Chapter Twenty Five
Kue yang Gagal
POV: Ardev
Ulang tahun Kayla jatuh tanggal delapan belas, dan aku sudah menyiapkan anggarannya sejak dua bulan sebelumnya.
Delapan puluh ribu. Itu angkanya.
Rinciannya: satu kue bolu ukuran kecil dari toko depan sekolah, tiga puluh dua ribu. Lilin angka, delapan ribu. Ayam goreng dari warung Bu Marni, empat potong, empat puluh ribu — karena Kayla suka ayam goreng warung itu lebih dari makanan apa pun di muka bumi dan sudah tiga bulan tidak makan.
Delapan puluh ribu. Sudah kupisahkan di amplop, di balik kaleng biru, sejak akhir bulan lalu.
Yang tidak kuanggarkan adalah lima orang.
“Dev.”
“Nggak.”
“Gue belum ngomong.”
“Gue tau lo mau ngomong apa.”
“Gue cuma mau nanya tanggal berapa.”
“Delapan belas.”
“OKE.” Evan mengeluarkan ponselnya. “Gue catet.”
“Van.”
“Gue cuma nyatet.”
“VAN.”
Yang datang tanggal delapan belas jam empat sore ada lima orang, dan aku bisa mengukur seberapa serius mereka dari apa yang mereka bawa.
Dimas membawa satu kantong plastik berisi kerupuk dan dua botol sirup. Total mungkin dua puluh lima ribu. Dia meletakkannya di meja tanpa berkata apa-apa dan langsung duduk di lantai.
Anita membawa kotak kardus putih yang dia pegang dengan dua tangan seperti orang membawa bayi.
Keisha membawa balon. Sepuluh balon. Sembilan, setelah satu pecah di angkutan.
Ayana membawa buku gambar dan satu set pensil warna dua puluh empat, yang dia serahkan langsung ke Kayla dengan kalimat “ini dari aku, nggak boleh dibagi ke Rey” — yang, kuakui, adalah pemilihan hadiah paling cerdas yang pernah kusaksikan, karena Kayla menghabiskan tiga bulan terakhir menggambar di balik kertas bekas dan tidak pernah bilang apa-apa kepada siapa pun tentang itu.
Aku tidak tahu bagaimana Ayana tahu.
Dan Evan membawa kotak.
Satu kotak. Dibungkus kertas hitam mengilap, dengan pita, sebesar kira-kira dua bantal.
Ruang tamu itu menjadi sunyi.
“Van,” kataku.
“Apa.”
“Itu apa.”
“Kado.”
“Van.”
“Ini kado ULANG TAHUN, Dev, itu emang fungsinya—”
“Berapa.”
“Itu nggak sopan nanya harga.”
“Evan.”
Dan Anita Wijayakusuma, yang sejak tadi berdiri memegangi kotak kardus putihnya, mengucapkan kalimat yang menyelesaikan seluruh perdebatan.
“Empat juta delapan,” katanya.
Semua kepala menoleh.
“NIT—”
“Aku liat struknya di tas kamu waktu di angkutan.”
“KENAPA LO LIAT TAS GUE.”
“Kamu yang naruh tas kamu di pangkuan aku.”
Yang terjadi berikutnya adalah pemarahan berjamaah, dan aku ingin mencatat bahwa aku bukan yang paling galak.
“Van,” kata Ayana, “itu empat kali lipat gaji—”
“Ay, jangan,” kataku cepat.
“—maaf. Maaf, Dev.”
“Nggak apa-apa.”
“Aku maksudnya—”
“Saya tau maksud kamu.”
“Empat juta delapan buat anak SD?” Keisha menatap kotak itu seperti benda berbahaya. “Van, aku aja nggak pernah dikasih segitu.”
“Kei, lo model.”
“AKU MODEL KATALOG, VAN.”
Dan Dimas, yang sejak tadi duduk di lantai tanpa bicara, akhirnya mengangkat kepalanya.
“Isinya apa,” katanya.
“Tablet gambar.”
Hening.
“Yang buat gambar digital,” lanjut Evan, dan suaranya mulai turun. “Yang bisa nyambung ke laptop. Ada pennya.”
“Van,” kata Anita pelan, “di sini nggak ada laptop.”
Dan Evan Radhitya Bramantyo berdiri di tengah ruang tamu tiga kali empat itu dengan kotak hitam mengilap di tangannya, dan wajahnya berubah — sangat cepat, sangat total — dari orang yang siap bertengkar menjadi orang yang baru saja mengerti sesuatu.
“...Anjir.”
“Van.”
“Gue nggak kepikiran.”
“Van, duduk dulu—”
“Gue beli tablet gambar buat rumah yang nggak ada laptopnya.” Dia menatap kotak itu. “Gue tuh kenapa sih.”
Dan Kayla — yang selama seluruh perdebatan itu berdiri di ambang kamar dan tidak mengeluarkan satu suara pun — akhirnya bicara.
“Bang Evan.”
“Iya, Kay.”
“Aku suka kok.”
“Kay, kamu nggak usah—”
“Aku suka.” Dia berjalan mendekat dan mengambil kotak itu dengan dua tangan, dan hampir menjatuhkannya karena beratnya. “Nanti kalau aku punya laptop, aku pakai.”
Dan aku menyaksikan sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi di wajah Evan.
“Kay.”
“Iya?”
“Kamu ngomong gitu biar gue nggak sedih.”
Kayla tidak menjawab.
“Iya, kan?”
Dan adikku — sembilan tahun, hari itu sepuluh — menatap Evan dengan tatapan yang sudah terlalu sering kulihat di cermin, dan berkata:
“Bang Evan sedihnya kelihatan.”
Sebelum kue, ada ayam goreng.
Empat potong dari warung Bu Marni, yang kubeli jam tiga sore dengan uang di amplop di balik kaleng biru, dan yang kutata di piring di tengah meja.
Empat potong. Delapan orang.
Aku sudah memperhitungkan itu sejak dua bulan lalu — waktu itu hitungannya empat orang, empat potong, satu-satu. Sekarang delapan.
Dan aku sedang berdiri di dapur menghitung ulang cara memotongnya waktu Anita masuk.
“Berapa potong?”
“Empat.”
“Berapa orang?”
“Delapan.”
Dia melihat piring itu. Lalu melihatku.
“Kamu mau potong dua-dua.”
“Iya.”
“Terus kamu nggak ambil.”
Aku tidak menjawab.
“Ardev.”
“Kayla suka yang ini,” kataku. “Dia udah tiga bulan nggak makan. Hari ini ulang tahunnya.”
Anita berdiri di ambang dapur selama beberapa detik.
Lalu dia keluar, dan aku mendengar dia berkata sesuatu ke ruang tamu dengan suara datarnya, dan tiga puluh detik kemudian Evan berteriak “GUE UDAH KENYANG BANGET” dengan volume yang tidak meyakinkan siapa pun, dan Keisha bilang dia alergi ayam — yang jelas bohong karena aku melihatnya makan ayam di kantin hari Kamis — dan Dimas cuma bilang “gue nggak mau.”
Delapan orang. Empat potong.
Yang makan: Kayla, Rey, Ayana, dan aku.
Dan aku tahu persis apa yang barusan terjadi, dan aku tidak bisa membantahnya tanpa mempermalukan empat orang sekaligus.
Jadi aku makan ayam itu di ruang tamu penuh orang, dan itu adalah hal paling tidak nyaman yang kulakukan sepanjang bulan itu.
Kue itu dibuka jam lima.
Dan aku ingin mendeskripsikannya dengan tepat, karena deskripsi yang tepat adalah bagian penting dari cerita ini.
Bentuknya bulat. Itu satu-satunya hal yang benar.
Bagian atasnya miring — bukan miring sedikit; miring sekitar dua puluh derajat, sehingga krim di satu sisi meluncur turun dan menumpuk di sisi lain seperti tanah longsor. Warnanya cokelat muda dengan bercak-bercak lebih gelap yang jelas bukan desain. Di tengahnya ada sesuatu yang, setelah diperiksa dari dekat, ternyata adalah tulisan.
SELAMAT ULANG TAHUN KAYLA
Tapi hurufnya kehabisan tempat di kata terakhir, sehingga yang tertulis sebenarnya adalah:
SELAMAT ULANG TAHUN KAYL
Dan huruf A terakhir diletakkan di bawah, sendirian, dengan panah kecil dari krim.
Ruang tamu itu sunyi selama tiga detik penuh.
“Nit,” kata Keisha. “Itu apa?”
“Kue.”
“Nit.”
“Aku bikin sendiri,” kata Anita.
Dan nadanya sama sekali tidak defensif. Nadanya persis seperti waktu dia membacakan laporan rapat: datar, faktual, tanpa emosi.
“Dari jam berapa?” tanya Ayana.
“Jam sebelas malem.”
“MALEM?”
“Yang pertama gosong.” Anita meletakkan kotak itu di meja. “Yang kedua nggak ngembang. Ini yang ketiga.”
Ayana menatapnya.
“Nit, kamu bikin tiga kali?”
“Iya.”
“Kamu nggak pernah masak seumur hidup kamu.”
“Iya.”
“Terus kenapa—”
“Karena kalau beli, sama aja kayak Evan,” kata Anita.
Dan Evan, dari lantai, mengeluarkan bunyi seperti orang yang ditusuk.
“NIT.”
“Aku nggak lagi ngehina kamu.”
“LO BARUSAN NGEHINA GUE.”
“Aku lagi bilang aku juga nggak tau caranya.” Anita menatap kuenya sendiri. “Bedanya aku gagal dengan cara yang lebih murah.”
Kayla menangis waktu melihat kue itu.
Aku perlu menuliskannya dengan jelas karena aku ada di sana dan aku menyaksikan urutannya.
Dia melihat kotak dibuka. Dia melihat kuenya. Dia melihat huruf A yang sendirian di bawah dengan panah krim.
Dan dia berdiri di situ selama mungkin empat detik.
Lalu wajahnya hancur.
“Kay—”
“AKU NGGAK NANGIS.”
“Kayla.”
“AKU NGGAK—” Dan dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “AKU NGGAK NANGIS.”
Anita berdiri dengan wajah panik yang belum pernah kulihat.
“Kay, kalau jelek, nggak apa-apa. Kita beli—”
“BUKAN JELEK.”
“Kay—”
“Ini kue pertama aku.”
Ruangan itu berhenti.
Anita berdiri di sana dengan kedua tangan setengah terangkat.
“Apa?”
Dan Kayla menurunkan tangannya, dengan wajah yang basah dan merah dan sama sekali tidak berusaha disembunyikan lagi, dan berkata:
“Aku belum pernah punya kue ulang tahun.”
Aku ingin mencatat bahwa aku tahu itu.
Aku tahu persis. Aku yang menghitung anggaran keluarga ini selama tiga tahun terakhir; aku tahu tahun lalu tidak ada kue, dan tahun sebelumnya tidak ada kue, dan tahun sebelumnya lagi ayahku baru meninggal empat bulan dan tidak ada satu pun orang di rumah ini yang ingat tanggal delapan belas.
Yang tidak kutahu adalah bahwa dia menghitungnya juga.
Dan yang membuatku harus keluar sebentar ke dapur, dengan alasan mengambil piring yang tidak dibutuhkan siapa pun, adalah kesadaran bahwa selama tiga tahun aku menyiapkan delapan puluh ribu untuk ayam goreng dan bolu toko, dan tidak sekali pun terlintas di kepalaku bahwa yang dia inginkan bukan itu.
Dan bahwa kalau dia menginginkan sesuatu, dia tidak akan pernah bilang.
Karena aku yang mengajarinya.
Bukan dengan kata-kata. Dengan sepuluh tahun contoh.
Anita tidak bergerak selama beberapa detik setelah Kayla mengucapkannya.
Lalu dia jongkok.
Anita Wijayakusuma, yang tidak pernah menyentuh siapa pun, yang menjaga jarak setengah meter dari seluruh umat manusia sepanjang tiga tahun, jongkok di lantai ruang tamu rumah petak dan meletakkan kedua tangannya di bahu adikku.
“Kay.”
“Iya?”
“Tahun depan aku bikin lagi.”
“Nggak usah, Kak—”
“Aku bikin lagi,” ulangnya, dan nadanya persis nada yang dia pakai untuk membacakan keputusan rapat. “Dan tahun depan bakal lebih jelek.”
Kayla mengerjap. “Kenapa lebih jelek?”
“Karena aku bakal coba yang lebih susah.”
Dan adikku tertawa — dengan wajah yang masih basah, dengan bahu yang masih naik turun — dan itu adalah bunyi yang tidak pernah kudengar keluar dari rumah ini sebelumnya.
Sisa sore itu berjalan dengan sangat berisik.
Keisha meniup balon kesembilan dan membuatnya pecah. Rey menangis. Evan menghibur Rey dengan cara mengajarinya kata “amsyong” yang langsung diulang Rey dua puluh kali sampai Anita mengancam akan pulang.
Kue itu dipotong, dan rasanya — aku akan jujur — tidak enak. Terlalu manis di satu sisi, hambar di sisi lain, dan bagian bawahnya agak keras.
Semua orang menghabiskannya.
Termasuk Dimas, yang mengambil dua potong, dan yang waktu kutanya kenapa dua, menjawab:
“Enak.”
“Dim, ini nggak enak.”
“Enak,” ulangnya, dan tidak menoleh sama sekali.
Dan Anita Wijayakusuma, yang duduk di seberangnya, menatap meja selama beberapa detik lebih lama dari yang perlu.
Mereka pulang jam delapan.
Kotak hitam mengilap itu dibawa Evan lagi — bukan karena diminta; dia sendiri yang memutuskan, dengan kalimat “gue tuker dulu ya, Kay, nanti gue balik lagi bawa yang bener.”
Dan Kayla mengangguk, dan berkata “iya,” dan tidak bertanya apa-apa lagi.
Dan di ambang pintu, sebelum keluar, Evan berjongkok di depannya.
“Kay.”
“Iya?”
“Kamu mau apa sih sebenernya?”
Dan adikku menjawab dengan sesuatu yang membuat lima orang dewasa di ruangan itu diam.
“Aku udah dapet.”
“Kay—”
“Beneran, Bang.” Dia menunjuk meja. “Kotaknya masih ada.”
Kotak kardus putih. Bekas kue.
Yang miring, yang gosong bagian bawahnya, yang tulisannya kehabisan tempat.
Kayla menyimpan kotak itu.
Aku menemukannya tiga hari kemudian di bawah kasurnya, dilipat rapi, di sebelah kaleng susu bekas berisi struk belanja yang tidak pernah kutanyakan.
Dan aku duduk di lantai kamar itu selama beberapa menit dengan kotak kue di tangan.
Lalu aku meletakkannya kembali persis seperti semula.
Dan aku tidak pernah menyinggungnya sekali pun.
- 1 Bayangan
- 2 Hantu Sekretariat
- 3 Kantin
- 4 Tiga Ketukan
- 5 Dua Orang Bodoh
- 6 Empat Puluh Menit
- 7 Daftar
- 8 Tiga Kotak
- 9 Bencana Alam
- 10 Jam Enam Empat Belas
- 11 Sedikit Kata
- 12 Udah, Saya Aja
- 13 Nomor Tiga
- 14 Tiga Kali
- 15 Peringatan
- 16 Dev
- 17 Dapur
- 18 Dua Jam
- 19 Satu-satunya
- 20 Tiga Kali Empat
- 21 Satu Kali Serius
- 22 Di Depan Semua Orang
- 23 Empat Belas Hari
- 24 Rak Nomor Empat
- 25 Kue yang Gagal reading
- 26 Atap
- 27 Kembang Api Murah
- 28 Om dan Kakak
- 29 Modal Nol
- 30 Fakta Pertama
- 31 Gerbang
- 32 Kok Aku yang Lebih Tahu?
- 33 Kalau Aku Bilang
- 34 Dua Tahun
- 35 Sembilan Hari
- 36 Dua Ketukan
- 37 Satu Arah
- 38 Dokumen
- 39 Galon
- 40 Tolong
- 41 Arti Nama
- 42 Foto