← Nomor Tiga

Chapter Thirty Seven

Satu Arah

POV: Evan

Gue lagi di ruang makan waktu telepon itu masuk.

Gue inget detailnya karena gue inget semua detail dari malam itu, dan gue nggak tau kenapa otak gue nyimpen hal-hal yang nggak penting dan ngebuang yang penting.

Meja buat dua belas orang. Gue duduk di kursi kelima dari kiri, yang gue pilih waktu umur delapan tahun karena posisinya paling jauh dari kursi kepala meja. Ada empat piring di depan gue dan gue baru nyentuh satu. Bokap gue di Jakarta. Nyokap gue di kamarnya.

Jam sembilan lewat dua puluh dua.

KAYLA.

Gue langsung berdiri.

Kayla nggak pernah nelfon gue. Kayla ngirim gambar. Kayla ngirim stiker. Kayla ngetik pesen panjang tanpa titik.

Kayla nggak pernah nelfon.

“Kay?”

Dan yang gue denger di seberang bukan suara anak sepuluh tahun.

Yang gue denger adalah suara orang yang udah nangis cukup lama sampe napasnya nggak bisa dibenerin lagi.

“Bang Evan—”

“Kay, kamu di mana.”

“Bang Evan, Ibu—”

“KAY. KAMU DI MANA.”

Dan gue udah jalan ke arah pintu waktu dia bilang, dan gue udah keluar rumah waktu dia ngulang, dan gue udah di mobil waktu gue akhirnya ngerti kata-katanya.

“Ibu jatuh.”


Gue nyampe rumah sakit jam sepuluh kurang sepuluh.

Gue lewatin tiga lampu merah dan gue nggak akan bohong soal itu.

Dimas nyampe empat menit setelah gue — dia yang gue telfon dari mobil, dan dia yang nelfon Anita, dan Anita yang nelfon Keisha, dan Keisha yang nelfon Ayana.

Itu urutannya. Gue nyusun ulang belakangan. Lima menit, lima telepon, dan enam orang bergerak ke arah yang sama dari lima tempat berbeda.

Dan gue nemuin Kayla duduk di kursi tunggu IGD sambil megangin Rey yang tidur di pangkuannya.

Sepuluh tahun. Megangin anak lima tahun. Di kursi tunggu IGD. Sendirian.

“Kay.”

Dia ngangkat kepalanya.

Dan waktu dia liat gue, mukanya hancur — bukan langsung; ada satu detik di mana dia nahan, satu detik di mana dia masih nyoba jadi orang yang megang kendali — terus hancur.

Gue jongkok.

“Bang Evan.”

“Iya.”

“Aku nggak tau harus telfon siapa.”

Dan gue meluk anak itu di kursi tunggu IGD dengan adiknya yang tidur di antara kita, dan gue bilang, “Kamu bener, Kay. Kamu bener banget.”


Ini yang kejadian, versi yang gue susun dari potongan-potongan selama tiga hari berikutnya.

Ibunya kolaps di dapur jam delapan malem.

Kayla yang liat. Kayla yang manggil tetangga. Pak Tarno yang manggil ambulans dan naik ambulans itu bareng mereka bertiga karena nggak ada orang dewasa lain di rumah.

Ardev nggak ada.

Ardev di pasar induk, shift jam dua siang sampe jam sepuluh malem, dengan ponsel di loker karena di sana nggak boleh bawa hape pas ngangkat.

Dua puluh dua panggilan tak terjawab.

Dia baru liat jam sepuluh lewat.

Dan dia nyampe rumah sakit jam sebelas kurang lima belas, masih pake baju kerja, dengan tangan yang masih bau kardus basah.


Gue liat dia masuk lewat pintu IGD.

Dan gue mau nulis ini dengan bener karena gue nggak akan pernah bisa jelasin ke orang yang nggak ada di situ.

Dia nggak lari.

Semua orang lari di rumah sakit. Itu satu-satunya tempat di dunia di mana orang lari dan nggak ada yang negur.

Ardev jalan.

Cepet, tapi jalan. Dan mukanya — mukanya nggak ada apa-apa. Kosong. Bukan panik, bukan takut. Kosong kayak orang yang lagi baca daftar di kepalanya.

Dia nyamperin suster. Nanya. Dengerin. Ngangguk.

Terus dia nanya lagi — dan gue liat dari jauh dia nanya sesuatu yang bikin susternya berhenti, dan gue baru tau dua jam kemudian bahwa yang dia tanyain adalah berapa biaya IGD malam ini dan apakah bisa dicicil.

Jam sebelas kurang lima belas. Ibunya di dalem. Dan hal pertama yang keluar dari mulut orang itu adalah pertanyaan soal cicilan.

Terus dia nyamperin Kayla.

“Kay.”

“Kak—”

“Kamu jangan nangis dulu, ya.”

Dan Kayla berhenti nangis.

Dalam dua detik. Dia berhenti nangis, dan dia ngangguk, dan dia betulin posisi Rey di pangkuannya kayak orang yang baru dikasih tugas.

Dan gue berdiri tiga meter dari situ dan gue harus jalan ke luar karena gue nggak sanggup liat.


Yang kejadian jam satu pagi adalah salah gue.

Gue mau bilang itu duluan.

Semua orang bilang Dimas yang mukul, dan iya, Dimas yang mukul. Tapi yang mulai gue.

Kita di koridor lantai dua. Ibunya udah dipindah ke ruang rawat. Kayla sama Rey tidur di kursi tunggu, dijagain Keisha sama Anita.

Dan Ardev keluar dari ruang administrasi dengan kertas di tangan.

“Gimana?” tanya Dimas.

“Aman.”

“Aman gimana?”

“Udah gue urus.”

Dan gue tau — gue TAU, gue bisa liat dari cara dia megang kertas itu — bahwa nggak ada satu pun bagian dari itu yang aman.

“Dev.”

“Hm.”

“Berapa?”

“Van.”

“Gue nanya berapa.”

Dan dia bilang, dengan nada paling biasa di dunia:

“Nggak usah, Van.”


Gue udah nyiapin ini tiga minggu.

Bukan bohong. Gue udah nyiapin kalimat gue tiga minggu, sejak malem di trotoar pasar induk, karena gue tau bakal ada hari kayak gini dan gue tau gue nggak boleh nawarin duit.

Jadi gue nggak nawarin duit.

“Gue nggak nawarin duit,” kata gue.

“Van—”

“Gue nawarin nama gue.”

Dia berhenti.

“Bokap gue kenal direktur rumah sakit ini,” kata gue, dan gue ngomong cepet karena gue takut kalau gue pelan gue bakal nangis. “Gue nggak minta gratis. Gue minta jadwal. Gue minta ruangan. Gue minta biar nyokap lo nggak nunggu tiga minggu buat tindakan yang harusnya minggu depan.”

“Van.”

“Itu nggak keluar duit sepeser pun dari gue, Dev.” Suara gue naik. “Itu cuma telepon. SATU TELEPON.”

Dan Ardev Narasoma berdiri di koridor lantai dua rumah sakit jam satu pagi, dan dia natap gue, dan dia bilang:

“Makasih ya, Van. Tapi nggak usah.”


Dimas mukul dia setelah itu.

Sekali. Tangan kanan. Nggak dibuka — kepalan. Kena rahang kiri.

Ardev jatuh ke tembok.

Gue teriak sesuatu. Gue nggak inget apa.

Dan Dimas berdiri di situ dengan tangan masih ngepal dan napas yang salah semua, dan dia nggak bilang apa-apa sama sekali, dan itu yang paling nyeremin.

Terus dia jalan dua langkah.

Dan dia meluk Ardev.

Dengan tangan yang sama. Ardev masih setengah nyender ke tembok, tangan di rahangnya, dan Dimas meluk dia sekuat itu sampe gue bisa liat punggung Ardev ketarik.

Dan Dimas Anggara — yang gue kenal sepuluh tahun, yang gue nggak pernah liat nangis sekali pun, nggak waktu bokapnya masuk rumah sakit, nggak waktu kita kalah final kelas sebelas —

Dimas nangis di koridor lantai dua rumah sakit jam satu pagi.

Nggak berisik. Cuma bahunya.

Dan Ardev berdiri di situ dengan tangan di rahangnya dan nggak bales meluk, karena dia nggak tau caranya, karena nggak ada satu pun orang yang pernah ngajarin dia caranya.


Dan di situ gue meledak.

Gue mau nulis apa yang gue bilang dengan tepat karena Anita sama Keisha denger dari ujung koridor dan mereka berdua konfirmasi belakangan bahwa gue teriak.

“SEJAK KAPAN SIH PERSAHABATAN JADI SATU ARAH?!”

Ardev ngangkat kepalanya.

“Sepuluh tahun, Dev. SEPULUH TAHUN.” Gue nunjuk dia dan tangan gue gemeteran. “Lo berdiri di depan Dimas empat belas hari. Lo cari gue di tiga terminal jam dua pagi pake uang belanja keluarga lo. Lo nggak tidur tiga malem buat CCTV yang bahkan lo nggak ngaku.”

“Van—”

“GUE BELUM SELESAI.”

Suster di ujung koridor berdiri. Gue nggak peduli.

“Lo boleh nolongin kita seumur hidup,” kata gue, dan suara gue pecah di tengah, “tapi kita nggak boleh sekali aja?!”

Dia nggak jawab.

“Sekali, Dev. SEKALI.”

“Van, ini beda—”

“APA BEDANYA?”

Dan dia bilang — dan ini yang bikin gue akhirnya ngerti sesuatu yang gue nggak ngerti selama sepuluh tahun —

“Karena kalau gue nerima, gue nggak bisa balikin.”


Gue diem.

Beneran diem. Gue yang nggak pernah bisa diem lebih dari dua detik seumur hidup gue, berdiri di koridor itu dan nggak ngeluarin satu suara pun selama mungkin lima belas detik.

Karena kalimat itu masuk akal.

Itu masalahnya. Itu masuk akal, dari dalem kepala dia, dan gue bisa liat seluruh logikanya kayak orang liat rumus di papan tulis.

Dan gue baru sadar bahwa selama sepuluh tahun gue salah ngira.

Gue ngira dia nolak karena harga diri.

Dia nolak karena dia percaya kasih sayang itu utang.

Dan orang yang percaya itu nggak akan pernah bisa nerima apa-apa, sampai hari di mana dia sadar bahwa ada hal-hal yang emang nggak bisa dibalikin, dan bahwa itu bukan masalah.

“Dev,” kata gue.

“Iya.”

“Lo tau nggak lo lagi ngomong apa?”

Dia nggak jawab.

“Lo baru bilang bahwa lo cuma boleh disayang kalau lo bisa bayar.”

Dan Ardev Narasoma berdiri di koridor rumah sakit jam satu lewat pagi dengan rahang yang mulai bengkak, dan dia buka mulutnya buat ngebantah.

Dan dia nggak bisa.


Anita yang mengakhiri malam itu.

Dia jalan dari ujung koridor, berhenti di antara kita bertiga, dan ngomong dengan suara paling datar yang pernah gue denger dari manusia.

“Evan.”

“Apa.”

“Jangan telepon direktur.”

“NIT—”

“Aku bukan lagi belain dia.” Dia noleh ke Ardev. “Aku belain kamu.”

“Hah?”

Dan Anita Wijayakusuma natap gue dan bilang:

“Kalau kamu telepon direktur, kamu nyelesaiin masalah malam ini. Terus besok masalahnya balik lagi, dan kamu telepon lagi. Terus lusa. Terus bulan depan.”

“Terus?”

“Terus dia bakal jadi orang yang hidupnya bergantung sama telepon kamu.” Dia balik ke Ardev. “Dan dia bakal mati pelan-pelan.”

Koridor itu sunyi.

“Ada cara lain,” kata Anita.

“Cara apa?”

Dan dia bilang, “Aku belum tau. Kasih aku tiga hari.”

Terus dia jalan ke arah kursi tunggu, di mana Kayla sama Rey tidur, dan dia duduk di situ dan nggak pulang sampe pagi.


Gue nginep di koridor itu.

Dimas juga. Kita berdua duduk di lantai nyender tembok karena kursinya udah penuh, dan nggak ada satu pun dari kita yang ngomong sampe jam empat pagi.

Jam empat, Dimas ngomong.

“Van.”

“Hm.”

“Tangan gue sakit.”

Gue noleh. Buku jarinya lecet, bengkak di dua tempat.

“Bagus,” kata gue.

“Iya.”

Hening.

“Dim.”

“Hm.”

“Lo nyesel?”

Dan Dimas Anggara natap koridor kosong di depan kita dan bilang:

“Gue nyesel gue nggak ngelakuin itu dua bulan lalu.”


Jam setengah lima pagi, Ardev keluar dari ruang rawat.

Dia duduk di lantai di sebelah gue. Nggak ngomong apa-apa.

Dan setelah beberapa menit, tanpa noleh, dia ngangkat tangannya dan ngetok lantai.

Dua kali.

Gue nutup mata.

Dan gue ngetok balik — dua kali — karena itu satu-satunya jawaban yang bener, karena tiga ketukan artinya “gue nggak apa-apa” dan gue nggak akan bohong ke dia jam setengah lima pagi di koridor rumah sakit.

Dimas ngetok juga. Dua kali.

Tiga orang. Enam ketukan. Nggak ada satu kata pun.

Dan itu percakapan paling jujur yang kita bertiga lakuin dalam empat bulan terakhir.


Jam enam pagi, gue keluar cari kopi.

Dan gue nemuin Ayana di taman rumah sakit, duduk di bangku beton, sendirian.

Dia dateng jam sebelas malem — gue liat dia dateng, gue liat dia berdiri di ujung koridor selama mungkin sepuluh menit, terus gue liat dia balik lagi ke kursi tunggu di lantai satu.

Dia nggak nyamperin Ardev sekali pun semalem.

“Kak.”

“Van.”

“Kakak nggak tidur?”

“Nggak.”

Gue duduk di sebelahnya.

“Kenapa nggak naik ke atas?”

Dan dia natap taman rumah sakit yang masih setengah gelap dan bilang:

“Karena kalau aku naik, dia harus mikirin aku.”

Gue nggak ngerti.

“Van, dia lagi mikirin sepuluh hal sekaligus.” Suaranya capek banget. “Kalau aku naik, jadi sebelas.”

“Kak—”

“Aku nggak mau jadi yang kesebelas.”

Dan gue duduk di bangku beton itu sama Ayana Kusumaningrat jam enam pagi dan gue mau bilang sesuatu yang bener, dan gue nggak bisa nemu satu pun.

Jadi gue bilang yang salah.

“Kak, dia ngetok dua kali kemaren.”

Dia noleh.

“Di sekretariat,” lanjut gue. “Waktu dia mutusin Kakak.”

“Aku tau.”

“Kakak tau?”

“Aku ada di ruangan itu, Van.”

Dan dia balik natap taman.

“Aku tau artinya sejak bulan Desember,” katanya. “Dari kamu.”

Gue nggak ngomong apa-apa.

“Dan aku duduk di kursi itu dan aku denger dia minta tolong,” katanya, “dan aku nggak bisa ngapa-ngapain, karena permintaannya bukan buat aku.”

Matahari mulai naik di belakang gedung rawat inap.

“Van.”

“Iya, Kak.”

“Aku boleh nanya satu hal?”

“Boleh.”

Dan Ayana noleh ke gue dan nanya:

“Gimana caranya kalian bertahan sepuluh tahun?”

Dan gue duduk di situ dan mikirin itu lebih lama dari yang pernah gue mikirin apa pun seumur hidup gue.

“Kita nggak nanya,” kata gue akhirnya.

“Terus?”

“Terus kita cuma dateng.”

Dan Ayana ngangguk pelan, beberapa kali, dan nggak ngomong apa-apa lagi.

Dan tiga minggu kemudian dia dateng ke rumah Ardev bawa kantong obat, dan gue baru sadar bahwa dia lagi ngelakuin persis apa yang gue bilang di bangku beton itu jam enam pagi.