← Nomor Tiga

Chapter One

Bayangan

POV: Ardev

Aku bangun empat menit sebelum alarmku berbunyi, seperti yang sudah terjadi setiap hari selama tiga tahun terakhir.

Kumatikan alarm itu sebelum sempat bersuara. Bukan karena aku benci suaranya, tapi karena di rumah sepetak ini, satu bunyi kecil bisa membangunkan tiga orang sekaligus, dan tiga orang itu masing-masing punya alasan untuk tidur lebih lama dariku.

Di kamar sebelah — kalau ruangan berukuran dua kali tiga meter dengan tirai sebagai pintu masih pantas disebut kamar — ibuku baru pulang jam dua pagi. Aku tahu, karena aku mendengar gerendel pintu depan dibuka pelan-pelan, dan mendengar langkah kaki yang berusaha tidak berbunyi, dan mendengar Ibu berdiri sebentar di depan tirai kamar anak-anaknya sebelum akhirnya masuk ke kamarnya sendiri.

Ibu selalu berdiri di sana. Setiap malam. Tidak pernah masuk, tidak pernah menyalakan lampu. Cuma berdiri, mungkin sepuluh detik, mungkin dua puluh.

Aku tidak pernah bilang bahwa aku selalu terbangun untuk itu.

Aku turun dari kasur lantai dengan gerakan yang sudah hafal medan — tangan kiri menahan bantal supaya Rey tidak ikut bergeser, kaki kanan mencari celah di antara mainan yang belum sempat dibereskan semalam. Rey tidur dengan mulut terbuka dan satu kaki menempel di dinding, posisi yang menurut Kayla mustahil dan menurutku sudah biasa. Di sisi lain, Kayla meringkuk membelakangi kami berdua, memeluk guling yang kapasnya sudah menggumpal di satu ujung.

Sembilan tahun. Aku memandanginya sebentar lebih lama dari yang kurencanakan.

Kayla tidak pernah minta apa pun. Itu yang membuatku waspada.

Lalu aku keluar, dan dapur menyambutku dengan bau yang sama seperti kemarin dan kemarinnya lagi: minyak yang sudah dipakai tiga kali, dinding yang lembap, dan sedikit aroma sabun colek dari cucian yang digantung di dalam karena semalam hujan.

Kunyalakan kompor.


Menu pagi tidak pernah jadi keputusan besar buatku. Menu pagi adalah persoalan matematika.

Telur ada lima. Kalau kubuat dadar tipis dan dibagi, lima telur cukup untuk empat orang selama dua hari, dengan catatan Rey tidak minta tambah — dan Rey selalu minta tambah. Kalau kugoreng utuh, hari ini semua kenyang, besok tidak ada apa-apa. Nasi sisa semalam masih ada satu setengah centong. Kecap tinggal seperempat botol.

Aku memilih dadar tipis.

Bukan karena itu enak. Karena itu bisa dilipat, dipotong, dan dibuat kelihatan lebih banyak dari yang sebenarnya. Sudah lama aku menguasai seni membuat sesuatu tampak cukup padahal tidak.

Minyak mulai berbunyi. Kutuang adonan telur dengan satu tangan sambil tangan yang lain mengangkat panci air dari kompor sebelah, lalu kuseduh teh di tiga gelas dengan takaran gula yang berbeda-beda: Kayla setengah sendok karena giginya, Rey dua sendok karena dia tidak mau minum kalau tidak manis, dan Ibu tanpa gula sama sekali sejak pemeriksaan enam bulan lalu.

Aku sendiri minum air putih. Bukan karena prinsip. Karena gelasnya cuma ada empat dan satu retak.

“Kak.”

Kayla berdiri di ambang dapur, rambut sebelah kiri berdiri, seragam sudah dipakai tapi kancingnya salah masuk semua.

“Bangun lagi kepagian,” kataku tanpa menoleh. “Tidur lagi setengah jam.”

“Nggak bisa. Aku piket.”

“Piketnya jam berapa?”

“Setengah tujuh.”

“Berarti masih bisa.”

Kayla tidak tidur lagi. Dia menarik kursi plastik, duduk, dan mulai membetulkan kancingnya satu per satu dengan wajah orang yang sedang menyelesaikan pekerjaan penting. Kubiarkan. Anak itu paling tidak suka dibantu untuk hal-hal yang sudah dia putuskan bisa dia kerjakan sendiri.

Dia mewarisi itu dari seseorang, dan aku berusaha tidak memikirkan dari siapa.

“Kak, uang kas.”

“Berapa?”

“Lima ribu. Tapi nggak apa-apa kalau—”

“Ada di kaleng biru. Ambil sendiri.”

“Nanti Kakak—”

“Udah, ambil aja.”

Kayla menatapku. Sembilan tahun, dan tatapan itu jauh lebih tua dari umurnya, dan aku tidak suka melihatnya. Anak seumur itu harusnya cuma memikirkan apakah temannya bawa bekal yang lebih enak, bukan menghitung apakah kakaknya masih punya cukup uang setelah lima ribu diambil.

“Kayla.”

“Iya.”

“Lima ribu itu nggak bikin siapa-siapa jatuh miskin.”

Dia akhirnya bangkit, mengambil kaleng biru dari rak, dan menghitungnya dengan cepat — dan aku tahu persis bahwa dia bukan cuma mengambil lima ribu, tapi juga menghitung sisanya. Anak itu selalu menghitung sisanya.

Telur dadar pertama kuangkat. Yang kedua kutuang.

Dari kamar terdengar bunyi gedebuk pelan, lalu tangisan pendek yang berhenti sendiri dalam tiga detik, lalu langkah kaki kecil yang berat sebelah.

“Rey jatuh dari kasur,” lapor Kayla, tanpa panik, tanpa beranjak.

“Kasurnya di lantai.”

“Ya tetep aja jatuh.”

Rey muncul di ambang dapur sambil menyeret selimut yang panjangnya dua kali badannya, mata setengah tertutup, rambut ke segala arah. Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma berjalan ke arahku, menempelkan dahinya ke pahaku, dan berdiri di sana seperti itu.

Kubalik telur dengan tangan kanan dan kuelus kepalanya dengan tangan kiri.

“Udah bangun?”

Rey menggeleng, dahinya masih menempel.

“Ya udah. Berdiri aja dulu di situ.”

Dan lima belas menit berikutnya berlangsung seperti itu — aku menggoreng, memindahkan, membagi, menuang, sambil satu anak lima tahun menempel di kakiku seperti beban tambahan yang memang sudah kuperhitungkan sejak awal.


Ibu keluar jam setengah tujuh, dengan mata yang bengkak dan senyum yang selalu dia pasang sebelum masuk ke ruang tengah.

“Loh, udah semua?”

“Udah, Bu.”

“Kok nggak dibangunin?”

“Ibu baru tidur empat jam.”

“Ardev—”

“Tehnya udah dituang.” Kugeser gelas ke arahnya. “Nggak pake gula.”

Ibu duduk. Menatap meja — nasi sisa yang sudah dihangatkan, telur dadar yang dipotong-potong sampai kelihatan banyak, kecap yang dituang tipis-tipis di piring Rey supaya anak itu mau makan.

Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, karena ini juga sudah terjadi berkali-kali. Ibu akan menatap meja itu tiga detik terlalu lama, lalu matanya akan berubah, lalu dia akan mengucapkan sesuatu yang sudah kuhafal.

“Maaf ya, Nak.”

Nah.

“Bu, telurnya keburu dingin.”

“Ibu tuh—”

“Dingin, Bu.”

Dan Ibu menyerah, seperti biasa, karena sudah lama aku belajar bahwa cara paling efektif menghentikan permintaan maaf orang tua bukan dengan membantahnya, tapi dengan memberi mereka pekerjaan lain untuk dilakukan.

Kubereskan tiga kotak bekal di ujung meja sambil Ibu makan.

Tiga kotak. Selalu tiga.

Kayla pernah bertanya kenapa aku makan sebanyak itu di sekolah padahal di rumah cuma habis setengah piring. Kubilang di sekolah lebih capek. Dia percaya, karena umurnya sembilan tahun dan karena dia belum pernah melihat Dimas Anggara yang tidak pernah sarapan seumur hidupnya, atau Evan Radhitya Bramantyo yang katering rumahnya seharga tiga bulan uang belanja keluarga kami dan tetap tidak dia sentuh.

Kumasukkan ketiganya ke tas.

“Rey, ayo.”

“Nggak mau.”

“Penitipan buka jam tujuh.”

“Nggak mau.”

“Ada Bu Sri.”

Rey berpikir sebentar, lalu mengangkat kedua tangannya. Itu artinya iya, tapi digendong.

Kugendong dia. Tas di punggung, adik di lengan kiri, dan sepatu Kayla di tangan kanan karena anak itu selalu lupa mengambilnya dari rak luar.

Ibu mengantar sampai pintu. Berdiri di sana, memegang gagang pintu, dan berkata dengan suara yang lebih pelan dari yang dia kira:

“Kamu makan ya di sekolah.”

“Iya, Bu.”

“Beneran.”

“Iya.”

Aku bohong, dan Ibu tahu aku bohong, dan kami berdua sepakat untuk tidak membahasnya.


Sekolah adalah tempat di mana aku berhenti ada.

Bukan dengan cara yang menyakitkan. Lebih seperti perubahan suhu — aku melewati gerbang, dan sesuatu di sekelilingku menyesuaikan diri, dan tiba-tiba aku jadi bagian dari latar belakang yang tidak ada yang perlu perhatikan. Koridor tidak menoleh. Kantin tidak melambat. Nama belakangku tidak pernah muncul di pengumuman apa pun, baik untuk hal baik maupun buruk.

Dan itu, sejujurnya, adalah hasil kerja keras.

Butuh usaha untuk tidak terlihat di sekolah dengan seribu dua ratus siswa. Butuh perhitungan: kapan lewat koridor, di mana duduk, seberapa tinggi tangan diangkat saat guru bertanya — cukup untuk tidak dianggap tidak peduli, tidak cukup untuk diingat. Nilaiku kujaga di papan tengah dengan presisi yang lebih rumit daripada mengejar peringkat satu.

Tidak ada yang tahu itu. Dan itulah intinya.

Masalahnya cuma satu.

“DEV!”

Suara itu terdengar dari ujung koridor lantai satu, dan seluruh koridor menoleh, dan karena seluruh koridor menoleh, mereka jadi ikut melihat ke arah siapa suara itu ditujukan.

Aku menghela napas.

Evan Radhitya Bramantyo datang dengan kecepatan yang tidak wajar untuk jam tujuh pagi, tas tersampir di satu bahu, dasi longgar, dan senyum yang sudah menyala penuh sejak entah kapan. Di belakangnya, dengan kecepatan setengahnya dan wajah yang tidak menyala sama sekali, Dimas Anggara berjalan sambil memainkan bola basket di tangan kiri.

Dua orang paling dikenal di sekolah ini. Bulan dan Matahari, kalau mau meminjam istilah yang entah siapa yang mulai, tapi sekarang semua orang pakai.

Dan mereka berdua, setiap pagi, tanpa gagal, berjalan lurus menuju anak yang tidak ada yang tahu namanya.

“Bawa nggak?” Evan sudah menadahkan tangan sebelum sampai.

“Sarapan dulu di rumah, Van.”

“Gue udah sarapan.”

“Terus?”

“Punya lo lebih enak.”

“Punya gue nasi kemarin.”

“Ya itu maksud gue.” Evan mengambil kotak dari tasku dengan gerakan orang yang sudah tiga tahun melakukannya. “Nasi kemaren lo tuh ada rahasianya. Gue udah nanya ke chef di rumah gue dan dia nggak bisa niru.”

“Lo nanya ke chef soal nasi sisa?”

“Gue serius nanya.”

Dimas mengambil kotaknya sendiri tanpa berkata apa-apa. Dia membukanya, melihat isinya, lalu melihat ke arahku sebentar — cuma sekilas, dan cuma sepersekian detik — lalu menutupnya kembali dan menyimpannya di tasnya.

“Nanti aja,” katanya.

“Makan sekarang.”

“Nanti.”

“Dim.”

“Nanti, Dev.”

Dan aku tidak memaksa, karena aku tahu dia akan memakannya sebelum jam sembilan, dan karena aku juga tahu bahwa kalau dipaksa di depan koridor yang ramai, Dimas akan lebih memilih tidak makan sama sekali daripada terlihat sedang menerima sesuatu.

Kami bertiga berjalan bersama, dan di sinilah hal aneh itu selalu terjadi.

Orang-orang menyapa Evan. Orang-orang melirik Dimas. Anak kelas sepuluh menepi. Dua orang perempuan di dekat tangga tertawa terlalu keras supaya diperhatikan.

Dan di antara keduanya, berjalan seorang anak laki-laki yang membawa tas paling berat, yang tadi pagi sudah menggoreng telur untuk empat orang, mengantar adiknya ke penitipan, dan menghitung sisa uang di kaleng biru — dan tidak satu pun dari seribu dua ratus orang di gedung ini yang menoleh ke arahnya.

Aku tidak keberatan.

Sungguh, aku tidak keberatan. Ada kenyamanan tertentu dalam menjadi bagian yang tidak dilihat. Bayangan tidak pernah diminta menjelaskan dirinya. Bayangan tidak pernah ditanya kenapa sepatunya sudah dua tahun, atau kenapa dia tidak pernah ikut patungan, atau kenapa nilai matematikanya tujuh puluh delapan padahal—

Padahal apa, memangnya.

Padahal tidak apa-apa. Tujuh puluh delapan itu angka yang bagus. Tujuh puluh delapan itu angka yang tidak ada yang tanya.

“Dev.” Evan menyikutku. “Lo denger nggak sih.”

“Nggak.”

“Gue lagi cerita hal penting.”

“Lo tadi cerita soal nasi.”

“Itu penting.”

Dimas mengetuk railing tangga tiga kali sambil lewat, pelan, hampir tidak terdengar.

Kuketuk balik tiga kali.

Tidak ada yang bertanya apa artinya. Tidak ada yang pernah bertanya, karena tidak ada yang pernah memperhatikan bahwa itu terjadi.


Sore harinya, aula.

Besok ada rapat gabungan OSIS dengan pihak yayasan — aku tahu karena aku membaca papan pengumuman, dan aku membaca papan pengumuman karena tidak ada orang lain yang membacanya. Yang tidak kutahu, sampai aku lewat depan aula jam empat sore dan mendengar bunyi mendengung yang salah, adalah bahwa proyektor di ruangan itu sudah mati sejak dua minggu lalu.

Aku berhenti.

Pintu aula tidak dikunci. Di dalam, kursi-kursi sudah ditata untuk besok, dan di depan, layar putih tergantung menghadap ruangan kosong dengan proyektor yang berkedip merah di langit-langit.

Aku berdiri di ambang pintu selama mungkin sepuluh detik.

Ini bukan urusanku. Aku bukan anggota OSIS. Aku bukan panitia. Aku bahkan bukan orang yang akan hadir di rapat itu. Kalau proyektor itu tetap mati besok, tidak akan ada satu pun konsekuensi yang menyentuh hidupku.

Aku masuk.

Butuh dua puluh menit. Kabel HDMI-nya tidak rusak; sambungan di terminal langit-langit yang longgar, dan lampu proyektornya sebenarnya masih bagus, cuma kotor. Aku naik ke atas meja, membuka casing dengan obeng kecil yang selalu ada di kantong depan tasku, membersihkan lensa dengan ujung kemeja seragam karena tidak ada kain lain, lalu memasang ulang semuanya.

Layar menyala. Biru. Bersih.

Aku turun, memindahkan meja kembali ke posisi semula, merapikan kursi yang tadi kugeser, dan memungut sekrup yang jatuh di bawah baris ketiga.

Dari luar terdengar suara. Beberapa orang berjalan ke arah aula — suara perempuan, tertawa, dan seseorang yang bicara dengan nada orang yang sedang menjelaskan jadwal.

Aku melihat ke arah pintu.

Lalu kuambil tasku, kumatikan lampu ruangan, dan keluar lewat pintu samping.

Aku tidak menoleh ke belakang. Kalau saja aku menoleh, mungkin aku akan melihat seorang perempuan berhenti di tengah aula, menatap layar biru yang menyala di depan sana, dan mengucapkan sesuatu dengan suara pelan yang tidak ditujukan kepada siapa pun.

Tapi aku sudah setengah jalan menuju penitipan, memikirkan apakah telur di rumah masih cukup untuk besok pagi.

Dan aku tidak pernah tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ada orang yang berhenti dan bertanya siapa.