← Nomor Tiga

Chapter Thirty Eight

Dokumen

POV: Ayana

Anita minta tiga hari.

Dia mendapatkannya, dan dia menggunakannya dengan cara yang tidak diketahui siapa pun sampai hari ketiga, karena Anita Wijayakusuma tidak pernah menceritakan apa pun sebelum selesai.

Yang kutahu selama tiga hari itu cuma potongan.

Hari pertama: dia tidak masuk sekolah. Izin. Anita tidak pernah izin.

Hari kedua: dia masuk, dan menghilang jam dua siang, dan Bimo bilang dia melihat Anita naik angkutan ke arah selatan.

Hari ketiga: dia mengirim pesan jam tujuh pagi ke grup kami berenam — grup yang sudah tiga minggu tidak ada yang mengetik apa pun di dalamnya.

ANITA: Jam 4 sore. Sekretariat. Semua.

ANITA: Termasuk Ardev.

ANITA: Van, jemput dia. Jangan nanya, jangan kasih pilihan.


Mereka datang jam empat lewat lima.

Aku sudah di sana sejak jam tiga.

Dan aku belum bertemu Ardev sejak hari Sabtu di ruangan ini, dua puluh empat hari lalu, dan aku sudah menyiapkan diriku selama satu jam dan ternyata satu jam tidak cukup.

Karena yang masuk ke ruangan itu bukan orang yang kuingat.

Rahang kirinya masih ada bekas kuning kehijauan. Matanya cekung. Dan seragamnya — dia masih pakai seragam sekolah, walaupun sudah tiga minggu tidak masuk, dan aku baru sadar belakangan bahwa itu karena dia tidak punya baju lain yang pantas untuk datang ke sekolah.

Dia melihatku.

Dan dia berhenti sepersekian detik, lalu mengangguk, lalu duduk di kursi dekat pintu.

“Ay,” katanya.

“Dev.”

Dan itu seluruh percakapan kami sore itu sampai semuanya selesai.


Anita berdiri di depan meja panjang dengan tiga map di depannya.

Dimas di sebelah kanan. Evan di lantai, seperti biasa. Keisha di kursi seberang, memegang tanganku.

“Aku mau minta maaf duluan,” kata Anita.

Semua menoleh.

“Tiga hari ini aku ngelakuin sesuatu tanpa izin siapa pun.” Dia meletakkan tangannya di map pertama. “Termasuk tanpa izin orangnya.”

Ardev tidak bergerak.

“Kalau kamu mau aku berhenti sekarang, aku berhenti,” katanya ke arahnya. “Dan aku bakar semua ini dan kita nggak pernah ngomongin lagi.”

Hening panjang.

“Lanjut,” kata Ardev.


MAP PERTAMA.

Anita membukanya dan mengeluarkan setumpuk fotokopi.

“Ini arsip lomba dan kompetisi tingkat sekolah, tiga tahun terakhir,” katanya. “Aku ambil dari ruang arsip. Legal. Aku ketua OSIS, aku punya akses.”

Dia meletakkan lembar pertama.

“Olimpiade Sains Kabupaten, tahun pertama kita. Sekolah kirim satu karya di bidang teknologi terapan. Juara dua.”

Lembar kedua.

“Lomba Inovasi Pelajar tingkat provinsi, kelas sebelas. Sekolah kirim satu karya. Finalis.”

Lembar ketiga.

“Kompetisi Karya Ilmiah Remaja, tahun ini. Sekolah kirim satu karya. Juara satu.”

Dia mengangkat kepalanya.

“Tiga tahun. Tiga karya. Nggak ada satu pun nama siswa di pengumuman resmi sekolah.”

“Nit,” kata Evan. “Maksudnya?”

“Maksudnya,” kata Anita, “di semua pengumuman, yang ditulis cuma ‘delegasi sekolah’. Nggak ada nama.”

“Terus siapa yang ngirim?”

Dan Anita meletakkan lembar keempat.

Formulir pendaftaran. Fotokopi. Dengan kolom nama peserta yang diisi tulisan tangan.

ARDEV NARASOMA.

Tiga kali. Tiga tahun berturut-turut.


Ruangan itu tidak bersuara sama sekali.

“Dev,” kata Dimas.

“Dim.”

“Juara satu?”

Ardev tidak menjawab.

“Tahun ini?”

“Bulan Januari,” kata Anita. “Pengumumannya tanggal dua puluh delapan Januari.”

Dan Evan Bramantyo, dari lantai, berkata dengan suara yang sangat pelan:

“Dev, itu tiga hari sebelum lo mulai kerja malem.”


MAP KEDUA.

“Yang ini yang bikin aku nggak masuk hari Senin,” kata Anita.

Dia mengeluarkan satu lembar.

“Ini surat dari panitia Kompetisi Karya Ilmiah Remaja. Ditujukan ke sekolah. Tanggal tiga Februari.”

Dia membacanya keras-keras, dan suaranya sama sekali tidak berubah, dan tangannya gemetar.

“‘Sehubungan dengan diraihnya juara pertama oleh peserta atas nama Ardev Narasoma, dengan ini kami sampaikan bahwa yang bersangkutan berhak atas Beasiswa Prestasi Penuh dari yayasan mitra kami, meliputi biaya kuliah penuh empat tahun, biaya hidup bulanan, dan biaya penempatan.’”

Aku merasakan sesuatu berhenti di dadaku.

“‘Untuk pencairan, diperlukan: satu, surat rekomendasi sekolah. Dua, verifikasi rekam jejak akademik. Tiga, konfirmasi kesediaan yang bersangkutan.’”

Anita meletakkan surat itu.

“Suratnya masuk ke sekolah tanggal enam Februari,” katanya. “Dan berhenti di sana.”

“Berhenti gimana?” tanya Keisha.

“Nggak diproses.” Anita mengangkat bahu. “Bukan karena jahat. Karena nggak ada yang tau harus diapain. Nggak ada nama di pengumuman, jadi bagian kesiswaan nggak tau siapa Ardev Narasoma.”

Dan aku menoleh ke arah kursi dekat pintu.

“Dev.”

Dia tidak menjawab.

“Dev, kamu tau soal surat ini?”

Dan Ardev Narasoma berkata, sangat pelan:

“Tau.”


“KAMU TAU?”

Itu Keisha. Berdiri. Yang pertama berdiri.

“Kei—”

“KAMU TAU DAN KAMU KERJA DI PASAR?”

“Kei, duduk,” kata Anita.

“NIT, DIA TAU—”

“Aku tau dia tau.” Anita menatap Ardev. “Aku mau dia yang jelasin kenapa.”

Dan ruangan itu menunggu.

Dan Ardev duduk di kursi dekat pintu dengan tangan di lututnya dan berkata:

“Karena beasiswanya buat kuliah.”

Hening.

“Bukan buat sekarang,” lanjutnya. “Bukan buat operasi. Bukan buat bulan ini.” Dia mengangkat kepalanya. “Cairnya bulan Agustus.”

“Dev—”

“Ibu saya nggak bisa nunggu Agustus.”


Aku menutup mataku.

Karena aku baru mengerti — dan aku mengerti dengan cara yang membuatku ingin merusak sesuatu — bahwa selama tiga bulan ini laki-laki itu bukan sedang tidak tahu.

Dia tahu persis bahwa ada masa depan yang menunggunya di bulan Agustus.

Dan dia membuangnya, dengan sadar, karena masa depan itu tidak bisa dimakan hari ini.

“Kamu bisa ambil dua-duanya,” kata Dimas.

“Nggak bisa, Dim.”

“Kenapa?”

“Karena syarat nomor dua.” Ardev menunjuk surat di meja. “Verifikasi rekam jejak akademik.”

Dan Anita berkata, “Iya. Itu masalahnya.”


Evan yang memecah keheningan, dan dia melakukannya dengan cara yang paling Evan.

“Dev.”

“Hm.”

“Lo juara satu tingkat nasional.”

“Provinsi, Van. Nasionalnya nggak—”

“GUE NGGAK PEDULI TINGKATNYA APA.”

Dia berdiri dari lantai.

“Lo juara satu di bulan Januari,” katanya, “dan bulan Februari lo mulai ngangkat kardus jam sepuluh malem, dan sepanjang itu lo duduk di sebelah gue di kantin dan lo nanyain kabar tim basket.”

“Van.”

“Gue nanya lo sepuluh kali, Dev. ‘Lo gimana?’ Sepuluh kali.”

Suaranya mulai pecah.

“Dan tiap kali lo bilang biasa.”

Ardev tidak menjawab.

“Apanya yang biasa?” Evan mengangkat kedua tangannya. “Bagian mananya yang BIASA?”

Dan Dimas, dari sebelah kanan meja, berkata satu kalimat yang menghentikan Evan sepenuhnya.

“Van, dia nggak bohong.”

Semua menoleh.

“Buat dia itu emang biasa,” kata Dimas, tanpa mengangkat kepala dari dokumen di meja. “Itu yang bikin gue nggak bisa tidur.”


MAP KETIGA.

Anita berdiri lebih lama sebelum membuka yang ketiga.

“Ini yang bikin aku ke selatan hari Selasa,” katanya.

“Ke mana?” tanya Evan.

“SMP Negeri di daerah Kalimulya.”

Dan aku melihat Ardev mengangkat kepalanya dengan sangat cepat.

“Nit.”

“Aku ketemu Bu Ratna.”

“Nit—”

“Empat puluh menit.” Anita membuka map itu. “Dan beliau nangis di menit kesebelas.”


“Rekam jejak akademik kamu di SMA papan tengah,” kata Anita, dan sekarang dia bicara langsung ke Ardev dan tidak ke siapa pun lagi. “Nilai rata-rata tujuh puluh delapan koma dua. Itu nggak akan lolos verifikasi beasiswa prestasi penuh.”

“Iya.”

“Dan kamu udah tau itu waktu kamu baca suratnya bulan Februari.”

“Iya.”

“Makanya kamu nggak ngurus.”

“Iya.”

Anita meletakkan tiga lembar kertas di meja.

“Ini rapor SMP kamu kelas delapan,” katanya. “Semester satu, peringkat satu paralel. Semester dua, peringkat satu paralel.”

Ruangan itu berhenti bernapas.

“Ini sertifikat Olimpiade Sains tingkat provinsi. Juara dua. Kelas delapan.”

Lembar ketiga.

“Dan ini,” kata Anita, “surat keterangan dari Bu Ratna. Ditandatangani, dicap sekolah, dan dibuat hari Selasa.”

Dia mendorongnya ke tengah meja.

“Isinya keterangan bahwa yang bersangkutan mengalami perubahan performa akademik yang signifikan setelah kematian ayahnya pada tahun ajaran tersebut, dan bahwa dalam penilaian wali kelas, perubahan tersebut tidak mencerminkan kapasitas akademik siswa.”

Anita mengangkat kepalanya.

“Itu bahasa suratnya,” katanya. “Bahasa yang beliau pakai waktu ngomong sama aku beda.”

“Beliau bilang apa?” tanya Evan.

Dan Anita Wijayakusuma — yang tidak pernah menunjukkan apa pun di wajahnya, yang membacakan seluruh dokumen itu dengan suara datar selama dua puluh menit — akhirnya berhenti.

Dia menarik napas.

“Beliau bilang, ‘Nak, saya nunggu tiga tahun ada yang nanya soal anak itu.’”


Aku mendengar sesuatu.

Bunyi kecil, dari arah pintu.

Dan aku menoleh, dan Ardev Narasoma sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Tidak bersuara. Bahunya tidak bergerak.

Tapi dia menutup wajahnya, dan dia tidak menurunkan tangannya selama hampir satu menit penuh, dan tidak ada satu pun dari kami yang bergerak selama satu menit itu.


“Ada satu lagi,” kata Anita, waktu dia akhirnya menurunkan tangannya.

“Nit, cukup.”

“Ini bukan dari aku.”

Dan dia mengeluarkan satu lembar terakhir dari map ketiga.

Surat rekomendasi.

Kop yayasan. Ditandatangani.

“Syarat nomor satu,” kata Anita. “Surat rekomendasi sekolah. Aku baru mau ngurus hari Rabu.”

“Terus?”

“Waktu aku ke bagian kesiswaan hari Rabu pagi, suratnya udah ada.”

Ruangan itu diam.

“Udah diproses. Udah ditandatangani. Tanggalnya tanggal sepuluh.”

“Tanggal sepuluh itu—” Evan berhenti. “Itu tiga hari setelah malem di rumah sakit.”

“Iya.”

“Siapa yang ngurus?”

Dan Anita menunjuk tanda tangan di bawah.

Rasendriya Wibisono Staf Administrasi Yayasan


Tidak ada yang bicara selama beberapa saat.

“Dia bilang apa?” tanya Dimas.

“Aku tanya,” kata Anita. “Aku tanya kenapa.”

“Terus?”

“Dia bilang, ‘Tolong jangan bilang siapa-siapa.’”

Dan Anita menatap surat itu.

“Terus aku tanya kenapa lagi.”

“Terus?”

Dan Anita Wijayakusuma berkata:

“Dia bilang, ‘Karena kalau dia tau ini dari aku, dia nggak akan ambil.’”


Aku keluar dari sekretariat jam enam lewat.

Bukan karena marah. Karena dadaku terlalu penuh dan aku butuh udara, dan karena aku tahu kalau aku tetap di ruangan itu satu menit lagi aku akan mengatakan sesuatu yang belum boleh kukatakan.

Aku berdiri di koridor lantai dua, di dekat jendela, di tempat yang sama di mana Dimas berdiri bulan Oktober dan mengetuk kusen tiga kali.

Dan sekitar sepuluh menit kemudian, pintu sekretariat terbuka.

Ardev keluar.

Dia melihatku. Berhenti.

Dan kami berdua berdiri di koridor itu selama beberapa detik tanpa bicara, dan aku menyadari bahwa ini pertama kalinya kami berdua saja di ruangan yang sama sejak dua puluh empat hari lalu.

“Ay.”

“Iya.”

“Kamu tau semua ini?”

“Enggak.” Aku menggeleng. “Anita nggak cerita apa-apa ke aku.”

“Oh.”

Hening.

“Dev.”

“Iya?”

Dan aku menanyakan satu-satunya pertanyaan yang penting.

“Kamu bakal ambil?”

Dan Ardev Narasoma berdiri di koridor lantai dua sekolah kami dan tidak menjawab.


Anita menemukanku di halte jam tujuh malam.

Dia duduk di sebelahku dan tidak berkata apa-apa selama beberapa menit, dan aku baru sadar setelah dua menit bahwa tangannya masih gemetar.

“Nit.”

“Hm.”

“Tangan kamu.”

Dia melihat tangannya sendiri. Lalu menggenggamnya, lalu melepasnya lagi.

“Dari tadi,” katanya.

“Dari jam empat?”

“Dari hari Selasa.”

Aku menoleh.

“Ay, aku duduk di ruang guru SMP Negeri Kalimulya selama empat puluh menit,” katanya, dan suaranya akhirnya berubah — untuk pertama kalinya sepanjang tiga hari itu. “Dan aku dengerin seorang ibu-ibu umur lima puluhan nangis soal muridnya yang udah lulus tiga tahun lalu.”

“Nit.”

“Beliau nyimpen lembar jawabannya.”

Aku menoleh dengan cepat.

“Apa?”

“Lembar jawaban tes seleksi beasiswa SMP-nya,” kata Anita. “Yang dia sengaja salah.”

Dia menatap jalan di depan halte.

“Tiga tahun. Di laci meja beliau. Beliau bilang beliau nggak tau kenapa nyimpen.”

“Nit—”

“Aku nanya kenapa nggak dilaporin ke siapa-siapa.” Anita menggeleng. “Dan beliau bilang, ‘Nak, kalau saya laporkan, anak itu harus jelaskan kenapa. Dan dia harus jelaskan itu ke ibunya.’”

Angkutan lewat. Tidak ada yang naik.

“Ay.”

“Hm.”

“Tiga tahun ada dua orang dewasa yang tau.” Suaranya sangat pelan. “Bu Ratna dan ibunya. Dan yang satu diem karena sayang, dan yang satu diem karena nggak tau.”

Dan Anita Wijayakusuma menoleh ke arahku di halte depan sekolah kami jam tujuh malam dan berkata:

“Aku nggak akan diem, Ay. Aku nggak peduli dia mau apa.”