Chapter Three
Kantin
POV: Ardev
Pak Hendra membagikan hasil ulangan fisika dengan cara yang sama seperti biasa: dari nilai terendah, satu per satu, dengan komentar singkat yang tidak diminta siapa pun.
Ini bagian dari hari yang paling melelahkan buatku, dan tidak ada satu orang pun di ruangan ini yang tahu kenapa.
“Delapan puluh sembilan. Bagus, Karin.”
“Delapan puluh dua.”
“Tujuh puluh sembilan.”
“Ardev. Tujuh puluh delapan.”
Aku maju, mengambil kertasku, dan kembali duduk. Total waktu: enam detik. Total jumlah orang yang menoleh: nol.
Sempurna.
Aku membalik kertas itu di meja dan melihat apa yang sudah kutahu akan kulihat. Nomor empat salah — soal momentum, yang sengaja kubuat salah di tahap konversi satuan, karena kesalahan konversi adalah jenis kesalahan yang paling wajar dan paling tidak mencurigakan. Nomor tujuh salah setengah. Nomor sebelas kubiarkan kosong dengan coretan setengah jalan, supaya kelihatan seperti kehabisan waktu.
Tujuh puluh delapan.
Sepuluh poin di atas rata-rata kelas, sehingga tidak ada yang mengira aku tidak belajar. Sebelas poin di bawah peringkat teratas, sehingga tidak ada yang mengira aku patut diperhatikan.
Angka itu bukan hasil. Angka itu desain.
Dan tidak ada yang tahu bahwa untuk mendapatkan tujuh puluh delapan yang meyakinkan, aku harus lebih dulu bisa mengerjakan seluruh soalnya dengan benar — karena kalau tidak, kesalahanku akan jatuh di tempat yang salah, dan orang yang jeli bisa membacanya.
Ada satu orang yang pernah membacanya. Sekali. Tiga tahun lalu.
Aku memasukkan kertas itu ke tas dan tidak memikirkannya lagi.
Aku sudah tahu kejadian di kantin akan terjadi sejak jam istirahat pertama, dan aku sudah menghitung tiga cara untuk menghindarinya, dan ketiganya gagal karena Evan Radhitya Bramantyo tidak bisa dicegah oleh perhitungan.
“Kantin,” katanya, sambil menyeret tasku.
“Gue bawa bekal.”
“Bekal lo udah abis. Gue yang abisin.”
“Itu bukan alasan gue harus ikut.”
“Itu justru alasan lo harus ikut. Gue ngerasa bersalah dan gue nggak suka ngerasa bersalah.” Dia menoleh ke belakang. “Dim, ayo.”
Dimas sudah jalan duluan tiga langkah di depan kami. Dia tidak pernah menunggu perintah. Dia juga tidak pernah menunggu ajakan. Dia cuma selalu tahu ke mana kami akan pergi, dan sampai duluan.
Kantin jam setengah satu adalah tempat yang harus dinavigasi seperti medan perang. Ada arus dari lapangan, ada arus dari gedung utara, dan ada tiga meja yang secara tidak tertulis sudah dimiliki oleh kelompok tertentu selama bertahun-tahun. Kami tidak punya meja. Kami cuma punya Evan, yang bisa duduk di mana saja karena tidak ada yang berani mengusirnya.
“Tiga es teh, dua ayam, satu—” Evan menoleh ke arahku. “Lo mau apa?”
“Nggak usah.”
“Bu, satu mi ayam.”
“Van.”
“Bu, jangan pake sawi. Dia nggak suka sawi.”
“Gue nggak—” Aku berhenti. “Gue emang nggak suka sawi.”
“Nah.”
Dimas sudah duduk di meja pojok dan meletakkan tas di kursi seberangnya untuk menahan tempat. Kami menyusul. Dan selama tujuh menit berikutnya, semuanya normal. Evan bercerita tentang sesuatu yang panjang dan tidak penting. Dimas makan tanpa suara. Aku menghitung dalam kepala berapa sisa uang di kaleng biru setelah lima ribu punya Kayla diambil pagi tadi, dan sampai pada kesimpulan yang tidak menyenangkan tapi masih bisa dikelola.
Lalu meja di belakang kami mulai bicara agak terlalu keras.
Aku kenal suaranya. Rangga, kelas 12 IPS 3. Tidak jahat, sebenarnya. Cuma jenis orang yang butuh empat orang mendengarkannya sebelum dia merasa ada.
“—ya emang gitu, sih. Ada yang jadi bintang, ada yang jadi tukang bawa tas.”
Dan sepersekian detik setelah itu, aku sudah tahu apa yang akan terjadi, dan aku sudah mulai berhitung.
Pilihan pertama: pura-pura tidak dengar. Kemungkinan berhasil, delapan belas persen. Evan sudah berhenti mengunyah.
Pilihan kedua: alihkan pembicaraan sekarang juga. Kemungkinan berhasil, sepuluh persen. Evan sudah meletakkan sendoknya.
Pilihan ketiga—
Evan berdiri.
Tidak ada pilihan ketiga.
Yang perlu dipahami tentang Evan adalah bahwa dia tidak pernah marah dengan cara yang orang duga.
Orang mengira anak konglomerat marah dengan berteriak, atau mengancam, atau menyebut nama ayahnya. Evan tidak pernah melakukan satu pun dari itu. Evan justru jadi lebih ramah. Senyumnya melebar. Suaranya melembut. Dan itu adalah tanda paling menakutkan yang pernah kupelajari dalam sepuluh tahun terakhir.
Dia menarik kursi kosong dari meja sebelah, menyeretnya sampai bunyinya terdengar ke seluruh kantin, dan meletakkannya persis di depan Rangga. Lalu dia duduk. Menghadap Rangga. Dengan es teh masih di tangan.
“Sori, gue nguping,” katanya, ceria. “Tadi lo ngomong apa?”
Rangga tertawa. Tawa yang salah. Tawa orang yang belum sadar bahwa lantai sudah hilang. “Nggak, Van. Gue cuma—”
“Nggak, gue serius pengen tau.” Evan menyandarkan siku di meja. “Tukang bawa tas siapa?”
“Bukan siapa-siapa.”
“Kok gue ngerasa disebut.”
“Enggak, Van, sumpah.”
“Oh, jadi bukan gue?” Evan mengangguk-angguk. “Berarti dia.”
Kantin mulai sepi. Bukan diam total. Tapi bunyinya berubah — sendok berhenti, dua meja di dekat kami berhenti bicara, dan seseorang di antrean menoleh dan tidak berpura-pura tidak menoleh.
Aku menghela napas. “Van, udah.”
Evan tidak menoleh ke arahku. Itu tandanya dia mendengar dan memutuskan untuk tidak peduli.
“Gue nanya satu hal aja,” katanya ke Rangga. “Lo tau siapa yang nulis proposal Class Meeting tahun lalu?”
Rangga mengerjap. “Hah?”
“Class Meeting. Tahun lalu. Yang anggarannya naik dua kali lipat dan lo dapet kaos gratis dari sponsor.” Evan meneguk es tehnya. “Lo tau siapa yang nulis?”
“OSIS?”
“OSIS yang ngajuin. Bukan yang nulis.”
“Ya... gue nggak tau.”
“Coba tebak.”
“Van—”
“Tebak aja. Gue nggak bakal marah.”
Rangga melirik ke kanan, ke temannya, yang sejak lima belas detik lalu sudah memutuskan untuk menjadi patung. Lalu dia melirik ke kiri. Lalu dia melakukan kesalahan terbesar hari itu, yaitu menjawab.
“Bu Wulan?”
Evan menatapnya lama sekali.
“Bu Wulan,” ulangnya.
“Iya.”
“Pembina OSIS.”
“Iya.”
“Yang ngajar Bahasa Indonesia.”
“Iya.”
“Lo pikir Bu Wulan yang ngitung proyeksi anggaran dan bikin lampiran perbandingan tiga vendor sablon?”
Hening.
“Gue... nggak tau apa itu.”
“Nah, itu dia.” Evan mengangguk-angguk dengan sabar, seperti guru les yang sedang menghadapi murid yang menyenangkan. “Lo nggak tau apa itu. Gue juga nggak tau apa itu. Bedanya gue tau gue nggak tau, dan lo tadi masih sempet ngomongin orang.”
“Van, gue minta maaf—”
“Ke gue?”
“...Iya?”
“Kenapa ke gue? Gue nggak kesinggung.”
Aku menutup mata sebentar.
“Nah.” Evan meletakkan gelasnya. Pelan. “Lo nggak tau. Enam ratus orang di sekolah ini pake hasilnya, dan nggak ada satu pun yang tau siapa yang ngerjain. Termasuk lo. Yang pake kaosnya sampe sekarang.”
Rangga tidak menjawab.
“Gue juga nggak bakal kasih tau,” lanjut Evan, sambil berdiri dan mengembalikan kursi ke tempatnya, rapi, seolah-olah tadi tidak terjadi apa-apa. “Soalnya kalau gue kasih tau, orangnya bakal marah sama gue seminggu.”
Dia berjalan kembali ke meja kami.
“Tapi tolong,” katanya, tanpa menoleh, “jangan pake kata tukang bawa tas lagi. Gue nggak bisa nahan diri dua kali dalam sehari.”
Aku menunggu sampai Evan duduk sebelum bicara.
“Lo tau lo baru aja bikin dia jadi bahan omongan seminggu.”
“Bagus.”
“Van.”
“Apa.”
“Gue nggak minta.”
Evan mengaduk es tehnya dengan sedotan, keras-keras, dengan wajah orang yang sedang mengalihkan sesuatu. “Lo emang nggak pernah minta. Itu masalah lo.”
“Itu bukan masalah.”
“Itu masalah paling gede lo, Dev.”
Aku tidak menjawab, karena aku tidak punya jawaban yang bukan pertengkaran, dan karena aku sudah lama tahu bahwa berdebat dengan Evan itu seperti melempar batu ke air — bunyinya keras, airnya tetap saja begitu.
Yang terjadi berikutnya lebih pelan dan jauh lebih mengganggu.
Dimas berdiri.
Dia tidak berkata apa-apa. Dia mengangkat piringnya, mengambil tasnya dari kursi seberang, memutari meja, dan duduk kembali — di kursi persis di sebelahku. Kursi yang tadi kosong. Kursi yang menghadap langsung ke meja Rangga.
Lalu dia melanjutkan makan.
Tidak ada satu kata pun.
Dan entah bagaimana, itu jauh lebih menakutkan daripada seluruh pidato Evan tadi, karena Evan bicara ke satu orang sementara Dimas Anggara barusan bicara ke seluruh kantin tanpa membuka mulut sedikit pun.
Meja di belakang kami bubar dalam tiga menit.
“Dim,” kataku.
“Hm.”
“Piring lo tadi udah di sini.”
“Iya.”
“Terus kenapa pindah?”
Dimas mengunyah. Menelan. Meletakkan sendoknya.
“Enak di sini.”
Lalu dia melanjutkan makan, dan aku tahu itu satu-satunya penjelasan yang akan pernah aku dapatkan, dan aku juga tahu dia berbohong, dan aku juga tahu dia tahu aku tahu.
Evan tertawa keras sekali sampai tersedak es teh.
Waktu aku berdiri untuk mengembalikan piring, aku baru sadar bahwa kantin belum sepenuhnya kembali normal.
Bukan soal Rangga. Rangga sudah pergi. Yang belum normal adalah bahwa beberapa orang masih menoleh ke arah meja kami — bukan ke Evan, bukan ke Dimas, tapi ke arahku, dengan ekspresi orang yang sedang mencoba mengingat sesuatu.
Aku tidak suka itu.
Ini persis alasan kenapa selama tiga tahun aku bekerja keras untuk menjadi bagian dari dinding. Bukan karena aku benci diperhatikan — walaupun iya, sedikit. Tapi karena perhatian itu punya biaya. Kalau orang mulai melihatku, orang mulai bertanya. Kalau orang mulai bertanya, orang akan sampai ke pertanyaan yang tidak bisa kujawab tanpa berbohong.
Kenapa kamu selalu buru-buru pulang? Kenapa kamu nggak pernah ikut acara angkatan? Sepatu kamu kok itu terus? Nilai kamu tujuh puluh delapan, ya? Padahal kelihatannya kamu—
Aku mengembalikan piringku ke rak dan berbalik.
Dan di sanalah, tiga meja dari pintu, di meja dekat jendela yang selalu jadi rebutan karena satu-satunya yang kena angin, ada tiga orang perempuan yang tidak sedang makan.
Yang satu sedang tertawa sambil memegangi perut, jelas menertawakan sesuatu yang sudah lewat lima menit lalu. Yang satu lagi duduk tegak dengan wajah datar dan tidak menoleh ke mana-mana.
Yang di tengah sedang menatap ke arah meja kami.
Bukan ke Evan. Orang selalu menatap Evan; itu bukan hal aneh. Bukan juga ke Dimas.
Dia menatap ke arah kursi yang tadi kutinggalkan.
Aku berdiri di dekat rak piring selama mungkin dua detik, dan dalam dua detik itu dia menoleh, dan mata kami bertemu.
Aku melakukan hal yang paling masuk akal.
Aku memalingkan pandangan dan berjalan ke pintu.
Karena satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah bahwa dia sedang melihat Evan, atau Dimas, atau papan menu di belakang kami, atau apa pun selain aku — dan mempercayai kemungkinan lain adalah cara tercepat untuk terlihat bodoh di depan diri sendiri.
“Dev!” Evan berteriak dari meja. “Lo mau ke mana?”
“Perpus.”
“Bel masih dua puluh menit lagi!”
“Ya makanya.”
Aku keluar kantin, dan di koridor udara terasa lebih dingin, dan aku menarik napas panjang untuk pertama kalinya sejak Evan berdiri dari kursinya tadi.
Perpustakaan sekolah ini punya satu keunggulan yang tidak dimiliki ruangan lain mana pun: tidak ada yang mau ke sini.
Bu Reni, penjaganya, sudah tidak pernah menyapaku sejak kelas sebelas — bukan karena tidak ramah, tapi karena kami sudah sampai di tahap di mana menyapa terasa berlebihan. Dia mengangkat dagunya satu sentimeter waktu aku masuk. Aku mengangguk. Selesai.
Aku duduk di meja paling belakang, di sebelah rak nomor empat, yang berisi buku-buku ensiklopedia terbitan tahun sembilan puluhan yang tidak ada yang pinjam sejak zaman orang tuaku. Dari sini aku bisa melihat pintu tanpa terlihat dari pintu. Itu bukan kebetulan. Aku memilih meja ini di minggu pertama kelas sepuluh dan tidak pernah pindah.
Tugas fisika selesai dalam sebelas menit.
Sisanya sembilan menit, dan aku menghabiskannya dengan melakukan hal yang paling tidak produktif yang bisa dilakukan manusia: berpikir.
Karena ada sesuatu yang mengganjal dari kejadian tadi, dan itu bukan Rangga.
Rangga tidak penting. Rangga akan lupa minggu depan. Yang mengganjal adalah kalimat Evan — lo nggak pernah minta, itu masalah lo — yang dia ucapkan dengan nada bercanda tapi tidak sedang bercanda, dan yang sudah dia ucapkan dalam berbagai versi setidaknya dua belas kali sejak kelas sepuluh.
Aku tidak setuju. Aku tidak pernah setuju.
Meminta itu punya harga. Setiap kali seseorang memberimu sesuatu, ada garis tipis yang terbentuk di antara kalian, dan garis itu tidak pernah hilang. Orang bilang tidak apa-apa. Orang bilang jangan dipikirkan. Tapi garis itu tetap ada, dan suatu hari, ketika kamu tidak bisa memberi balik, garis itu akan berubah jadi sesuatu yang lain.
Aku sudah melihatnya terjadi. Di rumah. Waktu ayahku meninggal dan orang-orang datang membawa amplop, dan Ibu berterima kasih sampai bungkuk, dan tiga bulan kemudian orang-orang yang sama itu bicara di belakang tentang bagaimana seharusnya uang itu dipakai.
Jadi tidak. Aku tidak meminta. Bukan karena sombong.
Karena aku sudah menghitungnya, dan hasilnya selalu sama.
Bel berbunyi. Aku membereskan buku.
Dan aku hampir berhasil melupakan seluruh kejadian hari itu — sampai jam empat sore, waktu aku lewat depan ruang OSIS dalam perjalanan pulang, dan tanpa alasan yang bisa kujelaskan, aku menoleh ke dalam.
Ruangan itu kosong.
Di meja panjang di tengah, ada buku catatan kecil bersampul abu-abu, tertutup, diletakkan rapi di samping tumpukan berkas.
Aku terus berjalan.
- 1 Bayangan
- 2 Hantu Sekretariat
- 3 Kantin reading
- 4 Tiga Ketukan
- 5 Dua Orang Bodoh
- 6 Empat Puluh Menit
- 7 Daftar
- 8 Tiga Kotak
- 9 Bencana Alam
- 10 Jam Enam Empat Belas
- 11 Sedikit Kata
- 12 Udah, Saya Aja
- 13 Nomor Tiga
- 14 Tiga Kali
- 15 Peringatan
- 16 Dev
- 17 Dapur
- 18 Dua Jam
- 19 Satu-satunya
- 20 Tiga Kali Empat
- 21 Satu Kali Serius
- 22 Di Depan Semua Orang
- 23 Empat Belas Hari
- 24 Rak Nomor Empat
- 25 Kue yang Gagal
- 26 Atap
- 27 Kembang Api Murah
- 28 Om dan Kakak
- 29 Modal Nol
- 30 Fakta Pertama
- 31 Gerbang
- 32 Kok Aku yang Lebih Tahu?
- 33 Kalau Aku Bilang
- 34 Dua Tahun
- 35 Sembilan Hari
- 36 Dua Ketukan
- 37 Satu Arah
- 38 Dokumen
- 39 Galon
- 40 Tolong
- 41 Arti Nama
- 42 Foto