Chapter Thirteen
Nomor Tiga
POV: Ardev
Aku punya teori tentang ruangan, dan teori itu sudah kubuktikan berkali-kali sehingga sekarang aku menganggapnya hukum alam.
Teorinya begini: kalau ada tiga orang di satu ruangan, selalu ada urutan.
Bukan urutan yang disepakati. Tidak ada yang mengumumkannya. Tapi begitu tiga orang masuk ke satu ruangan, dalam waktu kurang dari sepuluh detik, semua orang di ruangan itu sudah tahu siapa yang akan disapa duluan, siapa yang akan ditanya pendapatnya, dan siapa yang akan dianggap sebagai bagian dari perabot.
Aku nomor tiga.
Dan aku ingin mencatat, dengan sejelas mungkin, bahwa ini bukan keluhan.
Nomor tiga itu posisi yang nyaman. Nomor tiga tidak pernah dimintai pidato. Nomor tiga bisa memperhatikan seluruh ruangan tanpa ada yang memperhatikannya balik. Nomor tiga bisa pergi lebih dulu tanpa ada yang bertanya kenapa.
Aku sudah tiga tahun mengelola posisi itu dengan sangat hati-hati, dan aku bagus dalam pekerjaan ini.
Yang tidak pernah kuperhitungkan adalah apa yang terjadi kalau ada orang yang menolak memakai urutan itu.
Semuanya dimulai hari Senin, tiga hari setelah rapat yayasan.
Aku sedang membereskan panel listrik di ruang musik — bukan diminta; kabel groundingnya bunyi mendengung dan itu mengganggu — waktu seseorang berdiri di ambang pintu.
“Ardev.”
Aku menoleh dan hampir menjatuhkan obeng.
“Kamu susah dicari,” katanya.
“Saya di kelas.”
“Aku ke kelas kamu tiga kali.”
“Oh.”
Hening.
Dia masuk. Meletakkan sesuatu di meja — kotak kecil, dibungkus plastik dari toko kue di depan sekolah — dan mundur selangkah seolah-olah menaruhnya adalah bagian tersulit.
“Itu apa?”
“Bolu.”
“Kenapa?”
“Karena aku mau ngasih.”
Dan di situ, seluruh sistem di kepalaku menyala sekaligus.
Ini bukan pemberian. Ini pembayaran.
Aku sudah melihat pola ini seumur hidupku. Orang datang membawa sesuatu setelah kamu menolong mereka, dan yang mereka bawa itu bukan hadiah — itu upaya menutup garis. Karena selama garis itu terbuka, mereka tidak nyaman. Manusia tidak tahan berutang, bahkan pada hal-hal kecil.
Dan tiga hari lalu aku baru saja membuat seseorang berutang sangat besar tanpa memberinya kesempatan menolak.
Itu kesalahanku. Aku menghitung dua belas langkah dan lupa menghitung satu hal: bahwa dengan menutup pintu dari luar, aku meninggalkan orang di dalam yang tidak punya cara keluar.
“Nggak usah,” kataku.
“Ini cuma bolu.”
“Iya. Tapi nggak usah.”
“Ardev—”
“Yang di rapat itu bukan buat ditukar sama apa-apa.” Aku menutup panel dan memasang bautnya. “Kalau kamu ngerasa harus bayar, berarti saya yang gagal.”
Aku menoleh untuk memastikan kalimat itu diterima.
Dan yang kulihat bukan kelegaan.
Yang kulihat adalah seseorang yang sedang menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sama sekali — bukan malu, bukan tersinggung. Sesuatu yang lebih mirip marah, kecuali bahwa tidak masuk akal kalau itu marah.
“Oke,” katanya akhirnya.
Dia mengambil kotak itu kembali.
Dan di ambang pintu, dia berhenti.
“Ardev.”
“Iya?”
“Kamu tau nggak sih,” katanya, “kamu barusan ngelakuin hal yang persis sama kayak Bu Wulan.”
“Apa?”
“Kamu mutusin sendiri apa yang aku rasain.”
Dan dia pergi.
Dan aku berdiri di ruang musik dengan obeng di tangan selama mungkin satu menit penuh, mencoba mencari di mana letak kesalahan hitungku, dan tidak menemukannya.
Yang terjadi selama sebelas hari berikutnya menghancurkan seluruh sistemku secara bertahap.
Hari kedua: Ayana ada di koridor gedung utara jam istirahat. Bukan lewat. Berdiri. Dan waktu aku lewat, dia menyapa dengan namaku — keras, jelas, di depan enam orang.
Enam orang menoleh.
Hari keempat: dia meminta bantuanku secara resmi. Lewat Bimo. Dengan surat. Permohonan bantuan teknis untuk persiapan Pentas Seni. Ditandatangani ketua dan wakil ketua OSIS.
Aku membaca surat itu tiga kali.
Bukan karena isinya rumit. Karena tidak ada satu pun orang di sekolah ini yang pernah menulis namaku di dokumen resmi selama tiga tahun.
“Kenapa pake surat?” tanyaku, waktu akhirnya aku datang ke sekretariat.
“Karena kalau nggak pake surat, kamu nggak dapet apa-apa.”
“Saya nggak minta apa-apa.”
“Aku tau.” Dia menyodorkan map. “Makanya aku yang minta.”
Hari keenam: dia membawa dua gelas teh ke aula tempat aku sedang memeriksa instalasi panggung, meletakkan satu di sebelahku, lalu duduk di baris kursi paling depan dan mengerjakan berkasnya sendiri selama satu jam empat puluh menit tanpa bicara.
Aku tidak mengerti bagian yang ini sama sekali.
Hari ketujuh: dia datang ke aula membawa map, melihat aku sedang menarik kabel di bawah panggung, dan tanpa berkata apa-apa dia berlutut dan memegangi ujung kabel yang lain.
“Nggak usah,” kataku. “Kotor.”
“Aku pake rok.”
“Justru.”
“Ardev.” Dia menarik ujung kabel itu dan mulai merapikannya. “Kamu nggak bisa nyuruh aku pergi dari ruangan yang aku juga tanggung jawabnya.”
Aku tidak punya jawaban untuk itu, jadi aku melanjutkan bekerja.
Empat puluh menit kemudian dia berdiri, membersihkan lututnya, dan pergi tanpa mengucapkan apa-apa selain “besok jam empat ya.”
Hari kedelapan: Evan menemukanku di kantin dan duduk di depanku dengan wajah yang sudah kukenal sebagai wajah orang yang menyimpan sesuatu sejak pagi.
“Dev.”
“Hm.”
“Gue mau nanya.”
“Nggak.”
“GUE BELUM NANYA.”
“Gue tau lo mau nanya apa.”
“Kalau lo tau, berarti lo mikirin.”
Aku berhenti mengunyah.
Dan Evan Radhitya Bramantyo — yang sepuluh tahun ini tidak pernah berhasil menang argumen apa pun melawanku — menunjuk ke arahku dengan sendok dan berkata, dengan wajah paling puas yang pernah kulihat:
“Kena.”
“Van.”
“Gue nggak bakal nanya apa-apa lagi.” Dia berdiri sambil mengangkat kedua tangan. “Gue cuma mau nyatet ke sejarah bahwa hari ini, jam dua belas lewat lima belas, Ardev Narasoma kena.”
Hari kesembilan: aku menemukan tutup kotak makanku sudah diganti.
Bukan kotaknya. Cuma tutupnya. Ukurannya pas, warnanya sedikit lebih tua, dan karet gelang yang dulu mengikatnya sudah tidak ada di tasku.
Aku bertanya ke Kayla malam itu apakah dia yang mengganti.
Kayla bilang tidak.
Aku bertanya ke Evan.
Evan bilang tidak, sambil menatapku dengan cara yang membuatku ingin pergi dari ruangan itu.
Malam hari kesembilan, aku duduk di ruang tamu dan melakukan apa yang selalu kulakukan kalau ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Aku menghitungnya.
Aku susun kemungkinannya, satu per satu, seperti menyusun soal.
Kemungkinan pertama: dia merasa berutang.
Ini yang paling masuk akal, dan ini yang sejak awal kupakai. Masalahnya, utang punya sifat khas — utang mengecil seiring waktu. Orang yang merasa berutang akan berusaha keras selama seminggu, dua minggu, lalu perlahan berhenti, karena beban itu memudar sendiri.
Yang ini tidak memudar. Yang ini bertambah.
Coret.
Kemungkinan kedua: dia butuh sesuatu dariku.
Ini juga masuk akal. Pentas Seni butuh orang teknis, dan aku bisa mengerjakannya gratis. Tapi kalau itu tujuannya, surat resmi sudah cukup. Tidak perlu teh. Tidak perlu duduk satu jam empat puluh menit di baris depan. Dan jelas tidak perlu tutup kotak makan.
Coret.
Kemungkinan ketiga: dia orang yang memang seperti itu ke semua orang.
Aku memeriksa yang ini paling lama, karena yang ini paling nyaman.
Lalu aku mengingat sesuatu yang membuatku mencoretnya juga: aku sudah tiga tahun memperhatikan sekolah ini, dan aku tahu persis bagaimana Ayana Kusumaningrat memperlakukan orang lain. Ramah, efisien, adil, dan berjarak. Sangat berjarak. Dia tidak duduk satu jam empat puluh menit di ruangan orang lain.
Coret.
Dan tinggal satu kemungkinan yang belum kucoret, dan aku duduk di kursi plastik itu menatapnya seperti menatap soal yang jawabannya jelas salah tapi tidak tahu di mana letak salahnya.
Karena kemungkinan keempat itu mustahil.
Bukan mustahil dalam arti kecil kemungkinannya. Mustahil dalam arti melanggar hukum alam.
Ayana Kusumaningrat: peringkat dua paralel, wakil ketua OSIS, anak pengusaha, dan — ini bagian yang tidak bisa kuabaikan walaupun aku ingin — seseorang yang membuat koridor berubah bunyinya waktu dia lewat.
Dan aku.
Anak papan tengah dengan catatan pembinaan pertama seumur hidupnya, kaus kaki tidak sepasang, dua adik yang harus dijemput, dan hari Sabtu yang sudah dijual ke gudang di Jalan Melati.
Aku menulis dua kolom di kepalaku dan membandingkannya.
Hasilnya tidak dekat. Hasilnya bahkan tidak di halaman yang sama.
Jadi aku mencoret kemungkinan keempat.
Bukan karena aku membenci diriku sendiri. Aku tidak membenci diriku sendiri; aku tahu persis apa yang bisa kukerjakan dan berapa nilainya, dan itu tidak sedikit.
Aku mencoretnya karena aku sudah lama belajar bahwa satu-satunya cara untuk tidak jatuh adalah dengan tidak berdiri di tempat yang tidak menahan berat badanmu.
Dan kalau keempat kemungkinan sudah dicoret, artinya ada variabel yang belum kutemukan.
Aku memutuskan untuk mencarinya.
Dan aku ingin mencatat, karena ini penting untuk apa yang terjadi kemudian, bahwa selama seluruh proses itu — sebelas hari, empat kemungkinan, dua kolom perbandingan — tidak sekali pun terlintas di kepalaku untuk bertanya langsung.
Bertanya itu meminta.
Meminta itu membuka garis.
Jadi aku memilih menghitung sendiri, seperti biasa, dan aku tidak menyadari bahwa itulah kesalahan pertamaku, dan bahwa aku akan mengulanginya lagi sebelas bulan kemudian dengan harga yang jauh lebih mahal.
Aku menemukannya hari kesebelas, jam empat sore, di depan gerbang.
Aku sedang berjalan ke arah halte — Rabu, artinya menjemput Rey — waktu sebuah mobil berhenti di depan gerbang samping dan seseorang keluar dari kursi pengemudi untuk membukakan pintu penumpang.
Rasendriya Wibisono.
Dan yang berjalan ke arah mobil itu, dengan map di tangan dan tas di bahu, adalah Ayana.
Aku berhenti di trotoar.
Mereka bicara sebentar. Rasen berkata sesuatu; Ayana menggeleng sambil menunjuk arah dalam sekolah, jelas menjelaskan bahwa dia belum selesai. Rasen mengangguk. Menutup kembali pintu mobilnya. Lalu berjalan masuk bersamanya.
Dua menit. Selesai. Tidak ada yang aneh sama sekali.
Dan aku berdiri di trotoar itu dengan tas di bahu dan merasakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan di bawah tulang rusuk, dan sekaligus — pada detik yang sama persis — merasakan sesuatu yang jauh lebih kuat dari itu.
Lega.
Karena akhirnya masuk akal.
Rasendriya Wibisono: mantan ketua OSIS, kelas percepatan, putra pemilik yayasan. Orang yang datang membawa berkas yang dibutuhkan di menit yang tepat. Orang yang memuji pekerjaan orang lain dengan tenang dan tidak berlebihan. Orang yang membukakan pintu mobil.
Kalau kamu menyusun dua kolom, dia ada di halaman yang sama.
Nah, pikirku. Itu baru masuk akal.
Dan aku melanjutkan jalan ke halte dan menaiki angkutan dan menjemput Rey dan menggendongnya pulang, dan sepanjang jalan itu aku menjelaskan kepada diriku sendiri, dengan sabar dan menyeluruh, bahwa yang terjadi selama sebelas hari terakhir kemungkinan besar adalah campuran dari kemungkinan pertama dan kedua, dan bahwa itu akan memudar dalam tiga sampai empat minggu, dan bahwa sampai saat itu tugasku cuma satu: menyelesaikan pekerjaan Pentas Seni dengan baik dan tidak menjadi beban bagi siapa pun.
Rey tertidur di bahuku sebelum kami sampai gang.
Kayla membukakan pintu, melihat wajahku, dan langsung menyipitkan mata.
“Kakak kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kakak mukanya kayak pas galon abis.”
“Kay.”
“Iya, iya.”
Aku memindahkan Rey ke kasur dan keluar lagi, dan Kayla sudah menunggu di dapur dengan dua gelas teh yang jelas dia buat sebelum aku pulang, karena airnya sudah tidak terlalu panas.
Aku duduk. Dia duduk di seberangku dan menatapku seperti orang dewasa berumur sembilan tahun.
“Kak.”
“Hm.”
“Kalau ada orang baik ke kita, itu artinya apa?”
Aku mengangkat kepala terlalu cepat.
“Kenapa nanya gitu?”
“Nggak. Nanya aja.”
Aku memutar gelas di tangan.
“Artinya kita harus hati-hati,” kataku.
Kayla mengerutkan kening. “Kenapa hati-hati?”
“Karena orang baik itu biasanya lagi butuh sesuatu, dan kalau kita nggak bisa kasih, mereka bakal kecewa. Terus kita yang jadi jahat.”
Adikku menatapku cukup lama.
“Itu jawabannya jelek, Kak,” katanya akhirnya.
“Kay—”
“Bang Evan baik sama kita.”
Aku membuka mulut.
“Bang Evan butuh apa dari kita?” tanya Kayla.
Dan aku duduk di dapur itu dengan gelas teh yang sudah dingin, dan tidak punya satu pun jawaban yang tidak memalukan.
“Tidur,” kataku.
“Kakak nggak bisa jawab.”
“Tidur, Kay.”
Dan aku merasa jauh lebih baik setelah semuanya kembali ke urutan yang benar.
Nomor satu, nomor dua, nomor tiga.
Aku bagus di nomor tiga.
Yang tidak kuketahui — dan yang baru kuketahui berbulan-bulan kemudian — adalah bahwa sore itu Rasendriya Wibisono datang untuk menawarkan sesuatu, dan bahwa Ayana menolaknya dengan sopan di tengah lapangan parkir, dan bahwa sepuluh menit setelah aku berbalik dan berjalan ke halte, dia berdiri di depan sekretariat yang sudah dikunci dan berkata kepada Anita Wijayakusuma:
“Nit.”
“Hm.”
“Aku nggak bisa gini terus.”
Dan Anita, yang sedang memasukkan kunci ke tasnya, menjawab tanpa menoleh:
“Ya udah. Bilang.”
- 1 Bayangan
- 2 Hantu Sekretariat
- 3 Kantin
- 4 Tiga Ketukan
- 5 Dua Orang Bodoh
- 6 Empat Puluh Menit
- 7 Daftar
- 8 Tiga Kotak
- 9 Bencana Alam
- 10 Jam Enam Empat Belas
- 11 Sedikit Kata
- 12 Udah, Saya Aja
- 13 Nomor Tiga reading
- 14 Tiga Kali
- 15 Peringatan
- 16 Dev
- 17 Dapur
- 18 Dua Jam
- 19 Satu-satunya
- 20 Tiga Kali Empat
- 21 Satu Kali Serius
- 22 Di Depan Semua Orang
- 23 Empat Belas Hari
- 24 Rak Nomor Empat
- 25 Kue yang Gagal
- 26 Atap
- 27 Kembang Api Murah
- 28 Om dan Kakak
- 29 Modal Nol
- 30 Fakta Pertama
- 31 Gerbang
- 32 Kok Aku yang Lebih Tahu?
- 33 Kalau Aku Bilang
- 34 Dua Tahun
- 35 Sembilan Hari
- 36 Dua Ketukan
- 37 Satu Arah
- 38 Dokumen
- 39 Galon
- 40 Tolong
- 41 Arti Nama
- 42 Foto