Chapter Six
Empat Puluh Menit
POV: Ardev
Dua minggu berlalu, dan tiga hal terjadi dalam urutan yang bisa kuprediksi.
Pertama, Dimas mengangkat dua kardus konsumsi dari gudang belakang ke sekretariat OSIS setiap hari selama sebelas hari berturut-turut, tanpa berkata apa pun, tanpa menunggu apa pun. Di hari keenam Anita berhenti mengucapkan terima kasih. Di hari kesembilan dia mulai menunggu di depan gudang jam empat lewat delapan. Di hari kesebelas dia membawa dua botol air, dan menyerahkan satu ke Dimas tanpa berkata apa-apa juga.
Kedua, Evan jatuh dari tangga.
Sengaja. Di depan Keisha. Tepat setelah Keisha tersandung kabel di lorong lantai dua dan hampir menabrak pot.
Dia tidak jatuh dari tangga sebenarnya — dia jatuh dari dua anak tangga terbawah, yang sudah kami sepakati sebagai kompromi setelah aku menolak versi aslinya selama empat puluh menit. Dan menurut laporan yang kudapat dari tiga sumber berbeda, Keisha berdiri di sana selama dua detik penuh, menatap Evan yang tergeletak di lantai, lalu tertawa sampai harus memegangi tembok.
Bukan tawa sopan.
Evan pulang hari itu dengan lecet di siku dan wajah orang yang baru saja memenangkan sesuatu yang jauh lebih besar dari perlombaan.
“Dia ketawa,” katanya di tribun, untuk yang keenam kali sore itu.
“Iya.”
“Dev, dia KETAWA.”
“Gue denger.”
“Nggak. Lo nggak denger.” Evan menoleh dengan intensitas yang tidak nyaman. “Lo nggak ada di sana. Gue di lantai. Siku gue berdarah. Dan dia ketawa sampe harus pegangan tembok.”
“Itu bagus?”
“ITU LUAR BIASA.”
Dimas, yang sedang mengikat tali sepatu, berkomentar tanpa mengangkat kepala. “Lo berdarah.”
“IYA DAN DIA KETAWA.”
Aku menutup buku dan memasukkannya ke tas. “Van.”
“Apa.”
“Besok jangan jatuh lagi.”
“Kenapa?”
“Karena kalau dua kali, itu bukan kebetulan. Itu badut.”
Evan berpikir keras selama tiga detik penuh, dan aku melihat momen persisnya ketika kalimat itu masuk.
“...Anjir. Bener.”
“Iya.”
“Gue hampir jadi badut.”
“Iya.”
“Dev.” Dia menepuk bahuku terlalu keras. “Lo tuh harusnya digaji.”
Ketiga — dan ini yang tidak kuprediksi — Dimas berhenti bisa tidur.
Aku tahu karena jam sebelas malam, di hari Jumat sebelum final, ponselku bergetar.
Bukan pesan. Panggilan.
Aku bangun dari kasur pelan-pelan, memindahkan lengan Rey yang menempel di perutku, dan keluar ke ruang tamu sambil menutup tirai kamar di belakangku.
“Dim.”
Hening di seberang.
Bukan hening seperti sambungan terputus. Hening seperti orang yang sudah menempelkan telepon ke telinga tapi belum memutuskan mau bicara apa.
“Dim.”
“...Iya.”
“Kenapa?”
“Nggak papa.”
Aku duduk di kursi plastik di ruang tamu. Lampu tidak kunyalakan; cahaya dari gang cukup untuk melihat bentuk-bentuk.
“Oke,” kataku.
Dan aku diam.
Sepuluh detik. Dua puluh. Tiga puluh.
“Dev.”
“Hm.”
“Lo masih di situ?”
“Iya.”
Napasnya terdengar, tidak stabil, seperti orang yang sudah lama duduk di posisi yang tidak nyaman.
“Gue nggak bisa tidur,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Besok jam sepuluh.”
“Iya.”
“Gue kapten.”
“Iya.”
“Kalau gue kalah—”
Dia berhenti.
Dan di situ aku sadar bahwa yang dia takutkan bukan kalah. Dimas Anggara sudah kalah puluhan kali seumur hidupnya dan tidak pernah kehilangan satu jam tidur pun karenanya. Yang dia takutkan adalah kalimat berikutnya, yang tidak akan pernah dia selesaikan, karena Dimas tidak pernah menyelesaikan kalimat yang menyangkut dirinya sendiri.
Kalau gue kalah, semua orang bakal tau gue nggak pantes ada di posisi ini.
Itu kalimatnya. Aku tahu, karena aku sudah mendengar versi lain dari kalimat itu sejak kelas empat SD.
Aku tidak mengatakannya keras-keras. Kalau kukatakan, dia akan menutup telepon.
“Dim.”
“Hm.”
“Lo mau gue ngomong apa?”
Hening lagi.
“Ngomong apa aja,” katanya. “Yang penting bukan soal besok.”
Jadi aku bicara.
Aku mulai dengan galon.
“Galon gue habis Rabu kemarin,” kataku. “Dan gue baru sadar kalau gue selalu beli galon di hari yang salah.”
“...Hah?”
“Depot deket rumah gue tuh naikin harga tiap Senin sama Rabu. Nggak diumumin. Naiknya seribu doang, tapi tetep aja naik.”
“Kenapa Senin sama Rabu?”
“Karena itu hari orang gajian mingguan di pabrik deket situ.”
“Serius?”
“Iya. Jadi kalau gue beli Selasa atau Kamis, gue hemat seribu.”
“Seribu doang.”
“Empat kali sebulan. Empat ribu. Setahun empat puluh delapan ribu.”
Dimas diam. Lalu, dengan suara yang sedikit berbeda dari tadi, “Lo ngitung kayak gitu buat semua hal?”
“Iya.”
“Capek nggak?”
Aku memindahkan telepon ke telinga yang lain.
“Enggak,” kataku. “Udah kayak napas.”
Dan aku lanjut.
Aku bercerita tentang Pak Tarno di ujung gang yang punya teori bahwa kucing di kompleks kami sebenarnya cuma satu ekor yang bisa berada di dua tempat sekaligus, dan bagaimana dia sudah menjelaskan teori itu ke setidaknya empat belas orang. Aku bercerita tentang Rey yang minggu lalu memutuskan bahwa dia tidak mau lagi dipanggil Rey, melainkan “Rey Pak Polisi”, dan bertahan dengan keputusan itu selama tiga hari sebelum lupa.
Aku bercerita tentang Kayla yang menyimpan struk belanja.
“Struk?”
“Iya. Dia kumpulin di kotak susu bekas.”
“Buat apa?”
“Gue nggak tau. Gue nggak nanya.”
“Kenapa nggak nanya?”
Aku memandangi pintu dapur yang gelap.
“Karena gue takut jawabannya.”
Dimas tidak berkomentar. Tapi aku bisa mendengar dia berubah posisi di seberang sana, dan bunyinya lebih tenang dari yang tadi.
Aku bercerita tentang bunyi mesin cuci tetangga sebelah yang bisa dipakai sebagai jam. Tentang mengapa mi instan lebih enak kalau airnya dikurangi lima puluh mililiter dari petunjuk bungkus. Tentang seorang bapak-bapak di angkutan minggu lalu yang menjelaskan panjang lebar kepada seluruh penumpang mengapa dia yakin bumi ini datar, dan bagaimana seorang ibu di kursi belakang mematahkan argumennya hanya dengan satu kalimat pendek yang tidak akan pernah kulupakan.
“Apa kalimatnya?”
“‘Terus kenapa, Pak?’”
Dimas mengeluarkan bunyi. Bukan tawa penuh. Semacam embusan napas lewat hidung.
Tapi itu yang pertama malam itu.
Aku melirik jam dinding. Sebelas lewat tiga puluh delapan.
Aku terus bicara.
Aku bercerita tentang toko bangunan di Jalan Melati yang pemiliknya menolak memasang papan nama selama dua puluh tahun karena, menurutnya, orang yang butuh pasti tahu. Tentang bagaimana teori itu ternyata benar. Tentang tukang bakso yang lewat gang kami jam delapan malam dengan bunyi mangkuk yang polanya tidak pernah berubah — tiga kali, jeda, dua kali — dan bagaimana Rey bisa mengenali bunyi itu dari dalam tidurnya dan langsung bangun.
“Rey bangun tiap malam?”
“Cuma kalau tukang baksonya lewat.”
“Terus?”
“Terus dia duduk. Nggak minta. Cuma duduk.”
Hening di seberang.
“Lo beliin?”
“Kadang.”
“Kadang berapa sering?”
Aku memindahkan telepon ke telinga yang lain lagi.
“Dua kali sebulan.”
Dimas tidak berkomentar apa-apa soal itu. Tapi tiga hari kemudian aku menemukan uang dua puluh ribu terselip di kotak bekal yang dia kembalikan, dan waktu kutanya, dia bilang itu kembalian yang lupa dia ambil, dan waktu kubilang aku tidak pernah memberinya uang, dia bilang berarti kembalian orang lain.
Kami tidak pernah membahasnya lagi.
Malam itu, aku terus bicara.
Aku bercerita tentang kucing Pak Tarno lagi. Tentang bagaimana Kayla pernah bertanya kenapa langit sore warnanya oranye dan aku menjelaskan hamburan cahaya selama sepuluh menit sebelum sadar dia sudah tidur sejak menit kedua. Tentang lakban. Tentang harga telur yang naik dua ratus rupiah bulan ini dan bagaimana dua ratus rupiah itu terasa jauh lebih besar dari dua ratus rupiah.
Di menit ketiga puluh, aku menyadari napasnya sudah berubah.
Lebih lambat. Lebih dalam. Jeda antara satu tarikan dan tarikan berikutnya jadi lebih panjang.
Aku menurunkan volume suaraku sedikit dan mengganti topik ke sesuatu yang lebih membosankan lagi — perbedaan antara empat jenis lakban yang dijual di toko bangunan Jalan Melati, dan kenapa yang paling murah justru paling kuat untuk kardus.
“Yang warnanya cokelat itu—”
“Dev.”
“Hm.”
“Lo tau nggak sih.”
Suaranya sudah setengah tenggelam.
“Tau apa?”
“Gue nggak pernah nelfon siapa-siapa.”
Aku diam.
“Nyokap gue ada di kamar sebelah,” katanya, pelan sekali. “Dua langkah. Gue tinggal ketok.”
“Iya.”
“Tapi gue nelfon lo.”
Ada sesuatu yang naik di dadaku, dan aku menahannya di sana, karena kalau aku bersuara sekarang nada suaraku akan salah dan dia akan mendengarnya.
“Iya,” kataku akhirnya.
“Kenapa ya.”
“Nggak tau.”
“Lo tau.”
“Gue nggak tau, Dim.”
Hening panjang.
“Bohong,” gumamnya, hampir tidak terdengar.
Lalu tidak ada lagi.
Aku menunggu.
Napasnya jadi teratur. Panjang, dalam, dengan bunyi kecil di ujungnya yang sudah kukenal sejak kami masih tidur di lantai ruang tamu rumahnya waktu kelas lima, waktu ayahku masih ada, waktu satu-satunya hal yang perlu kami khawatirkan adalah apakah besok hujan atau tidak.
Aku melirik jam.
Dua belas lewat empat.
Empat puluh menit.
Aku tidak menutup teleponnya. Aku membiarkannya tersambung, meletakkannya di lantai di sebelahku, dan duduk di kursi plastik itu di ruang tamu yang gelap sambil mendengarkan napas seseorang yang tidur di rumah lain di kota yang sama.
Baterai ponselku tinggal dua puluh persen. Aku tidak punya cukup pulsa untuk ini. Aku sudah menghitungnya sejak menit kelima dan memutuskan bahwa itu masalah hari Senin.
Jam setengah satu, aku menutup telepon.
Aku tidak langsung tidur.
Aku ke dapur, menyalakan lampu kecil di atas kompor, dan mulai menyiapkan bekal untuk besok. Empat kotak, bukan tiga. Yang keempat lebih besar dan isinya lebih banyak karbohidrat, karena orang yang tidur tiga jam dan harus bertanding jam sepuluh pagi butuh sesuatu yang lebih dari nasi setengah centong.
Aku juga membungkus dua pisang.
Waktu aku selesai, jam sudah menunjukkan hampir jam satu, dan Kayla berdiri di ambang dapur dengan mata setengah tertutup.
“Kakak belum tidur.”
“Bentar lagi.”
“Kakak masak?”
“Bikin bekal.”
Dia berjalan mendekat, melihat empat kotak berjajar di meja, dan menghitungnya dengan jari.
“Empat.”
“Iya.”
“Biasanya tiga.”
“Iya.”
Dia menatapku dengan tatapan yang terlalu awas untuk jam satu pagi. “Kak Dimas kenapa?”
Aku berhenti menutup kotak.
“Kenapa kamu nanya Kak Dimas?”
“Ya kan yang gede itu buat dia.”
“Kok tau?”
“Bang Evan nggak makan pisang,” katanya, seolah-olah itu fakta yang diketahui seluruh dunia. “Katanya pisang bikin dia inget SD.”
Aku menatap adikku selama beberapa detik.
“Kay.”
“Iya.”
“Kamu tidur.”
“Kakak juga.”
“Iya.”
“Beneran, ya.”
“Iya.”
Dia tidak beranjak. Dia berdiri di sana sambil memegangi kusen pintu dapur, menunggu, sampai akhirnya aku mematikan lampu kompor dan berjalan ke arah kamar lebih dulu — dan baru setelah itu dia ikut.
Aku tidur jam satu lewat. Alarm kupasang jam lima.
Aku bangun jam empat lewat lima puluh enam, seperti biasa, empat menit sebelum alarmnya berbunyi.
Besoknya Dimas menang dengan selisih sebelas angka, dan tidak ada satu pun orang di gedung olahraga itu yang tahu bahwa kaptennya baru tidur tiga jam.
Aku menonton dari tribun paling atas, di sudut, di tempat yang tidak kena kamera dan tidak kena sorot lampu.
Evan berteriak sepanjang pertandingan dengan volume yang membuat dua orang di depan kami pindah tempat duduk. Di kuarter ketiga dia berdiri di atas kursi. Di kuarter keempat dia dilarang berdiri di atas kursi oleh panitia, lalu berdiri di atas kursi lagi tiga menit kemudian.
Di sisi lain tribun, tiga orang perempuan duduk bersama — yang satu berdiri setiap kali bola masuk, yang satu tetap duduk dengan wajah datar dan tangan yang mencengkeram tepi kursi terlalu erat, dan yang satu lagi entah kenapa membawa buku catatan ke pertandingan basket.
Buku bersampul abu-abu.
Aku memperhatikan itu selama mungkin tiga detik, memutuskan bahwa itu bukan urusanku, dan kembali menonton pertandingan.
Peluit akhir berbunyi. Lapangan penuh.
Dimas tidak mengangkat tangan. Dia tidak melompat, tidak berteriak, tidak menghampiri tribun. Dia berdiri di tengah lapangan, di antara teman-temannya yang bersorak, dan mencari sesuatu dengan matanya.
Dia menemukan Evan lebih dulu — susah tidak menemukan Evan.
Lalu dia mendongak ke tribun paling atas, ke sudut.
Dan dia mengetuk dadanya sendiri dengan kepalan tangan. Tiga kali.
Aku mengetuk pipa railing di sebelahku. Tiga kali.
Tidak ada satu pun dari seribu orang di gedung itu yang melihat.
Kecuali satu.
Aku baru menyadarinya waktu aku berdiri untuk pulang — karena aku selalu pulang sebelum kerumunan bubar, karena keluar dari kerumunan itu artinya berpapasan dengan orang, dan berpapasan dengan orang artinya ada kemungkinan disapa.
Di seberang tribun, perempuan yang membawa buku abu-abu itu tidak sedang melihat ke lapangan.
Dia sedang melihat ke arah sudut tempat aku duduk.
Dan dia sedang menulis.
Aku berdiri di sana selama satu detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu memutuskan bahwa jarak dua puluh meter dan pencahayaan gedung olahraga membuat kesimpulan apa pun tidak bisa diandalkan.
Aku mengambil tasku dan turun lewat tangga samping.
Di luar, matahari jam dua belas terlalu terang, dan aku harus menyipitkan mata beberapa detik sebelum bisa berjalan.
Dan sepanjang jalan ke halte, aku memikirkan hal yang sama sekali tidak berhubungan: bahwa pulsaku habis, bahwa besok Senin, dan bahwa aku harus mampir ke gudang di Jalan Melati sebelum jam dua untuk menanyakan apakah ada tambahan shift.
- 1 Bayangan
- 2 Hantu Sekretariat
- 3 Kantin
- 4 Tiga Ketukan
- 5 Dua Orang Bodoh
- 6 Empat Puluh Menit reading
- 7 Daftar
- 8 Tiga Kotak
- 9 Bencana Alam
- 10 Jam Enam Empat Belas
- 11 Sedikit Kata
- 12 Udah, Saya Aja
- 13 Nomor Tiga
- 14 Tiga Kali
- 15 Peringatan
- 16 Dev
- 17 Dapur
- 18 Dua Jam
- 19 Satu-satunya
- 20 Tiga Kali Empat
- 21 Satu Kali Serius
- 22 Di Depan Semua Orang
- 23 Empat Belas Hari
- 24 Rak Nomor Empat
- 25 Kue yang Gagal
- 26 Atap
- 27 Kembang Api Murah
- 28 Om dan Kakak
- 29 Modal Nol
- 30 Fakta Pertama
- 31 Gerbang
- 32 Kok Aku yang Lebih Tahu?
- 33 Kalau Aku Bilang
- 34 Dua Tahun
- 35 Sembilan Hari
- 36 Dua Ketukan
- 37 Satu Arah
- 38 Dokumen
- 39 Galon
- 40 Tolong
- 41 Arti Nama
- 42 Foto