← Nomor Tiga

Chapter Eleven

Sedikit Kata

POV: Ardev

Empat hari setelah Evan duduk di genangan air, Dimas Anggara menghampiriku di tribun dan berkata:

“Gue mau berhenti.”

Aku menutup buku. “Berhenti apa?”

“Angkat kardus.”

“Kenapa?”

“Udah dua puluh dua hari.”

“Terus?”

Dimas duduk. Meletakkan tasnya. Menatap lapangan kosong dengan cara yang sudah kukenal — cara orang yang sudah menyiapkan seluruh kalimatnya sejak tadi pagi dan sekarang sedang menyusun ulang urutannya.

“Kalau gue terusin,” katanya, “gue jadi tukang angkat kardus.”

“Lo emang tukang angkat kardus.”

“Dev.”

“Sori.”

“Kalau gue terusin,” ulangnya, “suatu hari nanti gue bakal berhenti angkat, dan dia bakal ngerasa kehilangan sesuatu, dan dia nggak bakal tau kenapa. Itu curang.”

Aku menoleh ke arahnya.

Dan aku sadar bahwa dalam dua puluh dua hari terakhir, Dimas Anggara — yang bicara tiga kata sehari, yang tidak pernah membaca buku sampai selesai — sudah memikirkan hal ini lebih dalam daripada yang pernah kupikirkan waktu menyusun rencananya.

“Jadi lo mau ngomong,” kataku.

“Iya.”

“Kapan?”

“Hari ini.”

“Lo mau gue bantu susun—”

“Nggak.”

Aku menutup mulutku.

“Sori,” katanya cepat. “Bukan gitu maksud gue.”

“Nggak apa-apa.”

“Gue cuma—” Dia menggosok tengkuknya. “Kalau lo yang susun, itu kalimat lo. Gue mau kalimat gue.”

“Kalimat lo cuma tiga kata, Dim.”

“Iya.”

“Lo yakin cukup?”

Dimas berdiri, mengambil tasnya, dan mengatakan sesuatu yang tidak kuduga sama sekali.

“Dia juga nggak banyak ngomong,” katanya. “Kayaknya cukup.”

Dia sudah tiga langkah pergi waktu aku memanggil.

“Dim.”

“Hm.”

“Kalau dia nolak.”

Dimas berhenti. Tidak menoleh.

“Gue tetep angkat kardusnya,” katanya.

“Lo bilang lo mau berhenti.”

“Gue mau berhenti karena gue nggak mau curang.” Dia menyampirkan tas. “Bukan karena gue mau dapet sesuatu.”

Dan dia pergi, dan aku duduk di tribun itu sendirian selama beberapa menit, memikirkan bahwa aku sudah tiga tahun mengajari orang ini hal-hal seperti itu dan sekarang dia mengucapkannya lebih baik daripada aku.


Aku menonton dia berjalan menjauh dan memikirkan sesuatu yang tidak kukatakan.

Bahwa aku sudah menyusun tiga versi kalimat untuknya sejak Selasa, dan bahwa ketiganya sekarang tidak akan pernah dipakai, dan bahwa itu — anehnya — terasa jauh lebih baik daripada kalau dipakai.


Aku tidak menonton kali ini.

Bukan karena sopan. Karena Dimas melarangku, dengan cara yang paling Dimas: dia berhenti di ujung tribun, menoleh, dan berkata satu kata.

“Jangan.”

“Gue nggak—”

“Dev.”

“Iya.”

“Sama Evan juga jangan.”

“Evan udah di gerbang belakang sejak jam tiga.”

Dimas menutup matanya sebentar. “Usir.”

Jadi aku mengusir Evan, yang membutuhkan sebelas menit dan satu ancaman kredibel, dan kami berdua berakhir duduk di halte depan sekolah seperti dua orang yang diusir dari pesta.

“Gue cuma mau liat,” kata Evan.

“Lo mau ngerekam.”

“Gue mau DOKUMENTASI.”

“Van.”

“Ini momen bersejarah, Dev. Dimas Anggara ngomong lebih dari tiga kalimat. Anak cucu kita harus tau.”

“Anak cucu lo bakal punya banyak masalah lain.”

Kami duduk di situ empat puluh menit.

Empat puluh menit, karena Evan menolak pulang sebelum tahu hasilnya, dan karena aku juga tidak pulang, dan karena aku sudah menelepon Bu Sri untuk bilang aku terlambat menjemput Rey — untuk kedua kalinya bulan ini, dan aku sudah menghitung berapa kali lagi aku boleh melakukannya sebelum jadi masalah.

Jam lima kurang seperempat, Dimas keluar dari gerbang.

Dia berjalan ke arah kami dengan kecepatan biasa, ekspresi biasa, tas di bahu seperti biasa.

Evan berdiri.

“GIMANA.”

Dimas berhenti di depan kami.

“Besok gue nggak bisa nongkrong,” katanya.

“HAH? KENAPA?”

“Ada acara.”

“ACARA APA.”

“Nganter orang.”

Hening.

Aku bisa mendengar bunyi angkutan lewat di belakang kami.

“Dim,” kata Evan, sangat pelan. “Nganter siapa.”

Dimas menyampirkan tasnya ke bahu yang lain.

“Anita,” katanya.

Dan Evan Radhitya Bramantyo mengeluarkan bunyi yang belum pernah kudengar dari manusia mana pun, dan menyerbu Dimas dengan kekuatan penuh, dan mereka berdua hampir jatuh ke selokan halte.


Aku tidak pernah mendapat versi lengkapnya. Aku tidak menuntut. Tapi selama tiga minggu berikutnya, potongan-potongannya muncul dari arah yang berbeda-beda, dan aku menyusunnya sendiri.

Dari Dimas, satu kalimat, dua hari kemudian, di tribun, tanpa diminta:

“Gue bilang gue nggak bakal angkat kardusnya lagi.”

“Terus?”

“Terus dia nanya kenapa.”

“Terus?”

Dimas memantulkan bola sekali.

“Terus gue bilang gue mau angkat yang lain.”

Aku menoleh dengan sangat cepat. “Lo bilang APA?”

“Gue nggak tau kenapa gue ngomong gitu.”

“Dim, itu—”

“Gue tau.”

“Itu jelek banget.”

“GUE TAU, DEV.”

Dan dari arah yang sama sekali berbeda — dari Keisha, tiga minggu kemudian, yang menceritakannya ke Evan yang menceritakannya kepadaku dengan enam tambahan yang jelas dia karang sendiri — versi Anita.

Bahwa Anita berdiri di depan gudang itu dan tidak menjawab apa-apa selama hampir satu menit penuh.

Bahwa yang akhirnya dia katakan adalah: “Kamu tau kardusnya berapa kilo?”

Bahwa Dimas menjawab: “Sebelas. Yang satunya sembilan.”

Bahwa Anita berkata: “Kamu nimbang?”

Dan Dimas menjawab: “Enggak. Gue ngangkat tiap hari. Gue tau.”

Dan bahwa setelah itu Anita Wijayakusuma — yang menurut seluruh sekolah tidak punya ekspresi wajah — menutup mukanya dengan kedua tangan selama beberapa detik, lalu menurunkannya, lalu berkata satu kata.

“Iya.”


Yang bisa kusaksikan sendiri terjadi keesokan harinya, di koridor gedung utara, jam istirahat.

Dimas dan Anita berjalan berlawanan arah. Mereka berpapasan.

Tidak ada yang berhenti. Tidak ada yang bergandengan tangan. Tidak ada satu kata pun.

Anita menyodorkan botol air ke samping tanpa menoleh. Dimas mengambilnya tanpa menoleh. Keduanya terus berjalan.

Total durasi: mungkin satu setengah detik.

Dan di sekelilingku, koridor itu meledak.

“ITU TADI APA?”

“Anita ngasih minum?”

“KE DIMAS ANGGARA?”

Aku berdiri di samping loker dengan buku di tangan dan menyaksikan berita itu menyebar ke seluruh gedung dalam waktu kurang dari sembilan menit, dan aku memikirkan bahwa dua orang yang paling sedikit bicara di sekolah ini baru saja mengumumkan hubungan mereka lebih efektif daripada pengumuman lewat pengeras suara.

Evan menemukanku di depan loker.

“Lo liat?”

“Gue liat.”

“Botolnya.”

“Gue liat, Van.”

“DEV, BOTOLNYA.”


Yang berubah setelah itu bukan Dimas dan Anita. Mereka sama persis seperti sebelumnya, cuma dengan botol air.

Yang berubah adalah Evan, yang mulai memakai kata “aku” waktu bicara dengan Keisha, dan yang gagal total dalam usaha itu selama dua minggu pertama.

“Aku... gue— aku.”

“Van.”

“Sebentar. Aku.”

“Kenapa susah banget sih.”

“KARENA GUE UDAH SEPULUH TAHUN NGOMONG GUE.”

Yang lebih parah, Keisha juga tidak konsisten, sehingga percakapan mereka berdua terdengar seperti dua orang yang sedang belajar bahasa yang sama dari buku yang berbeda.

“Van, aku— eh, gue bawa keripik.”

“Kei, lo bilang aku tadi.”

“Kamu juga bilang lo.”

“Kita ini kenapa sih.”

Aku menonton itu dari jarak dua meter sambil makan bekal, dan aku sudah lama tidak setertawa itu.

Yang paling sering jadi korban justru barang-barang. Dalam sepuluh hari pertama hubungan mereka, Keisha berhasil menghancurkan: satu gelas kantin, satu kursi lipat sekretariat (kakinya bengkok, masih dipakai sampai sekarang, orang menyebutnya “kursi Keisha”), dan pintu loker Evan, yang sampai hari ini tidak bisa ditutup rapat.

Evan tidak mengganti satu pun.

“Kenapa nggak lo perbaikin?” tanyaku.

“Nanti dia ngerasa bersalah.”

Aku menoleh dengan cepat.

“Apa?” katanya.

“Nggak.”

“Dev.”

“Nggak apa-apa.” Aku menutup kotak bekalku. “Bagus.”

Evan mengangkat bahu dan kembali makan, dan tidak pernah tahu bahwa dia baru saja mengucapkan kalimat yang tiga minggu lalu harus kujelaskan kepadanya dua kali.

Dan yang berubah — dan ini yang paling mengganggu — adalah Dimas, di suatu hari Kamis, waktu dia menerima telepon dari Anita di tribun dan menjawab dengan:

“Iya, aku ke sana sekarang.”

Evan menjatuhkan es tehnya.

Bukan kiasan. Benar-benar menjatuhkan.

“DIM.”

Dimas menutup telepon.

“AKU?”

“Apa.”

“LO BILANG AKU.”

“Terus?”

“LO NGGAK PERNAH BILANG AKU SEUMUR HIDUP LO.”

“Gue bilang aku ke nyokap gue.”

“NYOKAP LO BUKAN CEWEK LO.”

“Van.”

“SEPULUH TAHUN GUE KENAL LO DAN LO BARU—”

“Van.”

“DEV, LO DENGER NGGAK—”

“Gue denger.”

Dan Dimas Anggara, yang wajahnya tidak berubah sedikit pun di depan seribu orang waktu memenangkan final, duduk di tribun itu dengan telinga yang merah sampai ke leher, dan tidak berkata apa-apa selama sepuluh menit.

Evan tidak pernah melupakannya. Sampai hari ini.


Hari Rabu berikutnya, aku datang ke tribun jam empat seperti biasa.

Dimas ada latihan. Itu tidak berubah.

Evan tidak datang.

Aku duduk di baris ketiga dari bawah, di tempat yang sama seperti tiga tahun terakhir, dan membuka buku, dan membaca empat halaman tanpa satu pun kalimat yang masuk.

Jam empat lewat dua puluh, ponselku bergetar.

EVAN: dev sori gue ga bisa dateng EVAN: kei ada pemotretan di kota, gue anter EVAN: besok gue traktir

Aku mengetik: Nggak usah.

EVAN: ya gue tetep traktir

Van.

EVAN: DEV GUE TRAKTIR

Aku menaruh ponselku di sebelahku dan melanjutkan tidak membaca.

Ini yang kuprediksi. Ini persis yang kuprediksi, sampai ke minggunya. Aku bahkan menghitungnya di kepala malam itu di ruang tamu — dua puluh dua hari, sembilan belas hari — dan menyimpulkan bahwa hari Rabu di bulan ini akan mulai kosong.

Yang tidak kuperhitungkan cuma satu hal, dan itu bukan soal kursi.

Yang tidak kuperhitungkan adalah bahwa memprediksi sesuatu dengan benar tidak membuatnya terasa lebih ringan waktu benar-benar terjadi.

Jam lima kurang lima, bola berhenti memantul di lapangan.

Aku mengangkat kepala, dan Dimas sudah berdiri di garis tembakan bebas, memandang ke arah tribun.

Dia menepuk bola ke lantai. Tiga kali.

Aku mengetuk pipa railing. Tiga kali.

Lalu dia melanjutkan latihan, dan aku kembali ke bukuku, dan kami dua orang berada di gedung yang sama sampai jam lima.

Itu cukup. Itu benar-benar cukup.

Aku cuma perlu waktu beberapa menit untuk memutuskan bahwa itu cukup.


Malam itu, waktu semua orang di rumah sudah tidur, aku duduk di kursi plastik di ruang tamu dan melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan.

Aku menghitung.

Bukan uang. Kali ini hari.

Dua puluh dua hari untuk Dimas. Sembilan belas untuk Evan, dari hari dia menunjukkan foto katalog itu di tribun. Keduanya lebih cepat dari perkiraanku.

Rencananya berhasil. Kedua-duanya.

Dan aku duduk di ruang tamu tiga kali empat itu dengan perasaan yang seharusnya sederhana — senang, lega, mungkin sedikit bangga — dan yang ternyata tidak sederhana sama sekali.

Karena hari Rabu depan, tribun itu akan berisi satu orang.

Aku memikirkannya selama mungkin dua menit. Lalu aku berdiri, mengecek galon, mengecek pintu, dan masuk ke kamar.

Rey sudah tidur melintang seperti biasa. Aku menggeser kakinya, berbaring, dan menatap langit-langit.

Dan sebelum itu, ada satu hal lagi yang harus kucatat, karena kalau tidak kucatat sekarang aku akan berpura-pura tidak terjadi.

Hari Kamis kemarin, aku dipanggil ke ruang guru.

Bu Ratna — bukan Bu Ratna yang dulu; wali kelasku yang sekarang, Pak Anwar — membaca sesuatu di kertas dan bertanya apakah benar aku menyentuh komputer sekretariat tanpa izin.

Aku bilang benar.

Dia menanyakan kenapa.

Aku bilang karena rusak.

Dia menanyakan apakah aku diminta.

Aku bilang tidak.

Dan Pak Anwar menatapku beberapa saat, lalu menulis sesuatu, lalu berkata bahwa dia akan memberi catatan pembinaan dan bahwa lain kali aku harus lapor lebih dulu. Lalu dia menyuruhku kembali ke kelas.

Total: empat menit.

Yang tidak dia tanyakan, dan yang aku juga tidak berniat jawab, adalah kenapa seorang anak yang selama tiga tahun tidak pernah punya satu pun catatan apa pun — tidak prestasi, tidak pelanggaran, tidak apa-apa — tiba-tiba punya catatan pertama dalam hidupnya di bulan terakhir kelas dua belas.

Aku sudah menghitung risikonya sebelum membuka pintu ruang rapat itu. Dua belas langkah. Catatan pembinaan ada di dalam hitungan.

Yang tidak masuk hitungan cuma satu, dan itu bukan catatannya.

Dan hal terakhir yang kupikirkan sebelum tidur bukan tribun.

Tapi seorang perempuan yang berdiri di aula kosong jam tujuh kurang lima belas hari Senin lalu, yang memegangi meja tanpa kusuruh, dan yang bertanya namaku dengan cara yang membuatku — untuk pertama kalinya dalam tiga tahun — harus berpikir sebelum menjawab.

Aku memutuskan bahwa itu tidak berarti apa-apa.

Aku sudah menghitungnya. Hasilnya selalu sama.