← Nomor Tiga

Chapter Twenty Six

Atap

POV: Ayana

Aku tidak ikut pulang.

Bukan rencana. Yang terjadi adalah bahwa jam delapan, waktu semua orang memakai sepatu di depan pintu, Rey memutuskan bahwa dia tidak akan melepaskan tanganku, dan Kayla — dengan wajah paling polos yang pernah kulihat — berkata:

“Kak Ayana pulangnya sama Bang Evan aja, kan searah.”

“Kay, itu nggak searah sama sekali.”

“Oh ya?”

“Kay.”

Dan lima belas menit kemudian, entah bagaimana, aku sedang berdiri di ruang tamu yang sudah kosong sementara Ardev mengunci pintu depan.

“Saya anter jam sembilan,” katanya. “Rey tidur jam setengah sembilan.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu nggak dicariin?”

“Papa di Medan. Mama di rumah tante.”

Aku mengucapkannya dengan nada biasa — nada yang sudah kulatih selama bertahun-tahun — dan Ardev mengangguk dan tidak berkomentar apa-apa, dan itu adalah bentuk kebaikan yang tidak akan pernah dia sadari.


Rey tidur jam setengah sembilan lewat, seperti dijanjikan.

Kayla masuk kamar jam sembilan kurang, dengan buku gambar baru di pelukannya, dan berhenti di ambang pintu untuk mengucapkan sesuatu.

“Kak Ayana.”

“Iya?”

“Makasih ya.”

“Sama-sama.”

Dan dia sudah setengah masuk waktu dia berbalik lagi.

“Kak.”

“Hm?”

“Kak Ardev nggak pernah naik atap sama siapa-siapa.”

“...Apa?”

“Nggak apa-apa.” Dia menutup tirai kamar. “Selamat malam.”


Rumah petak itu punya atap yang bisa dinaiki lewat tangga besi di belakang, di samping tempat jemuran, dan aku tidak tahu itu sampai Ardev berkata:

“Kamu mau lihat sesuatu?”

Tangganya delapan anak. Berkarat di dua tempat. Dan begitu naik, yang ada di atas bukan atap dalam pengertian normal — melainkan dak beton datar seluas kira-kira tiga kali tiga meter, dengan tepi setinggi lutut, dan satu kursi plastik yang sudah pudar warnanya.

Satu kursi.

“Kamu duduk,” katanya.

“Kamu?”

“Saya di sini.” Dia duduk di lantai dak dengan punggung ke tepi.

“Dev.”

“Nggak apa-apa.”

“Ada dua orang dan satu kursi.”

“Iya, makanya kamu yang duduk.”

Dan aku duduk di lantai dak di sebelahnya.

Dia menoleh.

“Kursinya—”

“Sekarang nggak ada yang duduk di kursi,” kataku. “Adil.”

Dan aku bersumpah aku mendengar dia mengeluarkan bunyi lewat hidung yang kalau dari orang lain akan disebut tertawa.


Dari atas sana, gang itu kelihatan berbeda.

Bukan lebih bagus. Cuma berbeda. Seng-seng atap yang berjajar tidak rata, antena televisi yang miring, jemuran tetangga yang belum diangkat, dan di kejauhan, di balik semuanya, garis lampu jalan besar yang membentang seperti sesuatu yang tidak berhubungan dengan tempat ini.

“Kamu sering ke sini?”

“Kadang.”

“Ngapain?”

“Nggak ngapa-ngapain.”

Aku menoleh ke arahnya, dan dia sedang menatap ke arah lampu jalan, dan dari sudut ini garis putih di pelipis kirinya tertangkap cahaya.

Dan aku menyadari sesuatu.

Kalau dia duduk menghadap gang seperti sekarang, sisi kirinya menghadap ke arah rumah.

Dia selalu duduk begitu.

Di sekretariat, di aula, di kantin, di ruang tamu. Sisi kiri ke arah dinding. Aku sudah mencatatnya berbulan-bulan lalu tanpa mengerti kenapa, dan aku menuliskannya di buku abu-abu sebagai satu baris tanpa penjelasan.

Sekarang aku mengerti.

“Dev.”

“Hm.”

Dan aku melakukan sesuatu yang sudah kupikirkan selama empat minggu dan yang kuputuskan untuk tidak lakukan setiap kali.

Aku mengangkat tangan dan menyentuh pelipisnya.

Dia membeku.

Aku tidak menekan. Aku cuma meletakkan ujung jariku di sana, di garis putih itu, yang ternyata sedikit lebih tinggi dari kulit di sekitarnya, dan yang ujungnya berhenti tepat sebelum alis.

“Ayana.”

“Iya.”

“Kamu tau.”

Itu bukan pertanyaan.

Aku menurunkan tanganku.

“Iya,” kataku.

“Dari siapa?”

“Dimas sama Evan.”

“Kapan?”

“Empat minggu lalu. Waktu kamu nganter Kayla les.”

Dan Ardev Narasoma menatap gang itu selama waktu yang sangat lama, dan aku duduk di sebelahnya dan tidak berani bernapas dengan benar.

“Berapa banyak?” katanya akhirnya.

“Semuanya.”

“Termasuk—”

“Termasuk tes SMP.”

Rahangnya bergerak.

“Dev, kalau kamu marah—”

“Saya nggak marah.”

“Kamu boleh marah.”

“Saya nggak marah,” ulangnya, dan aku percaya, karena suaranya sama sekali tidak berubah. “Saya cuma... mikir.”

“Mikirin apa?”

Dan dia berkata sesuatu yang membuat dadaku sakit.

“Mikirin kenapa kamu nggak bilang selama empat minggu.”


“Karena aku takut kamu ngilang,” kataku.

“Ngilang gimana?”

“Kamu ngilang tiap kali ada orang tau sesuatu tentang kamu.” Aku menatapnya. “Bukan pergi. Ngilang. Kamu masih ada tapi kamu nutup.”

Dia tidak membantah.

“Dan aku pikir kalau aku diem, semuanya bisa lanjut normal.” Aku memeluk lututku. “Terus aku sadar itu sama aja kayak yang kamu lakuin ke aku.”

“Maksudnya?”

“Kamu mutusin sendiri apa yang orang lain boleh tanggung.” Suaraku turun. “Aku juga barusan. Empat minggu.”

Hening panjang.

Suara televisi dari rumah sebelah. Motor lewat di gang. Seseorang menutup pintu.

“Ay.”

“Iya?”

Dan dia menarik napas, dan aku bisa mendengarnya tidak stabil.

“Ada yang nggak mereka tau,” katanya.


“Yang mereka nggak tau apa?”

Dan dia tidak langsung menjawab.

Dia mengambil sesuatu dari saku celananya — obeng kecil, yang selalu ada di sana, yang sudah kulihat ratusan kali — dan memutarnya di tangannya sekali.

“Ini punya bapak saya,” katanya.

Aku menatap benda itu.

Gagangnya kayu, sudah gelap di bagian yang sering dipegang. Ujungnya sudah tumpul di satu sisi.

“Kamu bawa ini tiap hari?”

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak dia meninggal.”

Dan dia memasukkannya kembali ke saku.

“Tiga tahun,” kataku.

“Iya.”

“Dev, itu—”

“Saya tau.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Ini nggak bagus. Ada yang lebih bagus di toko, dua puluh ribu. Yang ini malah suka selip.”

“Bukan itu yang mau aku bilang.”

“Saya tau itu juga.”

Aku tidak akan pernah bisa menuliskan bagian ini dengan benar.

Aku sudah mencoba beberapa kali di kepalaku sejak malam itu, dan setiap kali hasilnya terlalu rapi, dan yang sebenarnya terjadi sama sekali tidak rapi. Kalimatnya patah. Dia berhenti di tengah tiga kali. Sekali dia mengulang satu kalimat yang sudah dia ucapkan tanpa sadar.

Tapi ini yang dia katakan.

“Bapak saya teknisi,” katanya. “Yang benerin mesin di pabrik. Yang tangannya selalu ada olinya.”

“Aku tau.”

“Yang nggak kamu tau adalah semua yang saya bisa itu dari dia.” Dia menatap tangannya sendiri. “Solder. Listrik. Baca skema. Dia yang ngajarin dari saya kelas dua SD. Dia bilang orang harus bisa benerin barangnya sendiri karena manggil tukang itu mahal.”

Dia berhenti.

“Dia punya kalimat.”

“Kalimat apa?”

“Tiap kali ada yang rusak di rumah. Tiap kali ada yang berat diangkat. Tiap kali Ibu mau ngerjain sesuatu dan dia liat.” Ardev menatap gang. “Dia selalu bilang hal yang sama.”

Dan aku sudah tahu sebelum dia mengucapkannya, dan aku tetap tidak siap.

“‘Udah, aku aja.’”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Saya nggak sadar saya niru,” katanya. “Dimas yang pertama nyadar. Kelas sepuluh. Dia bilang ‘lo ngomong kayak bokap lo.’ Dan saya bilang ‘enggak.’ Terus saya pulang dan saya inget.”

“Dev.”

“Bentar.”

Dan dia mengangkat tangannya sedikit, dan aku diam.


“Hari itu hari Kamis,” katanya.

“Hari apa?”

“Hari dia meninggal.”

Aku tidak bergerak.

“Pagi itu dispenser rusak. Yang pompanya macet. Dia lagi nyiapin sarapan dan dia manggil saya.”

Dia menelan.

“Dia bilang, ‘Dev, bantuin bapak bentar.’”

Gang itu sangat sunyi.

“Dan saya bilang ‘nanti.’”

Aku menoleh ke arahnya.

“Saya telat,” lanjutnya, dan suaranya masih rata, dan itu jauh lebih buruk daripada kalau bergetar. “Ada ulangan jam pertama. Saya udah pake sepatu. Dan dia bilang ‘ya udah, nanti aja.’”

Dia berhenti.

“Itu kalimat terakhir dia ke saya.”


Aku tidak bicara.

Aku ingin. Aku punya sepuluh kalimat di tenggorokan dan semuanya salah — itu bukan salah kamu, kamu masih kecil, semua orang juga gitu — dan aku tahu, dengan kepastian yang membuatku menahan diri, bahwa kalau aku mengucapkan salah satunya, dia akan berhenti bercerita selamanya.

Jadi aku diam.

“Jam empat sore,” katanya. “Sekolah baru bubar. Ada anak kelas sebelah yang manggil saya di depan gerbang dan bilang ada telepon di kantor.”

“Kamu ke rumah sakit sendiri?”

“Iya.”

“Naik apa?”

“Angkutan.”

“Kamu sampai jam berapa?”

“Empat lewat dua puluh.” Dia menatap lantai dak. “Saya masih pake seragam.”

Dia diam beberapa saat.

“Ibu saya belum sampai. Dia lagi di pabrik, jauh. Jadi selama dua jam pertama, yang di sana cuma saya.”

“Dev—”

“Dua jam, Ay.” Dan di situ suaranya akhirnya bergerak sedikit. “Umur lima belas. Dan yang saya pikirin selama dua jam itu bukan bapak saya.”

“Terus apa?”

Dan dia berkata:

“Yang saya pikirin adalah kalau tadi pagi saya bilang iya, mungkin dia telat lima menit ke pabrik. Dan mungkin lima menit itu bikin dia nggak ada di ruangan itu waktu—”

Dia berhenti.

“Itu nggak masuk akal,” katanya. “Saya tau itu nggak masuk akal. Saya udah baca soal serangan jantung. Saya udah baca semuanya, Ay, saya baca sampai saya hafal.”

“Tapi.”

“Tapi saya tetep mikir gitu tiap kali ada orang minta tolong sama saya.”

Dan di situ dia menoleh ke arahku untuk pertama kalinya sejak cerita ini dimulai.

“Makanya saya nggak pernah bilang nanti,” katanya.


Aku menangis.

Aku tidak ingin. Aku sudah bersumpah dua kali malam itu bahwa aku tidak akan, karena aku tahu apa yang akan terjadi kalau aku menangis — dia akan berhenti, dan dia akan minta maaf, dan dia akan mengubah topik, dan aku akan kehilangan satu-satunya kesempatan ini.

Tapi aku menangis, dan dia melihatnya.

Dan yang terjadi persis seperti yang kutakutkan.

Dia menegakkan duduknya. Menoleh ke arah tangga. Dan berkata, dengan nada yang berubah total menjadi nada yang sudah kukenal, nada yang dipakai untuk menutup pintu dari dalam:

“Maaf ya. Jadi cerita berat—”


Aku menciumnya di tengah kalimat itu.

Aku tidak merencanakannya. Aku ingin sangat jelas tentang itu, karena selama berminggu-minggu setelahnya orang akan menganggapnya momen romantis, dan malam itu tidak ada satu pun bagian dari diriku yang sedang memikirkan romantis.

Yang kupikirkan cuma satu hal.

Berhenti.

Berhenti minta maaf. Berhenti menutup pintu. Berhenti — untuk satu detik saja, untuk satu detik dalam tujuh belas tahun — memperlakukan keberadaanmu sendiri sebagai gangguan yang perlu ditebus.

Dan aku tidak punya kalimat untuk itu.

Jadi aku memakai satu-satunya cara yang tersisa untuk membuat mulut orang berhenti.


Dia tidak bergerak.

Sepenuhnya. Selama mungkin dua detik penuh — dan dua detik itu adalah dua detik terpanjang dalam hidupku, karena dalam dua detik itu aku sempat berpikir bahwa aku baru saja menghancurkan segalanya.

Lalu tangannya naik.

Bukan ke wajahku. Ke bahuku — ragu, seperti orang yang memeriksa apakah sesuatu panas, persis seperti di kursi taman rumahku dua bulan lalu.

Lalu dia membalasnya.

Dan aku tidak akan menuliskan bagian itu, karena ada hal-hal yang tidak perlu dituliskan, dan karena satu-satunya hal yang benar-benar penting adalah bahwa dia tidak mundur.

Lain kali jangan mundur.

Dia ingat.


Waktu kami menjauh, tidak ada yang bicara selama beberapa saat.

Ardev menatap lantai dak. Napasnya tidak beraturan.

“Ay.”

“Hm.”

Dan dia mengucapkan kalimat yang paling jujur yang pernah kudengar dari siapa pun.

“Saya nggak tau harus ngapain.”

Aku menghapus wajahku dengan lengan.

“Nggak usah ngapa-ngapain,” kataku. “Diem aja dulu.”

“Oke.”

“Oke.”

Dan kami duduk di dak beton tiga kali tiga meter itu, dengan satu kursi plastik kosong di sebelah kami, dan tidak melakukan apa-apa selama mungkin dua puluh menit.

Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya di suatu titik. Dia tidak bergerak.

Dan waktu akhirnya dia bicara lagi, yang dia katakan bukan apa yang kuharapkan, dan justru karena itu aku tahu itu benar.

“Ay.”

“Hm.”

“Kamu nggak nanya kenapa saya cerita sekarang.”

“Kamu mau aku nanya?”

“Enggak.”

“Ya udah.”

Hening.

“Karena kamu nyentuh pelipis saya,” katanya.

Aku mengangkat kepala.

“Sepuluh tahun, Ay.” Dia menatap gang. “Nggak ada satu orang pun yang pernah nyentuh itu. Nggak Ibu, nggak Dimas, nggak Evan. Semua orang liat terus pura-pura nggak liat.”

Dan dia berhenti, dan menarik napas, dan berkata:

“Kamu liat terus kamu pegang.”


Dia mengantarku pulang jam setengah sepuluh.

Kami tidak bicara sepanjang jalan, dan itu bukan canggung; itu jenis diam yang lain, yang tidak butuh diisi.

Di depan gerbang rumahku, di bawah lampu taman yang menyala karena seseorang memperbaikinya dari luar pagar dua bulan lalu, dia berhenti.

“Ay.”

“Iya?”

Dan aku melihat dia membuka mulut, dan aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya, dan selama satu setengah detik penuh aku benar-benar mengira dia akan mengucapkannya.

“Masuk,” katanya. “Udah malem.”

Aku tersenyum.

“Iya.”

“Kunci gerbangnya.”

“Iya, Dev.”

“Beneran dikunci.”

“IYA.”

Dan aku masuk, dan menutup gerbang, dan menguncinya, dan berdiri di balik pagar sampai dia berbalik dan berjalan ke arah halte.

Dan aku tidak sedih sama sekali bahwa dia tidak mengucapkannya.

Karena malam itu dia sudah memberiku sesuatu yang jauh lebih sulit dari tiga kata.


Aku menulis satu hal di ponselku malam itu, jam sebelas lewat, di aplikasi catatan yang tidak pernah kubuka lagi selama berbulan-bulan sesudahnya.

Bukan tentang ciumannya.

Dia nggak pernah bilang “nanti”.

Ke siapa pun. Sekali pun.

Aku baru sadar hari ini bahwa itu bukan sifat.

Itu luka.

Dan di bawahnya, satu baris lagi, yang kutulis setelah menatap layar selama hampir dua menit.

Aku nggak tau gimana caranya nyembuhin orang yang lukanya berbentuk kebaikan.

Aku menyimpannya dan tidur.

Dan sepuluh bulan kemudian, di koridor rumah sakit jam tiga pagi, aku akan membuka catatan itu lagi dan membacanya sekali, dan menyadari bahwa aku sudah tahu segalanya sejak malam ini.

Aku cuma tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan pengetahuan itu.