← Nomor Tiga

Chapter Forty One

Arti Nama

POV: Ayana

Upacara penyerahan penghargaan dijadwalkan tanggal dua puluh Mei, jam delapan pagi, di aula.

Aku tahu detailnya karena aku yang menyusun rundown-nya.

Itu tugas terakhirku sebagai wakil ketua OSIS — kepengurusan kami berakhir bulan itu — dan aku mengerjakannya selama sebelas hari dengan tingkat obsesi yang membuat Bimo bertanya dua kali apakah aku baik-baik saja.

Aku baik-baik saja.

Aku cuma ingin tidak ada satu pun hal yang gagal.


Yang perlu diketahui tentang bagaimana upacara itu bisa terjadi:

Anita.

Anita yang menulis surat ke kepala sekolah tanggal tiga Mei. Anita yang meminta rapat dengan bagian kesiswaan dan pembina OSIS dan datang membawa tiga map yang sama dengan yang dia bawa ke sekretariat sebulan sebelumnya.

Dan Anita yang, waktu Bu Wulan bertanya “kenapa harus diupacarakan, Nak?”, menjawab dengan kalimat yang diulang-ulang di ruang guru selama seminggu sesudahnya:

“Karena sekolah ini udah tiga tahun nikmatin hasilnya tanpa nyebut namanya, Bu. Sekali aja.”


Ardev tidak tahu.

Itu bagian yang paling sulit.

Dia tahu ada upacara penyerahan penghargaan — semua orang tahu; itu di papan pengumuman. Yang dia tidak tahu adalah bahwa dia ada di dalamnya.

Kami memberitahunya bahwa dia diminta datang untuk urusan teknis. Sound system. Mikrofon. Proyektor.

Dan dia percaya, karena itu selalu benar selama tiga tahun.

“Kalian jahat,” kata Keisha, di sekretariat, tiga hari sebelumnya.

“Iya,” kata Anita.

“Kalian jahat banget.”

“Iya.”

“Aku suka.”


Dia datang jam enam empat belas pagi.

Aku ada di sana. Aku sengaja datang jam enam untuk memastikan.

Dan dia masuk ke aula lewat pintu samping dengan tas di bahu dan obeng kecil di kantong depan — obeng itu kembali ke sana bulan lalu; aku memeriksanya minggu pertama Mei dan aku hampir menangis di koridor — dan langsung naik ke meja untuk memeriksa mikrofon panggung.

“Dev.”

“Ay.”

“Kamu dari jam berapa?”

“Baru.”

“Bohong.”

“Enam kurang lima.”

Dan aku berdiri di bawah memegangi meja itu tanpa diminta, seperti selalu, dan dia tidak melarang, juga seperti selalu.

Mikrofonnya bagus. Sound system-nya bagus. Proyektornya bagus.

“Udah nyala, kan?” katanya, waktu turun.

“Iya.”

“Ya udah.”

Dan dia mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu samping — pintu yang sama, pintu yang dia pakai untuk keluar tujuh bulan lalu waktu aku belum tahu namanya.

“Dev.”

Dia berhenti.

“Kamu mau ke mana?”

“Kelas.”

“Duduk dulu.”

“Ay, saya—”

“Dev.” Aku menunjuk kursi baris keempat, di tengah, yang sudah kutandai dengan kertas kecil sejak dua hari lalu. “Duduk.”

Dan Ardev Narasoma menatapku selama beberapa detik.

Lalu dia melihat ke sekeliling aula — dan aku melihat sesuatu berubah di wajahnya, karena laki-laki itu memperhatikan segalanya, dan karena kursi baris keempat di tengah bukan kursi yang ditandai untuk teknisi.

“Ay.”

“Duduk, Dev.”

“Ay, ini apa?”

Dan aku tidak menjawab.


Aula penuh jam delapan kurang sepuluh.

Seribu dua ratus siswa. Guru. Perwakilan yayasan di baris depan. Dan di baris kedua, di kursi tamu — dan ini yang tidak diketahui siapa pun sampai pagi itu — dua orang tamu undangan yang diurus Anita sendiri lewat surat resmi.

Yang pertama, Bu Ratna.

Yang kedua, Ibu.

Beliau baru boleh keluar rumah sakit dua belas hari sebelumnya. Beliau datang naik mobil Evan, dengan kursi roda pinjaman, dan duduk di kursi tamu baris kedua dengan Kayla di sebelah kanan dan Rey di pangkuan Kayla.

Ardev tidak melihat mereka masuk.

Karena Dimas duduk di sebelah kirinya dan Evan di sebelah kanannya, dan keduanya — aku menyaksikan ini dari samping panggung — dengan sangat sengaja mengajaknya bicara selama enam menit penuh supaya dia tidak menoleh ke belakang.


Acara berjalan sesuai rundown selama empat puluh menit.

Sambutan kepala sekolah. Penyerahan penghargaan lomba tingkat kota untuk tiga ekskul. Foto. Tepuk tangan.

Dan jam delapan lewat empat puluh dua, kepala sekolah kembali ke mikrofon dan berkata:

“Ada satu lagi.”

Dan aula itu — yang sudah mulai berisik seperti biasa di menit keempat puluh — berubah bunyinya.

“Bapak mau minta maaf dulu,” kata beliau.

Aku memegang tepi meja operator di samping panggung.

“Bapak baru tahu bulan lalu,” lanjutnya. “Dan Bapak sudah jadi kepala sekolah di sini empat tahun.”

Beliau membuka map di podium.

“Tiga tahun terakhir, sekolah kita mengirim karya ke tiga kompetisi. Olimpiade Sains Kabupaten. Lomba Inovasi Pelajar Provinsi. Dan Kompetisi Karya Ilmiah Remaja tingkat provinsi tahun ini.”

Beliau berhenti.

“Juara dua. Finalis. Dan juara satu.”

Aula itu mulai bergerak.

“Dan di semua pengumuman resmi sekolah selama tiga tahun itu, yang tertulis cuma tiga kata: ‘delegasi sekolah kita.’”

Beliau mengangkat kepalanya.

“Itu kesalahan kami.”


Aku menoleh ke baris keempat.

Ardev sedang menatap panggung dengan wajah yang belum berubah — belum; dia masih di detik-detik di mana otaknya sedang menyusun kemungkinan lain, dan aku tahu persis kapan kemungkinan-kemungkinan itu habis.

“Bapak panggil ke depan,” kata kepala sekolah.

Dan beliau membaca dari kertas.

“Ardev Narasoma. Dua belas IPA tiga.”


Aula itu diam selama mungkin satu setengah detik.

Bukan tepuk tangan. Diam.

Karena seribu dua ratus orang di ruangan itu sedang mencari nama itu di kepala mereka dan tidak menemukan apa pun.

Dan satu setengah detik itu — satu setengah detik keheningan sebelum apa pun terjadi — adalah ringkasan paling akurat dari tiga tahun terakhir hidup laki-laki itu.

Lalu ada yang berdiri.

Dan itu bukan aku.

Dimas Anggara berdiri dari kursi baris keempat dan mulai bertepuk tangan.

Dan setengah detik kemudian Evan Radhitya Bramantyo berdiri di sisi lain, dan Evan tidak bertepuk tangan — Evan berteriak, satu kata, keras sekali, dengan suara yang pecah:

“ARDEV!”

Dan aula itu meledak.


Aku menangis di samping panggung dan aku tidak berusaha menyembunyikannya.

Karena yang berdiri pertama bukan aku.

Itu penting. Aku ingin menuliskannya dengan sangat jelas, karena selama berbulan-bulan sesudahnya orang akan menceritakan pagi itu sebagai cerita tentang aku, dan itu bukan cerita tentang aku.

Yang berdiri pertama adalah dua orang yang sudah sepuluh tahun berdiri di belakangnya.

Aku menyusul kemudian.

Seperti seharusnya.


Dia tidak bergerak selama beberapa detik.

Aku bisa melihatnya dari samping panggung — duduk di kursi baris keempat dengan seribu dua ratus orang bertepuk tangan di sekelilingnya, dan tidak bergerak sama sekali.

Dimas yang menariknya berdiri.

Dan dia berjalan ke depan, dan naik tiga anak tangga panggung, dan berdiri di sebelah kepala sekolah dengan seragam yang masih kebesaran dan wajah yang tidak tahu harus berbuat apa.

Penghargaan diserahkan. Foto.

Dan lalu kepala sekolah membaca bagian kedua.

“Dan sehubungan dengan prestasi tersebut,” kata beliau, “yang bersangkutan telah dinyatakan berhak menerima Beasiswa Prestasi Penuh dari yayasan mitra penyelenggara. Biaya kuliah empat tahun, biaya hidup, dan biaya penempatan.”

Beliau menurunkan kertasnya.

“Berkasnya sudah lengkap,” katanya. “Terima kasih kepada pihak yang sudah membantu melengkapi.”

Dan aku menoleh ke barisan tamu yayasan di depan.

Rasendriya Wibisono duduk di kursi ketiga dari kiri, dengan map di pangkuan, dan tidak bertepuk tangan.

Dia cuma mengangguk sekali, ke arah panggung.

Lalu dia melihat ke arahku.

Dan dia mengangguk sekali lagi, dan aku mengangguk balik, dan itu adalah seluruh percakapan yang pernah kami lakukan tentang hal itu, sampai sekarang.


Aku naik ke panggung setelah foto.

Itu ada di rundown — “sambutan perwakilan pengurus OSIS” — dan aku yang menulisnya, dan aku yang mengisinya, dan tidak ada satu pun orang di ruangan itu selain lima orang yang tahu apa yang akan kukatakan.

Aku berdiri di mikrofon.

Dan aku mengeluarkan satu lembar kertas dari saku, dan tanganku gemetar sampai kertasnya berbunyi di mikrofon, dan Anita di samping panggung mengangkat ibu jarinya.

“Selamat pagi,” kataku.

Seribu dua ratus orang.

“Saya nggak akan lama.”

Dan aku menarik napas.

“Nama Ardev berasal dari bahasa Sanskerta,” kataku. “Saya cari tiga minggu lalu dan saya cek ke tiga sumber karena saya nggak percaya yang pertama.”

Aula itu diam.

Arka: matahari.”

Aku mengangkat kepalaku.

Dev: yang memberi.”

Dan aku menatap laki-laki yang berdiri di sisi kanan panggung dengan sertifikat di tangan dan telinga yang sudah merah sampai ke leher.

“Yang memberi cahaya,” kataku.

Suaraku pecah dan aku membiarkannya.

“Orang tuanya ngasih nama itu tujuh belas tahun lalu.”

Dan aku berkata:

“Dan selama tiga tahun di sekolah ini, nggak ada satu pun dari kita yang tau.”


Yang terjadi setelah itu tidak ada di rundown.

Aku turun dari panggung, dan acara harusnya lanjut ke penutup, dan yang terjadi adalah bahwa seorang anak perempuan berumur sepuluh tahun berdiri dari kursi tamu baris kedua.

Kayla.

Dan dia berjalan ke depan aula — dengan seribu dua ratus orang menonton, dengan seragam SD yang jelas dipakai karena dia langsung dari sekolah, dengan wajah yang tidak takut sama sekali — dan berhenti di depan panggung.

Kepala sekolah menoleh.

“Ada apa, Nak?”

Dan Kayla Narasoma berkata, cukup keras untuk terdengar tanpa mikrofon:

“Boleh aku ngomong?”


Mereka memberinya mikrofon.

Aku tidak tahu siapa yang memutuskan. Mungkin kepala sekolah, mungkin Bu Wulan. Yang jelas seseorang menurunkan mikrofon berdiri sampai ke tinggi anak sepuluh tahun.

Dan Kayla berdiri di depan seribu dua ratus orang dan berkata:

“Aku adiknya Kak Ardev.”

Aula itu tertawa kecil, dengan cara yang hangat.

“Aku cuma mau kasih tau satu hal.”

Dan dia menoleh ke arah kakaknya di sisi panggung.

“Kak Ardev punya bekas luka di sini.” Dia menunjuk pelipis kirinya sendiri. “Yang panjang. Yang putih.”

Aula itu berhenti tertawa.

“Waktu aku kecil aku nanya itu kenapa,” katanya. “Terus Kak Ardev bilang jatuh dari sepeda.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Terus bulan kemarin aku denger Bang Evan cerita ke Kak Anita.” Kayla memegang mikrofon dengan dua tangan. “Dan itu bukan jatuh dari sepeda.”

Dan aku menoleh ke arah Ardev.

Dan wajahnya —

“Kak Ardev bohong ke aku sembilan tahun,” kata Kayla.

Suaranya mulai bergetar.

“Dan aku nggak marah,” katanya. “Aku cuma mau semua orang di sini tau bahwa kakak aku itu bohongnya cuma soal itu doang.”

Dia menarik napas, dan suaranya naik, dan dia mengucapkan kalimat terakhirnya dengan nada anak sepuluh tahun yang sedang sangat marah kepada seluruh dunia:

“Kakak aku bohong biar aku nggak sedih. Terus kalian semua nggak ada yang tau namanya selama tiga tahun.”


Aku tidak akan menuliskan sisa upacara itu.

Bukan karena tidak ingat. Karena tidak ada sisanya.

Kepala sekolah menutup acara. Orang-orang berdiri. Ada yang menangis, dan yang menangis paling keras adalah anak-anak kelas sepuluh yang bahkan tidak kenal siapa pun di panggung itu.

Dan Ardev Narasoma turun dari panggung dan berjalan ke kursi tamu baris kedua dan berjongkok di depan kursi roda ibunya.

Aku tidak mendengar apa yang mereka katakan.

Tidak ada yang mendengar. Mereka bicara selama mungkin dua menit dan tidak ada satu pun dari kami yang mendekat.

Yang kulihat cuma ini: bahwa di suatu titik, ibunya mengangkat tangan dan menyentuh pelipis kiri anaknya.

Dan bahwa Ardev tidak menghindar.


Ada satu hal lagi dari pagi itu.

Waktu aula sudah setengah kosong, aku melihat Bu Ratna berdiri di dekat pintu keluar, sedang bicara dengan seseorang.

Ardev.

Aku tidak mendekat. Aku berdiri di samping panggung dan menonton dari jarak lima belas meter, dan aku tidak mendengar satu kata pun.

Yang kulihat cuma ini:

Bahwa Ardev membungkuk sedikit — cara anak Indonesia menyalami guru, otomatis, tidak dipikirkan.

Bahwa Bu Ratna tidak melepaskan tangannya setelah salaman selesai.

Bahwa beliau memegang tangan itu dengan kedua tangannya dan berbicara selama mungkin satu menit, dan bahwa Ardev berdiri di sana dengan kepala menunduk sepanjang satu menit itu.

Dan bahwa waktu beliau akhirnya melepaskan, dia mengangkat tangannya dan menyeka wajahnya dengan lengan seragam.

Anita menemukanku sepuluh menit kemudian.

“Kamu liat?”

“Iya.”

“Aku tanya beliau tadi,” katanya. “Beliau bilang apa.”

“Terus?”

Dan Anita Wijayakusuma menatap pintu keluar aula yang sudah kosong dan berkata:

“Beliau bilang, ‘Saya bilang ke dia, Bu Ratna tunggu tiga tahun buat liat kamu naik panggung, dan hari ini Ibu udah nggak punya utang lagi sama kamu.’”


Aku menemukannya di koridor lantai dua dua puluh menit kemudian.

Sendirian, di dekat jendela, di tempat yang sama.

“Dev.”

Dia menoleh.

Dan sebelum aku sempat mengatakan apa pun, dia berkata:

“Ay, saya mau ngomong.”

“Iya?”

“Bukan sekarang.” Dia menggeleng. “Nanti. Tapi saya mau bilang duluan bahwa saya bakal ngomong.”

Dan aku hampir tertawa.

“Kenapa?” katanya.

“Nggak apa-apa.”

“Ay.”

“Kamu ngasih pemberitahuan sebelum ngomong.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan Ardev Narasoma berkata:

“Karena kalau saya nggak bilang duluan, saya bakal batal.”


Aku menciumnya di koridor lantai dua.

Bukan di aula. Aku tahu orang menceritakannya begitu — bahwa itu terjadi di depan semua orang, di depan panggung, di bawah tepuk tangan.

Itu tidak benar.

Yang benar adalah bahwa itu terjadi di koridor lantai dua, di dekat jendela, dengan enam atau tujuh anak kelas sepuluh yang lewat dan langsung berbalik arah, dan bahwa aku yang memulainya seperti biasa.

Dan yang paling penting:

Dia tidak minta maaf sesudahnya.

Tujuh bulan, dan itu pertama kalinya.