← Nomor Tiga

Chapter Thirty Nine

Galon

POV: Ardev

Aku tidak pulang selama tiga hari.

Bukan keputusan. Cuma terjadi.

Hari pertama karena Ibu belum stabil dan aku tidak berani pergi. Hari kedua karena ada administrasi yang harus diurus dan loketnya buka jam delapan pagi dan aku sudah di sana jam tujuh. Hari ketiga karena aku masuk shift jam dua siang dan pulang jam sepuluh malam dan lebih masuk akal untuk langsung kembali ke rumah sakit daripada pulang dua kilometer untuk tidur empat jam.

Kayla dan Rey menginap di rumah Bu Sri. Aku sudah mengaturnya.

Dan pada hari keempat, jam setengah enam pagi, aku pulang untuk mengambil baju ganti dan berkas BPJS yang tertinggal.

Aku membuka pintu.

Dan rumah itu bersih.


Aku berdiri di ambang pintu selama beberapa detik.

Lantainya disapu. Kursi plastik ditata. Meja dilap — bukan dilap asal; dilap sampai ke sudut, termasuk bagian bawah yang tidak pernah kubersihkan karena tidak ada yang melihat.

Dan di sudut ruangan, dispenser itu punya galon baru.

Aku berjalan ke sana dan mengetuknya.

Bunyinya berat.

Aku berdiri di depan dispenser itu jam setengah enam pagi dan mengetuknya tiga kali berturut-turut seperti orang bodoh, karena otakku menolak menerima informasi itu.

Galon itu habis hari Selasa. Aku ingat karena aku sudah menghitungnya — Selasa, dan aku sudah menyiapkan uangnya, dan aku akan membelinya hari Rabu karena Rabu bukan hari mahal.

Rabu adalah hari Ibu kolaps.


Aku masuk ke kamar.

Cucian sudah dilipat.

Bukan ditumpuk. Dilipat — dan dilipat dengan cara yang salah; kaus dilipat menjadi tiga bukan dua, dan celana digantung terbalik, dan itu jelas dilakukan oleh orang yang tidak pernah melipat baju seumur hidupnya tapi mengerjakannya dengan sangat serius.

Dan di atas tumpukan itu ada dua kaus kaki abu-abu.

Sepasang.

Sama persis, keduanya, tanpa garis di bagian atas.

Aku duduk di kasur lantai kamarku sendiri dan memegang dua kaus kaki itu di tangan dan tidak melakukan apa-apa selama mungkin dua menit.


Kayla pulang jam tujuh pagi bersama Bu Sri untuk mengambil seragamnya.

“Kak!”

“Kay.”

Dan dia menabrakku di ambang pintu dan aku hampir jatuh, dan Rey menyusul dua detik kemudian dan menabrak kaki kami berdua.

“Ibu gimana?”

“Baik.”

“Beneran baik apa baik Kakak?”

Aku berhenti.

Dan aku menatap adikku selama beberapa detik.

“Baik beneran,” kataku. “Udah bisa duduk. Udah marah-marah soal makanan rumah sakit.”

Dan wajah Kayla berubah — bahunya turun, seperti biasa — dan dia bilang, “Oh,” dan berlari ke kamar.

Aku menyusul.

“Kay.”

“Iya?”

“Rumah kenapa bersih?”

Dan adikku berhenti di depan lemari dan menoleh dengan wajah yang mencoba biasa saja dan gagal total.

“Nggak tau.”

“Kayla.”

“Aku nggak boleh cerita.”

“Siapa yang bilang nggak boleh?”

“Semuanya.”


Butuh empat menit.

Aku tidak akan menuliskan seluruh interogasinya karena adikku bertahan lebih lama dari yang seharusnya bisa dilakukan anak sepuluh tahun, dan karena yang mengalahkannya bukan pertanyaanku melainkan Rey, yang masuk ke kamar di menit ketiga dan berkata:

“Kak Anita lipetin baju.”

“REY.”

“Apa?”

“KAMU NGGAK BOLEH CERITA.”

“Kakak juga cerita.”

“AKU NGGAK CERITA.”

Dan Rey — lima tahun, tidak paham apa pun tentang kesepakatan orang dewasa — melanjutkan dengan gembira:

“Terus Om Dimas angkat galon. Terus Bang Evan ngeluh terus. Terus Kak Kei nyapu terus dia jatuh.”


Aku duduk di lantai kamar itu.

“Kay.”

“Iya?”

“Mereka ke sini kapan?”

Dan Kayla berhenti berpura-pura.

“Tiga hari,” katanya.

“Tiga hari?”

“Iya.”

“Tiap hari?”

“Iya.”

Aku menutup mataku.

“Berapa lama?”

“Nggak tau.” Dia duduk di lantai di sebelahku. “Aku kan di rumah Bu Sri. Aku cuma tau karena kemarin aku ke sini ambil buku terus mereka lagi di sini.”

“Mereka lagi ngapain?”

Dan Kayla berkata:

“Bang Evan lagi ngepel. Terus dia ngeluh.”

“Ngeluh apa?”

“Ngeluh air pelnya bau.”


Aku berangkat ke rumah sakit jam delapan pagi.

Dan di angkutan, aku mengeluarkan ponselku dan membuka grup yang sudah tiga minggu mati, dan mengetik satu pesan.

Rumah siapa yang beresin?

Balasannya masuk dalam waktu kurang dari tiga puluh detik.

EVAN: bukan gue

EVAN: gue lagi di rumah

EVAN: gue nggak tau apa2

DIMAS: bukan kita

KEISHA: BUKAN AKU

ANITA: Kalian bertiga jelek banget bohongnya.

ANITA: Iya, kami.

EVAN: NIT

ANITA: Van, dia udah tau. Rey cerita.

EVAN: REY

Aku menatap layar itu di angkutan.

Dan aku mengetik satu kalimat, lalu menghapusnya, lalu mengetik lagi.

Makasih.

Dan Evan Bramantyo mengetik balasannya dalam waktu empat detik.

EVAN: nggak usah

EVAN: itu galon 20 ribu

Dan aku duduk di angkutan itu dan tertawa untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, dan bapak-bapak di sebelahku melirik dan memutuskan untuk tidak bertanya.


Yang kutemukan hari itu, satu per satu, selama tiga hari berikutnya:

Dimas menjual sepatu basketnya.

Bukan yang lama. Yang dia pakai bertanding — yang dibelikan sponsor tim tahun lalu, yang nomor punggungnya ditulis tangan di bagian dalam lidah sepatu.

Aku tahu karena hari Jumat dia datang ke rumah sakit dengan sepatu yang salah, dan aku bertanya, dan dia bilang yang lama lagi dicuci.

Dan aku bilang, “Dim, itu sepatu lo dari kelas sepuluh.”

Dan dia bilang, “Iya.”

Dan itu seluruh percakapan kami tentang hal itu, sampai sekarang.

Yang tidak dia tahu adalah bahwa aku menghitung. Sepatu itu, kondisi seperti itu, di grup jual beli — sekitar satu koma dua juta.

Dan yang tidak dia tahu juga adalah bahwa uang satu koma dua juta itu masuk ke rekening rumah sakit atas nama “hamba Allah” hari Kamis, dan bahwa aku menemukannya di rincian pembayaran hari Sabtu, dan bahwa aku duduk di loket administrasi selama sepuluh menit setelah itu tanpa bergerak.

Keisha membatalkan satu kontrak.

Ini yang paling lama kutemukan, dan aku menemukannya secara tidak sengaja dari Evan yang keceplosan.

Pemotretan tiga hari di luar kota. Sudah dijadwalkan sejak Februari.

Dia membatalkannya tiga hari sebelum berangkat, dan kena penalti, dan agensinya marah.

“Kei,” kataku, di koridor rumah sakit, hari Minggu.

“Apa?”

“Pemotretan yang di luar kota.”

Dan Keisha Amandira — yang tidak bisa berbohong tentang apa pun, yang wajahnya bergerak setiap detik — berkata dengan sangat cepat:

“Itu dibatalin klien.”

“Kei.”

“Kliennya bangkrut.”

“Kei.”

“KLIENNYA BANGKRUT, ARDEV.”

Dan dia berbalik dan berjalan ke arah kantin rumah sakit dengan kecepatan yang tidak wajar, dan aku tidak mengejarnya, karena aku sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu bahwa dia akan menangis dalam waktu kurang dari dua puluh detik dan bahwa dia akan sangat malu kalau ada yang melihat.

Dan Evan tidak memberikan uang sepeser pun.

Itu bagian yang paling tidak kuduga.

Dia tidak menelepon direktur. Dia tidak mentransfer apa pun. Dia tidak membelikan satu barang pun.

Yang dia lakukan adalah ini: dia mengurus administrasi.

Berkas BPJS yang statusnya bermasalah karena tunggakan iuran empat bulan. Surat keterangan tidak mampu dari kelurahan yang butuh tanda tangan tiga orang dan yang salah satunya cuma ada hari Selasa dan Kamis. Pengajuan keringanan ke bagian sosial rumah sakit. Rujukan berjenjang yang salah nomor.

Empat hari. Enam kantor. Dan Evan Radhitya Bramantyo — yang seumur hidupnya tidak pernah mengantre untuk apa pun — duduk di kursi plastik kantor kelurahan dari jam tujuh pagi sampai jam satu siang selama dua hari berturut-turut.

Aku baru tahu hari kelima, waktu petugas loket rumah sakit menyebut nama yang salah.

“Ini yang ngurus kemarin Bapak Evan ya?”

“...Siapa?”

“Yang tinggi, ramai, pakai kacamata hitam.” Petugas itu tertawa. “Beliau di sini empat hari, Mas. Bawa map sendiri. Semua berkasnya udah rapi.”


Aku bertanya ke Anita hari Senin.

“Kenapa Evan nggak ngasih uang?”

Dan Anita, yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya di kursi tunggu, tidak mengangkat kepala.

“Karena aku larang,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena kamu bakal nolak.”

“Terus?”

Dan Anita meletakkan ponselnya.

“Terus kamu bakal nolak, terus Evan bakal ngerasa nggak berguna, terus dia bakal ngasih lagi lebih besar, terus kamu nolak lagi.” Dia menatapku. “Dan itu bakal terus begitu sampai salah satu dari kalian nyerah, dan yang nyerah bakal Evan, dan dia bakal bawa itu seumur hidup.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Jadi aku kasih dia sesuatu yang kamu nggak bisa tolak,” katanya.

“Apa?”

Dan Anita Wijayakusuma berkata:

“Antrean.”


Aku pulang ke rumah hari Selasa jam sembilan malam.

Kayla dan Rey masih di tempat Bu Sri. Ibu sudah dipindah ke ruang rawat biasa dan sudah ada perawat malam.

Dan aku membuka pintu rumah yang bersih dan gelap dan duduk di kursi plastik di ruang tamu tanpa menyalakan lampu.

Dan aku duduk di situ selama mungkin empat puluh menit.

Aku tidak menghitung apa pun.

Itu yang paling aneh. Selama empat puluh menit itu, kepalaku tidak menghitung satu hal pun — bukan uang, bukan hari, bukan berapa lama lagi.

Kosong.

Dan aku sedang duduk di situ waktu pintu depan diketuk.


Aku tahu itu dia sebelum membuka.

Aku tidak tahu bagaimana. Ketukannya biasa saja — tiga kali, pelan, tidak ada yang khas.

Aku membuka pintu.

“Ay.”

“Hai.”

Dia berdiri di gang dengan tas di bahu, dan aku baru sadar bahwa ini pertama kalinya dia datang ke rumah ini sejak bulan Maret.

“Kamu—”

“Aku nggak lama,” katanya cepat. “Aku cuma nganter ini.”

Dan dia menyerahkan kantong plastik.

Isinya obat. Yang diresepkan dokter hari Senin, yang harus ditebus di apotek luar karena stok rumah sakit habis, dan yang aku putuskan untuk kutebus besok pagi karena apotek terdekat tutup jam delapan dan aku baru selesai kerja jam sepuluh.

“Kamu—” Aku menatap kantong itu. “Kamu tau dari mana?”

“Dari Kayla.”

“Ay, ini—”

“Aku nggak bayar,” katanya. “Pakai kartu Ibu kamu. Aku minta ke Anita, Anita minta ke Kayla. Kwitansinya di dalem, atas nama Ibu kamu, semua sesuai.”

Dan aku berdiri di ambang pintu memegang kantong plastik itu dan tidak bisa berkata apa-apa.

Karena dia sudah menutup semua jalan keluarku.

Tidak ada satu pun cara untuk menolak ini. Tidak ada uang yang harus kubalas. Tidak ada nama yang harus kutanggung. Yang dia berikan cuma satu hal: perjalanan ke apotek dan waktu satu setengah jam.

Dia sudah memikirkannya.

Sama seperti aku memikirkan segalanya, selama tiga tahun, untuk semua orang.

“Ay.”

“Aku pulang ya.”

“Ay—”

“Nggak apa-apa, Dev.” Dia sudah setengah berbalik. “Aku nggak dateng buat ngomong. Aku dateng buat nganter obat.”

Dan dia berjalan.


Aku tidak tahu apa yang membuatku melakukannya.

Aku sudah memikirkannya berkali-kali dan aku masih tidak punya penjelasan yang benar, dan yang paling dekat adalah ini: bahwa aku sudah tiga bulan menghitung, dan bahwa malam itu, di ruang tamu yang gelap selama empat puluh menit, ada sesuatu di dalam kepalaku yang berhenti.

Aku melangkah keluar.

“Ayana.”

Dia berhenti.

Dan aku berdiri di gang itu, dan aku tidak tahu apa yang akan kukatakan, dan aku sungguh-sungguh tidak punya satu kalimat pun.

Dia berbalik.

Dan dia melihat wajahku.

Dan Ayana Kusumaningrat menjatuhkan tasnya di tanah gang yang basah dan berjalan tiga langkah dan memelukku dari depan dengan kedua tangan.

Dan aku tidak melepaskan.


Aku tidak melepaskan.

Aku ingin menuliskannya dua kali karena itu bagian yang paling penting.

Selama enam bulan, setiap kali ada orang mendekat, ada bagian di kepalaku yang langsung mulai menghitung berapa lama sampai aku harus melepaskan.

Malam itu bagian itu tidak menyala.

Aku berdiri di gang sempit di depan rumah petak, jam sepuluh kurang, dengan kantong obat di satu tangan dan seseorang yang menangis di bahuku, dan aku tidak menghitung apa pun sama sekali.

“Dev.”

“Iya.”

“Aku nggak akan minta kamu balik.”

“Ay—”

“Aku serius.” Suaranya teredam. “Aku nggak akan minta apa-apa malam ini.”

“Terus kenapa kamu ke sini?”

Dan dia berkata, ke bahuku:

“Karena aku nggak mau kamu sendirian pas mutusin.”

Dan aku menyadari, dengan sangat jelas, bahwa itu bukan kalimatnya.

Itu kalimat Anita.

Yang diucapkan ke Ayana di kantin sekolah bulan Maret, waktu dia tidak tahu harus melakukan apa.

Dan yang sekarang diberikan lagi, diteruskan, ke orang berikutnya di rantai itu.


Dia pulang setengah jam kemudian.

Aku mengantarnya sampai mulut gang, dan kami tidak bicara sepanjang tujuh puluh meter itu, dan di ujung gang dia berhenti.

“Dev.”

“Iya.”

“Aku boleh nanya satu hal? Terus aku pulang.”

“Boleh.”

Dan Ayana berdiri di bawah lampu jalan di mulut gang dan bertanya:

“Kamu udah tidur berapa jam minggu ini?”

Aku membuka mulut.

“Dan jangan bilang cukup,” katanya.

Aku menutup mulutku lagi.

Dan aku berdiri di situ dan melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sekali pun sejak bulan Januari.

Aku menghitung dengan jujur.

Senin: tiga jam. Selasa: dua. Rabu: aku tidak tidur. Kamis: empat, di kursi tunggu, terpotong-potong. Jumat: tiga.

“Dua belas,” kataku.

“Dua belas jam?”

“Iya.”

“Lima hari?”

“Iya.”

Dan Ayana Kusumaningrat menutup matanya, dan menarik napas, dan tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

Lalu dia berkata:

“Makasih.”

Aku mengerjap. “Buat apa?”

“Buat jawab.”

Dan dia naik ojek dan pergi, dan aku berdiri di mulut gang sampai lampu belakang motor itu hilang.


Malam itu aku tidur enam jam.

Pertama kalinya dalam empat bulan.

Dan waktu aku bangun jam lima pagi — kebiasaan; empat menit sebelum alarm, seperti selalu — ada satu hal yang berbeda, dan butuh beberapa detik sebelum aku mengerti apa.

Aku tidak langsung menghitung.

Biasanya begitu mata terbuka, kepalaku sudah mulai: sisa uang, jadwal, apa yang harus diurus hari ini, berapa lama lagi. Sudah tiga tahun begitu.

Pagi itu aku berbaring di kasur lantai selama mungkin dua menit dan tidak menghitung apa pun.

Dan yang muncul di kepalaku, tanpa kuminta, adalah kalimat yang diucapkan Rasendriya Wibisono di gang belakang sekolah tiga bulan lalu dan yang sudah kutolak selama tiga bulan.

Kamu tiga tahun ngasih sesuatu tanpa pernah bilang. Dan itu bukan hal yang lebih baik. Itu cuma kesalahan yang arahnya kebalikan.

Aku duduk di kasur.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak punya bantahan.