← Nomor Tiga

Chapter Thirty One

Gerbang

POV: Ardev

Teleponnya datang tanggal dua belas Januari, jam empat lewat tiga puluh lima sore, waktu ada tujuh orang di ruang tamu rumahku dan seorang anak lima tahun baru saja menghancurkan Evan Bramantyo.

Aku keluar untuk menjawabnya.

Empat menit.

Dan aku masuk lagi, dan aku mencuci gelas yang sudah bersih, dan Ayana menyadarinya dan bertanya dan aku bilang bukan siapa-siapa.

Itu kebohongan pertama.

Aku tidak akan menghitung sisanya, karena kalau kuhitung aku harus mengakui berapa banyak, dan aku belum siap untuk itu bahkan sekarang.


Isi teleponnya begini.

Puskesmas kecamatan. Perempuan, suaranya ramah, terdengar lelah. Menanyakan apakah benar ini keluarga Ibu Sriyati.

Iya.

Menanyakan apakah saya anaknya.

Iya.

Bahwa hasil pemeriksaan sudah keluar dan sebaiknya keluarga datang, dan bahwa ada rujukan yang perlu diurus, dan bahwa sebaiknya jangan ditunda.

Dan aku bertanya rujukan apa.

Dan dia bilang sebaiknya dibicarakan langsung.

Aku berdiri di gang di depan rumahku sendiri dengan ponsel di telinga, dengan tujuh orang tertawa di balik pintu itu, dan aku bertanya satu hal lagi.

“Bu, ibu saya periksa kapan?”

Jeda di seberang. Bunyi kertas.

“Tanggal tujuh belas Desember.”

Tujuh belas Desember.

Dua minggu sebelum tahun baru.

Dua minggu sebelum delapan orang membakar jagung di atap rumah ini sampai jam satu pagi, dan sebelum aku duduk di tepi dak dan memeriksa satu per satu apakah ada hal yang ingin kutukar, dan menemukan bahwa tidak ada.

Dia sudah tahu waktu itu.

Dia duduk di rumah ini malam tahun baru, membereskan meja yang sudah bersih tiga kali, dan bilang “Ibu seneng, Dev. Rumah ini nggak pernah rame.”

Dan dia sudah tahu.


Aku menemaninya ke puskesmas hari Kamis.

Aku tidak akan menuliskan isi percakapan di ruangan itu, karena aku sudah mencoba beberapa kali dan setiap kali aku berhenti di kalimat yang sama.

Yang bisa kutuliskan cuma hal-hal di sekitarnya.

Bahwa ruangannya kecil dan kipas anginnya berdehem, dan bahwa aku berpikir — di tengah semuanya — bahwa bunyi itu persis sama dengan kipas angin di sekretariat OSIS.

Bahwa dokternya laki-laki, umur mungkin empat puluh, dan bahwa dia berbicara dengan sangat pelan dan tidak sekali pun memakai kata yang tidak bisa dipahami.

Bahwa dia menggambar sesuatu di kertas resep untuk menjelaskan, dan bahwa gambarnya jelek, dan bahwa aku menyimpan kertas itu.

Bahwa ada dua kemungkinan tindakan dan yang satu jauh lebih baik daripada yang lain, dan bahwa yang lebih baik itu harus dilakukan di rumah sakit, bukan di sini.

Bahwa Ibu tidak menangis sama sekali di dalam ruangan itu.

Dan bahwa waktu kami keluar dan berjalan ke tempat parkir motor pinjaman, dia berhenti di tengah jalan dan berkata, “Dev, Ibu mau duduk bentar,” dan duduk di kursi tunggu di luar, dan aku duduk di sebelahnya.

Dan dua puluh menit kemudian dia berkata:

“Kamu jangan bilang Kayla.”

“Iya, Bu.”

“Sama Rey.”

“Iya.”

Dan lalu dia bilang hal yang membuatku harus melihat ke arah lain.

“Sama temen-temen kamu.”

“Bu—”

“Ibu serius, Ardev.”

“Kenapa?”

Dan ibuku menatap tembok puskesmas kecamatan yang catnya sudah mengelupas dan berkata:

“Karena anak-anak itu bakal ngasih uang.”


Aku menghitung malam itu.

Aku ingin mencatat berapa lama: empat jam empat puluh menit. Dari jam sebelas malam sampai jam tiga empat puluh pagi, di ruang tamu, dengan kertas dan pulpen dan kalkulator ponsel yang layarnya harus kutepuk setiap dua menit supaya menyala lagi.

Angka-angkanya tidak perlu kutuliskan.

Yang perlu kutuliskan adalah kesimpulannya, dan kesimpulannya ada tiga.

Satu. Kalau aku mengambil pekerjaan kedua — bukan tambahan shift; pekerjaan kedua, malam, lima hari seminggu — dan kalau semuanya berjalan lancar tanpa satu pun hal tak terduga, aku bisa mengumpulkan sekitar empat puluh persen dari yang dibutuhkan dalam empat bulan.

Dua. Empat bulan terlalu lama. Dokter itu tidak memakai kata “segera”, tapi dia memakai kata “jangan ditunda”, dan aku sudah cukup lama membaca cara orang memilih kata untuk tahu bahwa itu hal yang sama diucapkan dengan lebih sopan.

Tiga. Kalau aku berhenti sekolah dan bekerja penuh, angkanya berubah jadi sekitar sepuluh minggu.

Aku menulis angka sepuluh di kertas itu.

Lalu aku duduk menatapnya sampai jam empat pagi.

Dan aku ingin sangat jujur tentang apa yang terjadi di kepalaku pada jam empat pagi itu, karena orang akan mengira aku sedang berkorban dan aku tidak sedang berkorban.

Aku sedang merasa lega.

Karena untuk pertama kalinya sejak telepon itu, ada satu kolom di kertas yang angkanya masuk akal.

Dan karena aku tahu persis bagaimana cara mengerjakan kolom itu, dan tidak ada satu pun bagian dari pekerjaan itu yang membutuhkan aku meminta apa pun kepada siapa pun.


Surat itu kuketik di warnet dekat gudang, hari Sabtu, di antara dua shift.

Kepada Yth. Ketua OSIS SMA—

Dengan hormat, saya yang bertanda tangan di bawah ini, Ardev Narasoma, kelas XII IPA 3, mengajukan pengunduran diri dari Tim Teknis Kegiatan OSIS terhitung sejak—

Aku berhenti di tanggal.

Aku berhenti di tanggal selama sebelas menit, dengan operator warnet melirik dua kali, karena satu-satunya tanggal yang benar adalah tanggal yang membuat semuanya nyata.

Aku mengetik tanggal tiga puluh satu Maret.

Lalu aku mencetaknya, dua lembar, dua ribu rupiah, dan melipatnya jadi tiga dan memasukkannya ke tas.

Dan aku membawanya di tas itu selama sembilan hari tanpa memberikannya kepada siapa pun.


Pekerjaan keduanya bongkar muat di pasar induk, jam sepuluh malam sampai jam dua pagi.

Aku mulai tanggal delapan belas Februari.

Yang perlu diketahui tentang pekerjaan itu ada tiga hal.

Pertama, upahnya lebih baik dari gudang.

Kedua, tidak ada yang bertanya umurmu berapa.

Ketiga, kamu pulang jam setengah tiga pagi dan tidur jam tiga dan bangun jam lima, dan tubuh manusia bisa bertahan dengan itu selama sekitar dua minggu sebelum mulai melakukan hal-hal aneh.

Hal-hal aneh yang kualami, dalam urutan munculnya:

Tangan gemetar waktu menyolder. Itu yang pertama, dan itu yang paling mengganggu, karena itu satu-satunya keahlian yang benar-benar kupunya.

Lalu lupa. Bukan lupa besar — lupa kecil. Lupa apakah aku sudah mengunci pintu. Lupa apakah aku sudah menaruh uang saku Kayla. Lupa di tengah kalimat.

Lalu telinga berdenging kalau berdiri terlalu cepat.

Lalu — dan ini yang paling tidak bisa kutoleransi — aku tertidur di kelas hari Rabu tanggal empat Maret selama entah berapa lama, dan yang membangunkanku adalah Pak Hendra yang berdiri di sebelah mejaku dan tidak marah sama sekali.

Dia cuma bertanya, “Kamu nggak apa-apa?”

Dan aku bilang tidak apa-apa.

Dan dia mengangguk dan melanjutkan mengajar, dan tiga hari kemudian aku tahu dari Bimo bahwa dia menanyakan sesuatu ke Pak Anwar tentang aku.


Yang paling sulit bukan pekerjaannya.

Yang paling sulit adalah pesan.

Karena Ayana mengirim pesan setiap hari. Setiap hari, tanpa gagal, dengan variasi yang berbeda-beda dan pertanyaan yang selalu sama di bawahnya.

Kamu gimana?

Ibu kamu gimana?

Kamu capek nggak?

Dan setiap kali, aku duduk di mana pun aku berada — di angkutan, di ruang tamu jam tiga pagi, di lorong pasar induk dengan tangan yang bau kardus — dan mengetik jawaban yang sama.

Baik.

Baik.

Nggak apa-apa.

Dan setiap kali aku menekan kirim, aku menyadari sesuatu yang tidak enak, dan setiap kali aku mengusirnya sebelum sempat selesai.

Kali ini akan kuselesaikan.

Yang tidak enak adalah ini: setiap kali dia bertanya, dia sedang membuka pintu.

Dia tidak menyelidiki. Dia tidak menuntut. Dia cuma membuka pintu, setiap hari, selama enam minggu, dan menunggu di baliknya.

Dan setiap kali aku menjawab “baik”, aku menutupnya lagi.

Dengan sopan. Dengan cepat. Dengan cara yang membuatnya tidak bisa protes karena secara teknis aku sudah menjawab.

Enam minggu.

Aku bahkan tidak sadar aku sedang melakukannya, sampai malam tanggal dua puluh, waktu dia mengirim pesan yang berbeda dari biasanya.

Dev, aku mau ngomong. Berdua. Kapan kamu bisa.

Aku menatap pesan itu selama empat jam.

Bukan kiasan. Aku menerimanya jam lima sore, di pasar induk, dan aku membalasnya jam sembilan malam, dan selama empat jam itu aku mengangkat kardus sambil memikirkan tujuh versi berbeda dari percakapan yang akan terjadi.

Dalam enam versi, aku bercerita.

Dalam versi ketujuh, aku tidak.

Aku membalas jam sembilan.

Besok bisa? Sore.

Bisa.

Jam 5 di gerbang sekolah.

Dan lalu aku mengetik namanya, dan berhenti.

Ay.

Aku berdiri di lorong pasar induk dengan ponsel di tangan dan mengetik kalimat berikutnya empat kali.

Yang pertama: Ibu saya sakit.

Hapus.

Yang kedua: Saya nggak baik-baik aja.

Hapus.

Yang ketiga: Saya mau berhenti sekolah.

Hapus.

Yang keempat cuma tiga kata, dan aku menghapusnya paling cepat dari semuanya.

Dan yang akhirnya kukirim adalah:

Nggak jadi.

Besok aja.


Besoknya jam lima sore, di gerbang sekolah, aku tidak menceritakan apa pun.

Aku tidak akan membela diri di sini. Yang terjadi adalah bahwa dia bertanya, dengan sangat hati-hati, dengan kalimat yang jelas sudah dia susun berkali-kali, dan bahwa aku punya sekitar empat detik untuk memutuskan.

Dan dalam empat detik itu aku menghitung hal yang salah.

Yang kuhitung adalah: kalau aku cerita, dia akan menawarkan uang. Bukan karena dia kasihan — karena dia sayang, dan karena dia punya, dan karena itu hal paling wajar di dunia untuk dilakukan.

Dan aku akan menolak.

Dan dia akan tersinggung, karena penolakan itu selalu terasa seperti penolakan terhadap orangnya.

Dan kami akan bertengkar tentang uang, dan dia akan menangis, dan aku akan tetap menolak, dan pada akhirnya dia akan mengerti — karena dia selalu mengerti — dan hubungan ini akan punya satu retakan permanen yang tidak bisa ditutup.

Empat detik.

Empat detik dan aku menyimpulkan bahwa jalan yang paling sedikit merusak adalah tidak bercerita.

Aku tidak menghitung satu hal.

Aku tidak menghitung bahwa tidak bercerita juga merusak, cuma lebih pelan, dan bahwa yang rusak pelan-pelan tidak pernah terlihat sampai sudah terlambat.

“Nggak ada apa-apa, Ay.”

“Dev.”

“Saya cuma capek. Kelas dua belas.”

Dan dia menatapku di gerbang sekolah jam lima sore selama waktu yang cukup lama.

Lalu dia berkata, “Oke.”

Cuma itu.


Yang terjadi berikutnya tidak kurencanakan sama sekali, dan aku sudah memikirkannya ratusan kali sesudahnya dan aku masih tidak yakin kenapa aku melakukannya.

Dia berbalik untuk pergi.

Dan aku memegang lengannya.

“Ay.”

“Iya?”

Dan aku menariknya sedikit, dan menunduk, dan mencium keningnya.

Sekali. Dua detik. Mungkin tiga.

Dan aku melepaskannya.

Ayana berdiri di gerbang sekolah dengan mata melebar dan mulut setengah terbuka, dan yang keluar dari mulutnya adalah, “Kamu—”

“Hati-hati pulangnya.”

“Dev, kamu barusan—”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan aku bilang, “Nggak apa-apa,” dan aku berbalik dan berjalan ke arah halte.


Aku tahu kenapa.

Aku tahu kenapa waktu itu juga, sebenarnya, walaupun butuh dua bulan sebelum aku sanggup mengucapkannya di dalam kepalaku sendiri.

Aku sudah memutuskan sesuatu di lorong pasar induk malam sebelumnya, waktu aku menghapus empat kalimat berturut-turut.

Bukan memutuskan untuk tidak bercerita. Itu keputusan kecil.

Yang kuputuskan adalah bahwa aku tidak akan bisa mempertahankan ini.

Sepuluh minggu kerja penuh. Berhenti sekolah. Rumah sakit. Kayla dan Rey. Dan di tengah semua itu, seorang perempuan yang mengirim pesan setiap hari selama enam minggu untuk membuka pintu yang selalu kututup lagi.

Aku sudah menghitungnya. Kolomnya tidak muat.

Jadi waktu aku mencium keningnya di gerbang sekolah sore itu, aku sedang melakukan hal yang sudah kulakukan seumur hidupku: menyelesaikan sesuatu lebih awal supaya tidak ada yang harus menanggung ujungnya.

Aku sedang pamit.

Dia tidak tahu.

Dia baru tahu dua minggu kemudian.

Dan waktu dia tahu, hal pertama yang dia tanyakan bukan kenapa aku pergi.

Yang dia tanyakan adalah kenapa aku memutuskan sendirian.


Malam itu, di rumah, Kayla masih bangun waktu aku pulang jam setengah tujuh.

Dia sedang duduk di ruang tamu dengan buku gambarnya, tidak menggambar apa-apa, cuma duduk.

“Kay, kamu belum tidur?”

“Belum jam tidur.”

“Rey?”

“Udah.”

Aku melepas sepatu dan berjalan ke dapur.

“Kak.”

“Hm.”

“Ibu tadi muntah.”

Aku berhenti.

Aku berdiri di ambang dapur dengan punggung menghadap adikku, dan aku menghitung — dua detik, tiga — dan aku memutuskan bahwa nada suaraku harus persis seperti waktu dia melaporkan kompor tidak mau mati.

“Kapan?”

“Habis makan.”

“Ibu bilang apa?”

“Ibu bilang masuk angin.”

Aku menuang air ke gelas.

“Ya udah,” kataku. “Nanti Kakak beliin obat.”

Hening di belakangku.

“Kak.”

“Hm.”

“Ibu udah muntah empat kali bulan ini.”

Dan aku berdiri di dapur rumah petak itu dengan gelas di tangan dan menyadari, dengan sangat jelas, bahwa aku sedang melakukan hal yang sama persis kepada adikku yang sedang kulakukan kepada Ayana.

Menutup pintu dengan sopan.

Membiarkan dia menghitung sendirian.

Membiarkan dia mengambil kesimpulan sendiri, seperti yang selalu dia lakukan sejak umur enam tahun, di rumah di mana tidak ada yang pernah menjelaskan apa pun kepadanya karena kakaknya sudah memutuskan bahwa dia terlalu kecil.

Aku menaruh gelas itu.

Aku berbalik.

Dan aku hampir — hampir sekali — mengatakannya.

Lalu aku mengingat wajah ibuku di kursi tunggu puskesmas, dan kalimat yang dia ucapkan sambil menatap tembok yang catnya mengelupas.

Kamu jangan bilang Kayla.

“Kay.”

“Iya?”

“Ibu emang lagi nggak enak badan,” kataku. “Kakak udah tau.”

“Beneran?”

“Iya.”

“Kakak udah bawa ke dokter?”

“Udah.”

Dan wajah adikku — yang sepanjang percakapan ini tegang dengan cara yang seharusnya tidak dialami anak sepuluh tahun — berubah.

Bahunya turun.

“Oh,” katanya. “Ya udah kalau gitu.”

Dan dia kembali ke buku gambarnya, dan mulai menggambar, dan tidak bertanya apa-apa lagi sepanjang malam.

Dan aku berdiri di dapur dan merasakan dua hal sekaligus yang tidak seharusnya muncul bersamaan.

Yang pertama: lega, karena dia percaya.

Yang kedua: sesuatu yang tidak punya nama, karena satu-satunya alasan dia percaya adalah bahwa aku sudah sepuluh tahun mengajarinya bahwa kalau kakaknya bilang sudah beres, itu artinya sudah beres.

Dan malam itu aku memakai kepercayaan itu untuk berbohong kepadanya.