← Nomor Tiga

Chapter Fifteen

Peringatan

POV: Ayana

Butuh sembilan jam bagi seluruh sekolah untuk tahu, dan butuh sebelas jam bagi mereka untuk memutuskan bagaimana perasaan mereka tentang itu.

Aku tahu angkanya karena aku menghitung. Kami berpegangan tangan hari Kamis jam lima kurang sepuluh sore. Jumat jam delapan pagi, tiga anak kelas sepuluh sudah berhenti di tengah tangga waktu aku lewat. Jumat jam sepuluh, Bimo bertanya “beneran?” dengan nada yang membuatku ingin melempar map ke kepalanya.

Dan Jumat jam satu siang, di antrean kantin, aku mendengar kalimat pertama.

Bukan ditujukan padaku. Itu yang bikin lebih buruk. Orang tidak menghina di depanmu; orang menghina dengan volume yang cukup untuk kamu dengar sambil berpura-pura tidak tahu kamu ada.

“—ya bukannya gimana. Cuma kan kelihatan banget nggak level.”

“Mungkin dikasihanin.”

“Anak OSIS emang gitu, suka bikin proyek sosial.”

Aku berdiri di antrean itu dengan nampan di tangan dan merasakan darah naik ke telinga.

Dan yang membuatku benar-benar ingin berbalik bukan kata “nggak level.”

Tapi “proyek sosial.”

Karena laki-laki yang mereka bicarakan itu sedang duduk dua belas meter dari kami, memindahkan dua kotak bekal ke depan dua orang yang tidak pernah berterima kasih, dan dia sudah melakukannya selama tiga tahun sebelum satu pun dari mereka tahu namanya.

Aku sudah berbalik setengah badan waktu tangan Anita menahan pergelanganku.

“Jangan.”

“Nit—”

“Jangan,” ulangnya. “Kalau kamu marah di sini, besok yang jadi omongan bukan mereka.”

“Terus aku diem aja?”

Anita mengambil nampanku dari tanganku, meletakkannya di meja terdekat, dan berkata dengan suara paling datar yang pernah kudengar darinya:

“Kita ngomong berdua. Sekarang.”


Yang perlu dijelaskan sebelum itu adalah bagaimana rasanya menjadi orang yang dibicarakan dengan cara ini.

Aku sudah dibicarakan seumur hidupku. Sejak SMP. Aku sudah terbiasa dengan versi “sombong”, versi “pasti dibayarin orang tuanya”, versi “nilainya bagus karena deket sama guru”. Aku sudah punya sistem untuk semua itu: dengar, catat, jangan bereaksi, lanjut kerja.

Yang tidak kupunya adalah sistem untuk versi ini.

Karena kali ini yang mereka hina bukan aku.

Dan aku sadar — di antrean kantin itu, dengan nampan di tangan — bahwa selama lima belas tahun aku belajar menahan hinaan tentang diriku sendiri sampai jadi sangat pandai, dan bahwa keahlian itu ternyata tidak berlaku sama sekali begitu sasarannya berpindah.

Anita membawaku keluar dari antrean sebelum aku sempat menemukan itu sendiri.


Sekretariat, pintu ditutup, kipas angin berdehem.

Anita tidak duduk. Dia berdiri, bersandar di meja, melipat tangan.

“Aku mau nanya satu hal,” katanya. “Dan aku mau kamu jawab jujur, bukan jawab cepet.”

“Oke.”

“Kamu serius?”

Aku mengerjap. “Kamu juga?”

“Ay.”

“Nit, kamu tau semuanya. Kamu yang nyuruh aku ambil datanya. Kamu yang bilang—”

“Aku tau apa yang aku bilang.” Dia tidak bergerak sedikit pun. “Aku nanya lagi. Kamu serius?”

Dan aku membuka mulut untuk menjawab, lalu berhenti, karena aku menyadari bahwa nada Anita bukan nada orang yang meragukan.

Itu nada orang yang sedang memastikan sesuatu sebelum melepaskannya.

“Aku serius,” kataku.

“Seberapa.”

“Nit—”

“Seberapa, Ay.”

Aku menarik kursi dan duduk.

“Aku nggak tau seberapa,” kataku jujur. “Ini baru dua hari. Aku nggak bisa janji apa-apa tentang setahun lagi.”

Anita mengangguk pelan. “Nah. Itu jawaban yang aku mau denger.”

“Kok?”

“Karena kalau kamu bilang ‘aku yakin banget selamanya,’ aku bakal tau kamu lagi kebawa suasana.” Dia akhirnya menarik kursi juga dan duduk di seberangku. “Sekarang aku mau ngomong, dan aku cuma bakal ngomong sekali.”

“Oke.”

“Kamu bakal bosen.”

Aku mengangkat kepala.

“Bukan sekarang. Nanti.” Anita menatapku tanpa berkedip. “Bulan ketiga, keempat, entah kapan. Waktu kamu sadar dia nggak bisa dateng ke acara ulang tahun kamu karena Sabtu dia kerja. Waktu kamu sadar dia nggak bakal bisa balesin chat kamu dari jam empat sampai jam tujuh karena dia lagi jemput adiknya. Waktu semua temen kamu jalan berdua ke mal dan kamu duduk di aula nungguin orang benerin lampu panggung.”

“Aku nggak akan—”

“Kamu bakal capek, Ay. Itu bukan kejahatan. Itu manusia.” Dia mencondongkan badan. “Dan waktu itu terjadi, kamu bakal punya dua pilihan. Yang satu: kamu ngomong baik-baik, kamu jelasin, kamu pergi dengan cara yang bener. Yang satunya: kamu perlahan ngilang. Nggak bales chat. Sibuk terus. Sampai dia sendiri yang nyerah supaya kamu nggak usah repot mutusin.”

Aku merasakan sesuatu dingin di perutku.

“Yang kedua itu yang gampang,” kata Anita. “Dan yang kedua itu yang bakal ngebunuh dia.”

“Nit.”

“Aku belum selesai.”

Dia berdiri lagi, berjalan ke jendela, dan berbicara sambil membelakangiku.

“Orang kayak dia nggak akan pernah nanya. Dia nggak akan ngejar. Dia nggak akan nagih penjelasan.” Anita menyentuh kusen jendela. “Dia bakal ngambil kesimpulan sendiri, dan kesimpulannya bakal jauh lebih kejam dari yang sebenernya, dan dia bakal simpen itu selamanya tanpa pernah kasih tau siapa-siapa.”

Aku tidak bisa bicara.

“Jadi ini yang aku minta.” Anita berbalik. “Kalau kamu main-main sama orang kayak dia, aku yang nggak akan maafin kamu.”

Sekretariat itu sunyi.

“Bukan dia,” lanjutnya. “Dia bakal maafin kamu di hari yang sama. Dia bakal bilang nggak apa-apa dan dia bakal beneran ngerasa nggak apa-apa, dan itu yang bikin aku pengen mukul tembok.”

“Nit.”

“Aku yang nggak akan maafin kamu, Ay. Aku.”

Aku menatapnya, dan aku menyadari untuk pertama kalinya dalam tiga tahun berteman bahwa Anita Wijayakusuma sedang menahan tangis.

“Kamu kenapa peduli banget?”

Dan dia diam cukup lama sebelum menjawab.


“Hari Minggu kemarin aku ke rumah Dimas,” katanya.

Aku mengerjap. “Kamu apa?”

“Nyokapnya masak. Aku diundang.” Anita mengangkat bahu seperti orang yang menyebutkan sesuatu yang membosankan. “Terus aku nunggu di kamarnya waktu dia mandi.”

“Nit.”

“Pintunya kebuka, Ay, jangan sok kaget.”

Dia duduk kembali.

“Lemarinya kebuka sedikit. Dan di rak paling bawah, di dalem plastik, ada sepatu.”

“Sepatu?”

“Sepatu anak SD.” Anita menatap meja. “Kecil banget. Solnya jebol sampe bolong di bagian depan. Udah kuning. Udah kayak barang museum.”

Aku tidak mengerti ke mana ini akan pergi.

“Aku nanya kenapa nggak dibuang.”

“Terus?”

“Dia nggak jawab.”

Anita mengangkat kepalanya.

“Dia nggak bilang ‘nggak apa-apa.’ Dia nggak bilang ‘nanti aja.’ Dia diem, Ay. Dimas Anggara yang biasanya jawab semua pertanyaan dalam tiga kata itu berdiri di kamarnya sendiri dan nggak bisa ngomong apa-apa selama hampir satu menit.”

“Terus kamu nanya lagi?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Karena aku liat mukanya,” kata Anita, dan suaranya turun. “Dan aku sadar kalau aku nanya sekali lagi, dia bakal cerita. Dan aku sadar juga bahwa itu cerita yang belum pernah dia ceritain ke siapa pun, dan bahwa aku belum pantes dapet itu di bulan pertama.”

Kipas angin berdehem.

“Aku nggak tau ceritanya apa,” lanjut Anita. “Aku cuma tau satu hal. Ada orang di angkatan kita yang nyimpen sepatu jebol dari kelas empat SD selama tujuh tahun. Dan orang itu sekarang tiap sore ngangkat kardus buat aku tanpa nunggu makasih. Dan dia bilang dia belajar itu dari seseorang.”

Dia menatapku.

“Aku nggak tau apa yang kejadian sama mereka bertiga waktu kecil, Ay. Tapi aku tau ada sesuatu. Dan aku tau siapa yang jadi pusatnya.”

Aku menatap meja.

“Nit, aku juga nggak tau apa-apa.”

“Aku tau.”

“Aku udah dua hari jadi pacarnya dan aku nggak tau kenapa ada bekas jahitan di pelipisnya.”

“Kamu nggak akan tau.”

“Kenapa?”

“Karena dia nggak akan cerita.” Anita menyandarkan punggung. “Orang kayak dia cerita cuma kalau ceritanya berguna buat orang lain. Dan cerita tentang luka nggak berguna buat siapa-siapa.”

“Terus aku harus gimana?”

“Nunggu.”

“Berapa lama?”

Anita mengangkat bahu.

“Sampai dia sadar bahwa nggak cerita itu juga bentuk ninggalin orang,” katanya. “Entah kapan itu.”


Keisha masuk enam menit kemudian, karena Keisha tidak pernah bisa menunggu lebih dari enam menit.

“Kalian ngomongin apa?”

“Nggak ada.”

“Kalian nangis.”

“Kami nggak nangis.”

“Anita nangis.”

“Aku nggak—”

“NIT.”

Dan Keisha berjalan masuk, melihat wajah kami berdua, lalu meletakkan gelas jusnya di meja — di tepi meja, di posisi yang secara fisika mustahil bertahan — lalu memeluk Anita dari samping dengan seluruh berat badannya.

“Kei—”

“AKU JUGA MAU.”

“Kei, gelasnya—”

Gelas itu jatuh.

Jus jeruk menyebar ke seluruh permukaan meja, ke tiga map, dan ke satu tumpukan formulir pendaftaran ekskul yang sudah ditandatangani enam belas orang.

Hening tiga detik.

“...Aku ganti,” kata Keisha.

“Kei.”

“AKU GANTI, SUMPAH—”

“Kei, itu formulir enam belas orang.”

“AKU DATENGIN SATU-SATU.”

Dan Anita — yang tiga menit lalu hampir menangis, yang wajahnya tidak pernah berubah di depan siapa pun — mulai tertawa. Pelan dulu, lalu tidak pelan lagi, sampai dia harus menaruh kepalanya di lengannya di atas meja yang basah.

Aku ikut tertawa.

Dan Keisha berdiri di tengah genangan jus dengan wajah panik total, tidak paham apa-apa, sambil mengulang-ulang bahwa dia akan mendatangi enam belas orang itu satu per satu.


Kami membereskannya bertiga sampai jam setengah enam.

Formulirnya tidak bisa diselamatkan. Enam belas tanda tangan harus diulang. Bimo akan berteriak besok pagi.

Dan waktu kami mengunci sekretariat, Anita menyerahkan kunci ke tanganku.

“Nit?”

“Kamu yang tutup. Aku dijemput.”

“Dijemput siapa—”

Dan aku menoleh ke luar jendela koridor, dan di bawah, di dekat pos satpam, Dimas Anggara sedang berdiri dengan tas basket di bahu, menunggu, tanpa main ponsel, tanpa melakukan apa pun kecuali berdiri.

Anita berjalan pergi tanpa penjelasan lebih lanjut.

Dan aku berdiri di koridor lantai dua dan melihat mereka berdua bertemu — tidak ada pelukan, tidak ada sapaan, cuma Anita yang menyodorkan tas kerjanya dan Dimas yang mengambilnya tanpa bertanya — lalu berjalan keluar gerbang bersisian dengan jarak setengah meter dan tidak bicara sama sekali.

Ponselku bergetar.

ARDEV: Kamu masih di sekolah?

Iya. Baru selesai beresin sekretariat.

ARDEV: Beresin apa?

Panjang ceritanya. Keisha.

ARDEV: Oh.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

ARDEV: Saya udah di penitipan. Nggak bisa balik ke sekolah.

Aku menatap layar itu, dan aku mengetik tiga versi balasan sebelum menghapus semuanya.

Karena yang ingin kutulis adalah nggak apa-apa, dan aku baru sadar bahwa itu persis kalimat yang selalu dia pakai untuk menutup percakapan.

Jadi aku menulis yang lain.

Aku nggak minta kamu balik.

Aku cuma lagi kasih kabar.

Jeda panjang.

ARDEV: Oh.

ARDEV: Oke.

ARDEV: Hati-hati pulangnya.

Aku menatap tiga pesan terakhir itu lebih lama dari yang wajar.

Bukan karena ada yang salah. Justru karena tidak ada yang salah. Sopan, singkat, perhatian di kalimat terakhir.

Tapi aku sudah tiga tahun membaca berkas untuk mencari hal yang tidak ada di dalamnya, dan aku tidak bisa mematikan kebiasaan itu.

Dan yang tidak ada di dalam tiga pesan itu adalah: dia tidak sekali pun bertanya apakah aku baik-baik saja.

Bukan karena tidak peduli. Aku tahu dia peduli.

Karena bertanya itu membuka pintu untuk jawaban yang mungkin berat, dan kalau jawabannya berat, dia harus melakukan sesuatu, dan dia sudah menghitung bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa dari penitipan anak jam lima sore.

Jadi dia tidak bertanya.

Dan aku duduk di anak tangga terakhir dengan ponsel di tangan, dan untuk pertama kalinya sejak hari Kamis, aku merasakan sesuatu yang bukan bahagia.

Aku memasukkan ponsel ke saku dan mengunci pintu sekretariat, dan berjalan menuruni tangga sendirian.

Dan sepanjang jalan itu aku mengulang kalimat Anita di kepalaku, bukan yang tentang bosan, tapi yang satunya.

Dia bakal ngambil kesimpulan sendiri, dan kesimpulannya bakal jauh lebih kejam dari yang sebenernya.

Aku belum tahu, waktu itu, betapa tepatnya kalimat itu.


Di gerbang, ada satu hal terakhir.

Rasendriya Wibisono sedang berdiri di dekat pos satpam, jelas menunggu jemputan, dengan map di tangan seperti biasa.

“Ayana.”

“Kak.”

“Pulang sendiri?”

“Iya, Kak.”

Dia mengangguk. Tidak menawarkan tumpangan — dan aku sempat berpikir, sebentar, betapa hati-hatinya laki-laki ini; dia tahu persis kalau menawarkan sekarang akan membuatku harus menolak, dan menolak itu tidak enak.

“Selamat ya,” katanya.

Aku mengerjap. “Apanya, Kak?”

“Aku denger.” Dia tersenyum kecil, dan senyumnya sama sekali tidak salah. “Nggak apa-apa, satu sekolah denger.”

“Oh.”

“Ardev Narasoma, kan?”

Dan aku berhenti sepersekian detik.

Bukan karena pertanyaannya. Tapi karena cara dia menyebut nama lengkapnya — lancar, tanpa ragu, tanpa jeda orang yang sedang mengingat.

“Kakak kenal?”

“Nggak kenal.” Rasen memindahkan map ke tangan yang lain. “Tapi nama itu ada di beberapa tempat kalau kamu tau harus liat di mana.”

Klakson mobil berbunyi di belakangnya.

“Duluan ya, Ayana.”

Dan dia pergi.

Dan aku berdiri di gerbang sekolah jam enam kurang seperempat sore, dengan tas di bahu, memikirkan satu kalimat yang seharusnya tidak berarti apa-apa.

Kalau kamu tau harus liat di mana.