← Nomor Tiga

Chapter Twenty One

Satu Kali Serius

POV: Ayana

Rapat evaluasi Pentas Seni berlangsung hari Kamis, dan aku baik-baik saja sampai menit ke tiga puluh delapan.

Bu Wulan membacakan laporan. Angka penonton, angka sponsor, angka pemasukan koperasi. Semuanya naik. Ketua yayasan mengirim ucapan tertulis yang dibacakan di depan pengurus dan yang membuat Bimo bertepuk tangan sendirian selama dua detik sebelum sadar tidak ada yang ikut.

Lalu Bu Wulan sampai ke bagian dokumentasi.

“Foto-fotonya sudah dikumpulkan ya. Nanti dipilih untuk mading dan buku tahunan.”

Dan dia menyalakan proyektor.

Dan foto-foto itu muncul satu per satu di layar aula — panggung, penonton, panitia, orang tua siswa yang datang, deretan kursi tamu undangan di baris depan.

Kursi F-12 dan F-13 kosong di semua foto.

Aku tahu nomornya karena aku yang menulis daftar tamu. Aku menuliskan dua nama itu sendiri, dengan tanganku sendiri, empat minggu sebelumnya, dan aku ingat merasa konyol karena tanganku sedikit gemetar waktu menulisnya.

Aku duduk di rapat itu selama tujuh menit lagi.

Lalu aku bilang aku ke kamar mandi.


Yang perlu kujelaskan adalah bahwa ini bukan kejadian besar.

Papa ada di Balikpapan. Ada urusan yang tidak bisa ditinggal; dia mengirim pesan hari Jumat sore, jam empat, dua jam sebelum acara. Isinya panjang, sopan, dan menyebutkan bahwa dia sudah menitipkan sesuatu ke Mbak Yati.

Mama ada di acara. Acara apa, aku tidak bertanya. Dia sudah mengirim pesan hari Kamis.

Keduanya minta maaf. Keduanya sungguh-sungguh minta maaf. Aku tahu itu karena aku bisa membedakan; aku sudah punya banyak sekali sampel.

Dan aku sudah bilang “nggak apa-apa” ke keduanya, dan aku sungguh-sungguh berpikir begitu waktu mengetiknya.

Yang tidak kuperhitungkan adalah bahwa kursi kosong itu akan difoto.

Sembilan kali.


Anita menemukanku di ruang ganti belakang panggung, yang sekarang kosong dan penuh kardus properti yang belum dibongkar.

Aku sedang duduk di lantai di antara dua kardus dan aku bahkan tidak menangis dengan benar; aku cuma duduk di sana dengan napas yang salah dan mata yang panas dan tidak ada satu pun air mata yang keluar, yang entah kenapa terasa lebih memalukan.

“Ay.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Aku belum nanya.”

Dia duduk di lantai di seberangku dengan punggung ke kardus, dan tidak berkata apa-apa lagi.

Keisha datang empat puluh detik kemudian, karena Keisha selalu datang empat puluh detik kemudian.

“Ay?”

“Kei, jangan—”

Dan Keisha Amandira, yang belum pernah memasuki satu pun ruangan tanpa menabrak sesuatu, berjalan melintasi ruangan penuh kardus itu tanpa menyentuh apa pun, duduk di lantai di sebelahku, dan diam.

Aku menoleh.

Wajahnya berbeda.

Aku tidak punya cara lain untuk menjelaskannya. Keisha yang kukenal punya wajah yang selalu bergerak — alis naik, mulut terbuka, mata melebar untuk hal-hal yang tidak perlu. Yang duduk di sebelahku sekarang punya wajah yang diam total.

“Kei.”

“Iya.”

“Kamu kenapa?”

“Aku nggak kenapa-napa.” Dia menatap lantai. “Aku cuma lagi nggak mau bercanda.”

Dan itu — kalimat itu, dari orang itu — yang akhirnya membuat air matanya keluar.


Aku bicara selama sepuluh menit dan sebagian besarnya tidak masuk akal.

Aku bicara tentang kursi F-12 dan F-13. Tentang rumah dengan sebelas jendela yang lampunya dua yang menyala. Tentang bagaimana aku mendapat mobil di ulang tahun ketujuh belas dan bagaimana kunci mobil itu diletakkan di meja makan oleh Mbak Yati karena tidak ada orang di rumah pagi itu.

Tentang kalimat yang paling kubenci di dunia.

“‘Ayana mah nggak usah dikhawatirin.’” Aku menirukannya dan suaraku pecah di tengah. “‘Semua beres sendiri.’”

Anita tidak bergerak.

“Dan yang paling parah,” kataku, “aku nggak bisa marah. Aku nggak punya hak. Mereka baik. Mereka nggak pernah nyakitin aku. Mereka ngasih aku semuanya—”

“Ay.”

“—dan aku duduk di sini kayak anak manja yang nangisin kursi kosong padahal ada orang yang—”

“Ay.”

“—padahal ada orang yang bapaknya udah nggak ada—”

“AYANA.”

Anita tidak pernah berteriak. Tidak sekali pun dalam tiga tahun.

Aku berhenti.

“Jangan,” katanya, dan suaranya kembali pelan. “Jangan bandingin. Itu bukan lomba.”

“Nit—”

“Kalau kamu bandingin, kamu bakal berhenti ngomong. Dan kalau kamu berhenti ngomong, kamu bakal nyimpen ini sendirian sampe lima tahun lagi.” Dia mencondongkan badan. “Aku udah liat orang yang kayak gitu. Aku nggak mau kamu jadi salah satunya.”

Dan aku tahu persis siapa yang dia maksud, dan aku menangis lebih parah.

Keisha, di sebelahku, memegang tanganku dan tidak berkata apa-apa selama sisa waktu itu.

Satu kali.

Dia tidak melucu sekali pun sore itu.


Sebelum aku pergi dari ruang ganti itu, Anita mengatakan satu hal lagi.

“Ay.”

“Hm.”

“Kamu tau kenapa aku tadi teriak?”

“Enggak.”

Dia mengumpulkan tasnya, dan tidak menatapku waktu menjawab.

“Karena aku pernah ngelakuin apa yang kamu lakuin tadi,” katanya. “Bandingin. Terus mutusin bahwa masalahku nggak cukup gede.”

“Terus?”

“Terus aku nggak cerita ke siapa-siapa selama dua tahun.” Dia menyampirkan tas. “Dan waktu akhirnya aku cerita, aku udah lupa caranya. Aku duduk di depan orang yang mau denger dan aku nggak bisa keluarin satu kalimat pun.”

Aku menatapnya.

“Nit, kamu cerita ke siapa?”

Anita berjalan ke pintu.

“Belum,” katanya. “Tapi kayaknya sebentar lagi.”

Dan dia keluar, dan aku duduk di antara kardus itu dan menyadari bahwa aku baru saja mendapat sepotong dari sahabat terdekatku yang tidak pernah kudapat dalam tiga tahun.

Dan bahwa aku mendapatnya karena aku menangis lebih dulu.


Aku pulang jam enam sore dan aku tidak memberi tahu Ardev apa pun.

Itu keputusan sadar. Aku memikirkannya di angkutan dan aku sampai pada kesimpulan yang menurutku dewasa: bahwa laki-laki itu punya ibu yang kerja shift ganda dan dua adik dan pekerjaan hari Sabtu, dan bahwa membebaninya dengan hal seperti kursi kosong adalah sesuatu yang tidak pantas.

Aku bahkan bangga pada diriku sendiri untuk itu.

Selama kira-kira empat jam.


Dia datang jam sepuluh malam.

Ke rumahku. Jalan kaki dari halte, satu koma delapan kilometer, dengan seragam sekolah yang belum diganti karena dia langsung dari gudang.

Aku tahu karena satpam menelepon interkom dan bilang ada anak sekolah di depan gerbang, dan aku turun dengan piyama dan rambut berantakan dan tidak sempat memikirkan apa pun.

Dia berdiri di luar pagar.

“Dev?”

“Hai.”

“Kamu—” Aku membuka gerbang kecil. “Ini jam sepuluh.”

“Iya.”

“Kamu jalan kaki?”

“Ada halte.”

“Halte ke sini masih dua kilo.”

“Satu koma delapan.”

“DEV.”

Dan dia berdiri di sana dengan tas di bahu, dan aku baru sadar bahwa napasnya belum sepenuhnya normal.

“Kamu kenapa ke sini?”

“Keisha ngirim pesan.”

Aku menutup mata. “Ya ampun.”

“Jangan marah sama dia.”

“Aku nggak marah, aku cuma—” Aku menarik napas. “Aku nggak mau kamu tau.”

“Iya. Saya tau kamu nggak mau.”

“Terus kenapa kamu—”

“Karena kamu nggak mau saya tau,” katanya.

Aku berhenti.

“Kalau kamu cerita ke saya, artinya kamu lagi minta sesuatu, dan kamu bisa nunggu sampai besok.” Dia memindahkan tas ke bahu yang lain. “Kalau kamu nggak cerita, artinya kamu mutusin sendiri bahwa ini nggak cukup penting buat direpotin.”

Ada sesuatu di tenggorokanku.

“Itu yang saya nggak mau,” katanya.


Sebelum kami duduk, terjadi satu percakapan singkat yang tidak akan kulupakan.

“Kamu belum makan,” kataku.

“Udah.”

“Dev.”

“Bekal saya masih ada.”

“Itu jam berapa?”

Dia tidak menjawab.

“Dev, gudangnya sampai jam berapa?”

“Delapan.”

“Terus kamu makan jam berapa?”

Hening.

“Aku ambilin sesuatu.”

“Nggak usah—”

“Ardev Narasoma.” Aku berbalik ke arah pintu. “Kamu jalan satu koma delapan kilo jam sepuluh malem buat aku. Aku ngambil roti dari kulkas. Kalau kamu nolak, kita bakal ribut di depan gerbang dan satpamnya bakal denger.”

Dia menutup mulutnya.

Aku masuk dan kembali dengan dua potong roti dan sekotak susu, dan dia memakannya di kursi taman itu dengan kecepatan orang yang jauh lebih lapar daripada yang dia akui.

Dan aku duduk di sebelahnya menontonnya makan, dan entah kenapa itu yang akhirnya membuatku mulai menangis lagi sebelum aku sempat bercerita apa pun.


Kami duduk di kursi taman depan rumah, di bawah pohon yang ditanam Mama tujuh tahun lalu.

Aku bercerita lagi, dan versi kedua selalu lebih jelek dari versi pertama, dan aku menangis lagi, dan kali ini lebih berantakan karena tidak ada Anita yang mengatur ritmenya.

Dan Ardev tidak berkata apa-apa.

Tidak sekali pun. Tidak “sabar”, tidak “nggak apa-apa”, tidak “mereka pasti sayang kamu kok”.

Dia cuma duduk di sana, menghadap ke depan, dengan kedua tangan di lutut, dan mendengarkan.

Dan waktu aku selesai — waktu aku benar-benar selesai, waktu tidak ada lagi yang tersisa untuk dikatakan dan yang tinggal cuma napas yang tersendat — dia berkata satu kalimat.

“Saya boleh bilang sesuatu?”

“Iya.”

“Kamu nggak manja.”

Aku menoleh.

“Kalau orang nggak makan tiga hari, dia lapar. Kalau orang nggak makan tiga tahun tapi tiap hari dikasih menu, dia juga lapar.” Dia menatap lurus ke depan. “Yang kedua lebih susah dijelasin ke orang, itu doang bedanya.”

Dan aku menutup wajahku dengan kedua tangan dan hancur total.


Yang terjadi selanjutnya berlangsung sekitar empat detik dan aku akan mengingatnya seumur hidup.

Aku mendengar dia bergerak.

Bukan berdiri — bergeser. Lalu berhenti. Lalu bergeser lagi.

Lalu aku merasakan tangannya di bahuku, sangat ragu, seperti orang yang memeriksa apakah sesuatu panas.

Lalu — dengan gerakan yang paling canggung yang pernah kurasakan dari manusia mana pun, dengan siku yang salah posisi dan dagu yang terlalu tinggi dan seluruh tubuh yang jelas tidak tahu ke mana harus diletakkan — Ardev Narasoma memelukku.

Aku menangis lebih parah.

Dan dia tidak melepaskan.

Dia tidak menepuk punggungku. Dia tidak bilang sudah, sudah. Dia cuma memegangi dan membiarkan, dan setelah beberapa saat aku merasakan bahunya turun sedikit — seperti orang yang akhirnya memutuskan bahwa ini boleh.

Aku tidak tahu berapa lama.

Yang kutahu, waktu aku akhirnya menarik diri, seragamnya basah di bagian bahu dan aku minta maaf tentang itu dan dia bilang seragamnya memang mau dicuci.

“Dev.”

“Hm.”

“Kamu belum pernah meluk siapa-siapa ya.”

Hening.

“Rey,” katanya. “Sama Kayla.”

“Selain adik kamu.”

Lebih lama.

“Ibu saya,” katanya. “Waktu Bapak meninggal.”

Dan aku tidak bertanya lebih lanjut, karena aku sudah belajar kapan harus berhenti, dan karena dadaku terlalu penuh untuk memuat apa pun lagi malam itu.


Dia pulang jam sebelas kurang.

Aku memaksanya naik taksi dan dia menolak, dan aku memaksa lagi, dan akhirnya kami berkompromi di ojek — dan aku baru sadar setelah dia pergi bahwa aku yang membayar, bahwa dia membiarkan aku membayar, dan bahwa itu pertama kalinya.

Aku berdiri di depan gerbang sampai lampu belakang motor itu hilang di ujung jalan.

Lalu aku masuk, melewati ruang keluarga yang tidak pernah dipakai untuk berkumpul keluarga, dan naik ke kamar.

Dan malam itu aku tidak mengirim pesan apa pun.

Karena dia sudah datang.


Dua hal terjadi keesokan harinya, dan keduanya kecil.

Yang pertama: Keisha menghampiriku di kantin dengan wajah orang yang sudah menyiapkan pembelaan sejak semalam.

“Ay, aku minta maaf—”

“Kei.”

“Aku tau kamu bilang jangan bilang siapa-siapa, tapi aku—”

“Kei.”

“—aku cuma mikir kalau ada satu orang yang harusnya tau—”

“KEISHA.”

Dia berhenti.

“Makasih,” kataku.

Dan dia menatapku selama tiga detik penuh, lalu matanya berair, lalu dia memelukku dan menyenggol nampanku dan menumpahkan es teh ke seluruh meja.

Dan itu, entah bagaimana, membuat semuanya kembali normal.

Yang kedua terjadi sore hari, waktu aku pulang.

Di meja belajar kamarku, ada kotak kecil.

Bukan kado. Kotak plastik bening, jenis yang dipakai untuk menyimpan sekrup, dengan tutup yang bisa diklik.

Isinya sebuah lampu kecil — bohlam LED, ukuran ibu jari, dengan kabel pendek dan sakelar tempel.

Dan selembar kertas dilipat dua.

Buat kursi taman. Lampunya mati satu. Saya benerin dari luar pagar, satpamnya bolehin. Kalau nggak nyala, sakelarnya digeser bukan ditekan.

Tidak ada tanda tangan.

Tidak ada satu pun kata lain di kertas itu.

Aku duduk di meja belajarku dengan kertas itu di tangan dan membaca sembilan kata terakhir berkali-kali, dan menyadari — dengan rasa yang aneh sekali di dada — bahwa laki-laki itu memperhatikan bahwa lampu taman depan rumahku mati.

Semalam. Di tengah aku menangis.

Dia sedang mendengarkan, dan sekaligus memperhatikan bohlam yang mati.

Dan aku tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis lagi, jadi aku melakukan keduanya, sendirian, di kamar dengan langit-langit yang terlalu tinggi.