Chapter Two
Hantu Sekretariat
POV: Ayana
Layar itu menyala biru.
Aku berdiri di tengah aula dengan map di tangan dan tidak bergerak selama mungkin lima detik, dan dalam lima detik itu aku sempat memikirkan tiga hal berturut-turut: bahwa aku salah lihat, bahwa mungkin ada yang membawa proyektor cadangan, dan bahwa keduanya mustahil karena proyektor cadangan sekolah ini sudah dipinjam SMP di sebelah sejak Februari dan tidak pernah kembali.
“Ini kan rusak,” kataku pelan. “Dua minggu.”
“Apanya?” Keisha muncul di belakangku sambil mengunyah sesuatu yang seharusnya tidak boleh dibawa masuk aula.
“Proyektornya.”
“Ya nyala tuh.”
“Iya. Itu masalahnya.”
Keisha menoleh ke layar, lalu ke arahku, lalu ke layar lagi, dengan ekspresi orang yang sedang menunggu lelucon yang tidak kunjung datang. “Ay. Kamu marah gara-gara barangnya benerin sendiri?”
“Barang nggak benerin sendiri.”
“Ya kan bisa aja—”
“Nggak bisa.”
Anita masuk terakhir, membawa dua kardus konsumsi yang seharusnya diangkat dua orang, dan meletakkannya di lantai tanpa mengeluh sedikit pun. Dia melihat layar, melihat mukaku, lalu meletakkan tangannya di pinggang.
“Yang ketiga,” katanya.
“Yang keempat,” aku membetulkan.
“Bukan. Yang ketiga semester ini.”
“Yang keempat kalau kamu hitung sound system waktu lomba paduan suara.”
Anita diam sebentar. “Aku lupa yang itu.”
“Aku nggak.”
Aku berjalan ke depan, ke bawah proyektor, dan mendongak. Casing-nya terpasang rapi. Baut-bautnya kencang. Tidak ada satu pun tanda bahwa ada yang membongkarnya — kecuali satu hal kecil: debu di sekitar kap lampu sudah hilang, sementara debu di rangka penyangga di sebelahnya masih menumpuk tebal.
Seseorang membersihkan lensanya. Tangan manusia. Hari ini.
Aku menarik kursi, naik ke atasnya, dan mendekatkan wajah ke arah proyektor sampai aku bisa mencium bau logam panas.
“AY.”
“Sebentar.”
“Kamu naik kursi pake rok.”
“Aula kosong, Kei.”
“Nggak sopan sama kursinya.”
Aku tidak menggubris. Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat dua hal. Pertama, ada goresan halus di kepala baut — jenis goresan yang muncul kalau obeng yang dipakai sedikit lebih kecil dari ukuran seharusnya, dipakai oleh orang yang tahu dia sedang memakai alat yang salah dan tetap melakukannya dengan hati-hati.
Kedua, di bagian bawah kap, ada satu titik kecil bekas usapan yang tidak rata. Seperti kain. Bukan tisu. Tisu meninggalkan serat.
Aku turun dari kursi, dan waktu kakiku menyentuh lantai, aku menyadari hal ketiga.
Kursi ini.
Aku menoleh ke belakang, ke seluruh barisan kursi yang sudah kami tata kemarin sore untuk rapat besok — enam baris, sepuluh kursi per baris, jarak antarbaris tujuh puluh sentimeter karena Anita mengukurnya dengan meteran dan aku mengejeknya habis-habisan waktu itu.
Semuanya masih di tempatnya. Semuanya.
Termasuk kursi yang barusan kunaiki, yang tadi kutarik dari baris ketiga, dan yang kalau aku tidak menariknya tadi, akan berdiri persis di garis yang sama dengan sembilan kursi lainnya.
Orang yang naik ke sini pasti memindahkan meja. Pasti menggeser kursi. Tidak ada cara lain menjangkau langit-langit di ruangan ini.
Dan dia mengembalikan semuanya.
“Ay,” kata Keisha, “kamu bikin muka serem.”
“Aku nggak bikin muka apa-apa.”
“Kamu bikin muka yang biasanya bikin anak kelas sepuluh nangis.”
Aku menurunkan pandanganku dan menarik napas.
Masalahnya, Keisha tidak salah. Dan masalahnya lagi, aku memang sedang marah — dan aku tahu itu tidak masuk akal. Orang normal akan bersyukur. Orang normal akan bilang ya bagus dong, lalu pulang, lalu tidur nyenyak.
Aku tidak bisa.
Aku punya buku catatan kecil yang tidak pernah kutunjukkan ke siapa pun kecuali Anita, dan Anita pun cuma pernah melihat satu halaman.
Sampulnya abu-abu. Isinya bukan jadwal, bukan tugas, bukan daftar belanja konsumsi. Isinya daftar.
12 Agustus — sound system aula mati H-1 lomba. Pagi hari nyala. Tidak ada laporan teknisi. Tidak ada surat permohonan.
3 September — proposal Bakti Sosial ditolak Bu Wulan. Direvisi. Diterima hari yang sama. Aku tidak merevisinya. Anita tidak. Sekretaris tidak.
19 September — kotak P3K sekretariat terisi ulang. Anggarannya belum cair.
7 Oktober — jaringan lab komputer down saat try out. Kembali normal 11 menit kemudian.
Hari ini — proyektor aula.
Lima. Dan itu baru yang sempat kucatat sejak aku jadi wakil ketua. Anita bilang kalau aku mundur sampai kelas sebelas, jumlahnya bisa dua kali lipat.
Aku menutup buku itu dan memasukkannya kembali ke tas.
“Kamu tuh sebenernya nyari apa, sih?” Anita duduk di kursi baris pertama, meluruskan kaki. “Anggap aja ada anak IPA yang hobi ngoprek. Kelar.”
“Kalau dia hobi ngoprek, dia bakal ngaku.”
“Belum tentu.”
“Nit. Anak-anak sini kalau ngambil kursi dari kelas sebelah aja minta dicatet namanya di notulen.” Aku menghadap ke arahnya. “Ada orang yang tiga tahun ngerjain kerjaan kita, dan dia nggak pernah minta apa-apa. Nggak sertifikat, nggak poin keaktifan, nggak ucapan terima kasih di grup. Nggak ada.”
“Terus kenapa?”
“Ya itu masalahnya.”
“Bukan, aku serius nanya.” Anita menatapku dengan tatapan datar khasnya, yang orang lain kira dingin tapi sebenarnya cuma cara dia berpikir. “Kenapa kamu yang marah?”
Aku tidak langsung menjawab.
Karena jawabannya memalukan, dan karena aku sudah tahu jawabannya sejak lama, dan karena mengucapkannya keras-keras akan membuatnya terdengar jauh lebih cengeng daripada yang kurasakan.
Tapi ini Anita. Jadi aku menjawab.
“Karena aku tahu rasanya kerja terus nggak dianggep.”
Keisha berhenti mengunyah.
“Bedanya,” lanjutku, “kalau aku, orang nggak bilang aku nggak kerja. Orang bilang aku nggak perlu kerja.” Aku mengangkat bahu. “Wakil ketua OSIS. Nilai bagus. Semua orang tahu kenapa aku dapet posisi ini menurut mereka. Bukan karena aku begadang tiga malam bikin proposal. Tapi karena—”
Aku berhenti.
“Karena muka kamu,” kata Anita, tanpa basa-basi sedikit pun.
“Iya.”
“Ya emang muka kamu.”
“Nit.”
“Aku bukan lagi ngehina. Aku lagi setuju.” Dia bangkit dan menepuk kardus dengan ujung sepatunya. “Aku juga kena. Bedanya aku nggak peduli, kamu peduli. Itu aja.”
Keisha, yang sejak tadi diam, tiba-tiba angkat tangan seperti sedang di kelas. “Aku juga dong.”
“Kamu apa?”
“Aku juga cantik.”
“Iya, Kei.”
“Kok kalian nggak ada yang bilang aku juga korban.”
“Kamu korban, Kei.”
“Makasih.”
Aku tertawa, dan ketegangan di dadaku turun sedikit, dan untuk sesaat aku hampir bisa melupakan layar biru yang masih menyala di depan sana.
Hampir.
Sekretariat OSIS jam empat sore adalah ruangan paling tidak romantis di muka bumi.
Kipas anginnya cuma satu dan bunyinya seperti orang berdehem terus-menerus. Ada tumpukan spanduk bekas tiga tahun terakhir di sudut yang tidak ada yang berani buang karena takut suatu hari dibutuhkan. Dan ada meja panjang di tengah, yang sore ini penuh dengan berkas rapat besok, dua laptop, dan satu kotak nasi yang sudah dingin sejak jam dua.
Aku duduk di ujung meja dan mulai membaca ulang materi dari halaman pertama. Untuk yang ketiga kalinya hari ini.
“Ay, itu udah kamu cek dua kali,” kata Bimo, sekretaris, tanpa mengangkat kepala dari laptopnya.
“Tiga.”
“Ya kan.”
“Yayasan bakal nanya soal alokasi dana ekskul di halaman sebelas.”
“Kok tau?”
“Karena tahun lalu mereka nanya hal yang sama dan kita nggak bisa jawab.”
Bimo mengangkat kepalanya. “Kamu inget?”
“Aku nyatet.”
“Kamu nyatet rapat tahun lalu padahal kamu belum jadi pengurus?”
Aku tidak menjawab, dan Bimo kembali ke laptopnya sambil menggumam sesuatu yang terdengar seperti serem.
Aku sudah biasa. Anita bilang aku harus berhenti menganggap setiap kalimat orang sebagai penilaian, dan Anita benar, dan aku tetap tidak bisa.
Jam lima kurang seperempat, dua anak kelas sepuluh datang mengantar berkas presensi. Yang satu menyerahkannya ke Anita. Yang satunya berdiri di ambang pintu dan tidak masuk-masuk, dan waktu Keisha melambai, dia malah mundur setengah langkah.
Setelah mereka pergi, Keisha menghela napas panjang. “Kenapa sih anak-anak baru tuh selalu kayak liat setan.”
“Bukan setan,” kata Anita. “Dewi.”
“Apa?”
“Julukan kita. Kamu belum denger?”
Keisha melotot. “SERIUS?”
“Three Goddess.” Anita mengucapkannya dengan nada paling datar yang bisa dicapai manusia, seperti sedang membacakan daftar inventaris. “Angkatan bawah yang mulai. Katanya sekolah ini punya tiga dewi dan satu di antaranya nggak boleh diajak ngomong.”
“Yang mana yang nggak boleh diajak ngomong?”
“Kamu tebak.”
“KOK AKU?”
“Bukan kamu, Kei.”
“Oh.” Keisha langsung tenang. Lalu tidak tenang lagi. “Tunggu. Berarti aku yang boleh diajak ngomong? Berarti aku yang paling nggak seram? Berarti aku yang paling nggak berwibawa?”
“Kei.”
“Aku pengen jadi yang serem.”
“Kamu pernah kepeleset di upacara.”
“ITU LANTAINYA.”
Aku tertawa, dan aku sadar aku tertawa terlalu keras untuk lelucon sekecil itu, dan aku tahu kenapa.
Karena julukan itu — Three Goddess — adalah persis alasan kenapa buku abu-abu di tasku ada.
Orang menyebut kami dewi, dan yang mereka maksud bukan pujian. Yang mereka maksud adalah: kalian ada di tempat yang tinggi, dan kami tidak akan pernah tahu apa yang kalian kerjakan di sana, dan kami juga tidak peduli. Dewi tidak bekerja. Dewi cuma ada.
Aku menutup map dan memasukkannya ke tas.
Kalau begitu, di sekolah ini ada satu orang yang bekerja tanpa pernah ada.
Kebalikan sempurna dari kami.
Kami keluar sekretariat jam lima lewat sepuluh, dan koridor sudah kosong seperti biasanya di jam ini — cuma tinggal anak-anak ekskul, penjaga kantin yang membereskan meja, dan bunyi bola basket dari lapangan belakang yang memantul dalam pola yang terlalu teratur untuk pemain biasa.
Anita melirik ke arah lapangan sepersekian detik terlalu lama.
Aku pura-pura tidak melihat. Untuk sekarang.
“Besok kamu yang buka rapat,” katanya, mengalihkan pembicaraan dengan tingkat kehalusan nol.
“Kamu ketuanya.”
“Kamu yang bikin materinya.”
“Kamu ketuanya, Nit.”
“Kamu yang lebih enak dilihat pas ngomong di depan yayasan.”
“NIT.”
Keisha tertawa sampai tersedak.
Dan di tengah itu, seseorang lewat.
Aku hampir tidak menyadarinya. Sungguh. Dia lewat di sisi kanan koridor, jalur yang paling dekat dinding, dengan langkah yang tidak cepat dan tidak lambat, tas ransel yang kelihatan berat sebelah, dan kepala yang tidak menoleh ke arah kami sedikit pun.
Yang membuatku menoleh justru bunyinya. Atau lebih tepatnya, ketiadaan bunyinya. Semua orang di sekolah ini, kalau lewat depan kami bertiga, melakukan sesuatu. Melirik. Menyenggol temannya. Menurunkan volume suara. Sengaja tertawa lebih keras. Berjalan lebih tegak.
Anak ini tidak melakukan apa-apa.
Dia cuma lewat, seperti kami adalah dinding, dan itu — entah kenapa — membuatku menoleh.
Aku sempat melihat wajahnya dari samping selama mungkin dua detik.
Rambutnya berantakan dengan cara yang jelas bukan hasil ditata. Ujung kemeja seragamnya keluar sedikit di sisi kiri, dan ada noda gelap di ujungnya, seperti bekas mengelap sesuatu yang berminyak. Dan di pelipis kirinya, ada garis putih tipis sepanjang tiga atau empat sentimeter, memanjang ke arah alis. Bekas luka. Lama. Sudah memutih sempurna, jenis yang tidak akan hilang seumur hidup.
Dia tidak menoleh. Dia belok di ujung koridor dan hilang.
“Ay?”
“Hm?”
“Kamu berhenti jalan.”
“Oh.” Aku melangkah lagi. “Nggak apa-apa.”
Keisha melongok ke arah koridor yang sudah kosong. “Kenapa? Ada apa di sana?”
“Nggak ada.”
Anita tidak bertanya apa-apa. Tapi dia menoleh sekali, ke arah yang sama, dan tidak berkomentar, dan itu jauh lebih mengganggu daripada kalau dia bertanya.
Malamnya aku membuka buku abu-abu itu lagi di kamar, dan menambahkan satu baris di bawah entri hari ini.
Lalu aku menatap baris itu lama sekali.
Siapa pun dia, dia ada di sekolah ini sore ini, antara jam 3 dan jam 4.
Bukan hantu. Bukan kebetulan. Seseorang berdiri di aula itu, naik ke meja, membuka casing, membersihkan lensa dengan sesuatu — kain, tisu, apa pun — lalu memasang semuanya kembali, merapikan kursi yang dia geser, mematikan lampu, dan pergi.
Merapikan kursinya.
Itu bagian yang paling membuatku tidak bisa tidur. Bukan proyektornya. Kursinya. Orang yang cuma ingin menolong akan memperbaiki proyektor dan pulang. Orang yang tidak ingin ketahuan akan merapikan kursi.
Aku menutup buku itu dan berbaring menatap langit-langit kamar yang terlalu tinggi dan terlalu kosong.
Rumah ini selalu sepi jam sepuluh malam. Papa masih di Surabaya sampai Kamis. Mama ada acara. Mbak Yati sudah pulang ke kamar belakang. Kalau aku berteriak sekarang, mungkin butuh dua puluh detik sebelum ada yang datang, dan itu pun cuma karena sopan santun.
Aku memikirkan sesuatu yang tidak masuk akal, dan karena tidak ada yang mendengar, aku membiarkan diriku memikirkannya sampai selesai.
Aku memikirkan bahwa selama tiga tahun, ada orang di sekolah itu yang setiap kali kami kesulitan, muncul, membereskan, lalu pergi sebelum ada yang sempat berterima kasih.
Dan aku memikirkan bahwa aku belum pernah punya orang seperti itu.
Bukan yang memuji. Yang memuji banyak. Yang memuji bahkan terlalu banyak, sampai pujian mereka tidak lagi berarti apa-apa karena aku tahu mereka memuji sesuatu yang bukan hasil kerjaku.
Yang membereskan. Diam-diam. Tanpa minta apa-apa.
Aku membalikkan badan dan memaksa mata tertutup.
Besok rapat gabungan. Besok aku harus berdiri di depan pihak yayasan dan menjelaskan program semester dengan proyektor yang — entah bagaimana — akan menyala.
Dan entah kenapa, hal terakhir yang muncul di kepalaku sebelum tidur bukan materi rapat, bukan Anita, bukan Papa yang tidak pulang.
Tapi garis putih tipis di pelipis kiri seseorang yang bahkan tidak kutahu namanya.
- 1 Bayangan
- 2 Hantu Sekretariat reading
- 3 Kantin
- 4 Tiga Ketukan
- 5 Dua Orang Bodoh
- 6 Empat Puluh Menit
- 7 Daftar
- 8 Tiga Kotak
- 9 Bencana Alam
- 10 Jam Enam Empat Belas
- 11 Sedikit Kata
- 12 Udah, Saya Aja
- 13 Nomor Tiga
- 14 Tiga Kali
- 15 Peringatan
- 16 Dev
- 17 Dapur
- 18 Dua Jam
- 19 Satu-satunya
- 20 Tiga Kali Empat
- 21 Satu Kali Serius
- 22 Di Depan Semua Orang
- 23 Empat Belas Hari
- 24 Rak Nomor Empat
- 25 Kue yang Gagal
- 26 Atap
- 27 Kembang Api Murah
- 28 Om dan Kakak
- 29 Modal Nol
- 30 Fakta Pertama
- 31 Gerbang
- 32 Kok Aku yang Lebih Tahu?
- 33 Kalau Aku Bilang
- 34 Dua Tahun
- 35 Sembilan Hari
- 36 Dua Ketukan
- 37 Satu Arah
- 38 Dokumen
- 39 Galon
- 40 Tolong
- 41 Arti Nama
- 42 Foto