Chapter Forty Two
Foto
POV: Ardev
Aku bangun empat menit sebelum alarmku berbunyi.
Seperti biasa. Tiga tahun, dan tubuhku belum juga berhenti melakukannya, dan aku sudah berhenti berharap akan berhenti.
Kumatikan alarm sebelum sempat bersuara.
Dan aku berbaring di kasur lantai selama beberapa detik dan mendengarkan rumah.
Rey tidur melintang, seperti selalu, dengan satu kaki di dinding. Di sisi lain, Kayla meringkuk memeluk guling yang kapasnya sudah menggumpal di satu ujung.
Dan dari kamar sebelah — dari balik tirai — terdengar bunyi napas seseorang yang tidur di rumahnya sendiri di jam enam pagi, karena dia sudah tidak masuk shift malam sejak tanggal empat Juni.
Aku berbaring di situ dan mendengarkan bunyi itu selama mungkin dua menit.
Lalu aku bangun, dan ke dapur, dan menyalakan kompor.
Telur ada delapan.
Aku berhenti sebentar waktu membukanya.
Delapan. Bukan lima.
Dan aku berdiri di depan kompor jam enam pagi di hari kelulusanku dan menyadari bahwa aku sedang menghitung — bukan menghitung supaya cukup; menghitung karena kepalaku memang begitu — dan bahwa untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, hitungannya berakhir dengan sisa.
Aku menggoreng empat.
Utuh. Tidak didadar tipis, tidak dipotong-potong supaya kelihatan banyak.
Kayla masuk ke dapur jam enam lewat sepuluh, sudah pakai seragam, kancing salah masuk semua.
“Kak.”
“Hm.”
“Itu telurnya utuh.”
“Iya.”
“Kenapa utuh?”
Dan aku bilang, “Nggak apa-apa.”
Dan dia menatapku beberapa detik dengan tatapan sembilan — sepuluh; dia sudah sepuluh — tahun yang tidak pernah bisa kubohongi, lalu duduk di kursi plastik dan mulai membetulkan kancingnya satu per satu.
“Kak.”
“Hm.”
“Uang kas.”
“Berapa?”
“Lima ribu.”
“Kaleng biru.”
Dan dia bangkit, dan mengambil kaleng itu dari rak, dan mengambil lima ribu.
Dan dia tidak menghitung sisanya.
Aku memperhatikannya. Aku sengaja memperhatikannya.
Dia mengambil lima ribu, menutup kalengnya, mengembalikannya ke rak, dan duduk lagi.
Tidak menghitung.
Dan aku berdiri di depan kompor dengan spatula di tangan dan harus menghadap ke arah lain selama beberapa detik.
Ibu keluar jam setengah tujuh.
Berjalan pelan, dengan satu tangan di dinding — masih; dokter bilang dua bulan lagi — tapi berjalan.
“Loh, udah semua?”
“Udah, Bu.”
“Kok nggak dibangunin?”
“Ibu harus istirahat.”
“Ardev—”
“Tehnya udah dituang.” Aku menggeser gelas. “Nggak pake gula.”
Dan Ibu duduk, dan menatap meja — nasi hangat, telur utuh, kecap.
Dan aku sudah menyiapkan diriku untuk apa yang selalu terjadi berikutnya.
Ibu akan menatap meja itu tiga detik terlalu lama, lalu matanya akan berubah, lalu dia akan mengucapkan sesuatu yang sudah kuhafal.
Maaf ya, Nak.
Dia tidak mengucapkannya.
Dia mengambil sendok, dan menoleh ke arahku, dan berkata:
“Kamu duduk. Ibu mau lihat kamu makan.”
Dan aku duduk.
Kelulusan dilaksanakan jam sembilan di aula.
Aku datang jam enam empat belas.
Bukan karena ada yang harus diperbaiki. Aku sudah memeriksa semuanya kemarin sore — sound system, proyektor, dua belas titik lampu panggung, semuanya.
Aku datang jam enam empat belas karena tiga tahun.
Dan waktu aku masuk lewat pintu samping, aula itu sudah ada isinya.
Ayana Kusumaningrat berdiri di tengah aula dengan seragam kelulusan dan tas di bahu.
“Kamu ngapain di sini?” kataku.
“Nunggu kamu.”
“Dari jam berapa?”
“Enam.”
“Ay—”
“Aku udah hafal jam kamu, Dev.” Dia mengangkat bahu. “Tujuh bulan.”
Dan aku berdiri di ambang pintu samping dan tidak tahu harus berkata apa.
“Ada yang rusak?” tanyanya.
“Nggak ada.”
“Kamu udah cek?”
“Kemarin.”
“Terus kenapa kamu ke sini?”
Dan aku berkata, jujur, “Nggak tau.”
Dan Ayana tertawa.
Kami duduk di baris keempat, di tengah, di kursi yang dia tandai sebulan lalu.
Aula itu kosong dan gelap dan bergema.
“Dev.”
“Hm.”
“Kamu udah tanda tangan?”
“Kemarin.”
“Semuanya?”
“Semuanya.”
Dan aku merasakan dia menoleh ke arahku.
“Tanggal berapa berangkat?”
“Tujuh belas Agustus.”
“Jauh?”
“Enam jam. Kereta.”
Hening.
“Ay.”
“Hm.”
“Kamu masih mau ribut sama saya?”
Dan dia tertawa lagi, dan kali ini bunyinya sedikit basah.
“Iya,” katanya. “Tapi nanti.”
“Nanti kapan?”
“Nanti pas kita udah punya waktu buat ribut yang bener.” Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. “Aku nggak mau ributnya di sela-sela.”
Dan aku duduk di aula kosong itu jam setengah tujuh pagi dan berkata sesuatu yang sudah kususun selama sebelas hari.
“Ay.”
“Iya?”
“Saya mau minta sesuatu.”
Dan dia menoleh dengan sangat cepat.
Aku sudah berlatih.
Aku ingin mencatat itu, karena kalau tidak, ini akan terdengar seperti sesuatu yang mudah, dan tidak ada satu pun bagian dari ini yang mudah.
Sebelas hari. Di angkutan, di kamar mandi, di depan cermin sekali dan aku merasa sangat bodoh setelahnya.
“Saya mau minta kamu tunggu,” kataku.
Dan aku melihat wajahnya.
“Bukan tunggu yang—” Aku berhenti. Menarik napas. “Saya nggak minta kamu janji apa-apa. Saya nggak minta kamu nggak ketemu orang lain. Saya nggak punya hak buat minta itu.”
“Dev.”
“Saya cuma minta kamu jangan mutusin duluan,” kataku. “Kalau nanti kamu capek — dan kamu bakal capek, Ay, enam jam kereta itu jauh — saya minta kamu ngomong ke saya dulu.”
Dia tidak menjawab.
“Karena saya udah pernah mutusin sendirian,” lanjutku, “dan saya tau rasanya buat orang yang di seberangnya.”
Dan Ayana Kusumaningrat duduk di kursi baris keempat di aula kosong dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ay—”
“Sebentar.”
“Ay, kalau kamu nggak mau—”
“SEBENTAR, DEV.”
Dan setelah beberapa detik dia menurunkan tangannya, dan matanya merah, dan dia berkata:
“Kamu tau nggak itu apa?”
“Apa?”
“Itu permintaan pertama kamu ke aku.”
Dan dia menoleh ke arahku.
“Tujuh bulan,” katanya. “Itu yang pertama.”
Aula terisi jam delapan lewat.
Dimas datang jam delapan lewat lima, dengan seragam kelulusan yang jelas disetrika oleh ibunya karena Dimas tidak pernah menyetrika apa pun seumur hidupnya.
Evan datang jam delapan lewat dua puluh, terlambat, berteriak dari pintu belakang aula sampai seorang guru menegurnya.
Anita sudah di sana sejak jam tujuh karena Anita selalu sudah di sana.
Keisha datang jam delapan lewat dua puluh lima dan menabrak dua kursi.
Dan kami berenam duduk di baris keempat, di tengah, dan tidak ada satu pun dari kami yang mendengarkan sambutan kepala sekolah dengan benar.
Sebelum foto, sesuatu terjadi.
Aku tidak tahu siapa yang memulai. Aku sudah bertanya ke Dimas dan dia bilang dia tidak ingat, dan aku sudah bertanya ke Evan dan dia bilang dia yang memulai, yang berarti bukan dia.
Kami bertiga berdiri di halaman belakang aula menunggu giliran foto angkatan.
Dan Dimas menepuk railing tangga di sebelahnya.
Tiga kali.
Dan Evan — yang sedang berbicara tentang sesuatu, seperti biasa — berhenti di tengah kalimat, dan mengetuk railing yang sama.
Tiga kali.
Dan keduanya menoleh ke arahku.
Aku ingin menuliskan ini dengan tepat.
Sepuluh tahun.
Sejak kelas empat SD, di belakang gudang olahraga, waktu tidak ada satu pun dari kami yang punya cara lain untuk mengatakan apa pun.
Tiga ketukan: gue nggak apa-apa.
Dua ketukan: gue nggak baik-baik aja.
Dan selama sepuluh tahun, aku sudah mengetuk tiga kali ratusan kali — di railing tribun, di kusen jendela, di pipa, di meja kantin, di kusen pintu rumahku sendiri.
Dan hampir semuanya bohong.
Bukan bohong besar. Bohong kecil, sopan, otomatis. Tiga ketukan berarti jangan khawatir, lanjut aja, gue urus sendiri.
Aku mengetuknya waktu ayahku baru meninggal empat bulan.
Aku mengetuknya waktu aku sengaja gagal tes seleksi itu.
Aku mengetuknya di bulan Februari, di tribun, dengan tangan yang sudah mulai gemetar.
Dan satu-satunya kali aku mengetuk yang benar dalam sepuluh tahun terakhir — dua kali, di daun pintu sekretariat, di detik terakhir sebelum pergi — aku melakukannya karena aku tidak sanggup mengucapkannya dengan mulut.
Aku mengangkat tangan.
Dan aku mengetuk railing itu.
Tiga kali.
Dan kali ini itu benar.
Foto angkatan diambil jam sebelas.
Dan setelah itu, di halaman belakang, kami mengambil satu foto lagi.
Yang mengurusnya Anita, tentu saja — dia yang meminjam kamera dari anak ekstrakurikuler fotografi, dia yang mengatur posisi, dia yang menghitung mundur.
Enam orang.
Dimas di paling kiri. Anita di sebelahnya, dengan jarak setengah meter yang tidak berubah sejak bulan Oktober dan yang tidak akan pernah berubah.
Evan di paling kanan, dengan tangan di bahu Keisha, dan Keisha yang bergerak di detik terakhir sehingga fotonya sedikit buram di bagian itu.
Aku dan Ayana di tengah.
Dan di depan, dua anak kecil.
Kayla berdiri di sebelah kiri dengan tangan dilipat dan wajah yang sangat serius, karena Kayla selalu serius kalau ada kamera.
Dan Rey — yang seharusnya berdiri di sebelah kanan, di posisi yang sudah diatur Anita selama empat menit —
Rey pindah ke tengah.
Persis di tengah, di depan semua orang, dengan kedua tangan direntangkan ke samping.
“REY.”
“Rey, geser dikit.”
“NGGAK MAU.”
“Rey—”
“AKU DI TENGAH.”
Dan Anita Wijayakusuma, yang sudah menghabiskan empat menit menyusun komposisi itu, menurunkan tangannya dan berkata:
“Ya udah.”
Fotonya jadi seminggu kemudian.
Evan yang mencetaknya — enam lembar, satu untuk masing-masing, dan dia bersumpah bahwa itu cetakan paling murah yang bisa dia temukan dan aku tidak percaya sama sekali.
Punyaku ukurannya sepuluh kali lima belas.
Dan aku membawanya pulang hari Sabtu sore, dan aku berdiri di ruang tamu tiga kali empat itu memegang foto itu selama beberapa menit tanpa tahu harus menaruhnya di mana.
Kayla yang menyelesaikannya.
“Kak.”
“Hm.”
“Taruh di situ.”
Dan dia menunjuk dinding di atas dispenser — dinding yang catnya sudah mengelupas di bagian bawah, yang kosong sejak selamanya, yang tidak pernah ada apa-apa di sana.
“Kenapa di situ?”
“Karena itu yang paling keliatan.”
Dan dia menambahkan, sambil kembali ke buku gambarnya, tanpa mengangkat kepala:
“Kalau ada tamu, mereka bakal liat itu duluan.”
Aku memakunya sore itu.
Palu pinjaman dari Pak Tarno. Satu paku. Miring sedikit di percobaan pertama, dan aku mencabutnya dan mengulang, dan Rey berdiri di belakangku sepanjang waktu itu sambil memberi instruksi yang seluruhnya salah.
“Ke kiri, Kak.”
“Rey, ini udah lurus.”
“KE KIRI.”
Ibu keluar dari kamar waktu aku selesai.
Dia berdiri di tengah ruang tamu dan melihat foto itu di dinding, dan dia tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.
“Bagus,” katanya akhirnya.
“Iya, Bu.”
Dan dia berjalan mendekat, pelan, dengan satu tangan di sandaran kursi, dan berdiri di depan foto itu.
“Yang di tengah Rey?”
“Iya.”
“Kok di tengah?”
“Dia maksa.”
Dan Ibu tertawa — dan tawanya masih pendek, masih hati-hati, karena dadanya masih sakit kalau tertawa terlalu lama — dan berkata:
“Ya udah, biarin.”
Ayana datang jam empat sore.
Dia berdiri di ambang pintu dengan kaus dan celana panjang dan rambut diikat, dan Rey menabraknya dalam dua detik seperti biasa, dan dia melepas sepatunya di depan pintu seperti biasa.
Dan seperti biasa — tanpa dipikir, tanpa diminta, dengan gerakan yang sudah otomatis sejak bulan Oktober — dia berjalan ke sudut ruang tamu dan mengetuk galon dengan buku jari.
Bunyinya berat.
Dia mengangguk.
Lalu dia melihat foto di dinding.
Dan dia berdiri di situ selama beberapa saat tanpa berkata apa-apa.
“Dev.”
“Hm.”
“Kapan kamu pasang?”
“Tadi.”
Dan dia tidak berkomentar apa-apa. Dia cuma berdiri di situ.
Aku berjalan ke sebelahnya.
“Kerah kamu,” kataku.
“Hah?”
Dan aku mengulurkan tangan dan membetulkan kerah kausnya yang terlipat ke dalam di sebelah kiri — hal kecil, dua detik, gerakan yang tidak berarti apa-apa.
Dan aku berkata:
“Aku sayang kamu.”
Dia tidak bergerak.
Dan aku menurunkan tanganku dan berjalan ke dapur untuk mengambil gelas, karena air di teko sudah dingin dan aku harus menjerang lagi.
“Dev.”
“Hm?”
“Kamu barusan—”
“Iya.”
“Kamu bilang—”
“Iya, Ay.”
Dan aku menyalakan kompor.
Dan aku mendengarnya berdiri di ruang tamu selama beberapa detik tanpa bergerak sama sekali, dan lalu aku mendengar langkah kaki, dan lalu dia berdiri di ambang dapur.
“Dev.”
“Hm.”
“Kamu ngomong gitu kayak biasa aja.”
Aku menoleh.
“Iya,” kataku.
Dan aku ingin menuliskan apa yang terjadi di dadaku pada detik itu, karena itu satu-satunya bagian dari hari itu yang benar-benar penting.
Tujuh bulan, aku tidak bisa mengucapkannya karena setiap kali aku membuka mulut, kepalaku mulai menghitung apa yang akan terjadi setelahnya.
Dan sore itu, di dapur rumah petak, dengan air yang mulai berbunyi di teko dan dua anak kecil berisik di ruang tamu dan ibuku yang tidur di kamar sebelah setelah tidur di rumahnya sendiri selama dua bulan —
Aku tidak menghitung apa-apa.
“Ay.”
“Iya?”
“Airnya bentar lagi mendidih.”
“Terus?”
“Terus kamu masih berdiri di ambang pintu.”
Dan Ayana Kusumaningrat masuk ke dapur satu setengah meter itu dan mengambil lap yang benar dari gantungan — yang benar; dia sudah tahu yang mana sejak bulan Oktober — dan mulai mengelap gelas yang sudah bersih.
Dan dari ruang tamu, Rey berteriak sesuatu yang tidak jelas, dan Kayla berteriak balik lebih keras.
Dan di dinding di atas dispenser, di rumah petak di gang yang nomornya tidak berurutan, ada satu foto berukuran sepuluh kali lima belas berisi enam orang dan dua anak kecil, dengan yang paling kecil berdiri di tengah karena dia memaksa.
— TAMAT —
- 1 Bayangan
- 2 Hantu Sekretariat
- 3 Kantin
- 4 Tiga Ketukan
- 5 Dua Orang Bodoh
- 6 Empat Puluh Menit
- 7 Daftar
- 8 Tiga Kotak
- 9 Bencana Alam
- 10 Jam Enam Empat Belas
- 11 Sedikit Kata
- 12 Udah, Saya Aja
- 13 Nomor Tiga
- 14 Tiga Kali
- 15 Peringatan
- 16 Dev
- 17 Dapur
- 18 Dua Jam
- 19 Satu-satunya
- 20 Tiga Kali Empat
- 21 Satu Kali Serius
- 22 Di Depan Semua Orang
- 23 Empat Belas Hari
- 24 Rak Nomor Empat
- 25 Kue yang Gagal
- 26 Atap
- 27 Kembang Api Murah
- 28 Om dan Kakak
- 29 Modal Nol
- 30 Fakta Pertama
- 31 Gerbang
- 32 Kok Aku yang Lebih Tahu?
- 33 Kalau Aku Bilang
- 34 Dua Tahun
- 35 Sembilan Hari
- 36 Dua Ketukan
- 37 Satu Arah
- 38 Dokumen
- 39 Galon
- 40 Tolong
- 41 Arti Nama
- 42 Foto reading