokapnya tau dia sengaja,” kata Evan, “nyokapnya bakal nyalahin diri sendiri seumur hidup. Karena dia bakal ngerti bahwa anaknya ngorbanin masa depannya buat dia.”

Dia mengangkat bahu, dan gerakan itu tidak cocok sama sekali dengan wajahnya.

“Jadi Ardev biarin nyokapnya percaya anaknya cuma nggak cukup pinter.”


Aku duduk di ruang tamu itu dan tidak bisa menemukan satu kalimat pun.

Ini pekerjaanku. Aku ketua OSIS. Aku memimpin rapat, aku menegur orang, aku selalu punya kalimat berikutnya.

Aku tidak punya kalimat berikutnya.

“Nilainya nggak pernah naik lagi setelah itu,” kata Dimas. “Bukan karena hancur. Karena kalau naik, tawarannya dateng lagi.”

“Tiga tahun,” kataku.

“Iya.”

“Dia jaga nilainya di papan tengah selama tiga tahun.”

“Iya.”

“Dengan sengaja.”

“Iya.”

Dan aku memikirkan seorang anak laki-laki yang setiap kali menerima kertas ulangan harus memastikan bahwa dia salah di tempat yang benar.

“Ada yang tau?” tanyaku.

“Satu orang,” kata Evan. “Wali kelasnya waktu SMP. Bu Ratna.”

“Gimana dia tau?”

“Dia yang meriksa lembar jawabannya.” Evan menggosok matanya. “Terus dia liat polanya. Terus dia panggil Ardev.”

“Ardev ngaku?”

“Dia nggak nyangkal apa pun.”

“Dia bilang apa?”

Dan Evan Radhitya Bramantyo mengutip kalimat seorang anak lima belas tahun, dan dia harus berhenti satu kali di tengahnya.

“Dia bilang, ‘Bu, kalau saya pintar, saya bisa pintar di mana aja. Tapi kalau adik saya kepisah, itu nggak bisa dibalikin.’”

Keisha mulai menangis.

Tidak berisik. Cuma menangis, dengan kedua tangan di wajah, di lantai ruang tamu itu.

“Bu Ratna nyimpen itu setahun,” kata Dimas. “Baru dia kasih tau kami waktu SMA.”

“Kenapa setahun?”

“Nggak tau.” Dimas mengangkat bahu. “Waktu dia cerita ke kami, dia nangis.”


Ada dua lapis lagi setelah itu.

Yang ketiga: kelas sepuluh, Dimas hampir dikeluarkan dari tim basket karena dituduh mencuri uang kas. Semua percaya, termasuk pelatih. Ardev menghabiskan tiga malam menelusuri rekaman CCTV — aksesnya dia punya karena dia yang memperbaiki sistemnya, dan tidak ada yang tahu — lalu menyerahkan buktinya secara anonim.

“Sampai sekarang dia nggak ngaku,” kata Dimas. “Kalau ditanya, dia bilang ‘mungkin kebetulan.’”

Yang keempat diceritakan Evan paling akhir, dan suaranya berubah lagi.

Tahun lalu. Terminal. Jam dua pagi. Evan yang nyaris kabur setelah bertengkar besar dengan ayahnya, dan Ardev yang mencarinya — bukan kebetulan; tiga angkutan berbeda, tiga terminal, dengan uang belanja mingguan keluarganya.

“Dia duduk di sebelah gue,” kata Evan. “Dia nggak bilang jangan pergi. Dia nyodorin roti.”

“Terus?”

“Terus dia bilang, ‘Kalau lo tetep mau pergi, gue ikut. Tapi gue bawa Kayla sama Rey ya, nggak ada yang jagain.’”

Evan tertawa. Bunyinya hancur.

“Gue pulang malem itu.”


Kami berlima duduk di ruang tamu itu dan tidak ada yang bicara selama hampir dua menit penuh.

Lalu Evan berdiri.

Dia berjalan ke sudut ruangan, ke dispenser, dan mengetuk galon dengan buku jari — kebiasaan yang sudah kulihat dua kali dan yang baru sekarang aku mengerti bukan kebiasaan; itu pemeriksaan.

Bunyinya berat.

Dia mengangguk dan kembali duduk.

“Nit,” katanya.

“Hm.”

“Lo tadi nanya kenapa kami selalu ada di belakang dia.”

Aku menunggu.

Dan Evan Radhitya Bramantyo menatap pintu depan rumah petak itu dan berkata:

“Jadi kalau ada yang ngatain dia nggak level sama kalian—”

Dia berhenti.

Menarik napas.

“—yang nggak level itu kami.”

Dan Dimas Anggara, yang sepanjang sore ini bicara lebih banyak daripada yang pernah kudengar seumur hidupku, menambahkan satu kalimat terakhir yang akan kubawa sampai aku tua.

“Jadi kalau ada yang bilang Ardev cuma anak papan tengah,” katanya. “Itu bukan kemampuannya. Itu harganya.”


Pintu depan terbuka dua puluh detik kemudian.

Ardev Narasoma masuk sambil menggendong Rey — yang entah bagaimana sudah tidur lagi dalam perjalanan sepuluh menit — dengan Kayla di belakangnya membawa satu kantong keripik yang sudah kosong.

Dia berhenti di ambang pintu.

Lima orang menatapnya. Keisha dengan wajah yang basah. Ayana yang matanya merah. Evan yang belum sempat menghapus matanya. Dimas yang menatap lantai. Dan aku, yang sedang memegang gelas teh yang sudah dingin sejak dua puluh menit lalu dan tidak menyadarinya.

Ardev melihat kami satu per satu.

“Kenapa?” katanya. “Ada yang mati?”

Keisha langsung menangis lebih keras.

“Loh—” Ardev memindahkan Rey ke bahu yang lain, panik. “Kei, kenapa? Kayla, kamu ngapain?”

“AKU NGGAK NGAPA-NGAPAIN.”

“Dim, ada apa?”

Dan Dimas Anggara mulai tertawa.

Lalu Evan. Lalu keduanya, keras, di ruang tamu tiga kali empat itu, dengan mata yang masih basah — dan Ardev berdiri di ambang pintu dengan adiknya di bahu, tidak mengerti apa-apa, wajahnya berubah-ubah antara bingung dan khawatir.

Dan Ayana berdiri.

Dia berjalan melintasi ruangan itu, dan berhenti di depan Ardev, dan memeluknya.

Dengan Rey masih di bahunya. Tanpa satu pun penjelasan.

Ardev membeku.

“Ay—”

Dia tidak melepaskan.

“Ayana.”

Tidak melepaskan.

Dan aku duduk di kursi plastik itu dan menyaksikan Ardev Narasoma perlahan mengangkat tangannya yang bebas dan meletakkannya di kepala Ayana, dengan hati-hati, dan bertanya dengan suara yang benar-benar bingung:

“Aku salah apa?”


Kami pulang jam delapan.

Di mulut gang, Ayana berjalan di depan dan tidak bicara sama sekali. Keisha memegangi lengan Evan dengan kedua tangan dan juga tidak bicara, yang belum pernah terjadi seumur hidupnya.

Dan aku berjalan di sebelah Dimas.

“Dim.”

“Hm.”

“Sepatunya.”

Dia tidak menjawab.

“Yang di lemari kamu.”

“Iya.”

“Kenapa kamu nggak buang?”

Dan Dimas Anggara berjalan tiga langkah lagi sebelum menjawab, dan waktu dia menjawab, dia tidak menoleh sama sekali.

“Karena tiap kali gue mau nyerah,” katanya, “gue buka lemari.”