Chapter Eight
Tiga Kotak
POV: Ayana
Aku duduk di meja dekat jendela selama empat hari berturut-turut, dan selama empat hari berturut-turut aku tidak menemukan apa pun.
Bukan karena tidak ada yang terjadi. Karena terlalu banyak yang terjadi. Kantin jam setengah satu adalah dua ratus orang bergerak sekaligus, dan aku tidak punya kriteria apa pun untuk menyaringnya. Aku bahkan tidak tahu apa yang kucari. Laki-laki? Perempuan? Kelas berapa?
Yang kupunya cuma satu petunjuk, dan petunjuk itu bukan petunjuk sama sekali: garis putih tipis di pelipis kiri.
Dan garis itu tidak muncul lagi.
“Ay.”
“Hm.”
“Kamu udah ngaduk es teh itu tiga menit.”
Keisha menunjuk gelasku dengan sedotannya. Anita, di sebelahnya, sedang membaca sesuatu di ponsel dan tidak ikut campur, yang untuk Anita berarti dia mendengarkan setiap kata.
“Aku lagi mikir.”
“Kamu lagi ngintip.”
“Aku nggak ngintip.”
“Ay, kamu udah empat hari duduk di sini dan kamu nggak pernah suka meja ini.”
“Meja ini kena angin.”
“Meja ini kena angin dari jendela yang ngadep tempat sampah.”
Aku meletakkan sedotan.
“Kei.”
“Iya?”
“Diam.”
“Oke.”
Tiga detik.
“Tapi kamu emang ngintip.”
Yang akhirnya membuatku melihatnya bukan pelipisnya.
Hari Jumat, meja seberang — meja pojok yang sama seperti biasa, yang selalu diambil oleh tiga orang yang sama. Aku sudah hafal mereka tanpa perlu berusaha, karena semua orang di sekolah ini hafal dua dari mereka.
Evan Bramantyo, yang bisa terdengar dari radius tiga puluh meter. Dan Dimas Anggara, yang tidak pernah terdengar sama sekali, dan yang — sejak dua minggu terakhir — punya kebiasaan baru mengangkat kardus konsumsi dari gudang dan tidak menunggu diucapkan terima kasih, sesuatu yang membuat Anita berhenti bicara setiap kali kusinggung.
Dan yang ketiga.
Aku tidak pernah tahu namanya. Tidak ada yang pernah menyebutnya. Dia duduk di sana setiap hari, di kursi yang sama, dan entah bagaimana kepalaku selalu berhenti sepersekian detik sebelum sampai ke wajahnya, seperti mata yang melompati sesuatu.
Hari itu dia membuka tasnya, dan mengeluarkan tiga kotak bekal.
Aku memperhatikan karena tiga kotak itu jumlah yang aneh. Bukan karena banyak — anak laki-laki makan banyak, itu bukan berita. Karena tiga. Angka ganjil untuk satu orang.
Dia meletakkan yang pertama di depan Evan tanpa berkata apa-apa.
Yang kedua di depan Dimas.
Yang ketiga — yang paling kecil — dia buka sendiri.
Aku berhenti mengunyah.
Evan membuka kotaknya sambil terus bicara, tanpa berterima kasih, tanpa berhenti sedetik pun, seperti orang yang menerima sesuatu yang selalu ada di sana seperti udara. Dimas tidak membuka kotaknya sama sekali; dia memasukkannya ke tasnya dan melanjutkan makan bakso yang dia beli sendiri.
Dan anak laki-laki itu tidak berkomentar apa-apa. Dia cuma mengangkat dagunya sedikit ke arah Dimas — satu gerakan kecil, hampir tidak ada — dan Dimas menjawab tanpa menoleh, “Nanti.”
Kotak yang paling kecil.
Aku menghitung dalam kepala, dan hitungannya salah, jadi aku menghitung lagi.
Tiga kotak. Dua diberikan. Satu tersisa, dan itu yang paling kecil dari ketiganya, dan itu yang dia makan.
Dan begitu aku melihat satu hal, hal-hal lain mulai berjatuhan.
Es teh Evan. Ada dua gelas di meja itu — satu punya Evan, satu lagi di dekat siku anak itu, belum disentuh. Dan waktu Evan menghabiskan gelasnya sambil bicara, tanpa melihat, tangannya bergerak ke kanan dan mengambil gelas kedua, dan anak itu menggeser gelasnya lima sentimeter ke arah Evan sepersekian detik sebelum tangan Evan sampai.
Evan tidak sadar. Evan terus bicara.
Aku menoleh ke Anita untuk memastikan aku tidak berhalusinasi, tapi Anita sedang membaca ponsel.
Aku kembali melihat.
Serbet. Anak itu mengambil dua lembar serbet dari wadah dan meletakkan satu di sisi Dimas tanpa ditanya, dan tiga puluh detik kemudian Dimas memakainya tanpa mencari.
Semuanya berlangsung dalam diam. Tidak ada satu kata pun yang dipertukarkan tentang hal-hal itu. Seperti menonton tiga orang menjalankan mesin yang sudah bertahun-tahun berjalan, dan dua di antaranya bahkan tidak tahu bahwa ada mesin.
“Nit.”
“Hm.”
“Anak itu siapa.”
Anita mengangkat kepala dari ponselnya, mengikuti arah pandanganku, dan wajahnya tidak berubah sedikit pun.
“Yang mana?”
“Yang duduk sama Dimas.”
“Evan?”
“Bukan.”
Anita melihat lebih lama.
Dan aku menyaksikan sesuatu terjadi di wajahnya — sesuatu yang sangat kecil, yang mungkin cuma aku yang bisa membacanya setelah tiga tahun berteman. Alisnya bergerak seperempat milimeter.
“Aku nggak tau,” katanya.
“Kamu ketua OSIS.”
“Iya.”
“Kamu hafal nama semua anak kelas dua belas.”
“Iya.”
“Terus?”
Anita meletakkan ponselnya di meja, menghadap ke arahku sepenuhnya, dan berkata dengan nada yang lebih pelan dari biasanya:
“Aku baru sadar aku nggak hafal yang itu.”
Aku tidak bisa berhenti setelah itu.
Aku mulai memperhatikan — bukan mencari lagi, cuma memperhatikan — dan begitu aku mulai, aku tidak bisa berhenti melihatnya.
Senin: tiga kotak. Selasa: tiga kotak. Rabu: dua, dan hari itu Dimas tidak masuk karena ada pertandingan tandang. Kamis: tiga lagi.
Bukan sesekali. Bukan minggu ini saja.
Aku bertanya ke Bimo, hati-hati, dibungkus jadi obrolan tidak penting.
“Bim, kamu sekelas sama Dimas Anggara nggak sih pas kelas sebelas?”
“Iya, kenapa?”
“Nggak. Aku cuma penasaran, dia tuh sarapan nggak sih? Kayaknya kurus banget buat atlet.”
“Dimas mah nggak pernah sarapan.”
“Nggak pernah?”
“Sumpah, Ay, dari kelas sepuluh. Anak-anak sering ngeledek. Katanya dia bangun jam enam lewat terus langsung lari ke sekolah.”
“Terus dia makan kapan?”
Bimo mengangkat bahu. “Di kantin kali.”
Dan aku mengangguk dan mengganti topik dan pulang dan tidak tidur sampai jam satu pagi.
Karena Dimas Anggara tidak makan di kantin. Aku sudah melihatnya empat hari berturut-turut. Dia memasukkan kotak itu ke tasnya, dan dia memakannya nanti, di suatu tempat yang tidak terlihat orang, karena Dimas Anggara adalah jenis orang yang lebih memilih tidak makan sama sekali daripada terlihat sedang diberi sesuatu di depan umum.
Dan ada orang yang tahu itu.
Ada orang yang tahu itu, dan setiap pagi — setiap pagi, selama tiga tahun — membungkus kotak tambahan, dan memberikannya dengan cara yang membuat Dimas bisa menerimanya tanpa harus mengaku sedang menerima.
Aku menulis di buku abu-abu malam itu, dan yang kutulis bukan entri baru.
Aku membuka halaman kosong di belakang dan menulis satu kalimat.
Aku salah sejak awal.
Lalu aku menatap kalimat itu.
Selama berbulan-bulan aku memburu orang yang memperbaiki proyektor. Aku pikir aku sedang mencari seseorang yang jago mesin, atau jago menulis, atau kebetulan lewat di waktu yang tepat.
Tapi memperbaiki proyektor itu keahlian.
Membungkus kotak yang lebih kecil untuk diri sendiri, itu bukan keahlian.
Itu urutan.
Dan aku duduk di kamarku yang terlalu besar dan terlalu sepi, dengan pintu yang tidak ada yang mengetuk, dan aku memikirkan bahwa ada seseorang di kota ini yang bangun setiap pagi dan menyusun urutan seperti itu, di mana dirinya sendiri selalu ada di paling belakang.
Dan aku memikirkan pertanyaan yang seharusnya tidak muncul, tapi muncul.
Siapa yang bungkusin kotak buat dia?
Aku menutup buku itu dengan agak keras.
Senin pagi, aku datang ke sekolah lebih awal dari biasanya karena ada berkas yang harus kutinggalkan di sekretariat sebelum jam pertama.
Koridor gedung utara masih setengah kosong. Petugas kebersihan masih mengepel bagian ujung. Dan waktu aku belok, aku hampir menabrak seseorang yang sedang berjongkok di depan pintu sekretariat.
“Eh—”
Dia berdiri cepat. Terlalu cepat. Ada obeng kecil di tangannya dan dia langsung memasukkannya ke saku dengan gerakan yang jelas sudah dilatih.
“Maaf,” katanya.
Dan aku berdiri di sana selama satu detik penuh, dan dalam satu detik itu aku melihat tiga hal.
Pertama: engsel bawah pintu sekretariat, yang sudah bunyi selama dua bulan setiap kali dibuka, sekarang menempel rapat dan tidak turun sebelah.
Kedua: garis putih tipis, tiga atau empat sentimeter, memanjang dari pelipis kiri ke arah alis.
Ketiga: dia sudah mundur setengah langkah, dan bahunya sudah berputar menghadap arah pergi, dan seluruh tubuhnya sudah berada dalam posisi untuk berjalan menjauh sebelum aku sempat mengucapkan apa pun.
Kalau ketemu, jangan langsung bilang makasih.
Aku menelan kalimat yang sudah setengah keluar.
“Pintunya bunyi ya dari kemarin,” kataku, sedatar mungkin.
Dia berhenti.
“...Iya.”
“Ganggu banget kalau lagi rapat.”
“Iya.”
Hening.
Dia menunggu. Aku menunggu. Dan aku sadar bahwa dia sedang menunggu satu hal saja — menunggu momen di mana dia boleh pergi tanpa terlihat kabur.
Aku memberikannya.
“Ya udah,” kataku, dan berjalan masuk ke sekretariat tanpa menoleh lagi.
Aku meletakkan berkas di meja. Menghitung sampai lima. Lalu melihat keluar lewat celah pintu.
Koridor sudah kosong.
Aku berdiri di sana cukup lama, memegang tepi meja dengan kedua tangan, dan menyadari dua hal secara bersamaan.
Yang pertama: aku menemukannya.
Yang kedua, dan ini yang membuatku duduk: aku masih tidak tahu namanya, dan dia sudah pergi, dan satu-satunya hal yang berhasil kukatakan kepada orang yang selama tiga tahun menyelamatkan kami berkali-kali adalah keluhan tentang engsel pintu.
Anita datang jam tujuh kurang sepuluh dan menemukanku duduk di kursi sekretariat dengan tas masih di pangkuan.
“Kamu kenapa.”
“Aku ketemu.”
Dia berhenti di ambang pintu.
“Ketemu?”
“Tadi. Di depan pintu ini.” Aku menunjuk engsel bawah. “Dia lagi benerin itu.”
Anita melihat ke engsel. Lalu membuka pintu. Menutupnya. Membukanya lagi.
Tidak bunyi.
Dia menutup pintu pelan-pelan dan berdiri menyandarkan punggung ke sana.
“Kamu ngomong apa?”
“Aku bilang pintunya ganggu kalau lagi rapat.”
Hening.
“Ay.”
“Aku tau.”
“Kamu bilang ganggu?”
“AKU TAU, NIT.”
Anita menutup matanya sebentar dengan ekspresi orang yang sedang menahan diri untuk tidak tertawa, yang untuk Anita berarti dia benar-benar ingin tertawa.
“Ya udah,” katanya akhirnya. “Itu bagus.”
“Bagus gimana?”
“Kalau kamu bilang makasih, dia bakal ngindarin kamu seumur hidup.” Dia menarik kursi dan duduk di sebelahku. “Kamu ngeluh. Ngeluh itu netral. Orang kayak dia nggak ngerasa keancam sama keluhan.”
“Kamu ngomong kayak kamu kenal dia.”
Anita tidak menjawab langsung.
“Aku nggak kenal dia,” katanya. “Tapi aku kenal Dimas.”
Aku menoleh.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Anita Wijayakusuma terlihat seperti orang yang sedang memilih kata-kata dengan hati-hati.
“Dua minggu ini dia bawain kardus,” katanya. “Tiap hari. Nggak pernah ngomong. Hari keenam aku berhenti bilang makasih karena keliatan banget dia nggak nyaman denger itu.”
“Terus?”
“Terus hari kesembilan aku nanya.” Anita menatap meja. “Aku bilang, ‘Kamu tiap hari, kenapa?’ Dan dia diem lama banget. Terus dia jawab satu kalimat.”
“Apa?”
“‘Ada yang bilang jangan nunggu makasih.’”
Aku menatapnya.
“Nit.”
“Iya.”
“Dimas nggak kepikiran sendiri.”
“Enggak.”
“Ada yang ngajarin dia.”
“Iya.”
Kami berdua diam di ruangan itu dengan kipas angin yang berdehem di sudut, dan aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sepanjang perburuan ini — bukan penasaran, bukan marah.
Semacam gentar.
Karena kalau benar, artinya orang itu tidak cuma memperbaiki proyektor dan membungkus tiga kotak bekal.
Artinya dua minggu ini, waktu Dimas Anggara berdiri di depan gudang jam empat lewat sepuluh dan mengangkat kardus untuk sahabatku tanpa menunggu apa pun, itu juga dia.
Dia bahkan tidak ada di ruangan.
“Ay.”
“Hm.”
“Kalau kamu cari tau namanya,” kata Anita pelan, “kamu nggak akan bisa berhenti.”
Aku memasukkan buku abu-abu ke dalam tas dan menutup ritsletingnya.
“Aku udah nggak bisa berhenti dari kemarin.”
Bel jam pertama berbunyi.
Aku berjalan ke kelas lewat koridor gedung utara, dan di persimpangan aku berpapasan dengan rombongan anak IPS yang baru turun dari lantai dua, dan di antara mereka ada Evan Bramantyo yang sedang menceritakan sesuatu sambil berjalan mundur.
Dan tepat waktu aku lewat, aku mendengar dia memanggil seseorang di belakangnya.
“Dev, buruan!”
Aku terus berjalan.
Tiga langkah. Empat.
Dev.
Aku tidak menoleh — karena menoleh sekarang akan terlihat, dan karena aku sudah cukup mempermalukan diriku pagi ini.
Tapi aku mengulang bunyi itu di kepalaku sepanjang koridor sampai ke pintu kelas, dan aku menyimpannya seperti orang menyimpan potongan pertama dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Dev.
Bukan nama. Baru potongan nama.
Tapi itu lebih dari yang kupunya kemarin.
Malam itu aku membuka buku abu-abu untuk terakhir kalinya sebagai buku daftar.
Setelah ini fungsinya berubah, walaupun aku belum tahu jadi apa.
Aku membuka halaman belakang, di bawah kalimat Aku salah sejak awal, dan menulis dua baris.
Dev.
Kelas 12. Teman Dimas Anggara dan Evan Bramantyo sejak — entah kapan.
Lalu aku berhenti, karena aku tidak punya apa-apa lagi untuk ditulis.
Aku tahu ukuran kotak bekalnya. Aku tahu dia memakai obeng yang terlalu kecil untuk bautnya. Aku tahu dia merapikan kursi yang dia geser dan pergi lewat pintu samping dan mundur setengah langkah setiap kali ada orang berdiri terlalu dekat.
Aku tidak tahu di mana dia tinggal. Tidak tahu dia anak keberapa. Tidak tahu kenapa ada bekas jahitan di pelipisnya.
Tidak tahu kenapa kotak yang dia sisakan untuk dirinya sendiri selalu yang paling kecil.
Aku menutup buku itu dan meletakkannya di meja, dan berbaring menatap langit-langit kamar yang terlalu tinggi, dan menyadari — dengan rasa yang sangat aneh, campuran antara malu dan sesuatu yang lebih hangat — bahwa untuk pertama kalinya sejak lama, ada yang kupikirkan sebelum tidur yang bukan agenda rapat, bukan nilai, bukan rumah yang kosong.
Dan aku memutuskan bahwa besok, apa pun yang terjadi, aku akan mencari tahu nama lengkapnya.
Bukan untuk bilang terima kasih.
Anita benar soal itu.
Cuma untuk berhenti menyebutnya “anak itu” di dalam kepalaku sendiri.
- 1 Bayangan
- 2 Hantu Sekretariat
- 3 Kantin
- 4 Tiga Ketukan
- 5 Dua Orang Bodoh
- 6 Empat Puluh Menit
- 7 Daftar
- 8 Tiga Kotak reading
- 9 Bencana Alam
- 10 Jam Enam Empat Belas
- 11 Sedikit Kata
- 12 Udah, Saya Aja
- 13 Nomor Tiga
- 14 Tiga Kali
- 15 Peringatan
- 16 Dev
- 17 Dapur
- 18 Dua Jam
- 19 Satu-satunya
- 20 Tiga Kali Empat
- 21 Satu Kali Serius
- 22 Di Depan Semua Orang
- 23 Empat Belas Hari
- 24 Rak Nomor Empat
- 25 Kue yang Gagal
- 26 Atap
- 27 Kembang Api Murah
- 28 Om dan Kakak
- 29 Modal Nol
- 30 Fakta Pertama
- 31 Gerbang
- 32 Kok Aku yang Lebih Tahu?
- 33 Kalau Aku Bilang
- 34 Dua Tahun
- 35 Sembilan Hari
- 36 Dua Ketukan
- 37 Satu Arah
- 38 Dokumen
- 39 Galon
- 40 Tolong
- 41 Arti Nama
- 42 Foto