← Nomor Tiga

Chapter Thirty Three

Kalau Aku Bilang

POV: Ardev

Dia sudah menungguku di depan gerbang pasar induk jam sepuluh kurang seperempat malam.

Aku melihatnya dari jarak lima puluh meter dan berhenti berjalan.

Bukan karena kaget. Karena selama dua detik penuh, otakku melakukan hal yang paling tidak berguna: menyusun daftar alasan lain kenapa Ayana Kusumaningrat bisa berada di depan pasar induk jam sepuluh kurang seperempat malam di hari Selasa.

Tidak ada.

Aku melanjutkan berjalan.


Dia berdiri di bawah lampu jalan dengan seragam sekolah yang belum diganti sejak pagi.

Itu detail pertama yang kutangkap, dan itu detail yang membuat perutku dingin — karena artinya dia sudah di luar rumah sejak jam tujuh pagi, artinya dia tidak pulang dulu, artinya dia sudah menunggu di suatu tempat cukup lama sebelum sampai ke sini.

“Ay.”

“Hai.”

“Kamu di sini dari jam berapa?”

“Setengah sepuluh.”

“Kamu tau tempat ini dari mana?”

Dan dia menatapku, dan berkata:

“Dari orang.”

Aku tidak bertanya lebih lanjut.

Ada tiga orang yang mungkin, dan dua di antaranya tidak tahu apa-apa, dan yang ketiga adalah orang yang tidak pernah berbohong sekali pun.

“Kamu udah makan?” tanyaku.

Dan begitu kalimat itu keluar dari mulutku, aku melihat sesuatu berubah di wajahnya.

Bukan marah.

Sesuatu yang lebih buruk. Semacam kelelahan yang sudah selesai bertengkar.

“Dev.”

“Iya.”

“Jangan,” katanya. “Malam ini jangan yang itu.”


“Berapa lama kamu berdiri di situ?” tanyaku lagi, karena aku tidak bisa berhenti.

“Setengah jam.”

“Kamu naik apa ke sini?”

“Angkutan dua kali.”

“Ay, ini jam sepuluh malem.”

“Iya.”

“Ini pasar induk.”

“Iya, Dev, aku tau.”

Dan dia mengucapkannya dengan nada yang sudah lelah, dan aku berhenti bertanya.

Aku ingin mencatat satu hal tentang tiga puluh detik pertama itu, karena kalau tidak, sisanya tidak akan masuk akal.

Selama tiga puluh detik pertama, aku tidak memikirkan penjelasan.

Yang kupikirkan adalah: dia belum makan. Dia berdiri setengah jam. Ada dua orang di seberang jalan yang sejak tadi melirik. Angkutan terakhir ke arah rumahnya jam sebelas.

Empat hal, semuanya praktis, semuanya bisa kukerjakan.

Dan tidak satu pun di antaranya menyentuh alasan dia ada di sini.

Aku sudah tiga tahun mengelola situasi dengan cara ini — menemukan bagian yang bisa dibereskan, membereskannya, dan berharap bagian yang tidak bisa dibereskan akan ikut selesai dengan sendirinya.

Malam itu, untuk pertama kalinya, cara itu tidak bekerja.


Kami duduk di warung kopi seberang pasar, yang buka dua puluh empat jam, yang meja-mejanya lengket dan lampunya terlalu terang.

Dia memesan teh dan tidak menyentuhnya.

Dan selama mungkin satu menit penuh, tidak ada satu pun dari kami yang bicara.

“Kamu mulai jam sepuluh?” tanyanya akhirnya.

“Iya.”

“Sampai jam?”

“Dua.”

“Terus pulang?”

“Iya.”

“Sampai rumah jam?”

“Setengah tiga.”

“Tidur jam?”

Aku tidak menjawab.

“Dev.”

“Tiga.”

“Bangun jam lima.”

“Iya.”

Dia mengangguk. Pelan. Beberapa kali.

Dan aku duduk di seberangnya di warung kopi dengan lampu neon yang terlalu terang dan menyadari bahwa dia tidak sedang bertanya.

Dia sedang mengonfirmasi daftar yang sudah dia punya.

“Sejak kapan?” katanya.

“Delapan belas Februari.”

“Delapan minggu.”

“Iya.”

Dan Ayana Kusumaningrat mengangkat kepalanya, dan matanya sudah merah sejak sebelum kami masuk warung ini, dan dia bertanya:

“Ibu kamu gimana?”


Aku ingin mencatat apa yang terjadi di kepalaku pada detik itu, karena kalau tidak kucatat aku akan berpura-pura bahwa aku tidak punya pilihan.

Aku punya pilihan.

Aku punya sekitar tiga detik dan aku punya dua jalan, dan aku bisa melihat keduanya dengan sangat jelas.

Jalan pertama: aku bercerita. Semuanya. Puskesmas, rujukan, angka, sepuluh minggu, surat yang sudah ada di tasku sejak sembilan minggu lalu dan yang sekarang sudah kuketik ulang tanggalnya dua kali.

Jalan kedua: aku bilang “baik.”

Dan yang membuatku harus menuliskan ini dengan jujur adalah bahwa jalan kedua bukan refleks.

Aku memilihnya.

Aku duduk di warung kopi itu, melihat kedua jalan, dan memilih yang kedua dengan sadar, dengan alasan yang kususun dalam tiga detik dan yang kelihatan sangat masuk akal saat itu.

Alasannya: kalau aku bercerita sekarang, dia akan berhenti bertanya.

Bukan karena puas — karena dia akan mulai mengerjakan sesuatu. Dia akan menelepon orang. Dia akan mencari cara. Dia akan mengambil sebagian dari beban ini dan menaruhnya di pundaknya sendiri, karena itulah yang dia lakukan kepada semua orang, setiap hari, sejak sebelum aku mengenalnya.

Dan aku tidak sanggup melihat itu.

Bukan karena harga diri.

Karena kalau dia mengangkat sebagian dari ini dan kemudian tetap tidak cukup — dan aku sudah menghitungnya berkali-kali, dan tetap tidak cukup — maka dia akan membawa itu seumur hidupnya.

Aku sudah melihat apa yang dilakukan hal seperti itu pada seseorang.

Aku melihatnya setiap hari di rumahku, di wajah seorang perempuan yang percaya anaknya gagal tes karena tidak cukup pintar.

“Baik,” kataku.


Ayana meletakkan gelasnya.

Dan yang terjadi berikutnya bukan yang kuduga.

Dia tidak marah. Dia tidak menuntut. Dia tidak menyebut satu pun dari empat fakta yang jelas sudah dia punya — dan aku tahu dia punya, aku bisa melihatnya dari cara dia bertanya tadi.

Dia cuma menutup matanya sebentar.

Lalu dia membukanya lagi, dan bertanya sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan.

“Dev, kamu tau nggak berapa kali aku bilang aku sayang kamu?”

Aku tidak menjawab.

“Dua belas,” katanya. “Aku ngitung di angkutan kemarin.”

“Ay—”

“Aku bukan lagi nagih.” Dia menggeleng cepat. “Sumpah. Aku udah janji sama diri aku sendiri bulan Oktober aku nggak akan nagih dan aku nggak nagih.”

“Terus?”

Dan dia menatapku dari seberang meja yang lengket itu, dan bertanya:

“Kenapa kamu nggak pernah bisa bilang itu?”


Ada bunyi kompor di belakang. Ada motor lewat. Ada orang tertawa di meja seberang.

Dan aku duduk di sana dan merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya, yaitu seluruh sistem di kepalaku berhenti bekerja secara bersamaan.

Bukan karena aku tidak tahu jawabannya.

Karena aku tahu persis jawabannya, dan karena jawabannya sudah ada di sana selama enam bulan, dan karena selama enam bulan itu aku berhasil tidak pernah menatapnya langsung.

Aku membuka mulut.

Dan yang keluar bukan yang kurencanakan.

“Karena kalau aku bilang, aku nggak bisa ngelepasin kamu.”


Warung itu sunyi.

Bukan sunyi sungguhan — kompor masih menyala, motor masih lewat. Tapi aku tidak mendengar apa pun selama beberapa detik.

Ayana tidak bergerak.

“Apa?” katanya.

Dan aku sadar apa yang barusan kuucapkan.

Aku sadar dengan cara yang membuatku ingin berdiri dan keluar dari warung itu, karena dalam satu kalimat aku baru saja meletakkan seluruh isi kepalaku di atas meja lengket itu — bukan cuma perasaanku, tapi rencanaku.

Ngelepasin.

Bukan “kehilangan kamu”. Bukan “kamu pergi”.

Ngelepasin.

Kata kerja aktif. Yang melakukan: aku.

“Dev.” Suaranya berubah total. “Apa maksudnya ngelepasin?”

“Bukan gitu maksud saya—”

“Kamu bilang ngelepasin.”

“Ay—”

“KAMU BILANG NGELEPASIN.”

Dan dua meja di sebelah kami menoleh, dan dia tidak peduli, dan itu adalah pertama kalinya dalam enam bulan aku melihat Ayana Kusumaningrat tidak peduli siapa yang melihat.

“Kamu udah mikirin itu.”

“Ay.”

“Kamu udah mikirin buat ngelepasin aku.”

“Saya nggak—”

“Sejak kapan?”

Dan aku tidak menjawab, dan dia tahu, dan wajahnya hancur di depan mataku di warung kopi seberang pasar induk jam sepuluh lewat sepuluh malam.

“Gerbang,” katanya.

“Ay—”

“Dua puluh satu Maret. Di gerbang sekolah.” Dia menutup mulutnya dengan tangan. “Kamu cium kening aku terus kamu bilang hati-hati pulangnya.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Itu pamitan.”

Aku tetap tidak berkata apa-apa.

Dan itu jawabannya, dan kami berdua tahu itu jawabannya.


“Kenapa?”

Suaranya sudah pelan lagi.

“Kenapa, Dev?”

Dan aku ingin sekali menjelaskan.

Aku ingin menjelaskan bahwa ini bukan tentang dia, bahwa aku sudah menghitung berkali-kali, bahwa kolomnya tidak muat, bahwa dalam sepuluh minggu ke depan aku tidak akan punya satu jam pun yang bisa kuberikan kepada siapa pun.

Aku ingin menjelaskan bahwa orang yang tidak punya apa-apa untuk diberikan tidak berhak menahan siapa pun.

Aku ingin menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kebaikan.

Dan aku membuka mulut untuk mengucapkan sebagian dari itu, dan yang menghentikanku adalah bahwa dia berbicara lebih dulu.

“Dev, aku mau nanya satu hal.”

“Iya.”

“Dan aku mau kamu jawab jujur sekali aja malam ini.”

“Iya.”

Dan Ayana Kusumaningrat, dengan mata yang basah dan suara yang sudah habis, bertanya:

“Kamu pernah nggak, sekali aja, mikir buat nanya ke aku dulu?”


Aku tidak punya jawaban.

Bukan karena jawabannya memalukan.

Karena jawabannya adalah tidak, dan karena aku baru menyadari itu pada detik dia menanyakannya.

Enam bulan. Empat detik di gerbang. Empat jam empat puluh menit di ruang tamu dengan kalkulator ponsel. Sembilan minggu membawa surat di tas.

Dan tidak sekali pun — sekali pun — terlintas di kepalaku untuk bertanya.

“Ay.”

“Nggak usah dijawab.” Dia mengambil tasnya. “Aku udah tau jawabannya dari mukamu.”

“Ayana—”

“Aku nggak marah.” Dan dia berdiri, dan suaranya benar-benar tidak marah, dan itu jauh lebih buruk. “Aku cuma capek, Dev.”

“Saya anter—”

“Nggak usah.”

“Ini jam sepuluh malem—”

“Aku bilang nggak usah.” Dia menyampirkan tasnya. “Kamu masuk kerja lima belas menit lagi.”

Dan dia berjalan ke arah pintu warung.

Lalu berhenti.

Dan tanpa berbalik, dia berkata satu hal terakhir.

“Dev.”

“Iya?”

“Aku nggak akan bilang aku sayang kamu malam ini.”

Aku merasakan sesuatu jatuh.

“Bukan karena aku nggak,” katanya. “Tapi karena tiap kali aku bilang, kamu jawab sesuatu yang lain, dan aku baru sadar kemarin kenapa.”

“Kenapa?”

Dan dia berbalik, dan menatapku, dan berkata:

“Karena kalau kamu jawab beneran, kamu nggak bisa lanjutin rencana kamu.”


Dia pergi.

Aku masuk kerja jam sepuluh dan mengangkat kardus sampai jam dua pagi.

Dan sekitar jam dua belas, di antara dua truk, aku duduk di trotoar dan mengeluarkan ponselku dan membuka percakapan kami dan mengetik sesuatu.

Tiga kata.

Aku menatapnya di layar selama mungkin empat puluh detik.

Lalu aku menghapusnya, dan berdiri, dan kembali bekerja.

Karena aku sudah menghitung, dan hitungannya bilang bahwa mengucapkannya sekarang cuma akan membuat semuanya lebih sulit untuk dua orang.

Dan karena — dan ini yang baru berani kuakui berbulan-bulan kemudian, di koridor rumah sakit jam tiga pagi — aku tahu persis bahwa hitungan itu bohong.

Aku tidak menghapusnya untuk melindungi siapa pun.

Aku menghapusnya karena aku takut.


Aku sampai rumah jam setengah tiga.

Dan Ibu masih bangun.

Dia duduk di kursi plastik di ruang tamu dengan lampu kecil menyala, dan begitu aku masuk, aku tahu dia sudah menunggu di situ cukup lama.

“Bu, kenapa belum tidur?”

“Nggak bisa tidur.”

“Bu—”

“Dev, duduk.”

Aku melepas sepatu dan duduk.

Dan ibuku menatapku selama beberapa saat, dan aku menyadari bahwa dia sedang melihat sesuatu di wajahku yang tidak bisa kusembunyikan karena aku terlalu lelah untuk menyembunyikan apa pun.

“Kamu berantem sama Ayana?”

“Nggak, Bu.”

“Ardev.”

“Nggak berantem.”

“Terus kenapa dia nggak ke sini tiga minggu?”

Dan aku duduk di kursi plastik di ruang tamu tiga kali empat itu jam setengah tiga pagi dan tidak punya satu pun kalimat.

Ibu menghela napas.

“Ibu mau ngomong satu hal,” katanya. “Terus Ibu nggak akan ngomong lagi.”

“Iya, Bu.”

“Bapak kamu dulu juga gitu.”

Aku mengangkat kepala.

“Waktu Ibu hamil kamu, Bapak kena PHK.” Dia menatap tangannya sendiri. “Empat bulan. Ibu baru tau tujuh bulan kemudian.”

“...Apa?”

“Dia tetep berangkat tiap pagi. Pakai baju kerja. Bawa bekal.” Ibu tersenyum sedikit, dan senyumnya membuat sesuatu di dadaku sakit. “Dia duduk di terminal sampai sore terus pulang.”

Aku tidak bisa bicara.

“Ibu tau dari orang lain. Dari tetangga.” Dia mengangkat bahu. “Dan waktu Ibu tanya kenapa nggak bilang, dia bilang, ‘Nanti kamu mikir.’”

Ruang tamu itu sunyi.

“Dev, kamu tau apa yang paling Ibu inget dari empat bulan itu?”

“Apa, Bu?”

Dan ibuku menatapku dan berkata:

“Bukan uangnya. Ibu bisa hidup susah, Ibu udah biasa.”

Dia berhenti.

“Yang Ibu inget adalah empat bulan Ibu tidur di sebelah orang yang lagi sendirian, dan Ibu nggak tau.”

Dan dia berdiri, pelan-pelan, dengan tangan menahan sandaran kursi dengan cara yang tidak dia lakukan tahun lalu.

“Ibu nggak akan nanya kamu lagi ngapain,” katanya. “Ibu cuma minta satu.”

“Apa, Bu?”

“Jangan bikin orang tidur di sebelah kamu terus nggak tau apa-apa.”

Dan dia masuk ke kamar.

Dan aku duduk di kursi plastik itu sampai jam empat pagi dan tidak melakukan apa-apa sama sekali.