← Nomor Tiga

Chapter Thirty Five

Sembilan Hari

POV: Dimas

Gue nggak pinter ngomong.

Itu bukan kerendahan hati. Itu fakta yang udah gue ukur berkali-kali. Gue pernah disuruh pidato waktu jadi kapten dan gue berhenti di kalimat kedua, dan pelatih akhirnya yang ngelanjutin, dan sejak itu gue nggak pernah disuruh lagi.

Yang gue bisa cuma satu: gue bisa liat.

Basket ngajarin itu. Lo nggak punya waktu buat mikir di lapangan. Lo cuma punya waktu buat liat — siapa yang capek, siapa yang nahan sakit, siapa yang matanya udah nggak fokus dua menit sebelum dia sendiri sadar.

Jadi waktu gue bilang gue tau Ardev nggak baik-baik aja, gue nggak lagi nebak.

Gue liat.


Gue mulai nyatet tanggal dua puluh empat Maret.

Bukan di buku. Di kepala. Gue nggak pernah nulis apa-apa seumur hidup gue kecuali kalau dipaksa.

Yang gue liat, urutannya:

Dia berhenti naik tangga. Dulu dia selalu lewat tangga barat karena lebih deket ke kelas. Sekarang dia muter lewat koridor bawah, nambah empat puluh detik. Orang muter kalau naik tangga bikin dia pusing.

Dia pegang tembok waktu berdiri dari duduk. Nggak selalu. Dua dari lima kali. Gue itung.

Tangan kirinya gemeteran waktu megang sendok di kantin tanggal dua puluh sembilan. Cuma sebentar. Dia langsung taruh sendoknya dan lanjut pake tangan kanan doang.

Berat badannya turun. Gue tau karena gue liat lehernya. Orang yang latihan tiap hari tau bentuk leher orang.

Dan tanggal satu April dia ketiduran di kelas — Evan yang cerita — dan Pak Hendra nggak marah, dan itu yang paling bikin gue nggak enak.

Karena guru cuma nggak marah kalau mereka udah mikirin sesuatu duluan.


Gue ikutin dia hari Selasa tanggal tujuh.

Gue nggak bangga soal itu. Gue tetep ngelakuin.

Dia keluar rumah jam setengah sepuluh malem. Gue nunggu di ujung gang dari jam sembilan pake motor pinjeman punya sepupu gue.

Dia naik angkutan dua kali. Turun di pasar induk.

Dan gue berdiri di seberang jalan dari jam sepuluh sampai jam dua belas, dan gue liat sahabat gue ngangkat kardus.

Kardusnya besar. Yang sayur, yang basah, yang beratnya nambah dua kali kalau kena air. Dia ngangkat sendirian karena semua orang di situ ngangkat sendirian.

Dua jam gue di situ.

Dan gue pulang, dan gue nggak tidur.


Gue kasih tau Evan hari Kamis.

Gue nggak mau. Gue mikirin tiga hari. Tapi gue tau kalau gue nyimpen ini sendiri, gue jadi orang ketiga yang nyimpen rahasia di antara kita bertiga, dan itu bikin semuanya makin rusak.

Evan diem lima belas detik pas gue cerita.

Terus dia nangis. Di mobil, di parkiran sekolah, jam empat sore. Nggak berisik. Cuma nangis.

Terus dia berhenti dan bilang, “Gue ke sana.”

“Van—”

“GUE KE SANA, DIM.”

Dan dia ke sana hari Jumat, dan dia duduk di trotoar satu jam, dan dia bilang ke Ardev bahwa dia bakal dateng tiap malem sampai Ardev ngomong.

Dan Ardev nggak ngomong.


Yang kejadian setelah itu bukan Ardev marah.

Gue kenal dia sepuluh tahun. Ardev nggak pernah marah — nggak sekali pun, nggak ke gue, nggak ke Evan, nggak ke siapa-siapa.

Yang dia lakuin lebih efektif.

Dia hilang.

Senin dia nggak masuk.

Selasa masuk. Duduk di kelas. Nggak ke kantin.

Rabu nggak masuk.

Kamis masuk, dan gue nunggu di depan kelasnya jam pulang, dan dia keluar dan liat gue dan bilang, “Dim, gue buru-buru.”

Terus dia jalan.

Dan gue berdiri di depan kelas dua belas IPA tiga dan nggak bisa ngapa-ngapain, karena gue nggak bisa ngejar orang di koridor sekolah tanpa bikin dua puluh orang nonton.

Jumat dia nggak masuk.

Dan hari Jumat malem itu Evan nelfon gue jam sebelas dan bilang dia udah di pasar induk dan Ardev nggak ada di sana.

“Dia nggak kerja?”

“Gue nanya ke mandornya.”

“Terus?”

“Mandornya bilang dia pindah shift.”

“Pindah ke mana?”

Dan Evan bilang, dan suaranya udah nggak bener dari kalimat pertama.

“Pindah ke yang jam dua siang sampe jam sepuluh malem.”

Gue nutup mata.

“Van.”

“Iya, gue tau.”

“Itu artinya dia—”

“Gue TAU, Dim.”

Jam dua siang. Sekolah bubar jam setengah dua.

Dia nggak bolos.

Dia udah mulai berhenti.


Sabtu pagi gue ke rumahnya.

Gue nggak nelfon duluan. Gue nggak kirim pesen. Gue naik angkutan jam tujuh pagi dan jalan masuk gang dan ngetok pintu.

Kayla yang buka.

“Om Dimas.”

“Kakak kamu ada?”

“Kerja.”

“Jam segini?”

“Iya.”

Dan gue berdiri di depan pintu rumah petak itu dan nggak tau harus ngapain, dan Kayla juga berdiri di situ dan nggak nutup pintunya.

“Om Dimas.”

“Hm.”

“Om mau masuk?”

Dan gue bilang, “Boleh.”


Itu hari pertama.

Gue duduk di ruang tamu tiga kali empat itu dari jam setengah delapan sampai jam sebelas.

Gue nggak ngapa-ngapain.

Rey minta digambarin mobil. Gue gambar. Dia minta truk. Gue gambar. Dia minta kapal, terus pesawat, terus “mobil yang ada helikopternya” lagi, terus “helikopter yang ada mobilnya” — yang dia bersikeras itu beda.

Kayla ngerjain PR di lantai. Sesekali dia nanya sesuatu tentang pecahan dan gue jawab, dan dua kali gue salah dan dia yang benerin.

Ibunya keluar jam sembilan. Beliau kaget liat gue.

“Loh, Dimas. Ardev nggak—”

“Iya, Tante. Nggak apa-apa.”

“Kamu mau Ibu bikinin—”

“Nggak usah, Tante.”

Dan beliau tetep bikinin teh, dan gue minum, dan gue liat beliau dari deket buat pertama kalinya dalam dua bulan.

Gue nggak akan nulis apa yang gue liat.

Gue cuma akan nulis bahwa gue nunggu sampe di angkutan pulang sebelum gue nangis, dan bahwa gue nggak pernah cerita itu ke siapa-siapa, termasuk ke Anita.


Hari kedua Evan ikut.

Dia bawa dua kantong keripik dan gue larang.

“Van.”

“Ini keripik, Dim.”

“Van.”

“INI KERIPIK LIMA RIBU.”

Gue biarin.

Hari kedua kita berdua duduk di ruang tamu itu dari jam sepuluh pagi sampe jam satu siang. Evan ngajarin Rey main tebak-tebakan yang nggak ada jawabannya. Kayla nge-judge kita berdua soal cara gue megang pensil.

Ardev pulang jam setengah dua.

Dia berhenti di ambang pintu.

Dan gue liat mukanya, dan gue liat dia ngitung — gue tau persis ekspresinya, gue udah sepuluh tahun liat itu — dan gue liat dia mutusin sesuatu dalam waktu kurang dari dua detik.

“Eh,” katanya. “Sori, gue baru pulang.”

“Nggak apa-apa,” kata Evan.

“Kalian dari jam berapa?”

“Baru aja.”

Bohong. Tiga jam.

Dan Ardev ngangguk, dan masuk ke kamar buat ganti baju, dan keluar lagi lima menit kemudian dan duduk sama kita, dan ngobrol.

Ngobrol beneran. Nanya kabar tim basket. Nanya soal Keisha. Ketawa satu kali waktu Evan cerita sesuatu.

Empat puluh menit.

Terus dia bilang dia harus siap-siap kerja.

Dan gue jalan pulang sama Evan sore itu, dan di angkutan Evan bilang, “Dia baik-baik aja kan?”

Dan gue bilang, “Enggak.”

“Dim, dia ketawa—”

“Van.” Gue noleh. “Lo pernah liat dia nggak bisa jawab pertanyaan?”

“Hah?”

“Empat puluh menit tadi. Dia nanya terus.” Gue liat keluar jendela. “Dia nggak jawab satu pun pertanyaan kita.”


Hari ketiga sampai hari kesembilan sama.

Gue nggak akan tulis satu-satu. Yang penting cuma polanya.

Kita dateng. Kadang berdua, kadang gue sendiri, satu kali Evan sendiri karena gue ada pertandingan.

Kita nggak nanya apa-apa.

Itu kesepakatannya, dan itu kesepakatan yang gue yang bikin dan Evan setuju setelah berdebat empat puluh menit di telepon.

“Kenapa nggak nanya, Dim? Gue mau nanya.”

“Karena kalau lo nanya, dia jawab bohong.”

“Terus?”

“Terus dia harus inget bohongnya.” Gue pindahin telepon ke telinga sebelah. “Terus tiap kali kita dateng dia harus jaga cerita itu. Terus kita jadi beban.”

Hening di seberang.

“Jadi kita cuma dateng?”

“Iya.”

“Terus apa gunanya, Dim?”

Dan gue jawab satu-satunya hal yang gue tau.

“Biar dia nggak bisa mikir kita nggak ada.”


Ini yang gue pelajarin dari sembilan hari itu, dan gue nggak akan bisa jelasin ke orang yang nggak ngerasain sendiri.

Kalau lo dateng ke rumah orang dan lo nanya, lo lagi minta sesuatu. Lo minta penjelasan. Lo minta dia buka.

Kalau lo dateng dan lo nggak nanya apa-apa, lo lagi ngasih.

Lo ngasih dia satu ruangan di dunia ini di mana dia nggak harus ngejelasin apa-apa ke siapa-siapa.

Dan buat orang kayak Ardev — yang seumur hidup ngerjain semua penjelasan sendirian — itu satu-satunya barang yang bisa dia terima.


Hari keenam Kayla nanya sesuatu ke gue.

Kita berdua di ruang tamu. Rey tidur siang. Evan lagi ke warung beli es.

“Om Dimas.”

“Hm.”

“Om tiap hari ke sini.”

“Iya.”

“Enam hari.”

Gue noleh. “Kamu ngitung?”

“Iya.”

Anak itu duduk di lantai dengan buku gambarnya dan nggak liat ke gue.

“Om Dimas dateng buat apa?” katanya.

Dan gue duduk di kursi plastik itu dan mikir lama, karena gue nggak pinter ngomong dan karena gue nggak mau salah ngomong ke anak sepuluh tahun.

“Buat nemenin,” kata gue akhirnya.

“Nemenin siapa?”

“Kakak kamu.”

“Kakak aku nggak ada.”

“Iya.”

“Terus gimana nemeninnya?”

Dan gue nggak punya jawaban.

Kayla nutup buku gambarnya.

“Om Dimas.”

“Hm.”

“Kalau Om nggak dateng, Kakak nggak akan tau Om dateng.” Dia natap gue. “Tapi kalau Om dateng, Kakak juga nggak tau. Kan Kakak nggak ada.”

“Iya.”

“Terus buat apa?”

Dan gue bilang, “Buat kamu tau.”

Kayla nggak ngomong apa-apa lagi selama beberapa detik.

Terus dia bilang, “Oh.”

Terus dia buka buku gambarnya lagi.

Dan sepuluh menit kemudian dia nyodorin satu lembar ke gue, dan di situ ada gambar tiga orang cowok berdiri berjajar, dan yang di tengah lebih pendek dari dua yang lain, dan di atasnya ada tulisan huruf kapital:

KAK ARDEV, OM DIMAS, BANG EVAN

Gue bawa pulang. Gue simpen sampe sekarang.


Hari kesembilan gue dateng sendiri.

Jam sebelas siang. Kayla di sekolah. Rey di penitipan. Ibunya lagi tidur.

Dan Ardev ada di rumah.

Dia lagi duduk di lantai ruang tamu dengan dispenser dibongkar di depannya — pompanya dilepas, ada tiga baut di atas koran.

Dia liat gue masuk. Dia nggak kaget.

“Dim.”

“Hm.”

“Lo udah sembilan hari.”

Gue duduk di kursi plastik. “Iya.”

“Kenapa?”

Dan gue nggak jawab, karena gue nggak pinter ngomong, dan karena kalau gue jawab gue bakal salah.

Ardev balik ke pompanya.

Dan selama mungkin sepuluh menit nggak ada yang ngomong, dan gue duduk di situ liatin dia benerin dispenser yang gue tau bisa dia benerin dalam empat menit kalau tangannya nggak gemeteran.

Terus dia bilang, tanpa ngangkat kepala:

“Gue nggak bisa cerita, Dim.”

“Gue tau.”

“Bukan karena gue nggak percaya sama lo.”

“Gue tau.”

“Kalau gue cerita, gue harus—” Dia berhenti. Naruh obengnya. “Gue harus ngeliat muka lo pas gue cerita.”

Gue nggak ngomong.

“Dan gue nggak sanggup.”

Dan dia balik ke pompanya.

Dan gue duduk di situ sampe jam satu, terus gue pulang, dan gue nggak bilang apa-apa selain “gue duluan ya.”

Dia bilang, “Iya.”


Ada satu hal lagi dari hari kesembilan yang belum gue tulis.

Pas gue mau pulang, gue liat surat di meja.

Bukan gue baca. Gue nggak baca. Gue cuma liat tiga kata di kop atasnya karena kertasnya kebuka setengah dan gue lewat deket meja itu buat ambil tas.

PERMOHONAN PENGUNDURAN DIRI

Gue berhenti setengah detik.

Terus gue jalan terus, dan gue ambil tas gue, dan gue bilang “gue duluan ya.”

Dan gue nggak nanya.

Gue mikirin itu sepanjang jalan pulang, dan gue mikirin itu lagi malemnya, dan gue mikirin itu sampe sekarang.

Karena gue punya kesempatan.

Gue berdiri satu setengah meter dari surat itu, di ruangan yang cuma ada dua orang, dan gue bisa nanya.

Dan gue milih kesepakatan.

Kesepakatan yang gue sendiri yang bikin — jangan nanya, biar dia nggak perlu bohong, biar kita bukan beban.

Empat hari kemudian gue tau bahwa kesepakatan itu salah.

Bukan salah karena niatnya jelek. Salah karena gue nggak pernah nanya ke Ardev apakah dia mau kesepakatan itu.

Gue mutusin sendiri apa yang paling baik buat dia.

Persis kayak yang dia lakuin ke semua orang selama sepuluh tahun.

Dan gue nggak sadar sampe semuanya udah kejadian.


Hari kesepuluh gue nggak dateng.

Ada pertandingan tandang. Gue berangkat jam enam pagi dan pulang jam sebelas malem.

Dan malemnya, di bus tim, Anita nelfon gue.

Dia nggak pernah nelfon. Dia selalu kirim pesen.

“Nit?”

“Dimas.”

Dan gue tau dari satu kata itu.

“Kenapa.”

“Ayana,” katanya. “Barusan.”

Gue berdiri dari kursi bus.

“Ardev mutusin dia sore ini.”


Gue turun dari bus di halte terdekat sama rumah Ardev dan gue jalan kaki dua kilo jam setengah dua belas malem masih pake jaket tim.

Gue ketok pintu.

Nggak ada yang buka.

Gue ketok lagi.

Dan gue berdiri di depan pintu rumah petak itu sampe jam satu pagi, dan gue nggak ngetok lagi setelah yang kedua, dan gue nggak manggil namanya sekali pun.

Karena gue tau dia di dalem.

Dan gue tau dia denger.

Dan gue tau kenapa dia nggak buka.