← Nomor Tiga

Chapter Twenty Four

Rak Nomor Empat

POV: Ayana

Aku tidak bisa menatapnya selama empat hari.

Bukan karena marah. Karena setiap kali aku melihatnya, aku melihat empat belas hari.

Aku melihat anak sepuluh tahun berjalan ke belakang gudang olahraga di hari kesembilan dengan jahitan yang masih baru. Aku melihat anak lima belas tahun mengerjakan soal ujian dan sengaja salah di tempat yang tepat. Aku melihat orang yang tiga bulan ini duduk di sebelahku dan bertanya “udah makan?” setiap kali dia tidak sanggup mengucapkan hal lain.

Dan setiap kali aku melihat semua itu, aku harus mengalihkan pandangan supaya dia tidak melihat wajahku.

“Ay.”

“Hm?”

“Kamu ngeliatin dinding.”

“Dindingnya bagus.”

“Ayana.”

“Dev, aku lagi mikirin agenda rapat.”

Dan dia diam, dan aku tahu persis dia tidak percaya, dan aku juga tahu dia tidak akan bertanya lagi — karena bertanya lagi akan jadi menuntut, dan laki-laki ini lebih baik mati daripada menuntut apa pun dari siapa pun.

Itu yang membuatku hampir menangis di ruang OSIS hari Rabu.

Bukan ceritanya.

Tapi kesadaran bahwa aku sekarang tahu sesuatu tentang dia yang dia tidak tahu bahwa aku tahu, dan bahwa aku tidak bisa mengembalikannya, dan bahwa selama sisa hubungan ini aku akan selalu punya informasi yang tidak dia berikan sendiri.

Anita yang menyelesaikannya.

“Kamu harus berhenti.”

“Berhenti apa?”

“Merasa bersalah karena tau.” Dia menutup laptopnya. “Kamu nggak nyolong apa-apa. Dimas sama Evan yang cerita, dan mereka udah mikirin itu bertahun-tahun sebelum kamu ada.”

“Tapi dia nggak tau aku tau.”

“Iya.”

“Itu nggak adil, Nit.”

“Iya.” Anita berdiri. “Tapi kalau kamu ngaku sekarang, kamu bukan lagi jujur. Kamu lagi mindahin beban ke dia biar kamu enakan.”

Aku menatapnya.

“Kamu nyebelin banget.”

“Aku tau.”


Yang paling sulit dari empat hari itu adalah hari Selasa.

Karena hari Selasa aku menyaksikan sesuatu yang, empat hari sebelumnya, akan kuanggap biasa saja.

Kami sedang di aula membongkar sisa properti Pentas Seni. Ada sekitar dua belas orang. Dan salah satu anak kelas sebelas — namanya Fajar, anak baik, tidak ada niat apa-apa — menjatuhkan satu boks lampu.

Boksnya terbuka. Dua bohlam pecah.

Dan Fajar berdiri di sana dengan wajah yang langsung memerah, karena dua belas orang menoleh sekaligus, dan karena bohlam panggung itu bukan barang murah.

“Aduh, maaf, Kak, aku ganti—”

Dan Ardev sudah jongkok di sebelahnya sebelum kalimat itu selesai.

“Yang ini emang udah retak dari kemarin,” katanya, sambil memungut pecahan. “Saya yang lupa taruh di boks yang bener.”

Fajar mengerjap. “Serius, Kak?”

“Iya. Salah saya.”

Dan dua belas orang kembali bekerja, dan Fajar bernapas, dan tidak ada satu pun orang di aula itu yang menoleh dua kali.

Kecuali aku.

Karena aku tahu bohlam itu tidak retak dari kemarin.

Aku tahu karena aku yang mengecek inventaris hari Senin, dengan tanganku sendiri, dua puluh dua butir, semuanya utuh.

Dia berbohong dalam waktu kurang dari dua detik untuk seorang anak kelas sebelas yang bahkan tidak dia kenal.

Dan aku berdiri di aula itu memegangi daftar inventaris dan berpikir: berapa kali dia melakukan ini?

Berapa kali dalam tiga tahun laki-laki ini mengambil kesalahan orang lain dengan sopan, cepat, dan tanpa satu pun jeda — sampai jadi refleks, sampai jadi gerakan yang tidak butuh keputusan lagi?

Dan berapa kali di antaranya yang tidak ada saksinya sama sekali?

Aku menutup daftar itu dan tidak mencatat pecahannya, dan aku merasa buruk tentang itu, dan aku tetap tidak mencatatnya.


Yang mengembalikan semuanya ke normal adalah perpustakaan, dan itu tidak disengaja sama sekali.

Hari Kamis, jam kosong dua jam pelajaran karena Bu Wulan rapat dinas. Anak-anak menyebar ke kantin, lapangan, dan kelas kosong.

Aku ke perpustakaan karena ada tiga buku referensi yang harus kucek untuk lampiran laporan tahunan, dan karena perpustakaan adalah satu-satunya tempat di sekolah ini yang tidak akan ada satu orang pun bertanya apakah aku baik-baik saja.

Dan di meja paling belakang, di sebelah rak nomor empat, ada seseorang yang sudah duduk di sana.

Tentu saja.

“Dev.”

Dia mengangkat kepala. “Ayana.”

“Kamu ngapain di sini?”

“Jam kosong.”

“Semua anak lagi di kantin.”

“Iya.” Dia kembali ke bukunya. “Makanya saya di sini.”

Aku menarik kursi di seberangnya dan duduk, dan kami tidak bicara selama empat puluh menit, dan itu adalah empat puluh menit paling nyaman yang kualami sepanjang minggu itu.

Bu Reni lewat sekali, mengangkat dagunya satu sentimeter ke arah Ardev, dan Ardev mengangguk.

“Itu apa?” bisikku.

“Apa?”

“Yang barusan.”

“Oh.” Dia membalik halaman. “Kami ngobrol.”

“Itu ngobrol?”

“Iya.”

“Kalian nggak ngomong apa-apa.”

“Ya itu isinya.”

Aku menutup mulut dengan tangan supaya tidak tertawa keras-keras.


Yang terjadi jam sebelas lewat dua puluh berlangsung selama mungkin dua puluh detik, dan aku memikirkannya selama empat hari.

Aku sedang mencari buku ketiga di rak nomor empat — ensiklopedia terbitan tahun sembilan puluhan, yang menurut Ardev tidak pernah dipinjam siapa pun sejak zaman orang tua kami, dan yang menurut catatan peminjaman ternyata memang benar.

Dan aku mendengar Ardev berdiri dari mejanya dengan sangat cepat.

Lalu dia sudah ada di sebelahku.

“Dev, kenapa—”

Dan dia menarikku ke sisi rak yang lain.

Bukan kasar. Tapi cepat, satu gerakan, tangannya di lenganku dan seluruh badanku berputar sembilan puluh derajat sampai punggungku menyentuh sisi rak nomor empat yang menghadap dinding.

Dan dia berdiri di depanku.

Aku membuka mulut.

Dia menggeleng sekali — sangat kecil — dan aku mendengar apa yang dia dengar tiga detik lebih dulu.

Langkah kaki. Sepatu berhak. Dan suara Bu Wulan.

“—iya, Bu, saya cuma mau ambil arsip. Anak-anak kelas dua belas jam kosong, biasanya di sini beberapa.”

Bu Wulan.

Yang rapat dinasnya jelas selesai lebih cepat. Yang seharusnya tidak ada di gedung ini. Dan yang — kalau menemukan wakil ketua OSIS berdua saja dengan seorang anak laki-laki di perpustakaan yang kosong pada jam kosong — akan membuat laporan.

Aku menahan napas.

Dan aku baru menyadari, tiga detik terlambat, seberapa dekat kami berdiri.

Rak nomor empat lebarnya kira-kira empat puluh sentimeter dari dinding. Ardev berdiri menghadapku dengan punggung ke lorong, menutupi seluruh ruang yang ada, dengan satu tangan di rak di sebelah kepalaku untuk menahan keseimbangan.

Dan kepalanya menunduk sedikit karena langit-langit rak itu rendah.

Dan dahinya menyentuh dahiku.

Aku berhenti bernapas untuk alasan yang sepenuhnya berbeda.


Langkah kaki Bu Wulan berhenti di meja depan.

“Bu Reni, arsip peminjaman semester lalu ada?”

“Ada, Bu. Sebentar.”

Bunyi laci. Bunyi kertas.

Dan aku berdiri di balik rak nomor empat dengan dahi yang menempel di dahi Ardev Narasoma dan mencoba mengingat apakah aku pernah bernapas seumur hidupku.

Dia tidak bergerak.

Aku bisa merasakan napasnya — pendek, terlalu teratur, seperti orang yang sedang mengatur sesuatu dengan susah payah. Aku bisa mencium bau seragam yang dijemur di bawah matahari langsung. Aku bisa melihat, dari jarak tujuh sentimeter, garis putih di pelipis kirinya.

Dan aku menyadari bahwa aku sedang menatap garis itu.

Dan bahwa dia tahu aku sedang menatapnya.

Matanya bergerak. Sekali. Ke arah pelipisnya sendiri, lalu kembali ke arahku.

Aku menutup mata.

Karena kalau aku terus melihat, aku akan mengatakan sesuatu, dan kalau aku mengatakan sesuatu, Bu Wulan akan mendengar.

Dan karena kalau aku terus melihat, aku akan menangis, dan aku sudah bersumpah tidak akan menangis di depannya soal ini.

Tujuh belas detik.

Aku menghitungnya. Aku tidak tahu kenapa aku menghitungnya. Mungkin karena dia menular.

“Makasih, Bu Reni.”

“Sama-sama, Bu.”

Langkah kaki menjauh. Pintu perpustakaan ditutup.

Dan Ardev tidak mundur.

Satu detik. Dua.

Aku membuka mata.

Dia masih di sana, dengan tangan masih di rak, dan dia sedang menatapku — dan tidak ada satu pun perhitungan di wajahnya, tidak ada satu pun.

“Dev.”

“Iya.”

“Bu Wulan udah pergi.”

“Iya.”

Hening.

“Kamu masih di sini.”

“Iya.”

Dan tiga detik berikutnya adalah tiga detik terpanjang dalam hidupku sampai saat itu, karena dia menunduk sedikit — sangat sedikit, mungkin dua sentimeter — dan berhenti.

Lalu dia mundur.

Satu langkah penuh. Melepaskan tangannya dari rak. Meluruskan punggungnya.

“Maaf,” katanya.

Dan aku berdiri di belakang rak nomor empat dengan punggung menempel di dinding dan seluruh sistem tubuhku yang sedang tidak berfungsi, dan yang keluar dari mulutku adalah:

“Kenapa minta maaf?”

“Karena saya narik kamu.”

“Itu bukan yang aku maksud.”

“Ayana—”

“Kenapa kamu mundur.”

Dia tidak menjawab.

Dan aku menunggu, dan dia tetap tidak menjawab, dan akhirnya aku mengambil ensiklopedia dari rak dan berjalan kembali ke meja tanpa berkata apa-apa lagi.


Aku kesal selama satu setengah hari.

Aku tahu itu tidak adil. Aku tahu persis kenapa dia mundur, dan alasannya kemungkinan besar adalah sesuatu yang sangat masuk akal dan sangat menyebalkan seperti belum waktunya atau kamu lagi sedih empat hari terakhir dan itu bukan waktu yang bener — dan yang paling menyebalkan adalah bahwa kedua alasan itu benar.

Tapi aku tetap kesal.

Aku kesal waktu dia mengirim pesan hari Jumat pagi. Aku kesal waktu dia bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku kesal waktu dia — dan ini yang paling parah — tidak menyinggung kejadian itu sama sekali, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Anita menyadarinya dalam empat jam.

“Kalian berantem?”

“Enggak.”

“Ay.”

“Kami nggak berantem, Nit. Nggak ada yang cukup buat berantem.”

“Nah, itu lebih parah.”

Keisha, dari kursi seberang: “Ay, kamu ngaduk es teh lagi.”

“KEI.”


Sabtu sore, dia mengirim pesan.

ARDEV: Kamu masih kesel?

Aku menatap layar itu selama dua puluh detik.

Iya.

ARDEV: Oke.

Dan tidak ada lagi.

Aku hampir melempar ponselku.

Lalu, empat menit kemudian:

ARDEV: Saya juga kesel.

Aku duduk tegak.

Sama siapa?

ARDEV: Sama saya.

Tiga titik muncul dan hilang tiga kali sebelum pesan berikutnya masuk.

ARDEV: Saya mundur bukan karena saya nggak mau.

ARDEV: Saya mundur karena saya kepikiran kalau nanti kamu nyesel, saya nggak punya cara buat benerin itu.

ARDEV: Dan saya baru sadar hari Kamis malem bahwa itu bukan alasan yang bener.

ARDEV: Itu cuma saya yang ngitung lagi.

Aku membaca empat pesan itu tiga kali.

Dev.

ARDEV: Iya?

Kamu ngetik ini berapa lama?

Jeda panjang.

ARDEV: Dua hari.

Dan aku tertawa sendirian di kamarku, dengan mata yang panas, dan mengetik balasan yang paling tidak sabar yang pernah kukirim ke siapa pun.

Aku nggak kesel lagi.

ARDEV: Oke.

Tapi Dev.

ARDEV: Iya?

Lain kali jangan mundur.

Titik-titik muncul.

Muncul lama sekali.

Lalu:

ARDEV: Oke.


Minggu pagi, ponselku bergetar jam tujuh.

ARDEV: Kayla nanya kamu.

Nanya apa?

ARDEV: Nanya kapan kamu ke sini lagi.

ARDEV: Saya bilang belum tau.

ARDEV: Dia bilang jawaban saya jelek.

Aku tertawa di tempat tidur.

Dia bener.

ARDEV: Iya.

Jeda.

ARDEV: Ay.

Aku duduk tegak. Dia tidak pernah memanggilku begitu lewat pesan.

Iya?

ARDEV: Kamu ke sini hari ini?

Dan aku menatap layar itu, dan aku menyadari sesuatu yang membuatku harus membaca ulang lima pesan sebelumnya untuk memastikan.

Bahwa itu bukan izin.

Bahwa dalam empat bulan, setiap kali aku datang ke rumah itu, aku yang mengusulkan dan dia yang mengizinkan — sembilan hari alasan di awal, lalu “ya udah”, lalu “boleh”, lalu akhirnya “jam berapa?”.

Ini pertama kalinya dia yang mengajak.

Aku mengetik dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.

Jam berapa?

ARDEV: Kapan aja.

ARDEV: Tapi kalau siang, Ibu masih di rumah.

ARDEV: Dia nanya kamu juga.

Aku menaruh ponselku di dada dan menatap langit-langit kamarku yang terlalu tinggi selama beberapa detik.

Lalu aku bangun, dan mandi, dan berangkat jam sembilan.

Dan di angkutan menuju sana, aku memikirkan sesuatu yang membuatku tersenyum sendirian sampai bapak di sebelahku menoleh.

Bahwa laki-laki itu butuh dua hari untuk mengetik empat pesan tentang kenapa dia mundur di perpustakaan.

Dan bahwa dua hari setelah itu, dia mengajakku ke rumahnya.

Dia tidak akan pernah mengucapkan kalimatnya. Aku sudah tahu itu, dan aku sudah menerima itu.

Tapi dia mengerjakannya.

Terus-menerus. Setiap hari. Dengan cara yang tidak akan pernah dia sadari sebagai apa pun.