← Nomor Tiga

Chapter Ten

Jam Enam Empat Belas

POV: Ayana

Aku datang ke sekolah jam enam lewat sepuluh hari Senin karena mikrofon aula mati total di gladi bersih Sabtu kemarin, dan karena upacara dimulai jam tujuh, dan karena Bu Wulan sudah mengirim pesan jam sepuluh malam yang isinya cuma satu kalimat: Ayana, tolong dipikirkan solusinya.

Bukan “dicarikan.” Dipikirkan.

Aku sudah menyiapkan tiga rencana di kepala sepanjang perjalanan. Rencana A: pinjam pengeras suara portabel dari mushola. Rencana B: pinjam dari SD di sebelah, kalau ada yang bisa dihubungi jam segini. Rencana C: upacara dilaksanakan tanpa mikrofon dan pembina berteriak, yang berarti karier kepengurusanku selesai hari ini.

Yang tidak kutulis di pesan balasanku ke Bu Wulan adalah bahwa aku sudah menelepon empat orang malam itu.

Penjaga sekolah: tidak diangkat. Pak Yatno, teknisi langganan sekolah: nomornya tidak aktif. Bimo: diangkat, tapi Bimo tidak tahu apa-apa soal mikrofon dan aku merasa bersalah sudah membangunkannya. Anita: diangkat di dering pertama, karena Anita selalu diangkat di dering pertama, dan yang dia katakan adalah, “Aku ke sekolah jam enam. Tidur, Ay.”

Aku tidak tidur.

Aku berbaring di kamar dan menghitung berapa banyak hal yang bisa gagal besok pagi, dan sampai di angka sebelas sebelum akhirnya berhenti karena tidak ada gunanya.

Dan jam lima pagi, waktu aku sudah berpakaian dan berdiri di depan cermin, aku menyadari sesuatu yang kecil dan tidak enak: bahwa selama seluruh malam itu, tidak satu kali pun aku berpikir untuk meminta bantuan Papa, yang kenal orang di mana-mana, dan yang pasti bisa menyelesaikannya dengan dua telepon.

Karena aku sudah tahu kalimat yang akan kudengar.

Ayana mah nggak usah dikhawatirin. Semua beres sendiri.

Aku sampai di depan sekretariat jam enam lewat empat belas.

Dan pintunya terbuka.

Aku berhenti. Sekretariat dikunci setiap sore. Kuncinya ada tiga: satu di Anita, satu di Bimo, satu di ruang guru.

Aku mendorong pintu.

Dan yang kulihat di dalam bukan apa pun dari tiga kemungkinan yang sudah kususun di kepala.


Dia duduk di lantai.

Bukan di kursi. Di lantai, bersila, dengan punggung menghadap pintu, dan di depannya ada mikrofon aula — mikrofon yang seharusnya tergantung di panggung — terbongkar jadi enam bagian di atas selembar koran.

Ada solder di tangan kanannya. Asap tipis naik dari ujungnya.

Dan di sebelahnya, duduk di lantai juga, dengan kaki menjulur ke depan dan roti setengah dimakan di tangan, ada anak laki-laki berumur sekitar lima tahun.

Anak itu melihatku lebih dulu.

Dia berhenti mengunyah. Menatapku dengan mata yang terlalu besar untuk wajah sekecil itu. Lalu, tanpa mengalihkan pandangan, dia menarik lengan seragam kakaknya.

“Rey, bentar.”

“Kak.”

“Bentar.”

“KAK.”

Dia menoleh.

Dan aku menyaksikan tiga ekspresi berbeda melintas di wajahnya dalam waktu kurang dari dua detik — kaget, lalu sesuatu yang lebih mirip perhitungan, lalu wajah yang sepenuhnya datar.

“Maaf,” katanya, langsung, sebelum aku sempat bicara. “Dia harusnya nggak ikut.”

“Apa?”

“Adik saya.” Dia meletakkan solder di penyangganya dan mulai berdiri. “Penitipannya buka jam tujuh. Saya nggak ada tempat naruh dia.”

“Aku nggak—”

“Saya bawa keluar sekarang.”

“Bukan itu maksudku.”

Dia berhenti setengah berdiri.

Dan aku berdiri di ambang pintu dengan tas masih di bahu, menyadari bahwa dalam dua kalimat pertama, laki-laki ini sudah meminta maaf untuk sesuatu yang bahkan belum sempat kupermasalahkan.

“Kamu lagi apa?” tanyaku.

Dia melihat ke bawah, ke arah enam potongan mikrofon di atas koran, lalu kembali ke arahku.

“Benerin ini.”

“Itu mikrofon aula.”

“Iya.”

“Itu mati Sabtu.”

“Iya.”

“Kamu bawa ke sini?”

“Di aula nggak ada colokan yang deket. Solder butuh listrik.” Dia mengatakannya seperti orang menjawab pertanyaan tentang cuaca. “Nanti saya pasang lagi sebelum jam tujuh.”

Aku melangkah masuk. Pelan.

Anak kecil itu langsung merapat ke sisi kakaknya, masih memegangi roti, masih menatapku tanpa berkedip.

“Halo,” kataku ke arahnya.

Dia tidak menjawab.

“Rey,” kata kakaknya pelan. “Salam.”

Anak itu mengangkat tangan yang memegang roti, melambaikannya satu kali, lalu langsung menyembunyikan wajahnya di lengan kakaknya.

Dan aku merasakan sesuatu di dadaku yang tidak punya nama.


“Kamu bisa benerin?”

“Bisa.”

“Sebelum jam tujuh?”

“Iya.”

“Kamu yakin?”

Dia mengangkat salah satu potongan — bagian kepala mikrofon, dengan kabel-kabel kecil yang terlihat seperti benang berwarna — dan menunjukkannya ke arahku tanpa benar-benar menyerahkannya.

“Yang putus ini.” Dia menunjuk. “Bukan di kabel utama. Di sambungan dalam. Makanya keliatan bagus dari luar.”

“Kenapa bisa putus?”

“Karena kabelnya ditarik dari atas panggung tiap selesai acara.” Dia meletakkannya lagi. “Tiga tahun. Tiap acara. Lama-lama putus.”

“Kok kamu tau?”

“Saya liat.”

Dua kata. Diucapkan tanpa penekanan apa pun.

Saya liat.

Aku menarik kursi terdekat dan duduk, bukan karena sopan, tapi karena kakiku memutuskan sendiri.

“Kamu udah lama gini?”

“Gini apa?”

“Benerin barang.”

Dia tidak menjawab. Dia mengambil solder lagi dan mulai bekerja, dan aku memperhatikan tangannya — tangan yang tidak gemetar sedikit pun, dengan bekas luka bakar kecil di punggung telunjuk yang jelas sudah lama.

“Kenapa nggak lapor?” tanyaku.

“Lapor ke siapa?”

“Ke OSIS. Ke sekolah. Ada anggaran perbaikan.”

“Cairnya dua minggu.”

“Ya tapi—”

“Upacaranya jam tujuh.”

Dan dia mengatakannya begitu saja, tanpa nada menang, tanpa sindiran, seolah-olah itu memang satu-satunya jawaban yang mungkin dan dia heran kenapa harus dijelaskan.

Aku diam beberapa saat.

Di lantai, anak kecil itu — Rey — sudah menghabiskan rotinya dan sekarang sedang menyusun tutup botol air mineral jadi menara. Menaranya runtuh. Dia menyusunnya lagi.

Dan sementara aku duduk di kursi itu, aku melakukan hal yang paling tidak sopan yang bisa dilakukan orang: aku memperhatikan.

Sepatunya. Hitam, model lama, sol bagian luar kanan aus jauh lebih parah dari yang kiri — orang yang berjalan jauh dan berjalan cepat.

Kaus kakinya. Bukan sepasang. Yang satu abu-abu polos, yang satu abu-abu dengan garis tipis di bagian atas. Perbedaan yang tidak akan pernah terlihat kalau dia tidak sedang duduk bersila di lantai.

Kotak kecil di sebelah korannya — bukan kotak alat. Kotak makan. Plastik, biru pudar, tutupnya patah sebelah dan diikat karet gelang.

Dan garis putih di pelipis kirinya, dari jarak dua meter, jauh lebih jelas daripada waktu aku melihatnya di koridor. Tidak lurus. Sedikit bergelombang di bagian tengah.

“Ada yang salah?” tanyanya, tanpa mengangkat kepala.

Aku tersentak. “Nggak.”

“Kamu ngeliatin.”

“Aku—” Aku menarik napas. “Maaf.”

“Nggak apa-apa.” Dia mengganti mata solder. “Orang emang biasanya ngeliatin kalau ada yang lagi kerja.”

Yang membuatku hampir tersedak adalah bahwa dia betul-betul mengira aku sedang memperhatikan pekerjaannya.

“Rey,” kataku hati-hati. “Kamu udah sarapan?”

Dia mengangguk.

“Sarapan apa?”

“Telur,” katanya. Suara pertamanya. Kecil sekali. “Sama nasi.”

“Enak?”

Dia mengangguk lagi, lebih semangat.

“Siapa yang masak?”

Dan Rey menunjuk kakaknya dengan seluruh tangan, seperti orang menunjuk sesuatu di kejauhan.

Solder itu berhenti sepersekian detik.

Lalu lanjut lagi.


Jam enam lewat empat puluh dua, dia berdiri.

“Selesai?”

“Belum. Tinggal pasang.”

Dia mengumpulkan potongan-potongan itu, membungkusnya kembali dengan koran, dan menggendong Rey dengan satu lengan dalam gerakan yang jelas sudah dilakukan ribuan kali — anak itu bahkan tidak perlu diberi aba-aba; dia cuma mengangkat tangan dan menempel.

“Aku ikut,” kataku.

“Nggak usah.”

“Aku wakil ketua OSIS. Ini tanggung jawab aku.”

“Nggak apa-apa. Saya bisa.”

“Aku tau kamu bisa.” Aku berdiri dan mengambil tas. “Aku nggak nanya kamu bisa apa nggak.”

Dia berhenti di ambang pintu dan menoleh ke arahku, dan untuk pertama kalinya sejak aku masuk ruangan itu, wajahnya menunjukkan sesuatu.

Bingung.

Bukan tersinggung. Bukan sungkan. Bingung — seperti orang yang sedang menerima kalimat dalam bahasa yang tidak dia kenal.

“Ya udah,” katanya akhirnya.

Kami berjalan ke aula bertiga, dan tidak ada satu pun dari kami yang bicara, kecuali Rey yang menghitung ubin lantai dengan urutan yang salah mulai dari angka delapan.

“Delapan. Sembilan. Sebelas.”

“Sepuluh,” kata kakaknya.

“Sebelas.”

“Rey.”

“SEBELAS.”

“Ya udah.”

Aku menoleh. “Kamu nggak betulin?”

“Nanti dia betulin sendiri.”

“Kapan?”

“Sekitar dua bulan lagi.” Dia memindahkan gulungan koran ke tangan yang lain. “Kalau saya paksa sekarang, dia berhenti ngitung sama sekali.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku tidak menjawab.

Dan di belakang kami, Rey melanjutkan: “Dua belas. Tiga belas. Lima belas.”

Di aula, dia menurunkan Rey, menarik meja ke depan panggung, dan naik ke atasnya. Dan aku berdiri di bawah memegangi meja itu tanpa diminta, dan dia tidak menyuruhku berhenti, dan itu terasa seperti sesuatu.

Lima menit. Mikrofon terpasang.

Dia turun, menyalakan sakelar di panel samping, dan mengetuk kepala mikrofon dengan jari.

Tuk. Tuk.

Suaranya memenuhi aula.

Rey bertepuk tangan.

Dan aku berdiri di sana dengan tangan masih di tepi meja, memandangi seluruh aula kosong yang barusan diisi suara, dan aku merasakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal untuk jam tujuh kurang lima belas di hari Senin.

“Udah nyala, kan?” katanya.

“Iya.”

“Ya udah.”

Dan dia mulai memindahkan meja itu kembali ke tempat asalnya.

Ya udah.

Dua kata. Selesai. Seolah-olah tidak ada yang perlu ditambahkan, karena memang menurutnya tidak ada.

Aku memperhatikan dia meletakkan meja itu tepat di posisi semula, memeriksa lantai untuk memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu menggendong adiknya lagi.

“Tunggu,” kataku.

Dia berhenti.

Dan aku berdiri di sana, di aula kosong, dengan tiga kalimat berdesakan di tenggorokan — makasih, kenapa kamu ngelakuin ini, aku udah nyariin kamu tiga bulan — dan aku menelan ketiganya, karena Anita benar, karena kalau kuucapkan satu saja sekarang, laki-laki ini akan pergi lewat pintu samping dan tidak akan pernah membiarkan aku sedekat ini lagi.

Jadi aku mengucapkan hal yang paling tidak berbahaya yang bisa kupikirkan.

“Aku belum tau nama kamu.”

Dia menatapku beberapa saat.

“Ardev,” katanya. “Ardev Narasoma.”

Dan sebelum aku sempat mengucapkan apa pun, Rey — dari bahu kakaknya, dengan suara yang jauh lebih keras dari sebelumnya — menambahkan:

“Kakak namanya Kak Ardev. Aku Rey. Aku lima.”

“Rey.”

“AKU LIMA.”

“Iya, Rey. Kamu lima.”

Dan aku tertawa, dan bunyinya bergema di aula kosong itu, dan Ardev Narasoma menoleh ke arahku dengan ekspresi orang yang tidak tahu harus berbuat apa dengan bunyi itu.


Upacara berjalan lancar. Bu Wulan memuji kesigapan OSIS di depan seluruh sekolah. Aku berdiri di barisan pengurus dan menerima pujian itu untuk yang kedua kalinya bulan ini.

Anita, di sebelahku, tidak menoleh sedikit pun waktu dia bertanya lewat sudut bibir:

“Ketemu?”

“Ardev Narasoma,” bisikku.

Hening beberapa detik.

“Anak kelas berapa?”

“Aku lupa nanya.”

“Kamu LUPA—”

“Ada adiknya, Nit.”

“Hah?”

“Umur lima tahun. Namanya Rey.” Aku menatap lurus ke depan, ke tiang bendera, ke matahari yang mulai naik di belakangnya. “Dia bawa adiknya ke sekolah jam enam pagi buat benerin mikrofon kita.”

Anita tidak berkata apa-apa selama sisa upacara.

Tapi waktu barisan bubar, dia menoleh sekali ke arah gedung utara, dan aku tahu persis apa yang sedang dia pikirkan, karena aku memikirkan hal yang sama.

Bukan siapa dia.

Tapi kenapa nggak ada satu orang pun di sekolah ini yang tau.


Aku mencarinya di daftar induk siswa sore itu, di ruang tata usaha, dengan alasan yang kukarang tentang rekapitulasi ekskul.

ARDEV NARASOMA. XII IPA 3.

Aku menggeser jari ke kolom-kolom di sebelahnya, dan berhenti di dua kolom terakhir.

Nama Ayah: — (alm.)

Nama Ibu: Sriyati. Pekerjaan: Karyawan.

Aku menutup buku itu terlalu cepat sampai Bu Tuti di meja seberang mengangkat kepala.

“Udah, Ay?”

“Udah, Bu. Makasih.”

Aku keluar ruang tata usaha dan berjalan di koridor yang sudah kosong, dan aku memikirkan tiga hal secara bersamaan, dan ketiganya membuat perutku terasa aneh.

Bahwa laki-laki itu bangun sebelum jam enam.

Bahwa dia menggoreng telur untuk adiknya sebelum berangkat.

Dan bahwa dia berdiri di aula kosong jam tujuh kurang lima belas pagi, setelah menyalakan kembali mikrofon yang mati dua minggu, dan yang dia katakan cuma dua kata.

Ya udah.

Aku berhenti di ujung koridor dan menyandarkan punggung ke dinding, dan aku berkata pelan sekali kepada diriku sendiri, dengan nada orang yang sedang memberi peringatan:

“Ay. Jangan.”

Dan aku tidak tahu, waktu itu, bahwa peringatan sudah terlambat empat hari.