← Nomor Tiga

Chapter Thirty

Fakta Pertama

POV: Ayana

Yang berubah di bulan Februari tidak bisa kutunjuk satu per satu, dan itulah masalahnya.

Kalau ada satu hal yang salah, aku bisa menanganinya. Aku bagus dalam menangani hal yang salah; itu pekerjaanku selama dua tahun.

Yang terjadi bulan itu bukan satu hal.

Yang terjadi adalah pengurangan.


Pengurangan pertama: jam empat sampai jam tujuh.

Itu sudah lama jadi jam mati — jam Rey, jam angkutan, jam rumah. Aku sudah menerimanya sejak bulan pertama dan aku tidak pernah mengeluh sekali pun.

Bulan Februari, jam mati itu berubah jadi jam empat sampai jam sepuluh.

Aku menyadarinya di minggu kedua, waktu aku mengirim pesan jam delapan malam tentang sesuatu yang tidak penting dan mendapat balasan jam sepuluh lewat.

ARDEV: Maaf, baru liat.

Nggak apa-apa.

ARDEV: Rey susah tidur.

Aku percaya.

Minggu ketiga, hal yang sama. Rey susah tidur lagi.

Minggu keempat, aku bertanya ke Kayla lewat pesan — bukan menyelidiki; aku cuma mengirim stiker dan bertanya kabar, karena Kayla memang mengirimiku gambar dua atau tiga kali seminggu sejak ulang tahunnya.

KAYLA: Rey tidur jam 8 kok Kak KAYLA: dia gampang tidur KAYLA: yang susah tidur Kak Ardev

Aku menatap layar itu selama waktu yang cukup lama.

Lalu aku mengetik oh iya ya, kakak salah inget, dan mengganti topik ke gambar kucing yang dia kirim, dan tidak menyinggungnya lagi.

Pengurangan kedua: hari Minggu.

Kami sudah punya pola sejak Desember. Minggu siang, rumah petak, tidak ada rencana khusus. Kadang lima orang, kadang cuma aku.

Minggu pertama Februari: ada.

Minggu kedua: ARDEV: Minggu ini saya ada urusan. Maaf ya.

Minggu ketiga: sama.

Minggu keempat: ARDEV: Sabtu Minggu ini saya kerja dua-duanya.

Dan yang membuatku duduk lama di kamar bukan pesannya.

Tapi bahwa dia menulis “Sabtu Minggu” seolah-olah itu satu kesatuan, seolah-olah itu memang sudah begitu dari dulu, seolah-olah aku tidak akan menyadari bahwa hari Minggu tidak pernah jadi hari kerja selama lima bulan terakhir.

Pengurangan ketiga, dan ini yang paling sulit kujelaskan.

Dia tetap ada.

Itu bagian yang membuatku merasa gila. Dia tetap membalas pesan. Dia tetap datang ke aula kalau ada yang harus diperbaiki. Dia tetap bertanya “udah makan?” hampir setiap malam.

Dia cuma berhenti bercerita.

Tidak ada lagi Pak Tarno. Tidak ada lagi teori kucing, tidak ada lagi harga galon di hari Senin dan Rabu, tidak ada lagi Rey yang memutuskan bahwa dia ingin dipanggil Rey Pak Polisi.

Kalau kutanya kabar, jawabannya “baik.”

Kalau kutanya kabar ibunya, jawabannya “baik.”

Kalau kutanya apa yang dia kerjakan hari itu, jawabannya “biasa.”

Dan aku sudah lima bulan mengenal laki-laki ini, dan aku tahu persis bahwa kata “biasa” dari mulutnya bukan jawaban.

Itu pintu yang ditutup dari dalam.


Aku bicara ke Anita hari Kamis.

Bukan mengeluh. Aku ingin sangat jelas soal itu, karena Anita akan menganggapnya mengeluh dan aku sudah menyiapkan bantahannya.

“Nit.”

“Hm.”

“Aku mau nanya sesuatu dan aku mau kamu jangan langsung ngasih pendapat.”

Anita menutup laptopnya. Itu tandanya dia sedang serius.

“Oke.”

“Menurut kamu, kalau seseorang berhenti cerita, itu artinya apa?”

“Artinya ada yang nggak mau diceritain.”

“Iya, tapi kenapa?”

“Ada dua kemungkinan.” Anita mengangkat dua jari. “Satu, dia nggak percaya sama kamu.”

“Dua?”

“Dua, dia percaya sama kamu tapi dia mikir ceritanya bakal bikin kamu repot.”

Aku menyandarkan punggungku ke kursi.

“Yang kedua,” kataku.

“Iya. Yang kedua.”

“Kok kamu langsung tau?”

“Karena kalau yang pertama, kamu nggak akan nanya ke aku.” Anita membuka laptopnya lagi. “Kamu bakal langsung marah.”

Dan aku duduk di sekretariat itu dan menyadari bahwa dia benar, dan bahwa aku tidak marah sama sekali, dan bahwa itu justru yang membuatku takut.


Rasendriya Wibisono tidak melakukan apa pun bulan itu.

Aku ingin menuliskan ini dengan sangat hati-hati, karena versi yang lebih gampang untuk diceritakan adalah versi di mana dia mendekat, dan versi itu bohong.

Yang dia lakukan adalah ini: dia ada.

Dia ada di ruang arsip hari Selasa waktu aku mencari berkas tiga tahun lalu, dan dia tahu letaknya, dan dia menunjukkannya dalam empat puluh detik setelah aku mencari dua puluh menit.

Dia ada di rapat koordinasi yayasan hari Jumat — bukan sebagai peserta; sebagai pencatat, karena ayahnya memintanya. Dan waktu bendahara yayasan menanyakan sesuatu yang tidak bisa kujawab, dia menjawabnya untukku tanpa membuatku kelihatan bodoh.

Dia ada di kantin hari Rabu, duduk empat meja dari kami, tidak menoleh sekali pun.

Dan dia tidak pernah — sekali pun, seluruh bulan itu — mengirimiku pesan lebih dulu.

“Kei.”

“Iya?”

“Menurut kamu Kak Rasen deketin aku nggak?”

Dan Keisha, yang sedang makan, berhenti mengunyah dan berpikir dengan sungguh-sungguh selama beberapa detik.

“Enggak,” katanya.

“Beneran?”

“Iya.” Dia melanjutkan makan. “Kalau orang deketin, aku tau. Aku dideketin terus, Ay. Tiap minggu.”

“Terus dia ngapain?”

Keisha mengangkat bahu.

“Dia nungguin.”

Aku menoleh dengan cepat. “Nungguin apa?”

“Nggak tau.” Dan dia menusuk bakso dengan garpunya. “Tapi orang yang nungguin sama orang yang deketin itu beda. Yang deketin bikin kamu ngerasa ada yang minta sesuatu. Yang nungguin nggak bikin kamu ngerasa apa-apa.”

Dan itu — dari Keisha Amandira, yang tidak pernah serius kecuali sekali — adalah analisis paling akurat yang kudengar sepanjang bulan itu.


Yang menghancurkan minggu terakhir Februari terjadi di ruang guru, dan itu bukan salah siapa-siapa.

Aku mengantar berkas ke Bu Wulan jam dua siang. Dan di meja sebelahnya, Pak Anwar — wali kelas dua belas IPA tiga — sedang berbicara di telepon.

Aku tidak menguping. Aku menunggu Bu Wulan menandatangani, dan ruangan itu kecil, dan aku punya telinga.

“—iya, Bu. Iya. Saya sudah lihat suratnya.”

Jeda.

“Nggak, Bu, saya nggak bisa kasih rekomendasi buat pengurangan jam kalau alasannya kerja. Sekolah nggak punya aturan itu.”

Jeda.

“Saya ngerti. Tapi kalau saya kasih ke satu anak, saya harus kasih ke semua.”

Jeda panjang.

“Bu Sriyati, saya bukan nggak mau bantu—”

Dan aku berhenti bernapas.

Bu Sriyati.

Nama itu ada di kolom data induk siswa, di baris yang kubaca lima bulan lalu di ruang tata usaha dengan alasan yang kukarang tentang rekapitulasi ekskul.

Nama Ibu: Sriyati.

“—iya. Iya, Bu. Saya sampaikan ke kesiswaan. Tapi saya nggak bisa janji.”

Telepon ditutup.

Dan Pak Anwar menghela napas panjang dan menggosok wajahnya dengan kedua tangan, dan tidak menyadari bahwa ada anak kelas dua belas berdiri tiga meter darinya memegang map yang sudah ditandatangani sejak dua puluh detik lalu.


Aku tidak bertanya kepadanya.

Aku ingin menuliskan alasannya dengan jujur, karena aku sudah memikirkannya ratusan kali sesudahnya dan aku masih belum tahu apakah aku benar.

Alasan pertama: karena aku tidak seharusnya tahu. Aku mendengarnya secara tidak sengaja, di ruang guru, dari percakapan telepon yang bukan urusanku.

Alasan kedua: karena kalau aku bertanya, dia akan tahu bahwa aku mendengar, dan dia akan tahu bahwa aku tahu, dan seluruh sisa hubungan ini akan dibangun di atas fakta bahwa aku mendapatkannya dengan cara yang salah.

Alasan ketiga, dan ini yang sebenarnya:

Karena aku takut jawabannya.

Karena selama aku tidak bertanya, masih ada kemungkinan bahwa ini semua tidak sebesar yang kutakutkan. Masih ada kemungkinan bahwa “kerja” itu artinya tambahan shift biasa. Masih ada kemungkinan bahwa dia akan bercerita sendiri minggu depan, dengan sukarela, karena dia memang akhirnya bercerita — seperti di atap, bulan Desember.

Aku menunggu.

Aku menunggu selama tiga minggu.

Dan setiap hari selama tiga minggu itu aku mengirim pesan yang sama, dengan berbagai variasi, semuanya berputar di sekitar satu pertanyaan yang tidak pernah kutanyakan langsung.

Kamu gimana?

Baik.

Ibu kamu gimana?

Baik.

Kamu capek nggak?

Nggak apa-apa.


Anita dan Keisha tahu ada yang salah di minggu kedua Maret.

Bukan karena aku bilang. Karena Keisha menghitung berapa kali aku mengecek ponsel dalam satu jam makan siang dan mengumumkannya keras-keras.

“Dua puluh dua.”

“Kei.”

“Aku itung.”

“Kei, jangan—”

“Ay.” Anita meletakkan sendoknya. “Cerita.”

Dan aku bercerita.

Semuanya. Termasuk ruang guru. Termasuk Kayla. Termasuk “Sabtu Minggu” yang ditulis seolah-olah memang sudah begitu dari dulu.

Mereka mendengarkan sampai selesai.

Dan waktu aku selesai, aku menunggu — aku sungguh-sungguh menunggu — salah satu dari mereka mengatakan apa yang harus kulakukan.

Anita tidak mengatakannya.

“Nit.”

“Hm.”

“Kamu nggak mau bilang apa-apa?”

Dan Anita Wijayakusuma menatapku dari seberang meja kantin, dan berkata:

“Aku nggak akan bilang kamu harus gimana.”

“Kenapa?”

“Karena aku nggak tau.” Dia mengangkat bahu, dan gerakan itu jujur sekali sampai menyakitkan. “Ay, aku bukan orang yang lebih pinter dari kamu soal ini. Aku cuma temen kamu.”

“Nit—”

“Aku cuma nggak mau kamu sendirian pas mutusin,” katanya.

Dan Keisha, di sebelahku, memegang tanganku di bawah meja dan tidak berkata apa-apa.


Ada satu percakapan lagi minggu itu yang harus kutuliskan, karena kalau tidak, aku sedang tidak jujur tentang Rasendriya Wibisono.

Hari Kamis, ruang arsip, jam empat sore. Aku mencari berkas kerja sama sponsor tiga tahun lalu untuk pembanding.

Dia ada di sana, membereskan boks yang lain.

“Yang kamu cari tahun berapa?”

“Dua tahun lalu, Kak.”

“Boks E, rak dua.”

Aku mengambilnya. Ketemu dalam empat puluh detik.

“Makasih, Kak.”

“Sama-sama.”

Dan aku sudah setengah keluar waktu dia bicara lagi.

“Ayana.”

“Iya, Kak?”

Dia sedang menutup boks. Tidak menoleh.

“Kamu kelihatan capek.”

Aku berhenti.

“Nggak apa-apa, Kak.”

“Aku nggak nanya.”

Dan itu — kalimat itu, tiga kata itu — membuatku berdiri diam di ambang pintu ruang arsip selama waktu yang cukup lama.

Karena itu persis kalimat yang kupakai ke Ardev di ruang OSIS bulan Oktober, waktu aku bilang aku ikut ke aula dan dia bilang tidak usah.

Aku tau kamu bisa. Aku nggak nanya kamu bisa apa nggak.

Rasen menutup boks terakhir dan mengangkatnya.

“Aku nggak akan nanya kenapa,” katanya. “Itu bukan urusanku.”

“Kak—”

“Tapi kalau kamu butuh orang yang ngangkat boks,” dia menepuk boks di tangannya, “aku di sini tiap Kamis.”

Dan dia keluar.

Dan aku berdiri di ruang arsip yang berbau kertas lama dan merasa sesuatu yang membuatku malu, dan yang butuh waktu tiga hari sebelum aku berani menamainya.

Yang kurasakan adalah lega.

Karena selama empat puluh detik itu, ada orang yang melihat bahwa aku capek dan mengatakannya keras-keras.

Dan aku tidak perlu meyakinkan siapa pun. Dan aku tidak perlu menunggu enam minggu. Dan aku tidak perlu mengirim pesan setiap hari untuk membuka pintu yang selalu ditutup lagi dengan sopan.

Aku pulang hari itu dan merasa jijik terhadap diriku sendiri sepanjang perjalanan.


Aku memutuskan hari Jumat.

Aku memutuskan untuk bertanya. Langsung, tanpa memutar, tanpa menunggu dia bercerita sendiri.

Aku menyusun kalimatnya di angkutan, dan aku menghapus tiga versi, dan yang tersisa cuma satu:

Dev, aku mau ngomong. Berdua. Kapan kamu bisa.

Aku mengirimnya jam lima sore.

Dan balasannya masuk jam sembilan malam.

ARDEV: Besok bisa? Sore.

Bisa.

ARDEV: Jam 5 di gerbang sekolah.

ARDEV: Ay.

Iya?

Dan tiga titik muncul di layar, dan muncul lama sekali, dan aku duduk di kamarku menatap layar itu selama hampir dua menit.

Lalu:

ARDEV: Nggak jadi.

ARDEV: Besok aja.


Aku tidak tidur malam itu.

Aku duduk di kamar dan membuka laci paling atas dan mengeluarkan buku cokelat empat puluh halaman itu, dan membacanya dari awal untuk yang kesekian kali.

Empat puluh tiga entri.

3 Agustus. Jam 17.40.

11 Agustus. Jam 07.15.

8 Oktober. Saya nunggu di ujung koridor sampai kalian keluar.

Dan aku berhenti di entri terakhir, yang tanggalnya empat Februari, dan aku menyadari sesuatu yang membuatku duduk tegak.

Tidak ada entri setelah bulan Februari.

Tentu saja tidak ada — buku itu diberikan tanggal enam Februari; itu hadiah ulang tahun, bukan buku harian yang masih berjalan.

Tapi aku tetap membalik halaman berikutnya.

Kosong.

Dan halaman setelahnya. Dan setelahnya.

Tiga puluh enam halaman kosong.

Aku duduk di kamarku jam satu pagi memandangi tiga puluh enam halaman kosong dan memikirkan hal yang paling tidak masuk akal yang bisa dipikirkan seseorang tentang sebuah buku tulis seribu lima ratus rupiah.

Bahwa dia menyisakan tempat.

Dan bahwa selama tujuh minggu terakhir, tidak ada satu pun hal yang ditulis di sana.

Aku menutup buku itu dan menaruhnya kembali di laci.

Dan aku berbaring dan menatap langit-langit dan menyusun ulang kalimat yang akan kuucapkan besok sore di gerbang sekolah, untuk yang ketujuh belas kali.

Dan aku sudah tahu — aku sudah tahu, dengan cara yang tidak bisa kujelaskan — bahwa besok tidak akan berjalan seperti yang kususun.

Kalau tidak, dia tidak akan mengetik namaku lalu menghapusnya.