← Nomor Tiga

Chapter Thirty Two

Kok Aku yang Lebih Tahu?

POV: Ayana

Bulan April, hal-hal berhenti berkurang dan mulai hilang.

Itu perbedaannya. Berkurang masih bisa dihitung; kamu bisa melihat angkanya turun dan menghitung berapa lama sampai habis.

Hilang tidak begitu.

Hari Senin tanggal enam, dia tidak masuk sekolah.

Hari Selasa masuk, tapi tidak ada di kantin.

Hari Rabu tidak masuk.

Hari Kamis masuk, dan aku melihatnya di koridor lantai satu, dan aku memanggil namanya dan dia menoleh dan tersenyum dan bilang “eh, iya, bentar ya, saya ada di lab” dan pergi.

Bentar ya.

Aku berdiri di koridor itu dan mengulang dua kata itu di kepalaku, karena dalam enam bulan aku belum pernah sekali pun mendengar Ardev Narasoma mengucapkan kata yang menunda apa pun.

Hari Jumat aku menunggu di depan kelasnya jam pulang.

Dia tidak keluar.

Aku bertanya ke anak yang lewat, dan anak itu bilang Ardev sudah pulang duluan sejak jam kedua terakhir karena izin.


Aku menghitung minggu itu.

Bukan kebiasaanku — atau bukan kebiasaanku sampai enam bulan lalu, ketika aku mulai berteman dengan orang yang menghitung segalanya dan ternyata itu menular.

Dalam tiga minggu terakhir, kami bertemu berdua sebanyak dua kali.

Satu kali di gerbang, tanggal dua puluh satu Maret, empat menit.

Satu kali di aula, tanggal empat April, dua puluh menit, dan itupun karena ada lampu yang harus diganti dan aku memegangi tangga seperti biasa dan dia tidak bicara sama sekali kecuali “obeng” dan “udah”.

Total: dua puluh empat menit dalam dua puluh satu hari.

Aku menulis angka itu di ponselku dan menatapnya.

Lalu aku menghapusnya, karena melihatnya tertulis membuatnya nyata dengan cara yang tidak sanggup kutanggung sore itu.


Rasen menghadangku hari Selasa tanggal empat belas, jam empat sore, di depan ruang arsip.

Aku ingin sangat jelas tentang urutannya: dia menghadangku. Dia menunggu. Aku sudah lewat depan ruang arsip tiga kali minggu itu dan dia tidak pernah keluar sekali pun, dan hari itu dia berdiri di ambang pintu seperti orang yang sudah menunggu sejak entah kapan.

“Ayana.”

“Kak.”

“Ada waktu sepuluh menit?”

“Ada apa, Kak?”

Dan dia tidak langsung menjawab.

Rasendriya Wibisono, yang tidak pernah kehabisan kalimat, yang menjawab pertanyaan bendahara yayasan dalam tiga detik, berdiri di ambang pintu ruang arsip dan tidak tahu harus mulai dari mana.

“Masuk dulu,” katanya akhirnya.


Ruang arsip berbau kertas lama dan debu.

Dia menutup pintu — dan segera membukanya lagi, sekitar sepuluh sentimeter, dan aku memperhatikan itu dan menyimpannya.

“Aku mau ngomong sesuatu,” katanya. “Dan sebelum aku ngomong, aku mau kamu tau tiga hal.”

“Kak—”

“Tiga hal, Ayana. Terus kamu boleh pergi kapan aja.”

Aku berdiri di antara dua rak boks arsip dan mengangguk.

“Satu.” Dia mengangkat jari. “Aku udah mikirin ini tiga minggu. Bukan tiga hari. Tiga minggu.”

“Oke.”

“Dua. Aku udah mutusin dua kali buat nggak ngomong. Yang pertama bulan Januari, di depan ruang TU. Kamu inget?”

Kalau kamu punya pertanyaan tentang seseorang, tanya ke orangnya.

“Aku inget.”

“Yang kedua minggu lalu.”

“Terus kenapa sekarang?”

Dan Rasen menatapku, dan berkata hal yang membuatku harus memegang rak di sebelahku.

“Tiga,” katanya. “Aku nggak bisa mastiin aku ngomong ini karena kamu atau karena aku.”

Aku mengerjap.

“Aku udah coba misahin,” lanjutnya, dan suaranya sama sekali tidak berubah. “Tiga minggu. Aku nggak bisa. Jadi aku nggak akan bohong dan bilang aku ngelakuin ini murni buat kamu.”

“Kak Rasen—”

“Anggap aja aku ngomong karena aku,” katanya. “Itu lebih jujur. Dan kamu boleh nilai aku dengan itu.”

Dan aku berdiri di ruang arsip itu dan menyadari bahwa laki-laki ini baru saja melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada berbohong.

Dia meletakkan seluruh motifnya di meja lebih dulu.

Sehingga apa pun yang dia katakan setelah itu, aku tidak bisa lagi menolaknya dengan bilang kamu cuma mau sesuatu.


“Aku ngurus data yayasan,” katanya. “Bukan rahasia, semua orang tau. Termasuk data permohonan bantuan siswa.”

“Oke.”

“Ada satu berkas yang masuk bulan Februari.”

Aku tidak bergerak.

“Aku nggak akan kasih tau isinya,” katanya. “Itu data pribadi dan aku nggak punya hak.”

“Terus Kakak mau ngomong apa?”

Dan dia berkata:

“Aku cuma mau nanya empat hal ke kamu.”


Pertanyaan pertama.

“Kamu tau ibunya sakit?”

Ruang arsip itu sangat sunyi.

Aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini sejak bulan Februari, di ruang guru, waktu Pak Anwar mengucapkan nama Bu Sriyati di telepon.

Jawabanku adalah: iya. Aku tahu.

Tapi aku tidak tahu dari dia.

Dan aku berdiri di ruang arsip itu dan menyadari bahwa jawaban “iya” akan bohong dan jawaban “enggak” juga akan bohong, dan bahwa tidak ada satu pun kata di bahasa Indonesia untuk kondisi di antara keduanya.

“...Iya,” kataku.

“Dia yang cerita?”

Dan aku tidak menjawab.

Rasen mengangguk pelan.

Pertanyaan kedua.

“Kamu tau dia kerja dua tempat?”

“Kak—”

“Kamu tau?”

Dan yang membuatku harus menarik napas adalah bahwa aku tidak tahu.

Aku tahu gudang. Sabtu, Jalan Melati, sejak umur lima belas. Itu sudah kutahu sejak Bab awal hubungan ini, dari Evan, di koridor, sambil dia menendang kerikil.

Dua tempat.

“Sejak kapan?” tanyaku, dan suaraku sudah tidak seperti suaraku.

“Aku nggak tau persis.” Rasen menatap boks di sebelahnya. “Yang aku tau, ada surat dari orang tuanya ke sekolah bulan Februari. Minta keringanan jam.”

“Keringanan jam.”

“Supaya bisa kerja malem.”

Pertanyaan ketiga.

“Kamu tau dia udah masukin surat pengunduran diri dari tim teknis?”

Aku menoleh dengan cepat.

“Nggak mungkin.”

“Ayana.”

“Aku wakil ketua. Semua surat masuk lewat aku.”

“Suratnya belum dikasih,” kata Rasen. “Tapi udah ada. Tertanggal tiga puluh satu Maret.”

“Kakak liat dari mana?”

Dan Rasen — untuk pertama kalinya sore itu — terlihat tidak nyaman.

“Dia nanya ke bagian kesiswaan minggu lalu,” katanya. “Nanya prosedurnya gimana kalau siswa mau mundur dari kepanitiaan di tengah tahun. Dan nanya satu hal lagi.”

“Apa?”

“Prosedur pindah ke kelompok belajar.”

Aku tidak mengerti.

“Kelompok belajar itu apa, Kak?”

Dan Rasendriya Wibisono berkata, dengan sangat pelan:

“Itu buat siswa yang berhenti sekolah tapi masih mau ikut ujian.”


Aku tidak ingat berapa lama aku berdiri di sana.

Yang kuingat: bahwa tanganku dingin. Bahwa ada bunyi di telinga kananku. Bahwa aku sedang menatap label di boks arsip di depanku — KERJA SAMA SPONSOR 2021–2022 — dan bahwa aku membaca label itu berkali-kali karena otakku menolak melakukan hal lain.

“Ayana.”

“Sebentar.”

“Kamu mau duduk?”

“Sebentar, Kak.”

Dan aku berdiri di antara dua rak boks arsip dan melakukan hal yang paling tidak berguna yang bisa dilakukan seseorang di situasi itu.

Aku menghitung.

Enam minggu pesan setiap hari.

Kamu gimana?Baik.

Ibu kamu gimana?Baik.

Kamu capek nggak?Nggak apa-apa.

Empat puluh dua hari. Empat puluh dua pintu yang kubuka dan empat puluh dua kali ditutup dengan sopan.

Dan selama empat puluh dua hari itu, laki-laki itu bangun jam lima, sekolah, mengangkat kardus dari jam sepuluh malam sampai jam dua pagi, dan mengetik “nggak apa-apa” dari lorong pasar induk.

Dan aku percaya.

Aku percaya setiap kali, karena aku sudah memutuskan bulan Oktober bahwa aku tidak akan menagih, dan aku bangga pada diriku sendiri karena itu, dan aku menyebutnya menghormati.

Pertanyaan keempat.

Rasen mengucapkannya paling akhir, dan dia mengucapkannya dengan nada paling pelan sore itu, dan aku tahu — aku tahu bahkan waktu itu — bahwa dia tidak sedang menyerang.

Dia benar-benar bingung.

“Ayana.”

“Iya.”

“Kamu pacarnya, kan?”

“Iya.”

Dan dia bertanya:

“Kok aku yang lebih tahu?”


Aku tidak menangis di ruang arsip.

Aku menangis di tangga darurat gedung utara, sepuluh menit kemudian, sendirian, dengan punggung ke tembok dan tas masih di bahu.

Dan yang perlu kucatat dengan jujur — karena aku sudah berbohong kepada diriku sendiri cukup banyak bulan itu — adalah apa yang sebenarnya kutangisi.

Bukan penyakit ibunya. Aku sudah tahu sejak Februari.

Bukan pekerjaan malamnya. Itu baru, dan itu menghancurkan, tapi bukan itu.

Yang kutangisi adalah bahwa aku menghabiskan enam bulan menyusun daftar tentang laki-laki itu — kaus kaki yang tidak sepasang, kursi dekat pintu, kotak yang paling kecil — dan bangga pada diriku sendiri karena aku memperhatikan.

Dan bahwa semua yang kutahu tentang dia, aku dapatkan dengan mengintip.

Tidak satu pun dia berikan.

Enam bulan. Satu-satunya hal yang pernah dia ceritakan atas kemauannya sendiri adalah malam di atap, bulan Desember, dan itu pun karena aku menyentuh pelipisnya lebih dulu.

Aku duduk di tangga darurat itu dan mengucapkan sesuatu keras-keras yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun sampai sekarang.

“Aku bukan pacarnya.”

Dan begitu kalimat itu keluar, aku tahu itu bukan drama.

Itu deskripsi.

Karena orang yang jadi pacar seseorang tahu di mana orang itu bekerja jam sebelas malam.


Anita menemukanku empat puluh menit kemudian.

Bukan kebetulan; dia jelas mencari, karena tas dan berkasku masih tertinggal di sekretariat dan Anita adalah orang yang menyadari hal-hal seperti itu dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Dia duduk di anak tangga di sebelahku dan tidak berkata apa-apa selama beberapa saat.

“Nit.”

“Hm.”

“Ardev mau berhenti sekolah.”

Dan aku merasakan dia berhenti bergerak di sebelahku.

“Dari siapa?”

“Kak Rasen.”

Hening panjang.

“Ay.”

“Aku tau apa yang kamu mau bilang.”

“Aku nggak mau bilang apa-apa.” Anita menatap tangga di bawah kami. “Aku cuma lagi mikir kenapa yang ngasih tau kamu bukan Dimas.”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Dimas sahabatnya sepuluh tahun.” Suaranya rata. “Kalau Ardev mau berhenti sekolah, Dimas harusnya tau.”

“Mungkin dia tau tapi nggak bilang.”

“Enggak.” Anita menggeleng sekali. “Kalau Dimas tau, dia nggak akan bisa nyembunyiin. Dia nggak bisa bohong ke aku, Ay. Dia bahkan nggak bisa bohong soal makan siang.”

Dan aku duduk di tangga darurat itu dan merasakan sesuatu yang lebih dingin dari semua yang kurasakan sore itu.

“Jadi Dimas nggak tau,” kataku.

“Iya.”

“Evan juga nggak tau.”

“Kayaknya enggak.”

Dan Anita menoleh ke arahku, dan wajahnya — yang tidak pernah berubah di depan siapa pun — berubah.

“Ay,” katanya. “Kalau sepuluh tahun aja nggak dikasih tau, ini bukan soal kamu.”


“Nit.”

“Hm.”

“Aku harus gimana?”

Dan Anita tidak menjawab selama beberapa saat.

“Aku bilang minggu lalu aku nggak akan bilang kamu harus gimana,” katanya akhirnya. “Aku masih nggak akan.”

“Nit, tolong.”

“Aku bukan nggak mau, Ay.” Dia menoleh, dan wajahnya benar-benar tidak berdaya, dan itu ekspresi yang belum pernah kulihat di wajah Anita Wijayakusuma seumur hidupku. “Aku beneran nggak tau.”

Dan dia menatap tangga di bawah kami.

“Yang aku tau cuma satu hal,” katanya.

“Apa?”

“Kalau kamu diem terus, dia bakal selesai sendiri.”

Aku menoleh.

“Maksudnya?”

“Orang kayak dia nggak butuh diputusin, Ay.” Suaranya pelan sekali. “Dia bakal ngerjain sendiri. Dia bakal ngilang pelan-pelan sampai kamu ngerasa itu keputusan kamu.”

Dan aku duduk di tangga darurat itu dan mengingat percakapan lain, di sekretariat, bulan Oktober — waktu Anita berdiri di jendela dan meramalkan bahwa aku yang akan melakukan itu.

“Nit.”

“Hm.”

“Bulan Oktober kamu bilang aku yang bakal ngilang pelan-pelan.”

Anita menutup matanya.

“Iya,” katanya. “Aku salah orang.”


Aku pulang jam tujuh malam.

Dan di angkutan, aku mengeluarkan ponselku dan membuka percakapan kami dan menggulirnya ke atas.

Sangat jauh ke atas. Sampai bulan Oktober.

Aku sayang kamu.

Makasih.

Aku sayang kamu.

Hati-hati.

Aku sayang kamu.

Aku juga.

Aku sayang kamu.

Udah makan?

Aku menggulir sampai jariku lelah.

Dua belas kali. Aku menghitungnya di angkutan, dengan bapak-bapak di sebelahku yang jelas melirik dan jelas memutuskan untuk tidak bertanya.

Dua belas kali dalam enam bulan.

Dan dua belas jawaban yang bukan kalimat itu.

Dan aku menaruh ponselku di pangkuan dan menatap keluar jendela dan menyadari bahwa selama ini aku salah memahami satu hal yang sangat mendasar.

Aku selalu mengira dia tidak mengucapkannya karena tidak bisa.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku memikirkan kemungkinan lain.

Bahwa dia tidak mengucapkannya karena dia sudah tahu dia akan pergi.