Chapter Twenty Eight
Om dan Kakak
POV: Ayana
Krisis dimulai hari Minggu kedua bulan Januari, jam tiga sore, di ruang tamu tiga kali empat.
Penyebabnya seorang anak berumur lima tahun.
“Om Dimas.”
Semua orang menoleh.
Rey sedang berdiri di depan Dimas dengan buku gambar kakaknya di tangan, menunggu, dengan wajah yang menganggap seluruh kejadian ini biasa saja.
“Om Dimas, gambarin mobil.”
Dimas mengambil buku itu.
Dan Evan Radhitya Bramantyo, dari lantai, mengeluarkan suara yang tidak bisa kutranskripsikan.
“Rey.”
“Iya?”
“Kamu manggil dia apa barusan?”
“Om Dimas.”
“Om?”
“Iya.”
“OM?”
“IYA.”
Dan Evan berdiri.
“Rey,” katanya, dengan nada orang yang sedang memulai negosiasi diplomatik. “Kalau Bang Evan?”
Dan Rey menatapnya, dan berkata, dengan kejelasan yang membunuh:
“Kakak Evan.”
Hening.
“Kakak?”
“Iya.”
“Bukan Om?”
“Bukan.”
“Kenapa bukan Om?”
Dan Rey — yang tidak punya kepentingan apa pun dalam hal ini, yang cuma ingin gambar mobil — menjawab dengan satu kalimat yang akan dikutip berkali-kali selama enam bulan berikutnya.
“Kakak Evan kan masih kecil.”
Aku ingin menyampaikan bahwa protes Evan berlangsung selama satu jam empat puluh menit.
Aku menghitungnya, karena pada akhirnya semua orang di ruangan itu ikut menghitung.
Fase pertama (menit 1–15): penyangkalan.
“Ini pasti salah denger.”
“Van, dia ngomong tiga kali.”
“Dia baru lima tahun, Nit, kosakatanya belum lengkap.”
“Dia bilang ‘masih kecil’. Itu kosakata lengkap.”
Fase kedua (menit 15–40): pengumpulan bukti.
Evan menghabiskan dua puluh lima menit menanyai Rey dengan metode yang menurutnya ilmiah.
“Rey, siapa yang lebih tinggi? Bang Evan apa Om Dimas?”
“Om Dimas.”
“Rey, siapa yang lebih tua?”
“Om Dimas.”
“REY, KAMI SEUMURAN.”
“Om Dimas.”
“Kamu nggak denger pertanyaannya.”
“Om Dimas.”
Fase ketiga (menit 40–70): banding ke pihak berwenang.
“Kay.”
“Iya, Bang?”
“Menurut kamu aku Om apa Kakak?”
Dan Kayla — yang sepuluh tahun, yang paling kejam di rumah ini, yang sudah menunggu momen ini sejak fase pertama — menjawab tanpa mengangkat kepala dari gambarnya:
“Kakak.”
“KAY.”
“Bang Evan minta pendapat.”
“KAMU NGGAK USAH JUJUR BANGET.”
Fase keempat (menit 70–100): tawar-menawar.
“Rey, gimana kalau Om Evan?”
“Kakak Evan.”
“Bang Om Evan?”
“Kakak Evan.”
“Om Kakak Evan.”
“Bang Evan,” kata Anita, “itu bukan gelar. Itu susunan kata acak.”
Dan yang mengakhiri semuanya adalah Dimas, yang sepanjang seratus menit itu tidak berkomentar sekali pun karena dia sibuk menggambar mobil, lalu truk, lalu kapal, lalu — atas permintaan Rey yang sangat spesifik — “mobil yang ada helikopternya.”
Dia menyerahkan buku itu ke Rey.
Lalu dia menoleh ke Evan.
“Van.”
“Apa.”
“Lo Kakak.”
“DIM—”
“Gue Om.” Dia mengambil gelasnya. “Terima aja.”
Dan Evan Bramantyo duduk kembali di lantai dan tidak bicara selama tujuh menit penuh, yang merupakan rekor terlama seumur hidupnya, dan Keisha harus menutup mulutnya dengan bantal supaya tidak tertawa terlalu keras.
Fase kelima (menit 100–105): penerimaan, dengan syarat.
“Rey.”
“Iya, Kakak Evan?”
“Aku terima.”
“Oke.”
“TAPI.” Evan mengangkat satu jari. “Kalau kamu udah gede, kamu harus panggil aku Om.”
Rey mempertimbangkan.
“Kalau aku udah gede, Kakak Evan udah tua.”
“IYA. ITU INTINYA.”
“Berarti Om.”
“IYA.”
“Oke.”
“OKE?”
“Oke.”
Dan Evan Bramantyo berbalik ke arah kami semua dengan wajah orang yang baru saja memenangkan sidang, dan berkata:
“Gue Om di masa depan.”
“Van,” kata Anita, “itu berlaku ke semua orang.”
“NIT, JANGAN RUSAK INI.”
Yang tidak lucu terjadi jam setengah lima.
Aku baru sadar berminggu-minggu kemudian bahwa aku bahkan tidak memperhatikan awalnya.
Yang kuperhatikan cuma bahwa ponsel Ardev bergetar di meja.
Dia sedang di dapur. Kayla yang mengambilnya dan berteriak, “Kak, ada telepon!”
“Dari siapa?”
“Nggak ada namanya.”
Dan Ardev keluar dari dapur sambil mengelap tangan, mengambil ponsel itu, melihat layarnya, dan berhenti berjalan.
Cuma sepersekian detik. Kalau aku tidak sedang duduk menghadap ke arahnya, aku tidak akan melihatnya.
“Halo.”
Dan dia berjalan keluar.
Bukan ke dapur. Ke luar rumah — melewati ruang tamu, membuka pintu depan, dan menutupnya di belakangnya.
Ruangan itu tidak berubah sama sekali.
Evan masih memprotes gelarnya kepada siapa saja yang mau mendengar. Rey menunjukkan gambar mobil-berhelikopter kepada Keisha untuk kesebelas kali. Kayla mewarnai. Anita membaca sesuatu di ponselnya.
Dan aku duduk di lantai menghadap pintu depan dan menunggu.
Empat menit.
Dia masuk lagi jam empat lewat tiga puluh sembilan, memasukkan ponselnya ke saku, dan berjalan langsung ke dapur.
“Dev.”
“Hm?”
“Siapa tadi?”
“Bukan siapa-siapa.”
Dan dia mengatakannya dengan nada normal, dengan wajah normal, sambil melanjutkan mencuci gelas.
Kalau aku baru mengenalnya tiga bulan, aku akan percaya.
Tapi aku sudah lima bulan mencatat hal-hal kecil tentang laki-laki ini tanpa berniat mencatat, dan ada dua hal yang salah.
Yang pertama: dia menjawab terlalu cepat. Ardev tidak pernah menjawab cepat. Ardev selalu berhenti sepersekian detik untuk memutuskan seberapa banyak yang perlu dikatakan.
Yang kedua, dan ini yang membuatku berdiri: dia sedang mencuci gelas yang sudah bersih.
Aku melihatnya mengeringkan gelas itu tiga menit lalu.
“Dev.”
“Iya?”
“Kamu udah cuci gelas itu.”
Tangannya berhenti.
Sepersekian detik.
Lalu dia menaruh gelas itu di rak dan berkata, “Oh iya,” dan tertawa kecil, dan mengambil lap.
Dan aku berdiri di ambang dapur itu dan tidak melanjutkan pertanyaanku.
Aku tidak tahu kenapa.
Aku sudah memikirkan alasannya berkali-kali sesudahnya, dan yang paling jujur adalah ini: karena aku sedang bahagia.
Karena hari itu ada delapan orang di rumah petak dan seorang anak lima tahun baru saja menghancurkan Evan Bramantyo dan aku sudah lima bulan menjadi orang yang paling beruntung yang kukenal.
Dan karena bertanya lebih jauh berarti membuka sesuatu, dan aku tidak ingin ada yang terbuka hari itu.
Jadi aku bilang, “Ya udah,” dan kembali ke ruang tamu.
Sebelum pulang, ada satu hal kecil yang baru kupahami berbulan-bulan kemudian.
Ardev menggendong Rey ke kamar jam enam, dan Kayla ikut masuk, dan selama sekitar lima menit ruang tamu itu cuma berisi kami berlima.
Dan Anita bertanya sesuatu ke Evan.
“Van.”
“Iya?”
“Kamu tau nggak Ardev kerja di mana hari Sabtu?”
Evan mengangkat kepalanya. “Gudang. Jalan Melati. Kenapa?”
“Sejak kapan?”
“Umur lima belas.”
“Tiap Sabtu?”
“Tiap Sabtu.”
Dan Anita mengangguk, dan tidak melanjutkan, dan aku pikir itu selesai.
Tapi sepuluh detik kemudian dia bertanya lagi.
“Van, Sabtu kemarin dia kerja?”
Dan Evan berhenti.
Aku melihatnya berhenti — betul-betul berhenti, dengan keripik di tangan — dan aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya.
“...Iya,” katanya.
“Kamu yakin?”
“Gue nggak yakin.”
“Van.”
“Gue nggak nanya, Nit.” Dia meletakkan keripiknya. “Gue nggak pernah nanya.”
Dan Dimas, dari lantai, berkata satu kalimat tanpa mengangkat kepala.
“Dia nggak kerja Sabtu kemarin.”
Kami semua menoleh.
“Kok tau?” tanya Evan.
“Gue lewat gudang itu Sabtu sore,” kata Dimas. “Nganter nyokap gue ke toko bangunan.”
“Terus?”
“Terus gue nggak liat motornya Pak Manaf.” Dia memutar bola di tangannya sekali. “Gudangnya tutup.”
Hening.
“Terus dia ke mana?” tanya Keisha.
Dan tidak ada satu pun dari kami yang punya jawaban.
Dan tidak ada satu pun dari kami — termasuk aku, terutama aku — yang menanyakannya kepada orangnya.
Kami pulang jam tujuh malam.
Dan di mulut gang, Anita berjalan di sebelahku dan berkata, tanpa menoleh:
“Ay.”
“Hm?”
“Ibunya nggak keluar hari ini.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Ibu Ardev.” Anita masih menatap ke depan. “Lima kali kita ke sini, empat kali beliau keluar. Bikin teh, nanya kabar, marah-marahin Evan.”
“Hari ini shift siang mungkin.”
“Shift siang berangkat jam satu,” kata Anita. “Kita dateng jam dua. Sepatunya masih ada di rak.”
Aku berhenti berjalan.
“Nit.”
“Aku nggak lagi bilang apa-apa,” katanya, dan akhirnya menoleh. “Aku cuma nyatet.”
Dan kami melanjutkan jalan ke ujung gang, dan Evan masih memprotes gelarnya di depan sana, dan Keisha tertawa, dan Rey melambai dari mulut gang sampai kami tidak kelihatan lagi.
Malam itu aku mengirim satu pesan.
Dev.
ARDEV: Iya?
Ibu kamu gimana?
Jeda.
Lebih lama dari biasanya.
ARDEV: Baik.
Beneran?
ARDEV: Iya.
ARDEV: Cuma capek. Shift-nya lagi banyak.
Aku menatap layar itu.
Dan aku mengetik sesuatu, lalu menghapusnya. Lalu mengetik lagi, lalu menghapusnya lagi.
Dan yang akhirnya kukirim adalah:
Ya udah. Jangan lupa makan.
ARDEV: Iya.
ARDEV: Kamu juga.
Aku meletakkan ponselku di meja dan mematikan lampu.
Dan waktu aku berbaring di kamar dengan langit-langit yang terlalu tinggi, aku memikirkan tiga hal secara berurutan.
Bahwa ada telepon dari nomor tanpa nama.
Bahwa dia keluar rumah untuk menjawabnya.
Dan bahwa dia mencuci gelas yang sudah bersih.
Aku menyimpan ketiganya di kepalaku, di tempat yang sama di mana aku dulu menyimpan daftar dua puluh tiga kejadian yang tidak masuk akal.
Dan aku memutuskan untuk tidak menuliskannya di mana pun.
Aku sudah menutup buku abu-abu itu bulan Oktober.
Aku pikir aku sudah tidak membutuhkannya lagi.
Tiga hari kemudian, di sekolah, aku berpapasan dengan Rasendriya Wibisono di depan ruang tata usaha.
“Ayana.”
“Kak.”
Dia membawa map seperti biasa. Dan seperti biasa, dia berhenti dengan jarak yang tepat — cukup dekat untuk bicara, cukup jauh untuk tidak membuat siapa pun berkomentar.
“Kamu sibuk?”
“Lumayan, Kak. Kenapa?”
“Nggak. Cuma mau bilang.” Dia memindahkan map ke tangan yang lain. “Aku ngurus data alumni buat yayasan. Ada bagian pendataan orang tua siswa.”
“Oh.”
“Dan aku nemu sesuatu yang menurutku kamu perlu tau.”
Sesuatu di perutku bergerak.
“Apa, Kak?”
Dan Rasen berdiri di sana selama dua detik, dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang tidak pernah kulihat sebelumnya — bukan licik, bukan senang.
Ragu.
“Nggak jadi,” katanya.
“Kak?”
“Bukan hakku.” Dia tersenyum, dan senyum itu tidak sampai ke matanya. “Maaf ya, aku udah bikin kamu penasaran. Itu salahku.”
“Kak Rasen—”
“Ayana.” Dia sudah setengah berbalik. “Kalau kamu punya pertanyaan tentang seseorang, tanya ke orangnya.”
Dan dia pergi.
Dan aku berdiri di depan ruang tata usaha selama waktu yang cukup lama, memegang berkas yang tidak lagi kuingat isinya.
Karena Rasendriya Wibisono baru saja melakukan hal yang paling sopan, paling benar, dan paling jujur yang bisa dilakukan siapa pun dalam situasi itu.
Dan dia melakukannya dengan cara yang membuat aku tidak akan bisa berhenti memikirkannya selama berminggu-minggu.
Aku tidak tahu, waktu itu, apakah dia menyadarinya.
Aku masih tidak tahu sampai sekarang.
- 1 Bayangan
- 2 Hantu Sekretariat
- 3 Kantin
- 4 Tiga Ketukan
- 5 Dua Orang Bodoh
- 6 Empat Puluh Menit
- 7 Daftar
- 8 Tiga Kotak
- 9 Bencana Alam
- 10 Jam Enam Empat Belas
- 11 Sedikit Kata
- 12 Udah, Saya Aja
- 13 Nomor Tiga
- 14 Tiga Kali
- 15 Peringatan
- 16 Dev
- 17 Dapur
- 18 Dua Jam
- 19 Satu-satunya
- 20 Tiga Kali Empat
- 21 Satu Kali Serius
- 22 Di Depan Semua Orang
- 23 Empat Belas Hari
- 24 Rak Nomor Empat
- 25 Kue yang Gagal
- 26 Atap
- 27 Kembang Api Murah
- 28 Om dan Kakak reading
- 29 Modal Nol
- 30 Fakta Pertama
- 31 Gerbang
- 32 Kok Aku yang Lebih Tahu?
- 33 Kalau Aku Bilang
- 34 Dua Tahun
- 35 Sembilan Hari
- 36 Dua Ketukan
- 37 Satu Arah
- 38 Dokumen
- 39 Galon
- 40 Tolong
- 41 Arti Nama
- 42 Foto