← Nomor Tiga

Chapter Thirty Six

Dua Ketukan

POV: Ayana

Dia mengirim pesan hari Sabtu jam sepuluh pagi.

ARDEV: Ay, saya boleh ketemu?

Dan aku duduk di kamarku dengan ponsel di tangan dan merasakan sesuatu yang tidak masuk akal.

Lega.

Karena dua puluh hari terakhir adalah dua puluh hari paling buruk yang pernah kualami, dan bukan karena kami bertengkar — kami tidak bertengkar sekali pun. Justru karena tidak ada apa-apa. Pesan yang dibalas empat jam kemudian dengan satu kata. Koridor yang dia lewati tanpa menoleh, dan aku tahu itu bukan sengaja, dan itu justru lebih buruk.

Dua puluh hari menunggu sesuatu terjadi.

Dan pagi itu, akhirnya, ada yang terjadi.

Boleh. Kapan?

ARDEV: Sore. Jam 4.

Di mana?

Dan aku menatap layar itu selama hampir satu menit sebelum balasannya masuk, dan waktu masuk, aku tahu.

ARDEV: Sekretariat.

Sekretariat.

Bukan rumahnya. Bukan aula. Bukan warung kopi seberang pasar induk.

Ruangan tempat aku menembaknya pertama kali, dan tempat dia mengira aku sedang dikerjai.

Aku menaruh ponselku di meja dan duduk di kursi belajarku selama beberapa menit.

Lalu aku mandi, dan berpakaian, dan berangkat empat jam lebih awal karena aku tidak sanggup berada di rumah.


Anita ada di sekretariat waktu aku sampai jam dua belas.

Tentu saja ada. Anita selalu ada.

“Kamu ngapain di sini?”

“Ngerjain laporan.”

“Ay, ini Sabtu.”

“Kamu juga di sini.”

“Aku ketua.”

Dan aku duduk di kursi yang biasa kududuki dan membuka laptop dan tidak mengerjakan apa pun selama tiga jam.

Anita tidak bertanya apa-apa selama dua jam pertama.

Di jam ketiga dia berkata, tanpa mengangkat kepala:

“Dia mau ketemu?”

“Iya.”

“Jam berapa?”

“Empat.”

Anita menutup laptopnya.

“Kamu mau aku di sini?”

“Nit—”

“Aku bisa di ruang sebelah.” Dia berdiri dan mulai membereskan mejanya. “Aku nggak akan denger. Cuma di sebelah.”

Dan aku hampir bilang tidak usah.

Aku hampir bilang tidak usah karena aku sudah menyusun sembilan versi percakapan yang akan terjadi sore itu, dan dalam delapan versi semuanya baik-baik saja, dan aku sungguh-sungguh percaya pada delapan versi itu.

“Iya,” kataku. “Kalau kamu nggak keberatan.”

Dan Anita mengangguk, dan pindah ke ruang sebelah, dan menutup pintu.

Dan setengah jam kemudian, aku mendengar suara dua orang di ruang sebelah, dan aku tahu Dimas ada di sana juga.

Aku tidak bertanya kenapa.

Aku juga tidak berpikir untuk bertanya, dan itu bagian yang paling tidak bisa kumaafkan dari diriku sendiri.


Dia datang jam empat kurang enam menit.

Dan hal pertama yang kulihat bukan wajahnya.

Yang kulihat adalah bahwa seragamnya kebesaran.

Bukan kebesaran dalam arti salah ukuran. Kebesaran dalam arti bahwa seragam itu masih seragam yang sama, dan bahwa orang di dalamnya sudah berbeda.

“Ay.”

“Dev.”

Dia berdiri di ambang pintu.

“Duduk,” kataku.

Dan dia masuk, dan duduk — di kursi dekat pintu, seperti selalu — dan meletakkan tasnya di lantai.

Dan aku menyadari sesuatu yang membuat perutku dingin.

Dia tidak membawa apa-apa selain tas.

Tidak ada obeng di kantong depan. Aku memeriksanya, karena aku sudah enam bulan memperhatikan kantong depan tas itu tanpa berniat memperhatikan.

Kosong.


“Ay, saya mau ngomong.”

“Iya.”

“Dan saya udah mikirin ini lama.”

“Iya.”

“Dan saya minta kamu denger sampai selesai.”

Dan aku duduk di kursi seberangnya dan berkata, “Iya.”

Dia menarik napas.

“Saya berhenti sekolah.”

Ruangan itu — kipas anginnya berdehem di sudut, seperti selalu — tidak berubah sama sekali.

“Kapan?” kataku.

“Bulan depan.”

“Kamu udah ngurus?”

“Udah.”

“Kelompok belajar?”

Dan dia mengangkat kepalanya dengan cepat, dan aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya, dan aku tahu persis apa itu.

Dia baru sadar berapa banyak yang aku tahu.

“Iya,” katanya, pelan.

“Terus?”

“Terus—” Dia berhenti. Menggosok lututnya sekali dengan telapak tangan. “Terus saya kerja penuh.”

“Berapa lama?”

“Sepuluh minggu. Mungkin dua belas.”

“Terus setelah itu?”

Dan dia tidak menjawab, karena tidak ada jawaban, karena “setelah itu” bukan sesuatu yang bisa dihitung.


Aku menunggu.

Aku menunggu karena aku tahu ada bagian kedua, dan karena aku sudah tahu bagian kedua itu apa sejak dia mengetik Sekretariat.

“Ay.”

“Iya.”

“Saya nggak bisa terusin ini.”

Dan begitu kalimat itu keluar, aku menyadari sesuatu yang aneh.

Aku tidak menangis.

Aku sudah menangis selama tiga minggu — di tangga darurat, di angkutan, di kamar mandi sekolah, di kamarku jam dua pagi. Aku sudah menghabiskan semuanya.

Yang tersisa cuma rasa ingin tahu yang sangat dingin.

“Kenapa?” kataku.

“Karena saya nggak punya apa-apa buat dikasih.”

“Aku nggak minta apa-apa.”

“Saya tau.”

“Terus?”

Dan Ardev Narasoma duduk di kursi dekat pintu di ruangan tempat aku menembaknya enam bulan lalu, dan berkata:

“Supaya kamu nggak repot.”


Aku ingin menuliskan dengan tepat apa yang terjadi di dalam dadaku pada detik itu, karena empat kata itu adalah empat kata yang akan kubawa seumur hidup.

Bukan sedih.

Marah.

Marah yang sangat murni, yang datang dari tempat yang bahkan tidak kutahu ada di dalam diriku, dan yang membuatku berdiri dari kursi tanpa memutuskan untuk berdiri.

“Repot.”

“Ay—”

“Kamu bilang repot.”

“Saya maksudnya—”

“Dev, kamu tau nggak apa yang barusan kamu lakuin?”

Dia tidak menjawab.

“Kamu barusan mutusin, sendirian, tanpa nanya, bahwa aku ini beban.” Suaraku naik dan aku tidak menahannya. “Kamu duduk di rumah kamu, dengan kertas dan kalkulator, dan kamu masukin aku ke kolom.”

“Ay.”

“Kamu masukin aku ke KOLOM, DEV.”

Dan dia menunduk.

Dan itu — dia menunduk, dia tidak membantah, dia tidak berkata bukan gitu — adalah konfirmasi yang paling lengkap yang bisa kudapat.

“Berapa lama kamu mikirin ini?” kataku.

“Ay—”

“Berapa lama.”

“...Dua bulan.”

“Dua bulan.” Aku tertawa, dan bunyinya mengerikan. “Jadi waktu kamu cium kening aku di gerbang, kamu udah tau.”

Hening.

“Waktu kamu bales pesen aku tiap hari selama enam minggu dan bilang nggak apa-apa, kamu udah tau.”

Hening.

“Dev, jawab.”

Dan dia mengangkat kepalanya.

“Iya,” katanya. “Saya udah tau.”


Aku duduk kembali.

Karena kakiku tidak sanggup lagi, dan karena berdiri sambil berteriak membuatku terlihat seperti orang yang sedang memohon, dan aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan memohon.

“Aku mau nanya satu hal,” kataku.

“Iya.”

“Dan aku mau kamu jawab jujur, sekali aja, buat terakhir kali.”

“Iya.”

Dan aku menatapnya dari seberang meja dan bertanya:

“Kamu ngelakuin ini buat aku, atau buat kamu?”

Dan Ardev Narasoma membuka mulutnya.

Dan menutupnya lagi.

Dan tidak menjawab.


“Aku nggak mau ini,” kataku akhirnya.

“Ay.”

“Aku bilang aku nggak mau.”

“Kamu nggak—”

“Aku boleh nggak mau, Dev.” Suaraku pecah, akhirnya, di kalimat itu. “Aku boleh bilang enggak. Itu hak aku.”

“Ay, saya nggak akan bisa—”

“Aku nggak nanya kamu bisa apa nggak.” Aku menatapnya. “Aku bilang aku nggak mau.”

Dan dia diam.

Lama sekali.

Dan waktu dia akhirnya bicara, yang dia katakan adalah kalimat yang menghancurkan seluruh sisa perlawananku.

“Saya tau kamu boleh nggak mau,” katanya. “Saya cuma nggak ngasih kamu pilihan.”

Dia berdiri.

“Dan saya tau itu jahat,” lanjutnya. “Saya udah tau dari dua bulan lalu.”

“Terus kenapa—”

“Karena saya lebih takut sama yang satunya.”

“Yang satunya apa?”

Dan Ardev Narasoma berdiri di sekretariat OSIS jam empat lewat dua puluh sore hari Sabtu dan berkata:

“Saya lebih takut sama hari di mana kamu yang bilang.”


Aku tidak mengejarnya.

Aku ingin mencatat itu, karena selama berbulan-bulan sesudahnya aku menghukum diriku sendiri untuk itu.

Aku duduk di kursi itu.

Dan dia mengambil tasnya, dan berjalan ke pintu, dan berhenti di ambangnya, dan berkata sesuatu yang begitu kecil sehingga aku hampir tidak mendengarnya.

“Makasih ya, Ay.”

Lalu dia keluar.

Dan tepat sebelum dia menghilang di koridor, tangannya menyentuh daun pintu.

Dan dia mengetuknya.

Dua kali.


Aku tahu artinya.

Itu bagian yang menghancurkanku.

Kalau aku tidak tahu — kalau aku masih seperti bulan Oktober, waktu aku melihat tiga ketukan di koridor dan menangis tanpa mengerti kenapa — mungkin aku bisa bertahan.

Tapi aku ada di ruang tamu tiga kali empat itu bulan Desember. Aku mendengar Evan menjelaskannya dengan suara yang pecah. Aku tahu persis, sejak lima bulan lalu, apa arti tiga ketukan dan apa arti dua.

Dua ketukan: gue nggak baik-baik aja.

Dan laki-laki itu — yang baru saja memutuskan hubungan kami dengan alasan supaya aku tidak repot, yang tidak memberiku pilihan, yang berdiri di sana dan mengaku bahwa dia tahu itu jahat —

— laki-laki itu, di detik terakhir sebelum pergi, meminta tolong.

Bukan kepadaku.

Karena dia tidak tahu aku tahu artinya. Karena kode itu bukan untukku; kode itu untuk dua orang lain di dunia ini, dan salah satunya sedang duduk di ruangan sebelah.

Dia mengetuk dua kali di ruangan di mana dia tahu Dimas Anggara ada.

Itu satu-satunya permintaan tolong yang keluar dari mulutnya — kecuali bahwa itu tidak keluar dari mulutnya sama sekali.

Dia tidak sanggup mengucapkannya dengan kata.

Jadi dia mengetuknya di pintu, dan pergi.


Aku menemukan Dimas di koridor tiga puluh detik kemudian.

Dia sudah berdiri. Sudah keluar dari ruang sebelah. Masih memegang gagang pintu.

Dan wajahnya —

Aku belum pernah melihat wajah Dimas Anggara seperti itu.

Anita muncul di belakangnya.

“Dim?”

Dia tidak menjawab.

“Dimas.”

Dan Dimas Anggara berdiri di koridor sekolah kami sore hari Sabtu dan berkata satu kalimat, sangat pelan, kepada tidak seorang pun secara khusus.

“Dua,” katanya.

“Dim—”

“Dia ngetok dua kali, Nit.”

Dan dia berlari.


Aku tidak ikut.

Anita ikut. Dia mengambil tasnya dan berlari mengejar Dimas dan berteriak agar aku tetap di sekretariat, dan aku tetap di sekretariat, karena kakiku tidak bekerja dan karena aku sudah selesai dan karena tidak ada satu pun bagian dari diriku yang tersisa untuk berlari.

Aku duduk di kursi itu sampai jam tujuh malam.

Kipas angin berdehem di sudut.

Dan sekitar jam enam, aku melakukan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan: aku mengeluarkan ponselku dan membuka aplikasi catatan, dan menggulir sangat jauh ke bawah, sampai ke sesuatu yang kutulis bulan Desember, jam sebelas malam, setelah malam di atap.

Dia nggak pernah bilang “nanti”.

Ke siapa pun. Sekali pun.

Aku baru sadar hari ini bahwa itu bukan sifat.

Itu luka.

Aku nggak tau gimana caranya nyembuhin orang yang lukanya berbentuk kebaikan.

Aku membacanya sekali.

Lalu aku menutup ponselku dan menaruhnya di meja.

Dan aku duduk di sekretariat yang kosong itu dan menyadari bahwa aku sudah tahu segalanya sejak bulan Desember.

Aku cuma tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan pengetahuan itu.

Dan aku masih tidak tahu.


Anita mengirim pesan jam delapan malam.

ANITA: Aku sama Dimas di rumahnya.

Dia ada?

ANITA: Nggak.

ANITA: Kayla bilang dia berangkat kerja jam 1 siang.

Aku menatap layar itu.

Jam satu siang.

Dia berangkat kerja jam satu siang, dan dia datang ke sekretariat jam empat kurang enam menit.

Artinya dia meninggalkan pekerjaannya di tengah shift untuk datang ke sekolah dan memutuskan hubungan denganku.

Artinya dia kehilangan upah setengah hari untuk melakukan itu.

Dan artinya — dan ini yang membuatku meletakkan ponselku di meja dan menutup wajahku dengan kedua tangan — dia bisa saja melakukannya lewat pesan.

Satu pesan. Tiga kalimat. Selesai, tanpa harus melihat wajahku, tanpa harus kehilangan apa pun.

Orang yang ingin lari akan melakukannya lewat pesan.

Dia datang.

Dia duduk di kursi dekat pintu selama dua puluh menit dan membiarkan aku berteriak kepadanya dan mengaku bahwa apa yang dia lakukan itu jahat.

Dan dia tetap melakukannya.

Ponselku bergetar lagi.

ANITA: Ay.

ANITA: Kamu di mana

Sekretariat.

ANITA: Masih??

ANITA: Ay ini jam 8

ANITA: aku ke sana

Nit.

Nggak usah.

ANITA: aku ke sana

Dan dua puluh lima menit kemudian pintu sekretariat terbuka dan Anita Wijayakusuma masuk dengan napas yang belum normal, dan di belakangnya ada Keisha yang jelas ditelepon di perjalanan dan yang jelas berlari dari gerbang.

Tidak ada yang bicara.

Keisha duduk di lantai di sebelah kursiku dan meletakkan kepalanya di lututku dan tidak berkata apa-apa.

Anita duduk di kursi seberang — kursi dekat pintu — dan tidak berkata apa-apa juga.

Dan kami bertiga berada di ruangan itu, dengan kipas angin yang berdehem, sampai penjaga sekolah datang jam sembilan dan bilang bahwa gedung akan dikunci.

Dan waktu kami keluar, di koridor yang gelap, Anita akhirnya bicara.

“Ay.”

“Hm.”

“Aku nggak akan bilang ini bakal baik-baik aja.”

“Aku tau.”

“Tapi aku mau bilang satu hal.”

Dan dia berhenti di ujung koridor dan menoleh.

“Dia ngetok dua kali,” katanya. “Di depan tiga orang.”

“Nit—”

“Orang yang bener-bener mau pergi nggak ngasih sinyal, Ay.”

Dan dia berjalan, dan Keisha memegangi lenganku sepanjang tangga.

Dan aku pulang malam itu ke rumah dengan sebelas jendela dan dua lampu menyala, dan aku tidak menangis sekali pun.

Dan tiga minggu kemudian, jam sebelas malam, Keisha meneleponku sambil menangis dan mengucapkan satu kalimat yang mengubah segalanya.

Tapi itu cerita bab berikutnya.