← Nomor Tiga

Chapter Seventeen

Dapur

POV: Ardev

Aku menolak selama sembilan hari.

Tidak dengan kata “tidak” — aku tidak pernah bisa mengucapkan kata itu ke siapa pun — tapi dengan cara yang jauh lebih efisien: aku menyediakan alasan sebelum diminta.

“Rumah saya jauh.”

“Aku ada mobil.”

“Gangnya sempit. Mobil nggak masuk.”

“Aku bisa jalan.”

“Rumah saya kecil.”

Dan di situ dia berhenti sebentar, dan menatapku, dan berkata:

“Dev. Aku bakal duduk. Duduk itu butuh satu kursi.”

Aku kehabisan alasan di hari kesembilan.

Yang membuatku menyerah bukan Ayana. Yang membuatku menyerah adalah Rey, yang selama seminggu terakhir bertanya setiap malam apakah “kakak yang di sekolah” akan datang, karena Kayla — dengan cara yang belum bisa kubuktikan tapi sangat kucurigai — telah membocorkan sesuatu.

“Kay.”

“Iya?”

“Kamu ngomong apa ke Rey?”

“Nggak ada.”

“Kayla.”

“Aku cuma bilang Kakak punya temen.” Dia menyusun piring dengan wajah paling tidak bersalah di dunia. “Terus Rey nanya temennya cewek apa cowok. Aku jawab jujur. Kakak selalu bilang jangan bohong.”

Aku menatap adikku selama beberapa detik.

“Kamu tuh,” kataku.

“Aku kenapa?”

“Nggak apa-apa.”


Ayana datang hari Minggu jam sebelas pagi.

Aku menunggu di mulut gang karena aku tahu dia tidak akan menemukan rumahnya — tidak ada nomor yang berurutan di gang ini; nomor dua belas ada di antara nomor tujuh dan nomor tiga puluh satu, dan tidak ada satu pun orang di sini yang bisa menjelaskan kenapa.

Dia datang jalan kaki dari ujung jalan besar. Kaus, celana panjang, rambut diikat. Membawa tas kain.

Dan dia berhenti di depanku dengan napas sedikit terengah.

“Jauh juga ya.”

“Saya udah bilang.”

“Aku nggak bilang kamu bohong. Aku bilang jauh.” Dia mengibaskan tangan di depan wajahnya. “Kamu jalan kaki ini tiap hari?”

“Sampai halte doang.”

“Halte yang mana?”

“Yang di ujung sana.”

Dia menoleh ke arah yang kutunjuk. Lalu kembali menatapku.

“Itu satu kilo.”

“Sembilan ratus meter.”

“Dev.”

“Iya?”

Dan dia tidak melanjutkan kalimatnya. Dia cuma menghela napas, menyampirkan tas kainnya, dan berkata, “Ya udah. Ayo.”

Aku berjalan di depan.

Dan sepanjang tujuh puluh meter gang itu, aku menyadari bahwa aku sedang melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan dalam tiga tahun — dan tidak, bukan mengajak orang pulang. Evan dan Dimas sudah hafal gang ini lebih dari aku.

Yang belum pernah kulakukan adalah berjalan di depan seseorang menuju rumahku sambil sadar penuh bahwa orang itu sedang melihat semuanya.

Dinding yang catnya mengelupas. Selokan yang tutupnya patah di dua tempat. Jemuran yang menyeberangi gang. Pak Tarno yang duduk di kursi plastik depan rumahnya dan mengangkat dagunya ke arahku seperti biasa, lalu berhenti mengangkat dagunya di tengah jalan waktu melihat siapa yang di belakangku.

“Dev.”

Aku menoleh.

“Kamu jalan cepet banget.”

Aku memperlambat.


Pintu rumah terbuka sebelum kami sampai — tentu saja terbuka, karena Kayla sudah mengintip dari jendela sejak jam setengah sebelas.

“KAK, ITU—”

Lalu dia melihat siapa yang di belakangku, dan seluruh keberaniannya menguap dalam waktu kurang dari satu detik, dan dia berbalik masuk ke dalam sambil berteriak, “IBU, ADA ORANG!”

“Kay—”

Terlambat.

Ibu keluar dari dapur sambil mengelap tangan dengan lap, dan wajahnya melewati tiga tahap dalam dua detik: bingung, sadar, lalu panik total.

“Astaga. Ibu nggak—” Dia melirikku dengan tatapan yang artinya kenapa nggak bilang. “Ardev, kamu nggak bilang!”

“Saya bilang, Bu. Kemarin.”

“Kamu bilangnya ‘ada temen mau mampir’!”

“Iya.”

“Itu beda!”

Ayana melepas sepatunya di depan pintu dan berdiri sambil menunduk sedikit.

“Maaf ya, Tante. Saya Ayana.”

Dan aku menyaksikan sesuatu terjadi di wajah ibuku — sesuatu yang belum pernah kulihat, yang membuatku ingin masuk ke tembok.

“Ayana,” ulang Ibu.

“Iya, Tante.”

“Yang di sekolah itu?”

“IBU.”

“Ibu cuma nanya!”


Ruang tamu tiga kali empat itu tidak pernah terasa sekecil hari itu.

Ayana duduk di kursi plastik. Ibu duduk di seberangnya. Kayla duduk di lantai di sudut ruangan dengan posisi yang jelas dipilih untuk memaksimalkan pengawasan. Dan Rey — yang biasanya butuh dua puluh menit untuk menerima orang asing — duduk di lantai persis di depan kaki Ayana dalam waktu tiga menit dan mulai menunjukkan seluruh koleksi tutup botolnya satu per satu.

“Ini yang biru.”

“Bagus.”

“Ini yang biru juga.”

“Bagus.”

“Ini juga biru.”

“Rey, itu semua biru.”

“IYA.”

Dan Ayana tertawa, dan Rey — yang belum pernah dipuji oleh siapa pun untuk koleksi tutup botolnya kecuali oleh Evan yang memuji segala hal — langsung mengambil seluruh kaleng dan menumpahkannya ke lantai.

“REY.”

“Nggak apa-apa,” kata Ayana, dan dia sudah di lantai juga sebelum aku sempat bergerak.

Aku berdiri di ambang dapur memegang nampan berisi tiga gelas teh dan tidak tahu harus berbuat apa.

Ibu, di sebelahku, berbisik: “Ardev.”

“Iya, Bu.”

“Dia duduk di lantai.”

“Iya, Bu.”

“Roknya—”

“Dia pake celana, Bu.”

“Ibu tau.” Ibu mengambil nampan dari tanganku. “Ibu cuma nggak tau harus ngomong apa.”

Makan siang jam dua belas kurang seperempat, dan itu bagian yang paling kutakutkan sejak semalam.

Menunya nasi, tempe orek, sayur bening, dan telur dadar yang kupotong-potong seperti biasa supaya kelihatan lebih banyak. Ibu sudah memasak ekstra sejak jam sembilan pagi dan aku tahu persis dari mana anggaran ekstra itu diambil, dan aku sudah memutuskan untuk tidak membahasnya sampai minggu depan.

Ayana makan.

Bukan sekadar makan sopan — yang sudah kusiapkan mentalnya, karena orang biasanya makan sedikit di rumah orang lain untuk sopan santun, dan aku sudah menyiapkan kalimat “nggak apa-apa” untuk itu.

Dia menambah nasi.

“Tante, ini tempenya bumbunya apa?”

“Biasa aja, Nak. Bawang, cabe.”

“Nggak mungkin biasa aja.”

“Beneran biasa aja.”

“Tante, di rumah saya ada yang masak tiap hari dan tempenya nggak pernah kayak gini.”

Dan aku melihat ibuku — yang sudah tiga tahun terakhir tidak pernah memasak untuk lebih dari empat orang, yang berangkat kerja jam dua siang dan pulang jam dua pagi — duduk di kursi plastik itu dan tersenyum dengan senyum yang tidak dia pasang.

“Nanti Ibu tulisin resepnya.”

“Beneran?”

“Iya.”

“Tante janji ya.”

“Iya, iya.”

Aku menunduk ke piringku dan makan, dan tidak berkata apa-apa selama beberapa menit, karena ada sesuatu yang menyumbat di tenggorokanku dan aku tidak ingin siapa pun mendengarnya.

Interogasi Kayla dimulai setelah piring diangkat.

“Kak Ayana.”

“Iya?”

“Kakak sekelas sama Kak Ardev?”

“Beda kelas.”

“Kakak tau nggak Kak Ardev tuh nggak pernah cerita apa-apa?”

“Kay.”

“Aku nanya doang.” Kayla melipat tangan. “Kak Ayana, kalau Kak Ardev bilang ‘nggak apa-apa’, itu artinya bukan nggak apa-apa. Itu artinya dia capek tapi nggak mau bilang.”

Aku hampir menjatuhkan gelas.

“Kayla.”

“Kenapa? Aku bantuin.”

“Kamu—”

“Bener kok,” kata Ayana pelan.

Aku menoleh.

Dan dia sedang menatapku, dan ada sesuatu di ekspresinya yang membuatku harus mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Aku catet ya, Kay,” lanjutnya. “Ada lagi?”

“BANYAK.”

“KAY.”


Yang terjadi di dapur terjadi jam satu lewat.

Ibu sudah berangkat ke pabrik — shift siang, jam dua — dan sebelum berangkat dia mengucapkan terima kasih kepada Ayana sebanyak enam kali untuk sesuatu yang bahkan tidak jelas apa.

Kayla ada di kamar mengerjakan PR.

Rey ada di ruang tengah, dan Rey sedang menangis, karena menara tutup botolnya runtuh untuk kesekian kali dan kali ini dia sudah kehabisan cadangan kesabaran anak lima tahun.

Dan aku ada di dapur, mencuci gelas, dengan Ayana di sebelahku yang tidak diminta datang ke dapur tapi datang juga dan sekarang sedang mengelap gelas yang sudah kucuci dengan lap yang salah.

“Itu lap meja.”

“Terus yang buat gelas mana?”

“Yang gantung di sana.”

“Kenapa nggak bilang dari tadi?”

“Baru sadar.”

Dari ruang tengah, tangisan Rey naik satu tingkat.

“Bentar,” kataku.

“Aku aja.”

“Ayana—”

“Dev.” Dia meletakkan lap itu. “Kamu lagi megang gelas.”

Dan dia keluar.

Aku berdiri di depan bak cuci dengan air mengalir dan mendengarkan.

Aku mendengar dia jongkok — bunyi kain, bunyi lantai. Aku mendengar suaranya, terlalu pelan untuk kutangkap kata-katanya. Aku mendengar tangisan Rey berhenti dalam waktu kurang dari empat puluh detik, yang merupakan rekor yang bahkan tidak bisa kucapai sendiri.

Lalu aku mendengar Rey tertawa.

Dan aku berdiri di dapur dengan tangan basah dan air mengalir dan menyadari bahwa aku sedang tidak melakukan apa-apa; aku cuma berdiri di sana mendengarkan.

Dia kembali dua menit kemudian.

“Udah?”

“Udah. Menaranya sekarang tiga tingkat.”

“Gimana caranya?”

“Aku pegangin yang bawah.”

Aku menutup keran.

Dan aku berbalik untuk mengambil lap yang benar, dan dia sedang berdiri di sana dengan punggung menyandar di kusen pintu dapur, memperhatikanku, dengan lengan basah sampai siku dan rambut yang sebagian lepas dari ikatannya.

Aku berhenti.

Bukan sengaja. Tanganku berhenti di udara di depan gantungan lap, dan aku sadar aku sedang berhenti, dan aku sadar dia juga sadar, dan aku tetap tidak bisa melanjutkan gerakan itu selama mungkin dua detik penuh.

Karena rumah ini kecil, dan dapurnya lembap, dan lampunya cuma satu, dan tidak ada satu pun hal di ruangan ini yang bagus.

Dan dia berdiri di sana dengan lengan basah dan rambut berantakan dan tidak ada satu pun yang membuatnya terlihat seperti seseorang yang berada di tempat yang salah.

“Kenapa?” tanyanya.

“Nggak apa-apa.”

“Dev.”

“Lapnya.” Aku mengambil lap itu. “Yang ini.”

Dia menerimanya.

Dan waktu dia menerimanya, tanpa melihat ke arahku, sambil mulai mengelap gelas berikutnya, dia berkata:

“Aku sayang kamu.”


Ada satu detik di mana aku benar-benar tidak mendengar apa-apa.

Bukan kiasan. Ada bunyi tinggi di telinga kananku dan tidak ada satu pun bunyi lain di rumah itu — tidak ada Rey, tidak ada televisi tetangga, tidak ada mesin cuci sebelah yang biasanya kupakai sebagai jam.

Lalu semuanya kembali sekaligus.

Ayana masih mengelap gelas. Tidak menatapku. Tangannya bergerak terlalu teratur untuk orang yang santai.

“Ayana.”

“Hm?”

Dan aku membuka mulut.

Aku ingin mencatat, karena ini penting, bahwa aku tahu persis apa yang seharusnya kukatakan. Aku tahu kalimatnya. Kalimat itu ada di sana, tiga kata, lengkap, siap.

Dan aku juga tahu apa yang terjadi kalau aku mengucapkannya.

Kalau aku mengucapkannya, aku tidak akan bisa mengambilnya kembali. Kalau aku mengucapkannya, aku sudah masuk terlalu jauh ke sesuatu yang belum kuhitung sampai selesai. Kalau aku mengucapkannya, dan suatu hari nanti dia sadar bahwa dia salah pilih — dan dia akan sadar, karena semua hitunganku mengatakan begitu — maka yang hancur bukan cuma aku.

Ada dua anak kecil di rumah ini yang sudah hafal namanya dalam waktu dua jam.

Jadi yang keluar dari mulutku adalah:

“Makasih.”

Gerakan tangannya berhenti.

Cuma sepersekian detik. Lalu lanjut lagi.

“Iya,” katanya.

Dan dia tertawa.

Tawa itu pendek, dan bunyinya benar, dan kalau aku tidak sedang berdiri satu meter darinya aku mungkin tidak akan mendengar bahwa ada getar kecil di ujungnya — di bagian paling akhir, di bagian yang keluar setelah tawanya seharusnya sudah selesai.

Aku mendengarnya.

Dan aku tidak melakukan apa-apa.

“Gelasnya tinggal dua,” katanya.

“Iya.”

“Yang ini disimpen di mana?”

“Rak atas.”

“Aku nggak nyampe.”

“Sini.”

Dan aku mengambil gelas itu dari tangannya, dan jariku menyentuh jarinya selama mungkin sepersekian detik, dan aku menaruh gelas itu di rak atas.

Dan itu satu-satunya hal yang berhasil kulakukan.


Dia pulang jam empat.

Aku mengantarnya sampai mulut gang. Rey ikut, digendong, karena Rey menolak melepaskannya dan satu-satunya kompromi yang bisa dicapai adalah bahwa Rey boleh ikut sampai ujung.

“Kakak besok dateng lagi?”

“Rey.”

“Nggak apa-apa.” Ayana membetulkan kerah baju Rey. “Belum tau, ya. Tapi kalau nggak besok, nanti.”

“Nanti kapan?”

“Nanti.”

“NANTI KAPAN.”

Aku memindahkan Rey ke bahu yang lain. “Rey, cukup.”

Ojek datang. Ayana naik.

Dan sebelum motor itu jalan, dia menoleh.

“Dev.”

“Iya?”

“Makasih ya, udah bolehin aku ke sini.”

Dan dia pergi.

Aku berdiri di mulut gang dengan adikku di bahu dan melihat motor itu belok di ujung jalan besar.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak kenapa diem?”

Aku memindahkan Rey lagi dan mulai berjalan pulang.

“Nggak apa-apa,” kataku.

Dan aku mendengar suaraku sendiri mengucapkannya, dan aku ingat apa yang dikatakan Kayla di ruang tamu empat jam lalu, dan aku tetap tidak mengubah jawabanku.


Malamnya, setelah Rey tidur dan Kayla masuk kamar, aku duduk di kursi plastik di ruang tamu dan mengulang tiga puluh detik itu di kepalaku.

Dapur. Air keran mati. Lap yang salah, lalu lap yang benar. Kalimat itu. Lalu “makasih.”

Aku memeriksanya seperti memeriksa sambungan kabel: mencari di mana putusnya.

Dan yang kutemukan bukan alasan yang kupakai tadi siang.

Alasan tadi siang — bahwa kalau aku mengucapkannya lalu suatu hari dia pergi, yang hancur bukan cuma aku — itu benar. Itu semuanya benar. Ada dua anak di rumah ini yang sudah hafal namanya dalam dua jam.

Tapi itu bukan alasan sebenarnya.

Alasan sebenarnya, yang baru berani kulihat jam sepuluh malam di ruang tamu yang gelap, adalah ini:

Kalau aku mengucapkan tiga kata itu, artinya aku sedang meminta.

Bukan meminta sesuatu yang bisa dihitung. Bukan uang, bukan waktu, bukan tenaga. Meminta sesuatu yang jauh lebih besar dari semua itu — meminta seseorang untuk tetap.

Dan aku tidak pernah, dalam seluruh hidupku, meminta siapa pun untuk tetap.

Aku menyalakan lampu dapur dan mencuci dua gelas terakhir yang tertinggal.

Rak atas. Yang dia tidak sampai.

Dan aku berdiri di depan rak itu cukup lama sebelum akhirnya mematikan lampu dan masuk ke kamar.