← Nomor Tiga

Chapter Four

Tiga Ketukan

POV: Ardev

Ada tiga hal yang tidak pernah berubah dari hari Rabu.

Pertama, Dimas latihan sampai jam lima. Kedua, Evan tidak punya jadwal apa pun dan karena itu menjadi masalah bagi semua orang. Ketiga, aku harus menjemput Rey paling lambat jam lima lewat lima belas, karena Bu Sri tutup jam setengah enam dan aku tidak pernah mau jadi orang terakhir yang datang.

Jadi hari Rabu adalah hari di mana kami bertiga berkumpul di tribun lapangan belakang, dan dua dari kami tidak melakukan apa-apa.

“Dev.”

“Hm.”

“Menurut lo gue ganteng nggak.”

Aku tidak mengangkat kepala dari buku. “Nggak.”

“Bohong.”

“Ya udah, ganteng.”

“Nah kan.” Evan bersandar dengan puas. “Gue tau lo bohong yang pertama.”

“Gue bohong yang kedua.”

“NGGAK MUNGKIN.”

Di lapangan, Dimas melakukan lay-up untuk yang kesekian kali dengan konsistensi yang membosankan. Bola masuk. Dia mengambilnya sendiri. Mulai lagi. Sudah empat puluh menit dan tidak satu pun meleset, dan yang menakutkan bukan itu — yang menakutkan adalah bahwa dia tidak kelihatan puas sedikit pun.

Anak-anak tim yang lain sudah selesai empat puluh menit lalu. Sekarang mereka duduk berkelompok di bawah ring seberang, minum, bercanda, sesekali melirik ke arah kaptennya dengan campuran antara kagum dan tidak enak. Tidak ada yang mengajaknya berhenti. Tidak ada juga yang berani pulang duluan.

Itu bukan tim yang takut. Itu tim yang sedang menunggu.

“Menurut lo dia bakal berhenti jam berapa,” tanya Evan.

“Jam lima.”

“Kok yakin.”

“Karena jam lima gue pulang.”

Evan menoleh. “Hah?”

“Dia berhenti pas gue berdiri. Tiap hari.”

“Bo—” Evan menutup mulutnya sendiri. Lalu dia menoleh ke lapangan, lalu ke arahku, lalu ke lapangan lagi, seperti orang yang baru saja diberi tahu bahwa langit sebenarnya berwarna hijau dan semua orang sudah lama tahu kecuali dia.

“Dia latihan sampe lo pulang?”

“Gue nggak bilang gitu.”

“Lo baru aja bilang gitu.”

“Gue bilang waktunya kebetulan sama.”

“Dev, gue anak IPS tapi gue bisa ngitung.”

Aku membalik halaman dan tidak menjawab, karena aku memang tidak yakin, dan karena aku sudah lama memutuskan bahwa ada beberapa hal yang lebih baik tidak diperiksa terlalu dekat. Kalau ternyata benar, aku harus melakukan sesuatu tentang itu. Kalau ternyata salah, aku akan merasa bodoh karena sempat berpikir begitu.

Lebih murah tidak tahu.

“Dia kenapa sih.” Evan menyipitkan mata. “Dari tadi mukanya kayak orang nagih utang.”

“Final dua minggu lagi.”

“Ya emang kenapa kalau final.”

“Dia kapten.”

“Dia kapten tahun lalu juga.”

“Tahun lalu dia bukan kapten.”

Evan diam sebentar. “Oh iya.”

Aku membalik halaman.

Kadang aku heran bagaimana orang yang bisa menghafal harga saham perusahaan ayahnya sampai tiga digit di belakang koma bisa lupa siapa kapten tim basket sekolahnya sendiri tahun lalu. Lalu aku ingat bahwa Evan tidak lupa; Evan cuma tidak menyimpan hal-hal yang tidak menyakitinya.

Di bawah, bola memantul sekali lagi. Masuk.

Dimas berhenti. Berdiri di garis tembakan bebas, memegang bola dengan dua tangan, memandangi ring seolah-olah ring itu berutang sesuatu padanya.

Lalu dia menepuk bola tiga kali ke lantai.

Tuk. Tuk. Tuk.

Aku tidak mengangkat kepala. Aku cuma mengetuk pipa railing tribun di sebelahku, tiga kali, dengan buku jari.

Dimas mulai menggiring lagi.

“Kalian tuh,” kata Evan, “kadang nyeremin.”

“Apanya.”

“Itu.”

“Itu apa?”

“Ya itu. Yang barusan.” Dia melambaikan tangan ke arah lapangan, lalu ke arah railing, lalu ke arahku. “Kalian ngomong pake kode kayak mata-mata Perang Dingin dan gue di sini ngerasa jadi orang luar.”

“Lo juga ikut.”

“Ya emang. Tapi gue ikut tanpa ngerti.”

“Lo ngerti.”

“Gue nggak—” Evan berhenti. Lalu, tanpa sadar sedikit pun, dia mengetuk sandaran tribun. Tiga kali. “...Oh.”

Aku membalik halaman lagi.

“Gue nggak sadar gue ngelakuin itu,” katanya pelan.

“Iya.”

“Sejak kapan gue ngelakuin itu?”

“Lama.”

“Berapa lama?”

“Van.”

“Berapa lama, Dev.”

Aku menutup buku, dan aku menjawab dengan jawaban yang paling tidak berguna yang bisa kuberikan, karena jawaban yang sebenarnya bukan milikku untuk diceritakan.

“Lo yang paling sering pake.”


Jam empat lewat dua puluh, ponselku bergetar.

KAYLA (adik)

Aku menjauh dari tribun sebelum mengangkat.

“Halo.”

“Kak.” Suara Kayla terdengar terlalu tenang. Itu selalu tanda buruk. “Kompornya nggak mau mati.”

Aku berhenti berjalan.

“Maksudnya nggak mau mati?”

“Ya nggak mau mati. Aku puter, apinya masih ada.”

“Kamu masak apa?”

“Nggak masak apa-apa.”

“Kayla.”

“Aku cuma mau ngerebus air.”

“Kamu bilang nggak masak apa-apa.”

“Ngerebus air itu bukan masak.”

Aku memejamkan mata. “Sekarang kamu di mana?”

“Di dapur.”

“Mundur.”

“Kenapa?”

“Mundur dulu, Kay.”

Terdengar bunyi kursi digeser. “Udah.”

“Kamu liat tombol putarnya. Yang warnanya item.”

“Iya.”

“Kamu puter ke kanan atau ke kiri?”

Hening.

“...Ke kanan.”

“Puter ke kiri.”

“Oh.”

Api mati. Aku bisa mendengar perubahan bunyinya dari sini — desis yang berhenti, lalu sepi, lalu napas Kayla yang panjang sekali.

“Kak.”

“Iya.”

“Jangan bilang Ibu.”

“Nggak.”

“Beneran?”

“Beneran.”

“Soalnya kalau Ibu tau, nanti Ibu nggak bolehin aku ke dapur lagi, terus nanti Ibu—” Suaranya melompat sedikit. “Nanti Ibu ngerasa bersalah lagi.”

Dan di situ aku berdiri di pinggir lapangan basket dengan telepon di telinga, dan aku tidak berkata apa-apa selama mungkin dua detik penuh.

Sembilan tahun.

“Kay.”

“Iya.”

“Kamu nggak salah.”

“Aku hampir bikin kebakaran.”

“Kamu nggak hampir bikin kebakaran. Kamu salah puter tombol.”

“Sama aja.”

“Nggak sama.” Aku mengganti telinga. “Air buat apa?”

“...Buat kakak.”

“Hah?”

“Kakak selalu bikin teh sendiri kalau pulang. Aku pengen bikinin duluan.”

Aku menatap lapangan. Bola memantul. Masuk. Memantul lagi.

“Kay.”

“Iya.”

“Makasih ya.”

“Tapi gagal.”

“Nggak gagal.”

“Airnya nggak jadi panas.”

“Aku bilang nggak gagal.”

Dia diam. Lalu, dengan suara yang lebih kecil, “Kakak pulang jam berapa?”

“Habis jemput Rey.”

“Oke.”

“Kay.”

“Iya?”

“Jangan sentuh kompor lagi sampai aku pulang.”

“Iya.”

“Janji.”

“IYA, KAK.”

Aku menutup telepon dan berdiri di sana selama beberapa detik lagi sebelum kembali ke tribun.


Evan sedang menatap ponselnya waktu aku duduk.

Bukan menggulir. Menatap. Layarnya menyala, menampilkan sesuatu yang sudah dia baca, dan dia tidak melakukan apa-apa terhadapnya.

Aku duduk dan membuka buku lagi.

Dua menit berlalu.

“Bokap gue balik dari Singapura besok,” katanya akhirnya.

“Oh.”

“Katanya mau ngomong.”

“Oh.”

“‘Mau ngomong’ itu bahasa dia buat ‘gue udah nyusun rencana hidup lo dan lo tinggal ngangguk.’” Evan tertawa. Tawanya bagus. Tawanya selalu bagus, itu masalahnya. “Kali ini kayaknya soal kuliah. Dia udah ngobrol sama temennya di sana. Gue belum ditanya mau apa, tapi ya, kapan sih gue pernah ditanya.”

“Hm.”

“Gue bilang gue mau mikir dulu. Terus dia bilang—” Evan berhenti sebentar, dan waktu dia melanjutkan, nadanya sudah berubah jadi imitasi yang terlalu bagus untuk lucu. “‘Mikir itu buat orang yang nggak punya pilihan, Van.’”

Dia tertawa lagi.

Lalu dia mengetuk sandaran tribun.

Dua kali.

Aku tidak menoleh. Aku tidak berkomentar. Aku tidak berkata lo nggak apa-apa? karena aku tahu persis apa yang akan terjadi kalau aku bertanya — Evan akan bilang tidak apa-apa, lalu tertawa lebih keras, lalu mengganti topik ke sesuatu yang bodoh, dan besok dia akan datang ke sekolah dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya.

Yang kulakukan justru ini: aku membuka ponselku, dan mengetik pesan ke Bu Sri.

Bu, Rey saya jemput agak telat ya. Jam setengah enam. Maaf merepotkan.

Lalu aku menutup buku dan memasukkannya ke tas.

“Van.”

“Hm.”

“Anter gue jemput Rey.”

Evan menoleh. “Sekarang?”

“Iya.”

“Gue nggak bawa mobil hari ini.”

“Ya udah jalan kaki.”

“Jauh, Dev.”

“Dua kilo.”

“DUA KILO.”

“Lo bilang lo nggak ada acara.”

“Gue emang nggak ada acara, tapi ‘nggak ada acara’ bukan berarti ‘gue mau jalan dua kilo’—”

“Rey nanya lo terus.”

Evan berhenti.

“...Nanya gue?”

“Tiap hari.”

“Nanya apa?”

“Nanya kapan Kakak yang berisik itu dateng lagi.”

Hening tiga detik.

“Gue disebut ‘Kakak yang berisik’?”

“Iya.”

“Bukan ‘Om’?”

“Bukan.”

“Bagus.” Evan berdiri, menyampirkan tasnya, dan sudah berjalan duluan sebelum aku sempat bangkit. “Dim! Gue cabut duluan!”

Dari lapangan, Dimas mengangkat tangan tanpa menoleh.

Dan waktu kami sampai di ujung tribun, aku mendengar bunyi bola berhenti memantul di belakang kami, lalu tiga ketukan pelan di papan pantul.

Aku tidak menoleh.

Tapi aku mengetuk pagar tribun tiga kali sebelum turun, dan aku tahu dia mendengarnya.


Perjalanan dua kilometer itu memakan waktu tiga puluh lima menit karena Evan berhenti di dua warung dan satu tukang cilok.

“Lo tau nggak,” katanya, mulutnya penuh, “gue tuh sebenernya nggak suka cilok.”

“Lo baru beli dua puluh ribu.”

“Iya. Gue nggak suka. Tapi gue suka beli.”

“Itu nggak masuk akal.”

“Banyak hal nggak masuk akal, Dev.” Dia menunjuk ke arahku dengan tusuk sate. “Contohnya lo. Lo nggak pernah mau ditraktir tapi lo mau gue jalan dua kilo. Padahal jalan dua kilo itu lebih mahal dari cilok.”

Aku tidak menjawab, karena dia benar, dan karena dia tidak sadar bahwa dia benar, dan karena kalau dia sadar dia akan menang argumen ini selamanya.

Di depan rumah Bu Sri, Rey sudah menempel di pagar dengan tas gambar di punggung dan wajah orang yang sudah menunggu terlalu lama untuk ukuran lima tahun.

Lalu dia melihat siapa yang datang bersamaku, dan dia berteriak dengan volume yang tidak masuk akal untuk badan sekecil itu.

“KAKAK BERISIK!”

Evan berhenti berjalan.

“Dev.”

“Hm.”

“Gue baru dipanggil gitu di depan umum.”

“Iya.”

“Dan gue... seneng banget?”

“Iya.”

Dia berjongkok, dan Rey menabraknya dengan kecepatan penuh, dan Evan mengangkatnya tinggi-tinggi sambil tertawa dengan tawa yang berbeda dari tawanya tadi di tribun — dan aku berdiri di sana, memegang tas gambar Rey yang ditinggalkan begitu saja di trotoar, dan tidak berkata apa-apa.

Karena ada hal-hal yang tidak perlu dikatakan.

Dan karena kalau kukatakan, Evan akan tahu bahwa aku sengaja mengajaknya, dan seluruhnya akan rusak.


Gang menuju rumahku cukup sempit sehingga Evan harus berjalan di belakang, dan cukup panjang sehingga dia sempat menyapa empat orang yang tidak dia kenal sama sekali.

“Van.”

“Apa.”

“Lo nggak kenal Pak Tarno.”

“Sekarang kenal.”

“Lo baru manggil dia ‘Om’.”

“Dia keliatan seneng.”

Dia memang kelihatan senang. Itu masalahnya dengan Evan — dia melakukan hal-hal yang seharusnya menyebalkan dan entah bagaimana orang malah menyukainya.

Pintu rumah sudah terbuka sebelum kami sampai.

“KAK—” Kayla berhenti di ambang pintu. Melihat Evan. Lalu langsung berbalik masuk lagi dan berteriak dari dalam. “IBU, ADA BANG EVAN!”

“Kenapa dia lari?” tanya Evan.

“Dia mau ganti baju.”

“Dia pake seragam.”

“Dia mau ganti baju,” ulangku.

Rey sudah menyelinap masuk lebih dulu dan sekarang terdengar bunyi sesuatu jatuh di dalam. Aku melepas sepatu. Evan melepas sepatunya juga, lalu — tanpa diminta, tanpa dipikir, dengan gerakan yang sudah otomatis — menoleh ke sudut ruang tamu, melihat galon di dispenser, dan mengetuknya dengan buku jari.

Bunyinya nyaring. Kosong.

“Dev, galon lo—”

“Besok.”

“Gue bawain—”

“Besok, Van.”

Dia menyerah dengan sangat cepat, yang aneh, sampai aku sadar bahwa dia tidak menyerah sama sekali; dia cuma menyimpannya untuk nanti.

Ibu keluar dari dapur sambil menyeka tangan dengan lap, dan wajahnya langsung berubah jadi wajah tuan rumah yang panik.

“Aduh, Evan. Ibu nggak masak apa-apa—”

“Nggak apa-apa, Tante.”

“Duduk dulu ya, Ibu bikinin—”

“Beneran nggak usah, Tante.”

“Sebentar aja—”

Dan aku menyaksikan pemandangan yang sudah kusaksikan puluhan kali: ibuku, yang baru tidur empat jam, berusaha keras memberi sesuatu kepada anak orang yang bisa membeli seluruh gang ini kalau dia mau. Dan anak orang itu, yang tidak pernah bisa dilarang oleh siapa pun, kalah telak dalam dua puluh detik.

“...Ya udah deh, Tante. Teh aja.”

“Nah gitu.”

Ibu masuk ke dapur dengan langkah yang jauh lebih ringan daripada tadi.

Evan duduk di kursi plastik dan menoleh ke arahku.

“Nyokap lo tuh,” katanya pelan, “kenapa sih selalu menang.”

“Karena dia nggak nawarin. Dia maksa.”

“Nyokap gue nggak pernah maksa.”

Aku tidak menjawab itu.

Kayla muncul lagi — sudah ganti baju, rambut sudah disisir, dan berpura-pura sedang sibuk menata buku di meja seolah-olah dia sudah di situ dari tadi.

“Kay,” kata Evan, “kamu tadi lari.”

“Nggak.”

“Aku liat.”

“Itu bukan aku.”

“Kamu bilang ‘Ibu ada Bang Evan.’”

“Itu Rey.”

“Rey nggak bisa ngomong secepat itu.”

Kayla menatapnya dengan tatapan sembilan tahun yang paling mematikan yang bisa dia kerahkan, lalu berkata, “Bang Evan kalau ngomong terus, tehnya keburu dingin.”

Evan menoleh ke arahku dengan mata melebar.

“Dev.”

“Hm.”

“Adik lo baru pake teknik nyokap lo.”

“Iya.”

“Gue kalah lagi?”

“Iya.”

Dan Evan tertawa — tawa yang penuh, yang tidak dibuat-buat, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan ayahnya atau Singapura atau rencana hidup yang sudah disusun tanpa dia diajak bicara — dan Rey ikut tertawa walaupun jelas tidak paham, dan Kayla akhirnya ikut tertawa juga walaupun berusaha keras tidak.

Ibu keluar membawa dua gelas teh dan berdiri sebentar di ambang dapur, memandangi ruang tamu tiga kali empat yang penuh itu.

Aku melihat wajahnya.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku tidak menghitung apa-apa.